Biaya dan Kalender Kerja Diklatsar XIII Dewadaru

.

[Bulletin Dewadaru pada 14 Desember 2010 pukul 1:59] | Masa Penerimaan Anggota Baru Dewadarupun kini tengah digulirkan. Rapat yang berakhir hingga pukul 01.30 Wib., Kamis 09 Desember 2010 dini hari kemarin, akhirnya menyepakati banyak hal terkait tentang penetapan kalender program kerja Diklatsar XIII Dewadaru. Penetapan Waktu dan lamanya Diklatsar XIII, Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), Donasi dan Iuran Wajib bagi setiap Anggota Dewadaru, Kebutuhan ideal instruktur, serta penetapan sistem dan jalur Diklatsar yang juga jadi bagian alot dan menarik untuk dibahas akhirnya dapat disepakati, walau dengan catatan disana-sini.

Suasana sebelum Wawancara.

           Membicarakan kehadiran rapat sepertinya sudah mulai diabaikan, bahkan sudah bosan untuk dibicarakan malam itu. Komandan Latihan (DanLat), Anung S. Nugraha (D-037-PB) sendiri ketika memulai membuka secara resmi rapat kemarin. Rabu petang 08 Desember 2010 selepas maghrib dengan bijak menegaskan kembali dan sangat menggarisbawahi masalah kehadiran ini. Kehadiran rekan-rekan tentu sangatlah penting dalam membantu misalnya, Program-program Kerja Plt Dewan Pengurus Dewadaru, Rapat-rapat menyamakan persepsi, mencari solusi , pemecahan masalah, hingga saat ini yang tengah bergulir – pembentukan Kepanitian Diklatsar hingga pelaksanaan dilapangan nantinya.

           Tetapi melulu stagnant, mengerutkan kening dan selalu berusaha menyelami beribu alasan atas ketidak hadiran Ring-1 (terutama yang berdomisili di bandung), tentu bosan juga. Malah bisa jadi mengendurkan semangat semuanya, ya Panitia yang sudah siap, atau bisa juga merembet ke Calon Siswa itu sendiri. DanLat sendiri memompa semangat agar “sudahlah .. realistis saja!“, sudah saatnya kini rasional mencermati kondisi, barangkali keterlibatan mereka yang sulit hadir pada saat-saat ini, diporsi lain, dapat digantikan semisal memberikan pengajaran, sumbangsih dana partisipasi atau bantuan moril lainnya. Mudah-mudahan.

           Panitia saat ini dituntut untuk memaksimalkan potensi yang ada disetiap individu masing-masing dan disekitarnya. Kedatangan dan kesiapan full dilapangan Kang Tatang Bahtiar (D-091-JC) petang itu buktinya cukup melegakan juga bagi kami yang hadir malam itu : Agus Wak, DanOps, Danlat dan saya sendiri, setidak-tidaknya bertambah satu lagi amunisi. Danlat dan DanOps kini telah menghitung-hitung seberapa maksimal ideal sih kebutuhan team lapangan untuk “ngabaduykeun” siswa sejumlah 15 (Lima Belas) orang itu. Toh Diklatsar bukan pekerjaan baru dan sudah 12 kali kita lakukan selama ini. Kalu akhirnya toh juga tidak mencukupi, Kami yang hadir pada malam itu malahan sepakat untuk minta bantuan pada saudara-saudara kami di Hugusula, Mapenta maupun Wanadri, Bahkan Resimen Mahasiswa kampus kita untuk membantu kami baik untuk dimedan Teori maupun di operasional nantinya. Cuma ketika DanLat ditanya “kumaha Lat lamun euweuh wae nungabantuan pisan…“, Anung menjawab :, “..geus we Dewadaru Tutup buku ..“. Diklatsar otomatis ditiadakan, Dewadaru bersiap-siap membubarkan diri di Kampus. Untuk sesaat Saya sendiri merenung, “..serius kitu DanLat teh.., boa-boa, meureun ogenya …“.

..

Wawancara Dua Calon Siswa Pendaftar Baru

             Ditengah pembicaraan yang sudah mulai menghangat, Rapat malam kemarin agak terhenti sejenak. Kami memang mengundang dua pendaftar baru Calon Siswa untuk melakukan wawancara. ketika pada jam yang sudah kami janjikan merekapun datang, Rapat kami tunda sebentar untuk berpindah serius ke materi lain yaitu wawancara Calon Siswa (Casis).

Abdullah Ilham Setiana, S1 (Informatika).

Fernando Sihotang, S1 (Informatika).

           Tidak berbeda jauh dengan wawancara ke 8 (Delapan) Casis sebelumnya, keduanya dihadapkan satu-persatu. Secara bergiliran mereka dihujani pertanyaan oleh empat Dewadaru dari berbagai aspek. Dari jawaban-jawaban yang dilontarkan keduanya kami yakin mereka memang telah siap, mental maupun fisik seperti aku keduanya. Berangkat dari keinginan pribadi yang cenderung selama ini mereka tidak pernah mengenal Dewadaru sebelumnya. Walaupun diakui latar belakang kegiatan alam bebas, organisasi maupun pengalaman di areal itu nihil. Sempat mengenal sewaktu di SMA dulu tapi hanya sekedar ikut-ikutan. Tapi kalau melihat latar belakang organisasi selain itu, umumnya cukup membanggakan, Dua Casis kita ini tergolong civitas academica juga, masih gerombolannya Casis yang telah diwawancarai sebelumnya walau beda” aliran”.

           Dipenghujung briefing keduanya, kami tak lupa memberikan pujian dan selamat datang kepada keduanya. Terima kasih telah memberikan kepercayaan kepada Dewadaru untuk menjadi salah satu bagian dari hidupnya kelak. Tidak mudah untuk memutuskan hal tersebut. Hanya orang-orang tertentu saja yang berani mengambil sikap akan hal tersebut. Salut, dan mohon dipertahankan sambil terus bersiap diri menunggu informasi-informasi selanjutnya dari panitia, di Basecamp maupun di Bulletin ini. Selamat datang buat Abdullah Ilham Setiana dan Fernando Sihotang. Dua mahasiswa S1 jurusan (IF) Informatika tersebut, Selamat bergabung. Kamipun meneruskan pembahasan yang tertunda tadi.

.

Kebutuhan Diklatsar XIII Dewadaru

            Membicarakan sistem Diklatsar, di ruang publik ini tentu tidak pada tempatnya. Skenario dan pertelaan jadwal operasional hanya akan dimiliki Danlat dan DanOps serta team leadernya. Tapi setidaknya dari titik ini mulai menggeliat dan pembahasan coba dirunut kembali malam itu. Seperti yang telah kita ketahui bersama, pada umumnya Jumlah hari Diklatsar, lamanya menetap disatu lokasi sampai jumlah materi yang diberikan disetiap Diklatsar Dewadaru tidak ada yang sama persis. Selalu fluktuatif disesuaikan banyak faktor. Begitu juga permasalahan gaya, pengkondisian body contact, setengah body contact, full body contact, militerisasi dan sejenisnya berbeda disetiap kondisi. Hal ini menggambarkan bahwa setiap kepanitiaan Diklatsar punya hak dan wewenang preogratif untuk menyusun skenario Diklatsarnya sendiri, Setiap Diklatsar memang punya seleranya sendiri-sendiri termasuk selera Danlat dan Danopsnya yang tentu sudah disepakati Dewadaru bersama. Faktor teknis ini yang dijamin tidak pernah sama persis.

           Ada satu persamaan yang selalu dipertahankan adalah, ya Diklatsar-nya itu sendiri. Secara AD/ART sudah menggariskan bahwa ada dua jalan untuk menjadi seorang Dewadaru selain yang tidak biasa dan berbelit-belit aturannya yaitu diangkatnya seorang Anggota Kehormatan (AK), secara reguler untuk menjadi Anggota Biasa harus melalui tahapan Diklatsar tersebut. Dan ini umum diseluruh organisasi serupa. Diklatsar memang sudah menjadi tradisi yang didalamnya selalu sama, ada pendidikan dan dibarengi dengan Latihan. Keduanya tentu tetap terkait pada ruang lingkup kalimat “dasar”-nya itu sendiri ( ilmu dasar yang diberikan). Tradisinya sendiri selalu dipertahankan terkait karakter organisasi yang telah terbentuk selama ini: organisasi, minat dan bakat. Kedua perbedaan dan persamaan diatas itulah yang kemudian menyatu menjadi “Roh” yang membius anggota. Tanpa diundang selalu ramai untuk berperan aktif didalamnya, Dulu itu ya begitu.

           Pertanyaanya kini apakah “roh” itu masih ada?. Hal inilah yang semalam menjadi tersendat-sendat dalam memutuskan satu sistem Diklatsar yang nantinya mau tidak mau keterkaitannya kesegala lini termasuk SDM, Dana dan sumber daya lainnya. “Roh” itu kini biusnya hilang seiring dengan banyaknya faktor yang saya sendiri terus terang sulit memahaminya, walau harus diartikulasikan dalam kalimat tertentu-pun. Hingga akhirnya muncul kesepakatan malam tersebut yang cukup melegakan, untuk minta bantuan ke organisasi lain sebagai tindakan tanggung jawab Kami menyelamatkan generasi penerus Dewadaru yang sudah ada ini.

           Ada 2 (Dua) opsi yang ditawarkan dari 3 kemungkinan sistem yang diusulkan, Danlat sendiri mematok paling lama 7 (tujuh) hari Diklatsar ini harus bisa diselesaikan sudah termasuk 2 (dua) hari karantina di Medan Teori. Ini tentu sudah jauh lebih singkat dari Diklatsar sebelumnya. Ketika hal ini ditanyakan kenapa dipersingkat, tentu jawabannya pragmatis: Dana dan manusianya. Bahkan masih spekulasi juga keduanya saat ini. Tapi setidaknya patokan ini masih dapat dipertanggung jawabkan dari segi kelayakan idealnya sebuah Diklatsar Ala Dewadaru, dan ini yang kemudian semuanya beranjak dihitung dari situ. Ambil contoh saja untuk menghitung jumlah instruktur, kebutuhan dana, materi yang harus diberikan serta alokasi lainnya. Untuk Instruktur saja, Kami menghitung setidaknya membutuhkan 10 s/d 15 orang yang nantinya harus siap full dilapangan bergabung dalam Team Leader dibawah koordinasi langsung DanOps. Dimedan Teori tentu yang dibutuhkan adalah para pengajar. Untuk ini barangkali tidak terlalu sulit walau konfirmasinya meski jauh-jauh hari. Biasanya komposisinya setengah dari Dewadaru selebihnya dari ekspertis organisasi luar.

.

Anggaran Biaya dan Partisipasi Iuran Wajib

             Ada yang membedakan Diklatsar XIII ini dengan Diklatsar sebelumnya, Plt Dewan Pengurus jauh-jauh hari memang sudah merekomendasikan bahwa salah satu upaya agar Diklatsar ini tidak membebani Dana pribadi siswa serta diupayakan agar salah satu ketertarikannya menjadi tinggi untuk masuk Dewadaru adalah dengan meng-Gratiskan. Selain membebaskan biaya pendaftaran, Siswa saat ini juga dibantu dari segi penyiapan kelengkapan Diklatsarnya, Beberapa kelengkapan akan dikenakan seragam dipinjamkan dari jasa penyewaan (Rental) outdoor activity. Biaya penyewaan itu sendiri akan ditanggung Panitia Diklatsar XIII. Alhamdulillah, upaya Plt ini terbukti mengundang antusias banyak pendaftar.

           Biaya lain yang juga menjadi utama untuk disiapkan seperti biasanya adalah adalah konsumsi instruktur jalan maupun selama pelaksanaan teori. Biaya Pra-Dikltasar, promosi dan survey-survey pendahuluan, termasuk juga penutupan Diklatsar itu sendiri. Danlat dan jajarannya setidaknya membutuhkan biaya tak kurang dari Rp. 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) untuk menjalankan diklatsar ini. Rencana Anggaran Biaya dapat dilihat dengan mengklik tautan ini : http://www.facebook.com/pages/Bulletin-Dewadaru/156829415882?v=app_10442206389&ref=sgm

           Berkaca dari pengalaman Diklatsar sebelumnya, serta metode pengumpulan Dana D-Day kemarin. Plt dan Panitia Diklatsar malam tersebut, telah menyepakati beberapa hal diantaranya :

  • Plt akan mensubsidi sebesar Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) yang merupakan dana taktis Dewadaru dari Lembaga (Kampus).
  • Akan menyebarkan beberapa proposal dana partisipan baik perorangan, maupun lembaga yang akan mendukung Diklatsar ini. Dengan atau tanpa timbal balik.
  • Dana pinjaman sebesar Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) yang merupakan Subsidi Plt ke Panitia D-Day akan diminta kembali (Sesuai Perjanjian) guna menambah pendanaan Diklatsar ini.
  • Bagi para donatur baik Perushaan, Anggota Dewadaru ataupun simpatisan termasuk siswa Diklatsar XIII itu sendiri, kami membuka juga Kotak Donasi, diluar Iuran Wajib.
  • Sumbangan Partisipasi tidak hanya melulu dalam bentuk Dana, segala bentuk yang menyangkut keperluan Diklatsar XIII Dewadaru ini, kami akan terima dengan bangga.
  • Akan diupayakan juga penjualan T-shirt tematik Diklatsar XIII. Seluruh hasil keuntungan penjualannya akan diserahkan kepada Panitia.
  • Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan, mohon maaf sebelumnya, tidak ada jalan lain, Plt Dewan Pengurus Dewadaru beserta Panitia Diklatsar dengan rendah hati dan rasa berat mewajibkan seluruh Anggota Dewadaru, (PRS/AK/Anggota Biasa/AMD) untuk berpartisipasi aktif dengan membantu menyisihkan dana per-orangnya minimal sebesar Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah). Kelebihannya (terima Kasih sebelumnya) kami catat sebagai Donasi.
  • Seluruh Dana mohon ditransfer ke Rekening Bendahara Diklatsar XIII, No. Rek. BCA 2331686991 atas nama Yoyo Suryo Sugiharto.
  • Seluruh dana yang masuk serta namanya akan diinformasikan secara terus menerus perkembangannya melalui Bulletin ini. Serta penggunaannya nanti diakhir kegiatan akan dilaporkan / diinformasikan sebagai akuntabiltas publik. (Kewajiban Panitia).
  • Panitia juga memohon Usulan dan masukan lain diluar ini dalam rangka menggalang dana tersebut. Idenya sangat kami tunggu.

           Besar harapan Kami pengumpulan Dana ini dapat berjalan semestinya, Keterlibatan rekan-rekan tentu sangat kami harapkan nantinya, demi sukses dan terselenggaranya Diklatsar XIII ini.

.

Kalender Diklatsar XIII Dewadaru

             Dibawah ini adalah kalender kerja yang telah ditetapkan Panitia Diklatsar XIII, beberapa jadwal memang akan ada penyesuaian terkait belum keluarnya agenda kuliah dari Lembaga untuk tahun 2011 kedepan, Tapi Panitia telah sepakat bahwa jadwal dibawah ini diputuskan setelah mengambil pertimbangan bahwa musim perkuliahan serta Ujian Tengah Semester Calon Siswa usai dilakukan sehingga Kegiatan Diklatsar XIII tidak akan mengganggu UTS tersebut.

Tak terasa, hari telah berganti, Menjelang dinihari kami putuskan rapat kami akhiri. Rasa bahagia menyelimuti kami saat itu, Akhirnya memang the show must go on .., genderang telah ditabuh, waktu telah disepakati, tinggal tugas berat menanti didepan. Sudahlah cukup keluh kesah itu harus diakhiri, fokus saja kedepan, Ikhlas saja beramal baik buat Dewadaru, Insya Alloh semua ada jalannya. Optimisme dan perjuangan tentu terus tak henti. Bro, Terima kasih telah meluangkan waktunya malam itu hingga semuanya ini dapat terencana dengan baik dan lancar. █

(Bhayo SemerOe/D-012-KL)


“Duet Maut” Diklatsar XIII, The Show Must Go On !

.

Duet, Danlat & DanOps Diklatsar XIII. Anung An-Hank S. Nugraha (Dewadaru – 037 – Purnama Belantara) Iman Badjra Robiansyah (Dewadaru – 105 – Lawang Angin) Welldone !

[ Bulletin Dewadaru pada 3 Desember 2010 pukul 14:35] | Acara pelantikan dan Persesmian Komandan Latihan (DanLat) Pendidikan dan Latihan Dasar XIII Dewadaru semalam (Rabu, 01 Desember 2010) di Basecamp cukup berjalan lancar. Dengan hanya dihadiri 4 (empat) personel saja tapi tetap khusyu, fokus dan telah menghasilkan beberapa keputusan, salah satunya adalah Diklatsar XIII kudu dilaksanakan tanpa reserve dan memberikan mandat sepenuhnya kepada “Duet Maut” yang malam itu berhasil kami sepakati atas keikhlasan-nya untuk bersedia menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Alhamdulillah, Nuhun Pisan.

         Hujan yang sedari siang hingga malam tak henti-hentinya mengguyur kota Bandung, hal ini barangkali yang menyebabkan urungnya rekan-rekan untuk menghadiri acara pelantikan ini. Dari 106 (Seratus enam) Anggota Biasa Dewadaru dan Perintis  yang telah memiliki Nomor Pokok (Nrp) serta tak kurang dari 8 (Delapan) orang Anggota Kehormatan ditambah sekitar 15-an orang Anggota Muda Dewadaru yang terdeteksi keberadaannya, Hampir 85 % memang berada diluar Bandung, tersebar dibeberapa kota besar di Jawa dan pulau lainnya. 15 % sebenarnya masih bertempat tinggal di Bandung, malahan bila ditambah dengan jumlah anggota yang tinggal tak jauh dari Bandung (Bogor,Jakarta,serang,tasik dan sekitarnya) prosentase ini bisa bertambah.

          Prosentase ini coba dihitung-hitung lagi hanya sekedar memberikan gambaran bahwa kekuatan Dewadaru untuk menjalankan Diklatsar XIII diatas kertas masih bisa. Katakanlah 15% dari Jumlah tersebut diatas, kurang lebih  20 (Dua puluh) Orang anggota Dewadaru yang berdomisili diseputaran kota Bandung  bila bahu membahu menyingsingkan lengan dan mau berbagi waktunya, mestinya lebih dari cukup. Hingga Pelaksana Tugas (Plt) Dewan Pengurus Dewadaru berharap banyak acara sore itu dapat menarik minat dan dihadiri sekian orang tersebut, minimal yang ada dikota Bandung saja. Apalagi acara sore tersebut tergolong krusial, selain melantik Danlat sekaligus juga mencari Komandan Operasi dan gelar kasus pertelaan operasi Diklatsar XIII yang akan dijalankan. Setelahnya  direncanakan Juga ditindak lanjuti mencari panitia-panitia inti, seorang DanOps serta Team leader untuk dilapangan nanti.

Diklatsar Angkatan JC

          Tapi lagi-lagi,” Hujan”, Kesibukkan pekerjaan dan masalah-masalah pribadi anggota lainnya yang tidak bisa ditinggalkan menjadikan sore itu hanya dapat dihadiri 4 (empat) orang saja. Saya (D-012-KL), Agus Widiana (D-011-KL), Anung S Nugraha (D-037-PB) dan Iman Badjra Robiansyah (D-105-LA). Atau jangan-jangan karena agenda sore itu mencari dan menunjuk, kalimat ini jadi salah satu faktor penyebab juga mengurungkan niat hadir tersebut, jangan-jangan nih, walau kami menjamin kegiatan Diklatsar ini biasanya bikin” gatal” anggota, masih menempati nomor urut satu dari segi ketertarikan. Atau jangan-jangan kini telah digeser oleh kegiatan model: D-Day yang kemarin terbukti bisa menghadirkan Anggota Dewadaru lebih dari setengahnya, hebatnya tidak hanya dari kota Bandung saja, tidak sedikit yang menyempatkannya walaupun dari luar kota, bahkan dari luar pulau Jawa.

          Malam kemarin akhirnya kami berempat toh tetap harus realistis juga menerima kenyataan tersebut. Organisasi  memang terkesan masih sulit memaksakan orang (anggota) untuk hadir, sampai dengan saat ini masih belum memiliki sebuah sistem yang mumpuni dapat mensejajarkan antara Hak dan Kewajiban anggota terhadap organisasi. Apalagi meminta untuk berpikir keras menjalankan kegiatan organisasi. Segala sesuatunya selalu diserahkan kepada pribadi anggota masing-masing dan hal yang bersifat sosial inilah yang menjadikan kamipun menyadari bahwa ya, sudah, Okelah kalau begitu, kami memakluminya, “mau apa lagi .., meuruen engkemah aya ..“, stop memikirkan hal tersebut, fokus kedepan saja, maksimalkan yang ada dan tetap profesional.  Walau obrolan ini sempat ngelantur menyita waktu lama juga diawal pertemuan kemarin malam tersebut, sambil menunggu barangkali ada yang datang anggota lainnya. Tapi yang datang Alhamdulillah malahan ada 2 (dua) Orang Calon Siswa lagi mendaftar sore itu. Wah, semangat tentu jadi semakin bertambah.

Suasana Karantina Medan Teori.

Duet Maut

           Kembali ke persoalan inti, Malam kemarin akhirnya secara resmi Ketua Plt Dewan Pengurus (Agus Widiana) menunjuk Anung S. Nugraha (D-037-PB) untuk menjabat sebagai Komandan Latihan (DanLat) dan Iman Badjra Robiansyah (D-105-LA) sebagai Komandan Operasi (DanOp) pada Diklatsar XIII Dewadaru.  Sekaligus memberikan mandat sepenuhnya untuk selanjutnya membentuk dan menjalankan Diklatsar XIII sebaik-baiknya. Aklamasi ini tentu juga disetujui oleh 1/3 anggota Dewadaru yang hadir pada malam itu. (1 Anggota yang datang  dan 3 Plt). Penyerahan mandat ini tentu sekaligus mengucapkan Syukur Alhamdulillah serta pujian yang setinggi-tingginya kepada Anung yang tanpa diminta langsung bersedia jauh-jauh hari sebelumnya, serta kepada Iman Badjra yang saya yakin kedatangannya pada malam tersebut sudah bertekad bulat akan menduduki posisi ini, walaupun diawal pertemuan mengawali kesanggupannya menjadi Komandan Leader terlebih dahulu, tapi semangatnya malah tertantantang, “kagok“, sekalian saja menjadi DanOps.  Satu persoalan Plt setidak-tidaknya mulai terurai.

Bagi Anung, penggemar Caving  Lulusan Dewadaru angkatan ke III (Purnama Belantara) yang sering dipanggil An-Hank ini, jabatan Danlat mungkin sudah tidak asing baginya. Ini merupakan kali keduanya. Pada Pendidikan dan Latihan Dasar X November 1997, Angkatan Jagat Cadas, Anung pun juga menduduki jabatan yang sama.  Iman Robiansyah sendiri Lawang Angin satu ini merupakan “darah segar” yang masih kami miliki. Aktifitas terakhirnya yang baru saja ditahun kemarin mendapatkan Nrp-nya dari season perjalanan Rock Climbing nya, Kegiatannya tersebut ternyata saat ini lebih dipertajam dengan mengaktifkan diri membantu Skyger  (Perguruan Panjat Tebing Bandung) dalam melaksanakan sekolah-sekolahnya.

Come unity …

           Dipenjabaran awalnya malam kemarin,  Danlat malahan telah menyiapkan beberapa kertas kerja serta lembaran (Sheet job) deskripsi kepanitian yang dia inginkan. Semuanya sudah tersusun dengan rapih. Bagi staff dibawah nantinya sebenarnya telah diberikan kemudahan dalam merinci tugas dan kewajibannya, malahan alokasi waktu juga telah disediakan termasuk alokasi dana yang diinginkan untuk didepartemennya masing-masing. Dari persiapannya tersebut rupanya Danlat sudah betul-betul menyiapkan secara rinci segala sesuatunya untuk menghadapi malam ini. Sayang yah anggota tidak hadir malam tersebut.

          Modal diatas tersebut tentu bagi Plt “Duet Maut” ini dapat meyakinkan kita semua, Komposisi keduanya bisa jadi Duet yang dapat diandalkan, bahwa beliau-beliau cukup mumpuni dapat mengawal Diklatsar XIII ini, satu kaya pengalaman dan satu lagi masih hangat dalam segi aktifitas maupun semangat esprit de corp-nya. Tentu dalam kondisi yang serba kekurangan personel dan sumber daya lainnya ini keduanya dapat bahu membahu menggugah kembali anggota lainnya agar dapat terlibat juga membantu begitu juga sebaliknya, terutama dalam menyusun kekuatan untuk menyelenggarakan Diklatsar ini.

         

Skenario Operasi

          Malam itu juga kami sempat membahas beberapa Sistem Diklatsar yang rencananya akan digelar. Mulai dari sistem mentoring hingga sistem pendek yang mengalami penyesuaian disana-sini. Penyesuaian tentu melihat perkembangan terkini menyangkut sumber-sumber daya yang berbasis pada rasionalitas dan realistis. Beberapa silabus dan kurikulum juga akan disesuaikan, beberapa materi sepertinya akan dipangkas sebagian dialihkan pendalamannya nanti di Masa Bakti Anggota Muda setelah kegiatan Diklatsar ini. Sebagian yang dirasa perlu dan menjadi dasar dari sebuah pedidikan akan dipertahankan baik teori maupun prakteknya. Dan tentu yang tak kalah menariknya, penanaman jiwa korsa, KeDewadaruan serta penyiapan utama dari para Dewadaru muda ini nantinya diorganisasi jadi formula khusus yang akan dikedepankan.

          Ada yang menarik, dan ini merupakan permintaan dari sang Komandan Latihan. Anung menginginkan Diklatsar kali ini berbeda, terutama dari segi aturan main. Hal ini juga menurutnya pernah diterapkan pada Diklatsar sebelumnya (Pada waktu ia menjabat DanLat/ Angkatan JC) tapi sayang hal ini belum berjalan. Kembali Ia menginginkan ada garis yang jelas membatasi antara Siswa, Instruktur maupun tamu. Ada garis demarkasi atau radius tertentu yang harus dijaga secara konsisten. Setiap Instruktur, Tamu atau siapa saja tidak bebas seenaknya berhadapan dengan siswa apalagi memberikan eksekusi atau hukuman yang tidak jelas maksud dan penyebabnya. Walaupun hak tersebut dimiliki oleh setiap instruktur maupun tamu untuk berhadapan dengan siswa.

Rencana Poster ..

          Ada aturan main yang akan dibuat panitia pelaksana bagaimana agar aliran tersebut dapat terjalin dengan baik. PUD, Peraturan Urusan Dalam tentu akan mengatur siapa saja, kapan, untuk hal apa dan berapa lama seorang instruktur berinteraksi dengan Siswa tentu akan diatur didalamnya. Termasuk cara berpakaian, Tidak boleh merokok bila berhadapan dengan siswa dan lain sebagainya salah satu diantaranya. Tentu ijin tertulis maupun koordinasi akan diatur untuk mengatasi hal ini. Ini berlaku baik selama medan Teori dan diseluruh lokasi Medan Operasi, pinta Anung.

          Hal ini diusulkan tentu bermaksud baik, berkaca dari pengalaman, masalah ini memang jadi krusial terutama dapat mengganggu ritme fisik siswa, skenario yang telah disusun juga kesewenang-wenangan yang tidak pada tempatnya. Bayangkan bila setiap Tamu atau instruktur boleh seenaknya berhadapan dengan siswa tanpa kontrol dan pengawasan, kemudian melakukan tindakan-tindakan yang tidak diketahui dan ini berulang ke setiap instruktur atau tamu yang datang, bagaimana nasibnya siswa. Walaupun tentu Panitia harus proporsional juga memberikan penawaran waktu tertentu atas ijinnya sesuai dengan materi yang sedang berjalan pada saat itu dengan tujuan-tujuan tertentu, misal membangkitkan semangat siswa, mental, fisik serta lain sebagainya.

          Agus, sebagai Ketua Plt, malam tersebut langsung merespon keinginan baik Komandan latihan tersebut. Plt akan mengeluarkan atau memberikan Surat Keputusan bagi Danlat dimana salah satu item di Skep tersebut selain pengangkatan menjadi Komandan Latihan juga jaminan Plt untuk mengamankan kegiatan Diklatsar XIII ini. Jaminan tersebut direalisasikan dalam bentuk mengutus (membentuk) Tatib Diklatsar XIII yang akan diketuai langsung oleh Kang Didik Djunaedi (D-001-PRS). Alhamdulillah melalui komunikasi seluler beliau bersedia dijadikan Komandan (DanTatib) ini, AgusWak Widiana menjadi personel didalamnya termasuk  Sirajdudin Sirait (D-053-LH). Kebetulan beliau sendiri melalui FB bersedia menjadi salahsatu anggotanya. Tatib memang diposisikan diluar kepanitiaan Diklatsar,  merupakan utusan Plt dalam rangka pengawasan yang bersifat Tata Tertib personalia.  Mudah-mudahan kebijaksanaan ini dapat sejalan dengan yang diinginkan Danlat dan DanOps, terutama dalam memperlancar kegiatan Diklatsarnya. Amin.

Diklatsar Purnama Belantara. Nuckie, Bhanto, Danlat, Hendratno.

Jadwal Pertemuan Rutin Panitia

          Menjelang tengah malam, Rapat pertemuan harus diakhiri. Sebagai pembicaraan awal mengupas habis rencana Diklatsar XIII dengan berbagai metode sistem pendekatan yang akan diambil, telah disampaikan pada Danlat dan Danops malam tersebut.  Kami Plt selanjutnya menyerahkan sepenuhnya sistem pendekatan mana yang akan diambil termasuk titipan Calon Siswa yang kini berjumlah 10 (sepuluh) Orang itu. Danlat dan DanOps tentu akan menggelar rapat-rapat marathon untuk menjabarkan semuanya secara detail.

          Jadwal Pertemuan secara detail mungkin kita tinggal menunggu saja kapan akan digelar, tapi secara rutin saat ini di basecamp Dewadaru selalu ada kesibukan terutama setiap hari :

  • Selasa dimulai jam 15.00 s.d selesai dan hari  
  • Sabtu dimulai pukul 16.00 s.d selesai.

Ada latihan fisik bersama antara instruktur dan Calon Siswa, sekaligus secara rutin ada briefing-briefing tertentu tentang check list kelengkapan siswa dan informasi-informasi lainnya. Mudah-mudahan jadwal Plt ini bisa diambil alih oleh Panitia Diklatsar untuk meneruskannya. Bagi para anggota Dewadaru ini juga informasi bahwa di Basecamp Dewadaru saat ini sudah mulai menggeliat. Setidak-tidaknya bisa mampir dan urun rembug bahkan bisa mengenal dan melihat seberapa jauh kesiapan calon siswa maupun Dewadaru dalam penyelanggaraan Diklatsar XIII ini.

The Show Must Go on, tidak ada pilihan lain. █

(BhayoSemerOe/D-012-KL)


Kerinduanku

.

ke Semeru kutumpahkan letihku
setelah ke sekian detik,
peluhku,
lelahku,
penatku,
jenuhku,

menggenang di sepanjang hari-hari
karena telah berlari memburu waktu
karena telah berjalan menjelajahi rimba kehidupan
kini kutumpahkan segala letihku di jiwaku, disukmaku
karena sudah lama aku dirundung rindu
rindu akan beningnya air telaga Ranu Kumbolo mu
rindu akan kabut putih yang senantiasa menyelimutimu

rindu akan desau angin yang senantiasa menerpa pucuk-pucuk pinusmu
rindu akan cemara-cemaramu yang ramping tua berlumut

rindu akan alang-alang di tegalan alun-alunmu
rindu akan burung-burungmu yang senantiasa berkicau

rindu akan bunga-bungamu yang senantiasa bermekaran
rindu akan hutanmu yang masih perawan
rindu akan sejuknya hawa pegununganmu
rindu akan damainya alammu

(BhayoSemerOe|D-012-KL)


Menakar dan Memilih Anggota Kehormatan (AK) Dewadaru

Dikegiatan penutupan Diklatsar XIII Dewadaru 2011 kemarin atas dasar usulan anggota serta mempertimbangkan banyak hal, Dewadaru memutuskan Mas Bambang Eko Putranto (BEP), Kang Rudi Kurniawan serta Bung James Salamena disetujui diangkat menjadi Anggota Kehormatan (AK). Sampai dengan detik-detik terakhir Syal itu akan disematkan, tak satupun dari ketiganya hadir. Tak jelas konfirmasinya.  Ini jadi bahan perenungan , salah orangkah?, Atau kalau begitu harus siapakah kandidat AK tahun ini ?.

Ketua DP III Dewadaru Benyamin Lukman (D-021-KL), ketika menyematkan Syal D-005-AK, Bpk. Syafei Djamil. (1990)

__________Sudah menjadi tradisi di Dewadaru disetiap kegiatan Diklatsar, Biasanya pada bagian akhir setelah dilakukan penyematan Syal para siswa yang telah berganti menjadi  Dewadaru Muda,  terselip sebuah seremonial yang juga tak kalah pentingnya. Walau tak jelas tercantum dalam AD/ART kita tempat dan dimana lokasi yang semestinya. Tapi tersirat jelas bahwa Anggota Kehormatan (AK) adalah salah satu dari 3 (Tiga) pilar sumber daya organisasi dari karakterisitik keanggotaan yang kita miliki, yaitu Anggota Biasa (AB), Anggota Muda Dewadaru (AMD) dan Anggota Kehormatan (AK) itu sendiri. Khusus AK secara rutin organisasi memilih dan mengangkatnya (walau tidak berturut-turut) diresmikannya selalu bertepatan dengan kegiatan Diklatsar. Didahului rapat-rapat pemilihan kandidat beberapa hari sebelumnya, prosesi pemilihan, peresmian dan penyematan syal sekaligus pemberian nomor pokoknya. Malahan ada klausul pasti di aturan kita bahwa Direktur Kampus kita, siapapun itu, mestinya secara otomatis haruslahdiangkat menjadi AK Dewadaru.

Yappi Eka Prasetya (D-003-AK)

__________Kenapa mesti ada AK, seberapa pentingkah AK, kenapa diangkat dan diterima tanpa melalui proses Diklastar, barangkali perdebatannya sudah selesai dahulu ketika AD/ART itu dirumuskan. Setidaknya para perintis kita juga melihat kelaziman organisasi sejenis kita diluar. Paling tidak hampir semua organisasi yang berbasis masa, sosial kemasyarakatan, atau juga kolektifitas minat sejenis semua menyelipkannya walau dengan bahasa dan penyebutan yang berbeda. AK tentu menjadi penting baik secara positioning, strategis Organisasi, politis maupun simbol-simbol yang ingin dicapai. Sekedar menduga-duga, malahan ada sebagian organisasi memanfaatkannya jadi shortcut, AK jadi perburuan untuk mendapatkan pengaruh dengan memanfaatkan “Nama Besar” organisasinya. Bisa jadi juga  keberadaannya dimaksimalkan sebagai jalan pintas

Bpk. Khotimun Sesepuh Desa Nyalindung Burangrang

untuk mendapatkan kemudahan dan keinginan yang akan dicapainya, memuluskan kegiatannya sekaligus sokongan dananya. Tapi tidak sedikit juga pengangkatannya elegan, sebuah bentuk apresiasi tertentu atas loyalitas serta darma bhaktinya dalam kurun-kurun waktu tertentu membangun dan membesarkan organisasi.  Hal ini tentu sah-sah saja dan tentu bukan merupakan kriminal, sepanjang etika berorganisasi tetap dilaksanakan. Jadi AK yang ada dan telah menjadi bagian keanggotaan di Dewadaru ini, tentulah tidak akan jauh berbeda datang dari niatan para perintis dahulu. Sebagian telah dilaksanakan selebihnya jadi pekerjaan rumah yang terus diupayakan. Strategis maupun politis. Harus !

__________Memang ada yang  belum dijabarkan secara teknis di dalam aturan main kita. Terutama persoalan kriteria dan syarat-syarat yang menyertainya.  AD/ART belum mengatur hal tersebut dipenjelasan pasal demi pasalnya apalagi menjabarkan secara rinci tugas dan fungsi AK serta kewenangan didalam organisasi. Bahkan secara spesifik organisasi Dewadaru belum memiliki konsep yang jelas (nyaris tidak ada) bagaimana memberdayakan mereka dalam program-program tetap yang berkelanjutan. Yang terlihat

Ganis Hargono (D-004-AK)

malah organisasi sepertinya (maaf) terkesan menjadikan mereka lumbung dana saja, dibutuhkan pada saat yang diperlukan. Sisi lain AK sendiri kurang berinisiatif (belum) melibatkan diri dalam kegiatan apalagi menjadi leader. Padahal aksi-aksi ini terkadang bikin rindu juga kita-kita untuk bersilaturahmi dengan para AK . Sehingga wajar bila persoalan kriteria serta optimalisasi  program kedepannya tak tertata dengan baik, belum dirinci dalam sebuah petunjuk dan pelaksanaan misalnya.

Walhasil, proses pemilihan kandidat nominasi AK  hanya berkutat pada : siapa? Tidak dilanjutkan : Untuk apa nantinya?. Maka wajar  ketika diawal  proses penjaringannya muncul kesan yang terjadi  ada penafsiran yang berbeda, kriterianya jadi liar, tak jarang Subjektifitas sangat menonjol dibanding objektifitasnya.

__________Dewadaru sampai dengan saat ini telah memiliki AK sebanyak 8 (Delapan) orang. 2 (Dua) diantaranya telah mendahului kita (Alm). Dari komposisi AK yang kita miliki baru 3 (Tiga) orang yang betul-betul mewakili dari lembaga kampus ini, Satu sisanya juga tidak di Kampus. Bapak Albert Suyitno dan Bapak Hariadi di era keduanya sudah sangat tidak diragukan lagi, “duet maut” bapak Dewadaru ini dahulu bahu membahu selalu membantu kita baik support, pertolongan maupun “jewerannya”. Begitu juga dengan Bpk. Syafei Djamil di era berikutnya tak kalah tegasnya (Karena waktu itu masih perwira aktif), sehingga ketiganya walau otomatis jadi AK (Mantan Direktur AMIK) tidak terkesan simbolis,  tapi beliau-beliau turun aktif kedalam organisasi. Figur inilah yang saat ini kita rindukan dari seorang AK perwakilan Lembaga kampus yang saat ini lowong. “Si anak bengal” itu kadang rindu juga belaian kasih sayang “orang tuanya”.

__________Dari 5 (Lima) AK yang tersisa : Yappi Eka Prasetya, Ganis Hargono, Nendy Wildany Noor, Hariadi Suhairy dan Taufik Nugraha, Hanya Mas Taufik yang betul-betul datang/perwakilan non akademik. Mas Taufik berangkat dari Simpatisan pertemanan yang tentu karena atensi dan bantuannya dari awal secara kontinyu tidak diragukan,  beliau yang juga pengusaha, karena berlatar belakang berpendidikan bussiness management dalam sesi-sesi formal maupun informal selalu bertransfer ilmu mengenai strategi dan praktisi dibidang tersebut. Tak jarang banyak dari anggota Dewadaru direkrutnya menjadi mitra dalam bisnisnya.

James Salamena

__________Selebihnya 4 (empat) nama-nama diawal, sebenarnya lebih tepatnya sih disebut Perintis Dewadaru juga, karena satu dan lain hal dahulu “kurang beruntung” tidak memiliki waktu untuk mengikuti Pendidikan dan Latihan dasar di Mapenta Unisba bersama ke-10 Angkatan Perintis kita. Salah satunya adalah James Salamena, kandidat AK tahun kemarin (Di Diklatsar XIII) yang tidak bisa hadir. Tidak banyak yang tahu bahwa Kang James inilah bersama-sama dengan Teh Ranti Junus yang pertama kali mengusulkan dan memberi nama “Dewadaru” sekaligus logo/symbolnya yang sampai dengan saat ini kita jadikan nama organisasi dan bisa kita lihat dengan gagahnya. Mereka semuanya mengambil peran penting di posisi dan keberadaannya dahulu diorganisasi civitas academic masing-masing, masih dilingkungan AMIK  (dahulu) ketika menyiapkan kelahiran jabang bayi Dewadaru. Walau masih banyak nama lainnya yang sedang kami teliti hingga saat ini.

Kanan ke kiri, Ganis Hargono (D-004-AK), Nendy Wildani Noor (D-006-AK), Haryadi Suhairy (D-007-AK)

__________Mengambil contoh organisasi besar seperti Wanadri atau Mapala UI, mereka tak segan-segan selalu bersaing mencomot Menteri, Pangab, Walikota bahkan Gubernur,  malahan terakhir Wakil Presiden tak tanggung-tanggung  mereka jadikan juga Anggota Kehormatan. Tentu semua melalui proses panjang  baik relasi maupun jejaring socialita mereka yang memang sudah menggurita. Hebatnya bagi  AK yang bersangkutan keanggotaan itu jadi kebanggaan, sesuatu yang mereka inginkan,bisa jadi. Ini jadi sebuah pelajaran menarik bagi kita. Kalu melihat Komposisi AK yang kita miliki dibandingkan dengan itu, Kita mungkin belum sampai setaraf itu, masih banyak yang harus dibenahi di intern organisasi kita, malahan yang terjadi  jangan sampai kebalikannya dari hal tersebut. Ketika seseorang ditawari menjadi AK-Dewadaru, yang muncul adalah persepsi negatif, mengagokkan, kengerian dan berprasangka yang tidak-tidak. Baginya AK bukan menjadi sebuah kebanggaan personal. Padahal tidak semua orang memiliki momentum dan kesempatan untuk itu lho!. Yang lebih memilukan lagi perasaan ini jangan-jangan hinggap di AK yang ada saat ini,  Mudah-mudahan ini tidak, dan bukan pula kasus iniyang terjadi pada pengangkatan AK di Diklatsar XIII tahun kemarin.

Haryadi Suhairy (D-007-AK)

__________Yang menjadi pertanyaan, Siapakah Calon Kuat D-009-AK, berikutnya, atau nominasi para kandidat AK untuk tahun 2012 ini. Atau adakah AK tahun ini akan ditambah?,  Beredar rumor di setiap pembicaraan pendahuluan ada satu nama kuat yang menjadi kandidat utama. Semua anggota Dewadaru pasti telah mengenal dan akrab dengan bapak yang satu ini. Bahkan bila tidak mengenal dengan bapak yang satu ini agak dipertanyakan Ke-Dewadaruannya, (hehe ..) dan ke-Nyalindungan-nya. Walau secara adminitrasi, Bapak Angkat Dewadaru ini sudah diangkat AK terlebih dahulu oleh “Sang Kakak” Mapenta Unisba. Bapak Khotimun  beliau merupakan sesepuh desa Nyalindung dimana hampir seluruh kegiatan Diklatsar Dewadaru pastinya beliau, direpotkan oleh kita. Terutama yang berkaitan dengan Basecamp singgah sebelum mendaki Burangrang. Seluruh komando terpusat dikediamannya ini.  Persoalannya memang seputar AK-Mapenta itu. Menjadi miris juga kalau penghargaan tersebut terkendala dengan masalah tersebut. Ini perlu kiranya pendalaman lagi atau sekali lagi putuskan saja. Toh lagi-lagi AD/ART tidak mengatur akan hal itu. Tinggal etikanya, konfirmasikan dengan Mapenta Unisba akan niatan ini.

_

Ir. Taufik S Nugraha (D-008-AK)

_________Calon lainnya tentu Mas Bambang Eko Putranto (BEP), yang kini menjabat sebagai Direktur Kampus, Kang Rudi Kurniawan sebagai KaBid Kemahasiswaan Kampus  dan Kang James Salamena yang nota bene sudah disetujui forum tahunlalu, menjadi bayang-bayang juga harus diputuskan dan dimasukkan jadi nominator AK tahun ini. Terlepas beliau-beliau setuju atau tidaknya sekaligus dapat menghadiri peresmiannya. Akhirnya Ini jadi tugas Kang Aditya Z Kusuma (D-003-PRS) sebagai ketua Pejabat Sementara (Pjs) Dewan Pengurus Dewadaru kali ini untuk sesegera mungkin membentuk Komite Khusus menangani masalah AK ini, di tengah mepetnya pelaksanaan Diklatsar XIV kali ini.

__________Kini kita tinggal menunggu khabar dari para regulator Dewadaru beserta flour demokrasinya, apakah tahun ini ada AK baru ?. Jikapun tidak , jangan takut walaupun kita tidak sebesar Wanadri, Mapala UI dan lainnya, Anggota Kehormatan yang kita miliki masih gagah-gagah, full power, kredibel dan akan terus jadi kebanggaan kita semuanya. Tinggal bagaimana kita positif memberdayakan mereka dengan Ide dan kretifitas, bersilaturahmi terus menerus sehingga mereka tidak merasa di – ekslusif – kan, tidak berdiri diluar pagar Dewadaru terus. (D-012-KL) █


Info Diklatsar X4 Dewadaru

.

[Tulisan ini diselipkan pada Brosur Formulir pendaftaran Calon Siswa Diklatsar XIV Dewadaru]

.

Salam Rimba !, Pada pertengahan bulan Maret 2012 ini, kami Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Pprpg) Dewadaru  kembali akan menyelenggarakan kegiatan istimewa, Rekruitmen penerimaan anggota baru Diklatsar XIV. Pada kesempatan yang baik ini menjelang pelaksanaannya nanti, perlu kiranya disampaikan beberapa hal penting guna memudahkann calon siswa (anggota) untuk lebih mempersiapkan diri sebaik  mungkin.

Butuh Anggota Baru !

—————Sebagai  organisasi penggiat kegiatan alam bebas, nyaris selama 25 tahun kita berkegiatan, cukup banyak sudah mengukir kisah-kisah kelana. Kegiatan pendakian gunung, Penelusuran gua, pemanjatan tebing sampai dengan penyusuran pantai, kerap menjadi sebuah cerita kami yang tiada habis-habisnya. Baik secara individu maupun bekerja sama dengan perhimpunan sejenis,   kerap kegiatan tersebut berganti-ganti, dari hanya sekedar perjalanan biasa, Petualangan, Pioneering, Penelitian Ilmiah, sampai pada kegiatan bersifat serius yang dimenej secara Ekspedisi. Ada juga yang bersifat prestasi berupa kegiatan kompetisi yang dikelola secara berkelanjutan berskala nasional. Itu semua muncul mulai  dari hanya   obrolan santai, diskusi rutin, dan kegiatan  yang memang sudah digariskan dalam GBHD, Garis-garis Besar Haluan Dewadaru yang kita perbaharui tiap 5 tahun sekali.

—————Waktu terus berjalan, Kitapun menyadari, sebagai organisasi yang berada dilingkungan kampus, Selalu saja ada kendala yang ditemui dalam perjalanannya. Memposisikan diri sebagai Organisasi Hobi Ekstra Kurikuler sungguh memang sebuah ujian tersendiri. Tantangan hampir selalu muncul ketika secara bersamaan kitapun terus dituntut optimal, bagaimana agar Dewadaru sukses beriringan dengan berhasil pula kita menyelesaikan tugas utama kita yaitu, kuliah.  Menjabarkan Kegiatan agar sukses mencapai tujuan didalam pengertian Media  Alam Bebas berbasis Akademik  atau bahkan sebaliknya. Muncul sebuah pertanyaan:  dapatkah kuliah berbarengan dengan kegiatan Alam Bebas ?, sungguh tidaklah mudah,  tapi  bukan pula hal yang sulit bila kita mau memahami dan mencari manfaat, peran & fungsi masing-masingnya. Kami Dewadaru mencoba menerapkan sebuah gagasan kurikulum kegiatan berbasis kompetensi. Dewadaru dimaksimalkan jadi sarana eksplorasi:  professionalisme, pembentukan karakter, pengembangan kepribadian, penambahan wawasan dan kedisiplinan berdasarkan tempaan kegiatan di Alam Bebas, tentu melalui : Cara – Sikap – eksistensi dan implementasinya.

—————Fungsi akademiknya sendiri secara langsung menanamkan nilai-nilai intelektual yang mengarah kepada penerapan metodologi dan mengasah Instuisi. Bagaimana berpikir memecahkan masalah dengan bantuan teknologi serta penerapan manajemen operasional secara  teoritis, Ilmiah maupun praktis seperti yang kita peroleh di bangku kuliah. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan dan wawasan yang di asah-kembangkan terus menerus dalam kegiatan kesehariannya diharapkan seorang Dewadaru dapat mampu berkompetisi dalam menyelesaikan kuliahnya sekaligus bila nanti terjun langsung di habitat (masyarakat) Dunia kerja  dimana dia nanti memilih. Walaupun secara professional Seorang Dewadaru sebenarnya sudah dibekali dan dapat memilih kegiatan Alam Bebasnya  ini jadi lahan sambilan atau bahkan jadi  profesi utama.

—————Dewadaru memang Unik, layaknya wadah pemersatu Kampus, Keberagaman asal anggota yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, mereka juga berasal dari berbagai Jurusan, Himpunan dan Unit kegiatan Mahasiswa yang ada Di STMIK AMIK ini. Hal ini  sudah pasti memiliki budaya dan  karakter yang berbeda-beda. Apalagi Di Dewadaru tidak mengenal Kata Alumni. Sekali anda menjadi Dewadaru seumur hidup layaknya sebuah keluarga anda akan diterima Wellcome di Basecamp tanpa mengurangi hak dan kewajiban sebagai anggota. Makanya bukan hal yang aneh bila di sekretariat Dewadaru maupun diluar banyak ditemui para pemburu tua (Dari berbagai angkatan) saling berinteraksi dengan anggota yang angkatannya muda tanpa sekat mengalir begitu saja. Perbedaan dan homogenitas Ini jadi tantangan tersendiri  walaupun sebenarnya inilah kekuatan lain yang kita miliki. Tapi bila kita cermati, ada yang menarik dari perbedaan tersebut, “darimana” saja mereka dan bagaimana mereka bisa mulai memutuskan bergabung dengan Dewadaru ini bisa jadi bahan referensi bagi rekan-rekan untuk mencoba mengawalinya..

—————Sebenarnya ada satu kesamaan  umum dari mana mereka berasal yang mencerminkan niatan awal mereka bergabung. Kita membaginya dalam 3 (Tiga) karakteristik motivasi  yaitu:

Pertama: Mereka bergabung karena berlatar belakang Kegiatan Alam Bebas, pernah/masih jadi  anggota Pencinta Alam (PA)  di SMU, anggota Pramuka dan organisasi PA umum. Ada juga yang independen bahkan ada dari mereka yang  sudah memilki “jam-terbang”  tinggi.  dengan bergabung di Dewadaru mereka berharap akan lebih  optimal apa yang mereka dapat selama ini dan apa yang akan mereka lakukan nantinya. 

Kedua: bergabung karena tertarik dengan masalah Keorganisasian. Keinginan berserikat, berkumpul mendiskusikan permasalahan dan mencari solusi Jadi sebuah tantangan lain niat Awal mereka. Walalupun tidak berlatar belakang PA, tapi bagi mereka organisasi kegiatan Alam Bebas mempunyai keunikan dan daya terik tersendiri. Banyak dari mereka ini berlatar belakang pengalaman dibidang organisasi yang tentunya sangat berguna bagi kami di Dewadaru nantinya.

Ketiga: Dari data yang kami kumpulkan ada juga dari mereka mengawali ketertarikannya hanya karena semata-mata lebih mencari kegiatan tambahan, Ekstra Kurikuler. Mereka berpikir kegiatan ini untuk menyeimbangkan rutinitas kegiatan kuliahnya.  Bisa untuk menghilangkan kejenuhan, saling bertukar pengalaman, lebih banyak teman sekaligus relasi.

Secara umum paling tidak dengan ketertarikannya pada  Dewadaru ada semacam Benang Merah, mudah-mudahan kegiatan Alam Bebas dan kepencinta alaman tetap menjadi faktor penentu ketertarikannya.

—————Dari latar belakang tersebut, bertepatan dengan hadirnya rekan-rekan Mahasiswa Baru, serta rekan-rekan lainnya yang tidak sempat bergabung pada Diklatsar sebelumnya, Kabar baik ini tentu inilah saatnya. tidak usah berkecil hati apapun motivasi anda,  berangkat dari salah satu niat diatas  atau merasa memiliki lebih diantara ketiga karakateristik diatas, Jangan ragu lagi untuk bergabung bersama kami menjadi anggota keluarga besar Dewadaru. Bersama-sama Kita urai kembali kisah-kisah kelana lainnya demi harumnya nama Kampus tercinta, Dewadaru dan Kita semua. Apalagi saat ini karena satu dan lain hal kebutuhan akan hadirnya anggota baru sangatlah mendesak.

.

Apa Itu Diklatsar XIV (?)

—————Hanya ada satu cara untuk menjadi seorang Dewadaru, yaitu melalui proses penerimaan Anggota baru yang kita sebut Diklatsar  (Pendidikan dan latihan Dasar). Kali ini terselenggara untuk  yang ke 14 kalinya.  Diklatsar sendiri pada intinya merupakan sebuah kegiatan persamaan persepsi, visi dan misi Dewadaru melalui proses adaptasi awal yang lebih dikenalkan secara langsung pada  “Tempat Bermain” Dewadaru. Kami menyadari berdasarkan latar belakang berbagai macam motivasi mereka untuk bergabung, perlu kiranya sebuah format dasar untuk menyatukan perbedaan mendasar tersebut dalam satu persepsi awal ke-Dewadaru-an yang utuh.

—————Kegiatan Diklatsar pada intinya terbagi dalam 2 (Dua) bagian. Tahapan Medan Teori akan berisi penyampaian beberapa teori dasar baik itu kepencinta-alaman mapun teori kegiatan Alam bebas yang akan disampaikan oleh beberapa Instruktur berpengalaman dibidangnya. Instruktur ini berasal dari dalam ataupun perhimpunan lain yang kompeten dibidangnya. Pelaksanaan penyampaian teori biasanya difokuskan disatu lokasi (Kampus). Hubungan interaksi antara siswa Diklatsar dengan instruktur sangat dibutuhkan sekali karena beberapa teori dasar ini akan dipergunakan selama berkegiatan di Dewadaru nantinya. Materi yang akan berperan lebih banyak pada tahapan ini adalah Materi dasar Spesialisasi yaitu : Mountaineering (Hutan Gunung), Rock Climbing, Susur Pantai dan Speleologi (Caving). Karena ini adalah inti kegiatan, para calon Dewadaru akan lebih mendapat porsi yang banyak dengan spesialisasi tersebut baik teori maupun praktek. Sedangkan sisanya  lebih kepada Materi dasar Penunjang Spesialisasi. Misal: Dasar-dasar ekspedisi, Perencanaan perbekalan, Kesehatan lapangan, Manajemen Perjalanan, SAR, Survival dan lain sebagainya. Sedangkan sisanya merupakan materi yang bersifat Materi Penunjang kegiatan berupa pengetahuan umum praktis, diantaranya: Dasar-dasar organisasi, Lingkungan Hidup, Photography dan Jurnalistik alam bebas, Enterpreuneurship dan lainnya. Secara efektif tujuan utama dalam tahapan pemberian teori ini diharapkan Dewadaru muda sudah memiliki bekal kecakapan khusus sebagai seorang penggiat  Alam Bebas dan dapat dipertanggung Jawabkan. Karena keterbatasan waktu, penyampaian materi hanya dibatasi pada dasar-dasarnya saja, tapi untuk tahap lanjutannya diberikan setelah pendidikan ini  selesai yaitu didalam program MABAK (Masa Bakti Anggota Muda).-.

————–Tahapan yang kedua adalah Medan Operasi : Tahapan ini adalah tindak lanjut dari tahapan Sebelumnya. Para siswa dihadapkan pada medan sesungguhnya dilapangan. Hampir keseluruhan pelaksanaan Medan Operasi berisi praktek-praktek yang telah didapatkan pada teori sebelumnya. Selama kurang lebih 4-5 hari Siswa berinteraksi dengan sesama rekannnya bahu  membahu bekerja sama baik secara individu maupun team memupuk persaudaraan dan keakraban dalam kesunyian alam bebas. Peran Instruktur sendiri  sebagai fasilitator dalam mengarahkan apa yang sudah menjadi rencana operasi induk dalam Diklatsar itu sendiri. Akhir dari kegiatan Diklatsar, Secara resmi  seluruh siswa yang lulus  akan disematkan Syal Perhimpunan Dewadaru sebagai tanda diterimanya anda dalam Keluarga Besar Perhimpuanan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Dewadaru. Selanjutnya status anda yang tadinya Siswa berubah menjadi Anggota Muda Dewadaru (AMD).

————–Pendidikan dan Latihan dasar sebenarnya punya peran ganda tersendiri. Selain secara mutu dan kwalitas Kegiatan Diklat sarnya harus lebih baik dari sebelumnya. Kegiatan ini juga harus menghasilkan Dewadaru muda yang lebih berbobot terutama pada peran pentingnya nanti berkegiatan Di Dewadaru serta cerdas menghadapi tugas utamanya sebagai Mahasiswa. Dewadaru tidak henti-hentinya terus mengevaluasi bentuk dan Pelaksanaan Kegiatan ini dari tahun ketahunnya. Jujur saja memang diakui Kegiatan ini Sering dipersepsikan “miring” malah agak berlebihan, para calon Dewadaru banyak yang mendapat informasi yang kurang akurat tentang kegiatan ini. Sehingga kami berkewajiban memberikan informasi yang benar dan apa adanya.

————–Pada Diklatsar XIV ini kami mencoba melakukan beberapa terobosan baru guna memudahkan calon untuk tidak berpikir panjang, skeptis apalagi takut. Pada kesempatan ini kami bantu dengan segala upaya untuk memfasilitasi beberapa peralatan Pendidikan Dan latihan dasar utama. Divisi logistik kami siap mensupport perlengkapan tersebut. Ini dilakukan, mengingat apabila barang tersebut sengaja dibeli siswa, kami menyadari ini akan sangat memberatkan. Rincian Perlengkapan dan biaya tersebut adalah:

.

.

————–Sudah dipastikan biaya Diklatsar XIV kali ini hanya  dipungut biaya : Rp. 25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah). Berharap para calon Siswa dapat berkonsentrasi penuh dipersiapan yang lainnya. Tidak hanya itu, hal lain yang kami menganggap ini penting bahwa kami menegaskan kembali : Tidak ada Body Contact dalam Diklatsar kami, Tidak berbau militer apalagi bentuk perploncoan yang sangat tidak pada tempatnya. Kami segenap Panitia, Staff Instruktur dan pengajar sepenuhnya hanya mengantar dan memfasilitasi para calon siswa sampai pada tujuan akhir nanti.  Menggunakan standar Safety Procedure yang umum dilakukan dikegiatan ini. Biarlah Alam yang membentuk Karakter dan kedisiplinan mereka untuk menjadi Seorang Civitas Alam Bebas yang kita inginkan bersama nantinya.(D-012-KL)

Klik:



Geliat Penjual Tanaman Hias Di Pemkot Cimahi

.

Sembilan bulan yang lalu saya pernah mendatangi sentra florist ini, ketika itu masih aktif-aktifnya berburu Anthurium, gelombang cinta, jenmani, hookeri dan aglonema. Jenis-jenis tanaman yang booming pada saat itu bahkan mungkin jauh sebelum itu. Kini, ada pemandangan berbeda ketika saya dapati lokasi favorit ini sudah semerawut, dan sepertinya sedikit mengkhawatirkan.

Arah menuju Kawasan Pemkot ..

—————Hari minggu kemarin (28/9/09) saya sempatkan bersama keluarga untuk mengunjungi tempat ini kembali, barangkali ada jenis-jenis tanaman baru muncul sekalian berencana mencari tanaman sekaligus media tanam, kebetulan tanaman yang dulu sudah saatnya berganti pot. Tapi sayangnya, sentra florist itu kini sepi dan tak selengkap dulu, koleksi tanamannya nyaris tidak berubah, malahan berkurang, bahkan kini tak tertata dengan baik. Satu-dua lapak yang tersisa bahkan seperti ditinggalkan tak terurus pengelolanya. Padahal Sembilan bulan yang lalu lokasi ini telah dipersiapkan oleh pemerintah setempat sebagai sentra florist diantara geliatnya rencana kota baru sebagai jalur lintas alternatif menuju lembang, tujuan wisata juga sekaligus menjadi bagian asrinya tata letak sentra administrasi kota yang ada disitu.

Jalan Masuk menuju Pemkot Cimahi, diantara lembah Cihanjuang.

—————Bila kita berbicara sentra florist (Nursery) , penjual tanaman dan sejenisnya di Bandung, umumnya orang lebih mengenal lokasi Cihideung (jl. Sersan Bajuri), di seputar jalan menuju lembang, ataupun di daerah Ciwidey, Bandung selatan dan juga di Cihapit, jl. Ciliwung. Padahal di Cimahi ada satu lokasi nursery yang tak kalah lengkap. Letaknya memang agak menjorok kedalam jauh ke arah Lembang melalui jl. Cihanjuang ataupun Jalan Pesantren. Terpisah dari pusat keramaian kota Cimahi sekitar 5-7 Km, Tepat tidak jauh dari kantor Walikota Cimahi yang megah serta selalu sibuk oleh hiruk pikuk pegawai pemda seperti biasanya. Lokasi ini memang ikon baru kota Cimahi. Pemerintah sengaja menggeser aktifitas administratifnya menjauhi keramaian kota dengan membangun lokasi baru bak sebuah kota satelit baru ditengah-tengah lembah Cihanjuang berlatar gunung Burangrang. Jalurnya yang strategis memang sengaja direncanakan dengan baik. Jalur ini sebenarnya jalur memotong bila anda datang dari Cimahi hendak ke Lembang tanpa harus terjebak kemacetan kota Cimahi atau Bandung. Begitupun sebaliknya. Di jalur inilah sentra florist itu berada.

—————Dari penuturan Bp. Weri, salah seorang penjual tanaman asli Madiun disitu; sepinya pengunjung disini sebenarnya sudah berlangsung lama, semenjak berakhirnya booming gelombang cinta, hookeri dan jenmanii kemarin (Nama-nama tanaman hias langka yang sering diburu para penggemar). “Dahulu mas, uang disini kaya sampah “ ucap pak Weri ketika kami sempat mampir ke-kiosnya. “.. orang tutup mata bila gelombang cinta yang diburunya dia dapatkan disini. didalam kios dijual, Rp. 500 ribu, tetapi diluar pintu orang sudah menunggu bisa mencapai Rp. 700 rb karena saking hobinya, itupun untuk ukuran anakan,…untuk yang besarnya sampai puluhan jutapun masih ditebak juga .. ”. Disini memang terkenal koleksi tanaman-tanaman tersebut, ini disebabkan karena para pedagangnya yang kebanyakan dari daerah Jawa tengah, dan timur, sekaligus penyalur pertama yang didatangkan dari daerah sana. Sehingga para penggila tanaman hias itu lebih mengutamakan datang kesini dahulu ketimbang tempat lainnya. Selain lebih murah dan bersifat masal untuk dijual kembali. Tidak seperti nursery professional ekslusif yang ada di tempat-2 tertentu. Walaupun ada juga penjual tanaman hias yang berasal dari Cihideung membuka cabangnya disini. Untuk membedakannya, bisa dilihat dari koleksi yang dijualnya, khas cihideung : Serba bunga dan pohon-pohon bonsai. Tapi sebagian besar disini memang menjual tanaman buruan itu. Apalagi kalau ada pameran berlangsung di mana saja, esok setelahnya dipastikan disini berjejer mobil parkir hampir memenuhi lokasi seluas satu lapangan sepak bola tepat dipinggir jalan Pemkot ini. Penjualnya waktu itu memang aktif mengikuti pameran.

—————Sekarang ini sepi mas, …untuk menjual gelombang cinta yang dulu 5 juta, kalau sekarang ditawarkan 1 juta saja sudah sulit.. ” kata pak Weri menyambung obrolannya. Imbasnya, untuk membayar sewa kios yang besarnya variatif antara Rp. 300.000 an lebih perbulan, (tergantung luas kiosnya), saat ini pun pak Weri harus pinta-pintar memutar kepalanya. Pak Weri memang salah satu penyewa yang masih bertahan saat ini. Banyak teman-2 sesamanya telah hijrah kembali kekota asalnya, sebagian lagi memindahkan (diteruskan) hak sewanya ke orang lain. Sebagiannya lagi spekulasi berpindah lokasi. Pak Weri kebetulan telah satu tahun ini membeli hak sewa lapak seluas (6×15 meter) itu yang dahulu dibeli dengan harga Rp. 7 juta, dari penyewa sebelumnya. “Sekarang ini malah kalau membeli hak sewa harganya sudah naik jadi Rp. 15 juta. ” katanya, sambil memberitahu bahwa kebanyakan peminat tidak tertarik lagi untuk menyewa disini. Karena sudah tahu kondisinya.

Bapak Weri, Pedagang asli Madiun, Mudah-2 an terus Optimis!

—————Pak Weri memang agak kreatif. Untuk bisa bertahan dan menutupi uang sewa kiosnya, selain tanaman (yang tinggal sedikit), ia juga membuka kios minuman es campur , makanan dan rokok serta menjual binatang peliharaan hamster (sejenis tikus kecil) di sela-sela tanamannya. “lumayan mas… kalau hari minggu dari hamster aja bisa dapat sampai Rp. 500 ribuan .. ”, sambil tertawa. Terlihat ada rasa optimis dari usaha sampingannya. Walau kadang ada teguran dari Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) juga yang merasa ini dianggap sudah salah peruntukkan di lokasi itu. Apalagi bila ada dagangan melebihi pagar depan pasti ditegur petugas. Melihat keberhasilan pak Weri Jejaknya pun diikuti hampir sebagian penjual tanaman hias lainnya, Jadilah pemandangan sore hari berubah menjadi sentra kuliner. Nyaris.!

—————Saya pikir tadinya lahan sentra ini kepunyaan Pemkot Cimahi. Ternyata selidik punya selidik ini adalah tanah milik perseorangan, “Pak Haji”, begitu panggilannya konon juga sebagai pemilik Cimahi Mall yang belum lama dibangun itu, sekaligus pemilik lahan di seberang jalan yang luasnya hampir sama dengan sentra ini. Ini barangkali yang menyebabkan lokasi ini tak tersentuh oleh otoritas setempat. Suasana kotor, tak terencana, terlihat tidak serasi dengan kemegahan Pemkotnya yang letaknya tak jauh dari sini. Pak Weri juga malahan menyampaikan kebingungannya ketika pemilik berencana lagi membuka lahan didepan dengan usaha yang sama ?. Sentra florist juga. Bahkan persiapannya kini tengah dimulai. “yang ini saja sudah sepi, mau buka lagi ?, gimana ya mas, saya enggak ngerti tuh ..? ”. Penyewa yang lainpun menyayangkan rencana ini, Padahal di tempat sewa yang sekarang, bila sampai menunggak uang sewa hingga dua kali saja sudah warning harus meninggalkan tempat, ungkapan ini juga senada dengan pak Weri ketika dikonfirmasi.

Tampak Berjejer Pedagang Tanaman Hias di sepanjang jalan Pemkot Cimahi

—————Kemudian menjadi sangat disayangkan memang bila nantinya keberadaan situs ini berubah fungsi, tidak tertata dengan apik, bahkan hanya sekedar tempat kos para penyewa lahan saja yang merubah tata letaknya hingga bebas berbuat apapun layaknya rumah sendiri. Padahal dari segi lingkungan setidaknya keberadaan sentra ini sungguh sangat menyejukkan di tengah-tengah kondisi yang panas dan gersang, bagai paru-paru hidup untuk lokasi disekitarnya yang masih didominasi persawahan dan kebun-kebun ilalang juga rumah-rumah penduduk. Penyebab menurunnya minat pendatang ke lokasi ini memang tidak bisa melulu diandalkan karena harus boomingnya jenis tanaman tertentu saja. Lihat saja contoh misalnya : Jenis tanaman langka Aglonema saja yang sekarang tengah di cari para peminat, di sini tak tersedia keragamannya, tak seperti dahulu beragam varian anthurium tersedia disini. Kelesuan akan masa depan lokasipun sepertinya menghinggapi para penyewa, kesan hanya menghabiskan stock tanaman yang tersisa makin terasa, apalagi persaingan bisnis di bidang ini semakin ramai dilokasi-lokasi yang lain.

.
—————Keterlibatan pemerintah setempat serta pemilik lahan dan penyewa untuk mempromosikan keberadaan lokasi ini memang saat ini jadi penentu. Pameran-pameran yang diadakan dilokasi serta kegiatan – kegiatan promosi serupa bisa jadi prioritas awal yang harus digelar guna memancing para pendatang. Duduk bersama dalam satu forumpun barangkali bisa menemukan solusi dalam dengar pendapat satu dengan yang lainnya. Pemerintah berkepentingan dalam rangka mensinergikan tata ruang kota barunya guna menjadikan lingkungan yang asri, pemilik lahan pun tidak hanya berpikir komersialisasi lahan saja. Pedagang dalam hal ini penyewa lahan juga setidaknya sudah harus menata ulang lagi ruang pajangnya, menjaga kebersihan serta etika peruntukkan lahan, prosentase besarnya juga harus tetap dijaga, bila perlu buat siasat-siasat cerdas strategis tentang isu sebuah varian tanaman, mencontoh skema cerdas siasat citra “gelombang cinta” dahulu.

—————Sayang memang bila lansekap ruang yang ada saat ini disini menjadi timpang karena satu unsur ini tak terurus bahkan bisa hilang. Mengambil perbandingan bagaimana indahnya disepanjang jalan Sersan Bajuri menuju lembang dimana sepanjang jalan berjejer penjual tanaman yang ditata rapih, setidaknya meningkatkan juga pamor daerah dimata para pendatang. Bahkan bisa jadi satu alternatif daerah tujuan wisata layaknya Cihideung Lembang. Manajemen lingkungan hidup yang tertata dengan rapih memang terkait dengan aspek-aspek sosial dan kepentingan bisnis yang terkadang saling berseberangan. Peran pemerintahlah yang akhirnya harus menjadi penentu tanpa harus melulu berpihak disatu kepentingan saja. Mudah-mudahan sentra florist di kawasan Pemkot ini menggeliat kembali. Seperti tawa optimist pak Weri ketika saya pamit, “saya seneng mas bisa cerita banyak kayak gini, sekalian ngeluarin unek-unek selama ini, jarang lho mas ada yang nanya-nanya kayak gini… ” sambil membereskan gelas-gelas minuman es kelapa yang barusan kami pesan. Saya tinggalkan lokasi ini setelah perjuangan mencari tanaman jenis Marbel dan Begonia yang langka itu akhirnya saya dapati juga disini. (Yoyo/D-012-KL)


Force Majeur, Sidang Proposal AMD-JK dan Satgas Diklatsar XIV

Team Seasoner sedang memaparkan isi makalahnya secara bergantian.

Sidang Proposal yang semestinya dimulai jam 16.00 WIB. sesuai undangan yang ada di media sosial sebelumnya, sudah bisa dipastikan molor.  Setelah maghriblah kenyataannya baru dimulai. Kalau ditanya soal kesediaan anggota yang hadir, harap maklum. Seperti halnya banyak sistematika persoalan yang biasa kita temui di Dewadaru dan di sidang-sidang proposal sebelumnya, kali inipun harap dimaklumi juga.—————-

—————-Sidang  hanya dihadiri oleh tiga orang anggota biasa, ditambah tiga orang seasoner; Hary Hardiana, Doddy dan Listia Sumanja. Itupun Irma (LH) yang datang pertama kali ke basecamp ternyata tidak bisa meneruskan, selepas maghrib Teteh kita ternyata harus kembali kerumah, (maklum ibu rumah tangga). Jadi hanya tersisa saya yang datang setelahnya baru disusul Anung yang muncul tepat 10 menit sebelum sidang dimulai. Padahal Seasoner kelihatannya sudah menyiapkan begitu rupa camilan dan minuman yang diperuntukkan bagi anggota yang hadir termasuk Team Penguji. Atsmosfer yang dahulu biasanya menegangkan layaknya sidang-sidang pendahuluan, malam itu tidak kita temui, walau sesekali ketegangan Anggota Muda Dewadaru (AMD)  tidak bisa disembunyikan tersirat dari bahasa tubuh mereka. Tidak hanya membayangkan menghadapi hujaman pertanyaan yang bakal dia dapat disidang nanti, tapi menghitung anggota yang datang serta menebak siapa lagi yang akan datang jadi bagian tersendiri dari kegalauan team seasoner, Walau akhirnya agak lega juga terlihat, ternyata yang hadir tepat seperti yang mereka duga sebelumnya.


—————-Tahun 2012 ini, telah seperempat abad sudah usia Dewadaru. Sedikit demi sedikit kita memang sudah seharusnya dipaksa realistis. Di satu sisi ketidak datangan anggota di basecamp untuk menghadiri atau setidaknya menghormati juniornya menghantarkan memiliki Nomor Pokok Anggota (Nrp), nihil, beribu alasan bisa dikemukakan. Realitasnya, kondisi seperti ini selalu saja berulang dikegiatan-kegiatan penting lainnya, baik seremonial maupun dalam pengambilan keputusan maha penting. Dibagian lain tentu kalau hal ini selalu berulang, walau diupayakan dengan berbagai macam cara tetap seperti ini, Dewan Pengurus (DP) dalam hal ini Pejabat Sementara PJS-DP dituntut sebisa mungkin harus tetap konsisten.  Tidak terpengaruh dengan kondisi tersebut dan tetap memegang teguh dengan apa yang telah menjadi kesepakatan di awal pembentukan PJS ini. Re-Organisasi Dewadaru yang menjadi program utama saat pembentukan PJS dahulu, harus terus digulirkan dan menjadi harga mati. apapun kondisinya, Ada dukungan atupun tidak karena dibatasi oleh waktu yang diberikan statuta lembaga untuk menyelesaikan kevakuman ini secepat mungkin. Menyerahkan Estafet oragnisasi Dewadaru ke anggota Dewadaru yang masih mahasiswa aktif. dan kami sepakat akan hal tersebut.

—————-Ketika Dewadaru dihadapakan pada satu pilihan untuk jalan terus, regulator tentu ditantang harus berusaha sekuat mungkin mencoba menyusun kembali manajemen organisasinya yang telah berantakan selama ini. Salah satu yang sedang diupayakan adalah SDM-nya. Secara bertahap kita harus mencari orang-orang baru yang betul-betul segar, masih aktif diperkuliahan serta  memiliki masa tenggang kuliahnya agak terhitung panjang. Lalu realistisnya dimana?, Saya sendiri berpendapat justru realistisnya pada sikap yang harus kita tunjukkan. Kita secepatnya berani meng-oper tugas dan kewenangan itu kepada generasi-generasi muda khususnya Angkatan Jagat Kilat (JK) ini serta angkatan-angkatan baru yang aka hadir nanti. Tentunya melalui pola asuh yang terorganisir dengan baik. Jangka pendeknya, Reproduksi menjadi kata kunci. Diklatsar secara gradual harus terus digulirkan minimal satu atau dua kali dalam setahun. Hanya ini satu-satunya jalan untuk memperoleh darah-darah segar itu untuk meramaikan Dewadaru dikampus dikesehariannya. Tentu juga pastinya terus berdo’a agar Kampus menggeliat lagi memiliki jumlah mahasiswa regulernya signifikan.

Penyematan Syal Dewadaru setelah diterimanya kembali Sdr. Atep Hamzah menjadi bagian keluarga besar Dewadaru di penutupan Diklatsar XIII Dewadaru/2011

—————-Sikap yang harus kita tunjukkan tentu mendukung sepenuhnya program tersebut. (“Like this yoo.!.” seperti iklan dimedia) atau jangan tanggung-tanggung buat kesepakatan bila tidak datang di Basecamp (Bc), untuk hal-hal yang perlu diambil kesepakatan dianggap setuju,  bila tidak, tentu yang berkewajiban bisa datang ke Bc atau mensikapi di forum media sosial yang kita miliki. Tidak seperti saat ini hawar-hawar, selalu meragu bila hendak bertindak. Dari kesepakatan itu manfaatnya pengurus jadi tahu kekuatan SDM yang ada bila merencanakan sesuatu, juga menjadikan Kuorum bila ada hal-hal yang harus disetujui. Termasuk bila ada pendapat ekstrem lainnya.

—————-Masih sejalan dengan Re-Organisasi diatas, Ada sikap realistis lain yang menjadi perhatian saat ini. Potensi tidur yang kita yakini masih ada gairahnya adalah para AMD kita yang berjumlah cukup banyak itu.  Mereka kadang ingin datang dan membantu Dewadaru, tapi kadung malu tersandung dengan Nrpnya tersebut. Tapi, Rencananya Insya Alloh PJS akan mewacanakan kedepan sebuah program pemutihan Seluruh Anggota Muda Dewadaru, yang ingin memiliki Nrp sekaligus menginventarisir pemberian syal Dewadaru baru bagi anggota yang betul-betul hilang. Sudah pasti Menemui kesulitan bila pola lama diterapkan bagi mereka yang ingin memiliki Nrp harus melakukan Season seperti dahulu. Karena kesibukan, jarak dan lain sebagainya bisa jadi alasan utama, atau dipaksakan “Kerja Sosial” tertentu di organisasi dalam kurun waktu tertentu seperti yang telah dilakukan sebelumnya bagi yang kehilangan syal. Walaupun TestCase-nya toh Dewadaru Legowo menerima kembali Atep Hamzah (LH) menjadi anggota Dewadaru padahal beliau telah di keluarkan dari Dewadaru. Melalui “kerja sosial” nya di Diklatsar XIII kemarin. Atep membuktikan keinginan kuatnya untuk kembali ke Dewadaru menjadi kenyataan. (Tentu setelah melalui rapat-rapat alot pengurus dan telah disetujui Dewan Perintis/PRS tentunya). Sayang pemberian Nrp-nya belum dipenuhi syaratnya hingga saat ini tertangguhkan.

—————-Sekedar wacana, Anung (PB) bahkan punya usulan konstruktif.  Menurutnya kita buat sederhana saja, Bagi AMD yang ingin memiliki Nrp. Kumpulin saja semuanya menjadi satu team, tunjuk koordinatornya.  Kemudian tawarkan ke mereka semuanya, untuk coba menyatukan tekad memberikan sesuatu bagi perhimpunan dengan menghimpun sejumlah dana membangun apa yang Dewadaru inginkan. bisa pengadaan sebuah Climbing Wall, menyediakan Seperangkat peralatan Panjat Tebing, atau memenuhi satu set kebutuhan Perahu Arung Jeram beserta kelengkapannya. malahan bisa kesemuanya., Serah terima dengan Dewan Pengurus, kemudian berikan group AMD tersebut masing-masing Nrp. Selesai dengan ringkas. Hmm… Walau sebuah wacana, Usulan Anung ini sangat-sangat perlu juga dipertimbangkan disaat buntu melokalisir AMD yang ingin memiliki Nomor pokok.

.

Tak terselenggara, kurang SDM.!

—————-Angkatan Jagat Kilat, merupakan hasil dari Diklatsar XIII-2011. Produk dimana Dewadaru tengah dihadapkan pada dilema rasionalitas dan realitas bersinggungan. Produk yang dihasilkan setelah tiga kali percobaan Diklatsar yang gagal mendapatkan peminat (kurun waktu empat tahun) hingga baru setelah yang keempat kali-nya baru menghasilkan tiga AMD, dari Calon siswa berjumlah sembilan Orang diawalnya. Jadi sangat permisif bila kelelahan psikologis organisasi kemarin dalam mememenej-nya memunculkan banyak improvisasi baru. Dengan kekuatan SDM seadanya tetap mempertahankan kesamaan kwalitas dari Diklatsar-diklatsar sebelumnya.  Tapi masih ada yang dibanggakan akan perhatian anggota dari segi bantuan donasi pengumpulan dananya patut diacungi jempol. (baru kali ini secara resmi, Biaya Diklatsar dimintakan donasinya dari anggota).

—————-Ketika memasuki Masa Bhakti (Mabhak) AMD, serangkaian kegiatan rutin yang harus dilewati AMD untuk mendapatkan Nrp, lagi-lagi terkendala, SDM melorot drastis. Praktis Kang Aditya (PRS) yang menjadi ketua PJS  menggantikan Agus Widiana (KL) yang mengundurkan diri karena kesibukan pekerjaannya hanya bisa mengandalkan Anung dan saya yang jadi anggota PJS saat itupun kelimpungan. Pernah di ketuai oleh Iman Badjra (LA), bahkan sempat mempresentasikan programnya, tapi Iman tiba-tiba hilang juga ditelan kesibukan pekerjaannya.  Sedangkan Mabhak adalah kegiatan yang mau tidak mau harus melibatkan banyak anggota, pemateri serta peran Unit Spesialisasi. Dan itu semua jadi paket keberhasilan sebuah Mabhak.

Kegiatan Open House di Aula Kampus Kemaren. Modal Awal ..!

—————-Walhasil hampir setahun upaya kami bertiga menyelenggarakan Mabhak, kami akui prematur bahkan macet total. Selalu saja berkutat kesulitan membagi waktu antara pekerjaan masing-masing kami dan Mabhak. Satu kegiatan berani yang digagas oleh Anung beserta AMD-JK (Desember 2011) dan diketuai oleh Hary Hardiana (AMD-JK) kemarin adalah keberhasilannya menyelenggarakan Open House di Kampus. Kegiatan ini memang pendahuluan dari Diklatsar, dan biasanya disetting untuk melihat seberapa jauh motivasi mahasiswa baru tetarik dengan Dewadaru karena diselenggarakan berbarengan saat masa orientasi mahasiswa baru tersebut.  Lumayan dari kegiatan Open House inilah semangat baru itu muncul kembali. Ada tujuh orang mahasiswa yang serius ingin bergabung Dewadaru. Ada yang disayangkan justru  Hari Ulang Tahun Perak ke 25 Dewadaru ( D-SilverDay) tidak bisa terselenggara karena bertepatan dengan hari raya Qurban.

—————-Menyadari kedodoran tersebut, berbekal dari sinilah babak baru Dewadaru di tahun ini akan coba diupayakan oleh PJS. PJS berinisiatif mengeluarkan kebijakan akhirnya yang baru mau akan dan telah diambil. Waktu terus merangkak sementara kehadiran mahasiswa baru didepan mata menjanjikan calon-calon segar yang jadi target utama bisa berjalan seiring dengan hasil Open House yang digelar kemarin.  Tidak ada lain, diantaranya yang terpenting adalah menyegerakan AMD-JK untuk secepat-cepatnya memiliki Nrp. Menangguhkan Mabhaknya (Rencananya disatukan dengan AMD berikutnya), menyiapkan pelimpahan Kewenangan Organisasi ke Dewan Pengurus yang baru (AMD-JK ini), serta secepat dan sebanyak-banyaknya reproduksi dan sesegera mungkin menggelar Diklatsar XIV. Sejalan dengan itu kabar baik menyeruak kondisi reguler mahasiswa baru saat ini ternyata cukup memadai jumlahnya sehingga “porsi kue”  yang ada itu bisa kita optimalkan dan mudah-mudahan  ada yang tertarik dengan Dewadaru, selain dari yang tujuh diatas tadi.

.

—————- Atas dasar inisiatif itulah Season yang umumnya selalu harus menghasilkan karya ilmiah baru dilingkungan Dewadaru berbahan dasar aktifitas unit spesialisasi, kali ini karena kebutuhan mendesak , bahan bakunya adalah Manajemen Organisasi Dewadaru. bypass ini sengaja untuk mengefektifkan semuanya, karena Diklatsar didepan mata, peminat (Calon Siswa) telah ada , dan tidak ada lain SDM yang masih solid dikampus secara keseharian adalah JK, maka  AMD-JK inilah sekaligus merekalah yang nantinya akan ditugaskan menyelenggarakan Diklatsar XIV. PJS tidak memiliki pilihan lain. Konsep Learning by Doing  harus dipaksakan terhadap mereka. Walhasil Pengambilan Season:  Tinjauan Sistem Diklatsar Umum, Serta Usulan Diklatsar Dewadaru beserta Petunjuk dan Pelaksanaan Teknisnya ini memang buah keterpaksaan inisiatif PJS, Tugas mulia Perhimpunan yang diberikan ke mereka. Tujuan utamanya, selain hasil dari analisis mereka tentang Diklatsar yang ada di Indonesia ini mereka kupas. Mereka juga memiliki gambaran tentang sistem Diklatsar yang cocok buat Dewadaru. Sekaligus penerapan aplikasinya dengan menyelenggarakan langsung sebuah pendidikan dan latihan dasar. pelaksanaannya tentu dibantu anggota Dewadaru lainnya. Nara sumber dan bahan referensi akan ditunjuk dan kompeten dibidangnya.

Suasana sebelum sidang dimulai.

—————- Sidang Proposal memang tidak sefokus Sidang Presentasi Season, dalam aturannya tugas dan beban Sidang Proposal lebih besar diberikan ke Unit spesialisasi yang diambilnya. Tentu atas sepengetahuan Dewan Pengurus. Di dalam pelaksanaannya pun, Unit spesialisasi akan membimbing dan mengarahkan tema yang diambil Team Seasoner sejauh mana memahami dan  menguasai materi, yang lebih penting lagi meninjau kesiapan teknis operasional seasoner. Sehingga Sidang Proposal lebih kepada persamaan persepsi antara team seasoner dengan Unit spesialisasi, sekaligus menajamkan keunggulan komparatif dari sebuah hasil karya  baru yang akan dihasilkan dengan season-season yang telah ada. Surat Ijin jalan dari Unit spesialisasi biasanya sudah bisa dijadikan modal dasar untuk mengawali kegiatan seasonnya. Yang membedakan season unit spesialisasi adalah usulan murni pilihan Team seasoner sedangkan season organisasi lebih kepada situasional dan penugasan Satgas (Satuan Tugas) dilakukan oleh Dewan Pengurus (Wajib diikuti). Saya mencatat hal ini telah dua kali di lakukan di Dewadaru.

An-Hanx (D-037-PB) Tekun menyimak ...

—————- Nah, Ketika Sidang Proposal dimulai, Sayang Kang Aditya (PRS) sebagai ketua PJS-DP berhalangan Hadir karena kesibukkannya. Sidang sengaja diawali dengan pemaparan hal-hal tersebut diatas. Saya yang bertugas menjadi moderator bersama Anung yang sekaligus jadi team penguji, merasa perlu terlebih dahulu menyampaikan dan mengulangi semua ini. Selain dijadikan dasar pemikiran bagi mereka, selebihnya mereka mengetahui persis anomali season yang tidak biasa ini harus mereka laksanakan, sehingga mereka serius menghargai dengan Nrp yang akan diraihnya, mengetahui persis hasil akhir nanti dan tentu bersungguh-sungguh akan tugas ini. Ide dasar ini memang sudah sering dipaparkan ke mereka para AMD-JK, tepatnya dimulai bulan Oktober 2011, penugasan untuk segera mungkin mulai mempelajari Sistem Diklatsar umum, serta pembicaraan tentang konsep-konsep Diklatsar yang pernah kita jalani sering kita bahas baik secara formil maupun dalam obrolan di Basecamp. Mau tidak mau, seiring dengan kesiapan mental mereka yang terus dipupuk untuk mengambil resiko ini, Kamipun tentu tidak diam begitu saja. Obrolan-obrolan yang menjurus pada konsep-konsep itu harus kami paksakan agar transfer ilmu itu tidak dari nol sama sekali.

—————- Jalannya sidang awalnya datar-datar saja, mereka para AMD-JK yang belum pernah mengetahui betul apa itu Sidang Proposal, masih terpaku pada keumuman teoritis yang mungkin dia dapat dari pengalaman berorganisasinya selama ini. Mind set yang ada masih terpaku copy paste-nya laporan analitis teoritis. Sehingga di awal kami harus “menggebrak” pemikirannya lebih fokus pada inti permasalahan yaitu rekayasa konsep berbasis komparasi dari sebuah sistem yang telah berjalan. Seasoner memang kewalahan bila bicara permasalahan Diklatsar. Wawasan tentang itu kelihatannya belum begitu dikuasainya. Sehingga Diklatsar diketahui sebatas yang telah dia lakukan. Walau sebenarnya kami kurang sependapat dengan alasan tersebut. Teknologi informasi kini telah berkembang, buku-buku referensi banyak tersedia, serta kalau mau sebenarnya nara sumber yang kita miliki ini masih bisa dijumpai. Kelemahan ini tentu jadi bulan-bulanan team penguji untuk mengasah kembali ingatannya serta mengharapkan proaktif nanti dalam menggali sumber-sumbernya. Padahal Usulan yang akan dikerjakannya melulu memang berbasis referensi yang kuat tentang hal tersebut. Hal lain, dari segi redaksional juga tak kalah menariknya. Ada saja sistematika yang tidak tepat bahkan sempat terjadi diskusi ketat hanya karena membahas judul proposal dan hubungannya dengan batasan permasalahan yang tidak saling terkait. Satu sisi yang menjadi kelebihan adalah responsif berbicara serta kemauannya untuk berusaha mencari solusi dari kelemahan diatas, sangatlah antusias.

—————- Sidang Proposal akhirnya mengalir, berfungsi tepat seperti tujuannya. Sistematika sidang yang dibangun diawal fase pertama mencoba menganalisa pemahaman seasoner akan topik yang tengah diusulkannya telah mencapai kriteria. Selebihnya Sidang ini memang dipersiapkan untuk mengisi kekurang fahaman sistematika season sebenarnya yang akan dijalankan. Baik teoritis maupun oprasional nantinya. Terbukti, Sidang yang dimulai pukul 19.00 ini bisa berjalan alot dan menarik hingga hampir tengah malam baru dapat diakhiri. Team Penguji, atas nama Dewan Pengurus akhirnya merekomendasikan bahwa Season mereka AMD-JK (Hary,Doddy dan Tia) yang mengambil topik “Tinjauan Sistem Diklatsar Secara Umum dan Usulan Sistem Diklatsar Dewadaru beserta Petunjuk dan Pelaksanaan Teknisnya” menyetujui dan mempersilahkan Seasonnya untuk dilanjutkan. Walaupun dengan Catatan penting. Termasuk merapihkan kembali laporannya yang amburadul itu.

—————- Catatan penting inilah yang akhirnya menjadikan  Season ini seperti membentuk sebuah Satgas (Satuan Tugas) yang tak lain nantinya dikomandani oleh mereka (AMD-JK). Pada intinya Mereka diserahi dua garis besar tugas. Pada awalnya mereka harus menginventarisir sistem-sistem Diklatsar yang ada atau dipakai oleh penggiat kegiatan alam bebas dan  pencinta alam. Sampling yang diharapkan mewakili, dan mereka akan segera diutus untuk mendatangi dan menggali sebanyak-banyaknya sistem tersebut di Wanadri dan Mahitala. Dua organisasi yang kompeten mewakili dan memakai sistem diklatsar dengan konsep teknis yang berbeda. Setelah mendapatkan referensi yang cukup dari dua perhimpunan tersebut, mereka juga diwajibkan mendatangi para mantan Danlat dan DanOp Diklatsar Dewadaru untuk dimintai juga konsep Diklatsar ala Dewadarunya (Jadi para Mantan Danlat dan DanOps, siap-siap saja akan didatangi atau dimintai keterangannya). Nah, dari tinjauan referensi tiga sumber tersebut, Kemudian Seasoner harus juga menganalisa terlebih dahulu sosio-kultural organisasi Dewadaru, baru kemudian dapat mengusulkan konsep yang tepat untuk Diklatsar Dewadaru. Tak hanya selesai sampai situ, Petunjuk dan pelaksasanaan teknis tentang penyelenggaraan operasionalnya pun harus disertakan walau hanya sebatas sistematika umum dan kerangka Outline saja.

—————- Garis besar Tugas yang lainnya adalah Implementasi, aplikasi dari konsep baru tersebut. Disinilah para AMD-JK diuji kesungguhannya. Mereka mau tidak mau setelah pemahaman diatas dikuasasi langkah selanjutnya adalah menyelenggarakan Diklatsar XIV Dewadaru. Tak lama setelah ini. Mereka akan menjadi leader dalam menyelenggarakan ini dan tentunya akan diback-up oleh anggota biasa lainnya. Bahkan salah satu rekomendasi kelulusan season ini antara lain sekurang-kurangnya mereka harus mendapatkan atau meloloskan siswa Diklatsar XIV ini minimal 5 (Lima) orang. Bila tidak, keakurasian implementasi pada saat pelaksanaan Diklatsar dengan konsepsi yang diusulkan menjadi taruhan terakhirnya. Hal inilah tentunya yang akan menjadikan Bangga para AMD-JK nanti bertukar baju menjadi Anggota Biasa menyandang Nrp baru. Dan tentu season ini tak kalah heroik perjuangannya dengan season-season unit spesialisasi yang sudah ada.

—————- Alhamdulillah akhirnya Sidang selesai dan dapat kita selenggarakan dengan baik. Diakhir Sidang, guna melengkapi kekurangan administrasi dan pelaporan teknisnya, sidang penandatanganan berita acara persetujuan akan dilanjutkan pada hari Rabu nanti (11 Januari 2012). Di tempat dan waktu yang sama. Pada hari itu juga Seasoner rencananya akan meminta dan memutuskan kapan lamanya waktu pelaksanaan season ini, Tanggal Sidang Presentasi Season dan yang menarik kapan tanggal bergulir dimulainya masa penerimaan anggota baru Dewadaru, Diklatsar XIV tahun 2012 ini. Kami Penguji, atas nama Dewan Pengurus Dewadaru mengucapkan selamat kepada Team Seasoner. Selamat bertugas dan tetap Fokus tentunya. Dan bagi rekan-rekan Dewadaru semuanya, kami tentu mengharapkan sekali lagi dukungan kehadiran fisik dan dorongan moril agar semua berjalan sesuai dengan rencana yang kita inginkan. Amin.

—————- Force majeure atau yang sering diterjemahkan sebagai “keadaan memaksa”, Diakui akhir-akhir ini memang selalu jadi kambing hitam bagi Dewadaru untuk mengambil jalan pintas mensiasati keadaan agar organisasi tetap hidup dan berjalan.  Tapi, Sampai Kapan? █(D-012-KL)




—————-Dewadaru harus berusaha sebisa mungkin mencoba menyusun

-



Mengenang 16 Tahun Ade Triviawan Sagala (AMD-BK /Badai Kabut) 30 Des 1995 – 30 Des 2011

.

———-Khabar itu begitu mendadak, 30 Desember 1995, 16 tahun yang lalu Saudara kami tercinta Ade Triviawan Sagala Anggota Muda Dewadaru – Badai Kabut (AMD – BK) meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Padahal keceriaan penutupan Diklatsar VII (1995) itu masih terasa hingar bingar belum hilang di pendengaran. Kamipun belum sempat bercengkrama, berbagi cerita dan saling mengenal lebih jauh akan kehadirannya dalam keluarga besar kami, Dewadaru pada saat itu.
.
———-Mengenang Ade, sedikit sekali jejak yang ditinggalkannya. Kita hanya bisa membayangkan betapa, hanya hitungan hari saja setelah penutupan itu, bahkan Ade belum sempat mengenakan syal kuning kembanggaannya untuk hadir pertama kali di basecamp menemui rekan-rekan seperjuangannya, Tuhan telah memanggilnya. Saya mencoba membuka kembali arsip-arsip lama barangkali ada catatan-catatan kecil yang tersisa, ternyata hanya tulisan di Box bulletin Dewadaru edisi No.3/tahunXI/Januari 1997. Itupun tidak banyak memuat detailnya hanya khabar duka selintas yang pada saat itu ditulis oleh Anung S Nugraha (D-037-PB) . Sayang sekali keberadaan database pendaftaran seluruh anggota Dewadaru dari mulai mendaftar hingga curiculum vitae setiap anggota yang biasanya tersimpan rapih disekretariat, tidak berhasil ditemukan. Padahal didalamnya termuat setidaknya data personal Ade yang dapat kita korek minimal untuk menemukan jati dirinya dan dapat menelusuri lebih jauh info lainnya.
.
———-Saya masih teringat ketika bertemu Ade untuk pertama kalinya adalah pada saat proses pendaftaran anggota yang selang beberapa hari kemudian dilanjutkan dengan wawancara. Saya sendiri karena bertugas mewancarai dalam tahapan seleksi anggota baru, kebetulan sempat bertatap muka. Begitu juga ketika dia mengikuti test-test tahapan berikutnya yaitu olahraga dan seleksi kesehatan yang dilakukan oleh rekan-rekan AMP (Atlas MedicalPioner) Universtas Padjadjaran. Seluruhnya dia ikuti dengan penuh semangat dan hasilnya juga memuaskan tidak menunjukkan gejala-gejala yang aneh dan dianggap lulus untuk mengikuti Pendidikan dan Latihan dasar tahap selanjutnya yaitu Medan Operasi (MO) .
-
———Seperti kebanyakan anggota baru pada umumnya, Ade yang berperawakan kecil, berlatar belakang orang tua militer rupanya telah siap betul akan pilihan yang dipilihnya ini walau terkesan tampak pendiam dan tidak banyak bicara. Begitupun ketika pada tahapan Medan Operasi, ketika hari berikutnya saya sempat bertemu kembali di Situlembang bahkan nyaris masih pelit berkata-kata. (tak ada catatan khusus dari instruktur dan komandan operasi yang membimbingnya, walau perjalanan jauh dan berat telah dilakukannya hingga tiba di tahapan Hutan Gunung ini). Artinya Ade dalam kendali sehat, begitu juga rekan-rekan yang lainnya. Maklum peserta Diklatsar Badai Kabut memang hanya diikuti oleh 5 (Lima) anggota, sehingga setiap pergerakannya mudah dipantau. Sifat pendiam ini juga mungkin belum cair karena pengaruh rekan-rekannya yang semuanya baru dikenalinya dalam perjalanan ini.

———-Kemudian pertemuan terakhir kalinya adalah ketika penutupan Diklatsar itu sendiri berlangsung. Barangkali (ini menurut perkiraan saya) Disinilah awal itu terjadi. Menurut penuturan Dokter yang menangani kematiannya, Ade dinyatakan mengalami pecah usus lambung karena tidak terkontrolnya pasokan makanan yang dia makan beberapa hari setelah malam itu, terutama kegemarannya akan makanan pedas. Padahal dia sendiri memiliki kelainan akan usus lambungnya yang diderita selama ini. sayangnya catatan medis ini, oleh Ade seolah disembunyikan dengan tidak berterus terang di informasikan ke panitia dan AMP pada saat seleksi kesehatan waktu yang lalu, hal ini baru diketahui dan diperoleh keterangan dari keluarganya. (Kebiasaan ini selalu saja ada dan seringnya panitia kecolongan akan hal ini).

———-Malam ketika saat penutupan – Seperti biasanya dan sudah menjadi kewajiban rutin- panitia membagi dua jenis hidangan yang tersedia. Untuk Instruktur, anggota dan tamu undangan memang porsi dan jenis makanannya seperti biasa seperti pada kebanyakan umumnya nasi timbel, lalap, sambal, goreng ayam dan sejenisnya. Tetapi panitia dengan keras dan ini wajib selalu menginstruksikan agar siswa (Anggota yang baru dilantik) untuk mengambil jenis porsi makanan yang lain dan khusus untuk siswa tersebut, yang telah kami pisahkan. Hal ini kami menyadari betul bahwa kondisi perut siswa yang selama berhari-hari hanya mengkonsumsi “makanan pendidikan” tentu kondisi pencernaannya perlu diperlakukan dengan khusus. Setelah semua itu usai. Hingga kami harus menyediakan makanan khusus pula untuk merehabilitasi kondisi pencernaan tersebut. Usut punya usut Ade ternyata tidak mengindahkan himbauan ini siswa yang lainnya pun ada juga sebenarnya. Banyak saksi mata, termasuk saya sendiri melihat beliau begitu lahapnya menghabiskan porsi sambal yang bukan semestinya untuk anggota baru. Walaupun banyak anggota lain bahkan instruktur sendiri menegurnya.

-———Kemeriahan malam itu memang melenakan sehingga Ade dan siswa lainnya pun luput setelah ditegur tersebut, apakah kemudian melahap melebihi porsi tersebut atau tidak. Semuanya memang berada dalam suasana kegembiraan, keceriaan terbebas dari komando keletihan dan kejenuhan Diklatsar selama seminggu lebih kemarin. Dan kami juga tak menyangka bila kebablasan makan ini berpengaruh pada diri seorang Ade, karena siapa yang mengira sebelumnya bahwa ini akan menjadi fatal buatnya. karena hal ini memang sudah menjadi rutin disetiap akhir dari upacara penutupan Diklatsar kami. Tapi sekali lagi ini hanya asumsi dari kesaksian beberapa rekan anggota yang meyakini bahwa malam itu Ade terlalu berlebihan dalam menyantap makanannya. Walaupun kami tetap menyesali kelengahan akan kejadian ini. Mendengar kabar dari keluarga bahwa keesokan harinya (Beberapa hari kemudian) Ade masih juga makan berlebihan juga hingga akhirnya kejadian itu terjadi. Tiba-tiba kami dikabari oleh fihak keluarganya Ade berpulang, menghembuskan nafas terakhirnya ketika dalam perjalanan dari kediamannya di bilangan Gatot subroto menuju rumah sakit.

———-Saat pemakaman, kami, rekan-rekan tak kuat menahan kesedihan ini, entah kenapa tak bisa berkata-kata. Entah apa apa yang sedang berkecamuk di hati kami masing-masing, hanya bisa memandang sesosok rekan yang kemarin yang sepertinya baru kemarin bercanda, tertawa, baik dilapangan maupun di kampus. Kini berada dihadapan kami terbujur kaku. Ketika itu hampir sebagian besar anggota melayat kekediamannya. Begitu juga ketika kami diijinkan keluarga secara bergantian mengusung keranda menuju peristirahatan terakhir Ade Triviawan Sagala yang tak jauh dari kediamannya.

———-Disaat usai pemakaman, ketika para pelayat dan pengantar sudah meninggalkan makam, Kami sengaja bertahan mengitari Makam Ade untuk memberikan pengormatan terakhir. Saya masih teringat betul ketika itu saya lihat Bubun (Benyamin Lukman/D-021-KL) memimpin doa dan tak bisa menyembunyikan rasa emosi dan penyesalannya akan kejadian yang baru pertama kali ini Dewadaru alami. Rasa ini juga yang disampaikan kerekan-rekan yang hadir pada saat itu bahwa ini merupakan pelajaran yang mahal yang harus kita ambil hikmahnya terutama bagi kepanitian Diklatsar selanjutnya sambil menahan emosi. Sebelum meninggalkan makam, kami merapat, berdoa secara tulus agar Alloh SWT menerima kehadiran Rekan kami yang kami cintai ini disisi-Nya. Tak lupa kamipun meminta maaf sengaja atau tidak disengaja, salah atau pun tidak atas ke-tidakmampuan dan ketidak tahuan kami dalam menjaga dan membimbing saat-saat kemarin.

———-Ade, hari ini genap 16 tahun sudah Kami ditinggalkanmu. Tapi kami tetap menganggap Ade selalu ada dan akan terus menjadi bagian dari Dewadaru. Tidur yang tenang kawan, kami akan selalu mendoakanmu, meneruskan cita-cita Dewadarumu. Ingat tidak ketika kita wawancara kemarin, kita pernah berkelakar : “All Dewadaru go to Heaven .. ”, Insya Alloh. Semoga, Amin. (D-012-KL) █

.


Semangatku tak habis di kaki Gunung Burangrang (Bag-1)

.

Tia,JK

(Disarikan oleh : LISTIA Sumanja | AMD-174-JK| dan kutulis ulang untuk  Bulletin Dewadaru pada 30 Maret 2011 jam 2:51) |

                    Aku, Tia begitu orang-orang memanggilku. Kini aku tengah menjalani pendidikanku di salah satu kampus swasta di kota Bandung tepatnya di STMIK “AMIK BANDUNG” semester IV. Tulisan ini sebenarnya merupakan salinan ketika aku menjalankan DIKLATSAR PPRPG DEWADARU. Ketika itu saat menulis cerita ini aku sedang berada di sebuah kampung, kampung itu bernama NYALINDUNG, terletak tepat di kaki gunung Burangrang. Mungkin untuk sebagian para pembaca mulai bertanya-tanya, “mengapa aku berada disana waktu itu?”. satu jawabanku karena aku ingin membuktikan, aku bisa melakukan suatu hal yang belum tentu orang lain dapat lakukan.

                    Angin sejuk, gemercik air, siulan burung, udara segar tak seperti di kota membuatku semakin bersemangat untuk melanjutkan perjalanan DIKLATSAR ini. mungkin awalnya ada perasaan ingin pulang saat etape-1. Itu awal aku memulai semuanya . “Tanjakan Tak Berujung”, tapi rasa itu ku buang jauh-jauh karena aku ingin menyelesaikan semua ini. aku yakin Allah akan melindungiku. sudah 3 (tiga) hari aku berada disini lelah sudah ku lupakan, sudah kubakar rasa itu dengan semangatku yang lebih berapi-api.

Etape-1: The long and winding road ..

                    Kemarin malam salah seorang Dewadaru, berbincang denganku dan 2 (dua) orang rekan seperjuanganku : Doddy dan Harry. kami berbincang mengenai mampukah aku & Harry naik ke puncak Burangrang ?? sedangkan notabenya aku ini seorang penyakitan dan Harry kakinya di pen. aku tak mau dikasihani karena penyakitku ini, aku bisa dan akan ku coba !! AKU BUKAN INGIN MENANTANG ALAM, DISINI AKU HANYA INGIN MENGUKUR KEMAMPUANKU .. SAMPAI BATAS MANA AKU BERUSAHA !!!. Aku ingin hidup normal. Aku ini penggila ekstrakulikuler, sejak duduk di bangku SD, SMP, SMK dan itu membuatku semakin merasakan Apa arti hidup sesungguhnya. Mungkin Etape-1 ini aku jatuh begitu mudah, 4 (empat) kali asma ku kambuh,  aku memang tengah mengidap asma akut .. tapi aku yakin aku bisa menyelesaikan semuanya .. Semangatku tak habis di kaki gunung Burangrang !!!, semangatku timbul berkat dorongan keluarga, teman, sahabat, dan karena adanya instruktur yang mungkin bisa jadi lebih bersemangat menemani aku dan kedua temanku..

Chief Commander .. Aa.

                    Salah satu instruktur yang aku maksud diatas adalah sang DanOps. Aa Iman sudah seperti kakak ku sendiri. Dia yang terus membakar semangatku hingga akhirnya aku mendapatkan syal kuning itu. Walaupun  semua yang lebih tua dariku kuanggap abang, seperti orang tua dan keluarga sendiri.

Desa Nyalindung .. dan Gunung Burangrang.

                    Lucu yah ..,  Sebelum Dikllatsar dimulai aku sebenarnya pernah  berpikir untuk mundur tapi seiring dengan waktu dan tekad kuatku, setelah menimbang akhirnya aku ikut juga hehehe,  …ah .. terlalu banyak sebenarnya yang ingin ku rangkai dalam dalam cerita ini, begitu banyak ungkapan yang membuatku ingin menangis dan tertawa saat itu. tapi .. hanya satu kalimat saat itu, Aku hanya ingin berkata : “Semangatku tak habis di kaki Gunung Burangrang …“█

bersambung

(11 Maret 2011 | kp. Nyalindung)


Puasa di Republik “Funky”

.

[Cijerah/12Agst/2010]|Almarhum Kang Harry Roesli seniman dan budayawan nyentrik asal Bandung, pendiri kelompok Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) ini pernah rajin menulis di kolom”Asal-usul” pada harian Kompas Minggu yang semuanya berjumlah 60 tulisan.Tulisannya memang”nakal”, menyentil dan “binal” dan tentu keberpihakkannya pada kaum marginal kental sekali. Salah satu tulisannya yang bagi saya cukup menarik adalah berjudul “Republik Funky“. Idiom tersebut muncul dari keresahannya akan Kekacau-balauan dan ke-”cuek“-kan para penguasa dengan kondisi yang ada di negeri ini pada waktu itu (Kolom tersebut dimulai sejak Desember 2000 hingga Oktober2004). Lebih menariknya lagi bagi saya ternyata anomali ini koq masih saja berlangsung hingga kini. Bertepatan pada bulan kemerdekaan ini, di Republik “Funky“, saat ini bagi umat Muslim tentu tengah bersuka cita kedatangan Bulan yang ditungu-tunggu, bulan penuh berkah dan rahmat yaitu bulan Rhamadhan. Pertanyaannya, apakah Bulan tersebut akan singgah hingga mengubah suasana kebathinan itu?, akankah dapat mewujudkan suasana baru yang kita harapkan, atau hanya berlalu, tetap cuek  begitu saja.

Di negeri ini, komplikasi keresahan, sumpek ditambah muak dan kekesalan melihat permasalahan ditambah tingkah laku para elit politik kita sepertinya sudah menjadi santapan keseharian. Tambah lagi media cetak bahkan elektronik begitu naratif menghadirkan drama-drama kekacauan itu realistis dan tentu diramu sangat infotainment. Perang opini, debat, kalau tidak berbeda tentu tidak menarik dan katanya bukan pakar, tapi kebanyakan ujung-ujungnya hanya berhenti sampai disitu, NATO. Ngomong saja. Kalau mau jujur-jujuran, urut saja daftarnya. Apa yang sering kita eja dahulu dalam akronim poleksosbud, politik, ekonom, sosial dan budaya semuanya terlingkupi, nyaris terdaftar rapih bermasalah. Coba tambah lagi dengan Hankam ratanya, pertahanan dan keamanan rakyat semestanya juga ngeri, seberapa kuat wawasan nusantara ini masih bertahan ditengah ketidak adilan yang mengancam disitegrasi di mana-mana. Masih adakah NKRI itu harga mati, seperti papan nama yang sering kita lihat di Barak Situ lembang,  asrama-asrama tentara, Kodam dan Kodim dahulu. Apalagi sekarang ini tambah ngeri, Polisi menangkap polisi..!

Alm. Harry Roesli

Kang Harry memang benar, Lihat saja ledakan tabung gas yang hampir setiap hari terjadi, potensi bom teroris yang dahulu menjadi ancaman warga asing kini ironis, potensinya mengancam berjuta-juta tabung yang dibagikan Pertamina, Ancaman itu ada dirumah kita masing-masing yang sewaktu-waktu siap meledak layaknya bom yang bisa meluluh-lantakkan rumah yang kita tinggali. Jadi siapa yang teroris yah..?. Yayasan konsumen meradang, korban ledakan meratap, bahkan sampai harus ke Istana untuk hanya sekedar mencari simpati penguasa yang kurang empati sebebelumnya, esoknya tetap saja ada yang meledak. Para penanggung jawab tetap tiarap. Bicara Lapindo lain lagi, yang ini memang bencana alam katanya, hingga biarlah masyarakat yang terkena korban barangkali salahnya kenapa disitu, tapi koq, ketika akan membangun makam kyai yang terkenal itu, karena situsnya sering didatangi pengunjung, tak ragu-ragu Rp. 180 milyar disetujui sang pemimpin dan DPR dalam waktu sekejap. Hmm..

Di Gedung Dewan tak kalah menariknya, Anggota Dewan yang terhormat itu sepertinya asik saja dengan kepentingannya masing-masing, kita awalnya seperti disuruh percaya akan keseriusan Dewan yang katanya mereka wakil kita, Kisah Century bagaikan dramatologi menarik. Anggota Dewan sepertinya sekarang ini menjanjikan dan cukup bisa dibanggakan, tapi kita dibikin terkejut juga koq, bisa-bisanya salah satu orang yang justru dianggap bermasalah dikasus Century toh mereka sendiri yang menyetujuinya dijadikan gubernur di Bank Indonesia kemarin. Century entah kemana sekarang khabarnya. Di gedung Dewan kita yang miring itu seperti ada kekuatan hitam yang menutup kepekaan nurani konstituennya. Rakyat tetap banyak meradang, Demo sentilan dan sentilun bagai masuk telinga kiri dan keluar dari telinga yang sama. Betul-betul tidak masuk telinga, tidak digubris hingga seorang Pong Harjatmo meski harus naik keatap gedung mencoret aspirasi pun dianggap mencari popularitas semata. Terakhir ada hacker yang saking keselnya barangkali membanjiri situs dewan dengan gambar porno. Kemarin  rame dipermasalahkan tentang Absensi yang jeblog. Dan tentu penyakit yang satu ini ternyata masih ada. Saya ingat perkataan Harry Roesli, bila anda terserang penyakit imsomnia, anda berarti cocok jadi anggota Dewan, disana percayalah anda bisa sering tidur..!,

Bicara pornografi, kemarin kita kenyang dengan asupan berita yang menghebohkan itu walau sebelumnya urusan moral ini sudah kesekian kali dan dianggap rahasia umum melanda juga para oknum pejabat dan artis pendahulunya bahkan para generasi permisif muda kita. Lihat saja,  bak pejuang moral semua berbicara tentang moralitas, tapi tengok siapa yang dulu banyak menyunat Rancangan Undang-Undang pornografi, saat ini barangkali tertawa, karena toh akhirnya sulit juga menemukan kesalahan dibagian pasal mana ini mau dikenakan seperti yang direncanakan dahulu agar Undang-undang itu mandul. Pilkada selalu rusuh, sama ketika sebuah makam kuno Habib terkenal yang entah ada atau tidak kuburannya disana akan digusur hingga harus meregang beberapa nyawa satpol PP dan para pendemo demi mempertahankannya, lucunya ketika Nabi kita Nabi Besar Muhammad SAW. dilecehkan oleh kelompok Ahmadiyah dan aliran liberal lainnya,  tidak ada tuh yang mempertahankan agamanya seradikal mempertahankan makam keramat tersebut, tenang-tenang saja. Bahkan Presiden sendiri pun tidak berani membubarkan Ahmadiyah dan Jaringan Liberal itu yang nyata-nyata sudah dianggap sesat dan menyesatkan. Kita mau bilang apa?.

Ada lagi yang “lucu-lucu”, Membaca buku Gurita Cikeas, dan kemunculan buku Pak Beye dan istana nya makin tambah sumpek aja pikiran kita dibuatnya. Kebohongan apa lagikah, kartel keluarga, atau teori pencitraan itu apa memang benar-benar ada sistematis. Menjelang kemerdekaan kita begitu dihebohkan dengan penangkapan dan pengungkapan yang begitu jenius dari kepolisian yang selalu saja tepat tahu dimana sarang-sarang teroris berada, lengkap dengan tayangan videonya serta membabat habis siapa saja mereka, hukum belakangan. Kayus Gayus benar-benar mengerikan dan melecehkan sekali keadilan sampai ketitik nadir. Daftar para pembuat hukum dinegeri ini bertekuk lutut oleh si”Gayus” ini. sementara di sisi lain korupsi sudah Kronis, susah diungkap, seperti kemacetan yang ada di Kota Jakarta, sudah saling mengunci. Jadi apalagi yang belum terdaftar permasalahan dinegeri ini, negeri yang menurut pidatonya Mega tempo hari itu kacau-balau. Kita sih rakyat hanya bisa menghibur diri saja, “Telan” saja semua, untungnya ada video lipsync-nya Keong RacunJojo dan Shinta, lumayan..menghibur !

Hati-hati Provokasi

Siapa saja sih, yang bisa diharapkan dinegeri ini, bagi saya jawabannya seperti menebak hasil pertandingan World Cup kemarin. Menebak-nebak ala gurita Paul, Apa yang diharapkan selalu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan nurani kebanyakan. Sebut saja ketika berharap kasus century terungkap, hasilnya “jeblog”, Ketika berharap Kedua Janda pahlawan itu ditemui oleh Bapak presiden dan ibu negara, bayangan sih beliau datang memeluk erat memberi suport atas putusan pengadilan yang akan dijatuhkan nantinya. Eehh .., malahan tak ditengok-tengok acan.., sampai harus dua kali datang hanya bisa menatap kosong saja  sang istana yang megah itu, Katanya rombongan presiden hanya lewat saja tuh!. Terakhir yang mengiris hati dan tidak habis pikir juga ketika ada rakyat yang ingin bertemu Presidennya hendak mengadu permasalahannya, juga tidak ditemuinya, padahal untuk mencapai purinya itu sang Bapak telah berjalan kaki dari kota malang, … edan !. Mbo ya,  Terlepas permasalahan itu benar atau tidak saya pikir Bapak Presiden mestinya tidak berhitung soal citra politik dan dampak apa yang akan terjadi. Pakai hati nurani saja, temui, sederhana Koq. Tapi masih salah menebak juga ternyata. Kedatangannya kan seharusnya sama dengan tamu yang lainnya yang selalu wajib diterima terlebih bagi seorang muslim, apalagi pemimpin. Di dengar keluh kesahnya serta ditabahkan tidak memerlukan energi yang banyak kali. Tapi, tidak terjadi tuh. Presiden kita “eta ku keukeuh” tidak mau nemuin, masya Alloh!. Berbeda barangkali kali kalau bapak atau kedua janda tersebut datang dengan mobil Bentley dan berplat nomor 234, pasti disediakan tempat parkir khusus di Istana seperti yang ada di buku Pak Beye itu. Kalau dipikir-pikir siapa yang memilih dia yah dulu, siapa memerintah siapa, siapa presidennya siapa, Siapa perwakialn rakyat kita, siapa yang memperjuangkan kita siapa lagi yang masih bisa kita percaya, Jangan-jangan Rakyat sudah kebal dan terlatih untuk tidak diperhatikan dan mudah-mudahan selalu pintar mencari jalannya sendiri-sendiri. Toh kita sih diperlukan ketika hanya harus memilih saja, selebihnya “rakyat” merekalah yang diutamakan, Kalau begini makin kacau saja mereka, kita tidak.

.

Marhaban ya Rhamadhan,

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kalimat tersebut bisa diartikan dengan Selamat datang bulan yang “membakar“. Bulan penuh rahmat yang memupus dosa-dosa atas kesadaran amal solehnya serta dapat “mengasah” dengan membasuh jiwa bagaikan tanah suburyang siap ditaburi benih-benih kebajikan, dan pada waktunya dapat menghias diri, mewarnai tingkah lakunya sehingga berbekas walaupun bulan ini telah lewat nantinya. Kata “Puasa” sendiri didalam Al Qur’an sering digunakan dengan istilah Shiyam, paling tidak disebutkan sebanyak 13 kali. Sedangkan kata Shaum, yang mengandung makna lebih dari hanya sekedar shiyam hanya disebutkan sekali di dalam Al’Quran. Puasa atau Shiyam lebih kepada bentuk syariat yang  hanya berarti menahan dengan mencegah makan, minum serta “bergaul” saja dari fajar hingga magrib, sedangkan Shaum walaupun disebutkan sekali didalam Al Qur’an tapi inilah bentuk hakekat puasa yang sesungguhnya. Shaum mencegah lebih dari apa yang tidak bolehkan dalam shiyam, yaitu mencegah bicara, mendengar,melihat bahkan mencegah pikiran. Dalam pandangan Al-Ghazali Shaum inilah bentuk puasa yang sesungguhnya yang akan mengantarkan manusia kepada derajat taqwa, puasanya orang pilihan. Maka dari itu kata shaum sepertinya lebih tepat bagi kita umat Muslim menggunakannya, untuk lebih menyadarkan kita pada hakekat sesungguhnya ibadah ini.

Penduduk negeri ini mayoritas muslim, begitu juga dengan kebanyakan pemimpinnya, mereka yang punya regulasi dan yang rajin membuat legislasi juga ahli menentukan hukum-hukum dinegeri ini, Paling tidak yang muslim dibulan Rhamadhan ini mereka pasti puasa dan berharap sih shaum dengan sebenar-benarnya. Harapan tentu masih disandarkan pada mereka-mereka yang kita anggap walaupun sebelumnya kurang memberi kenyamanan hidup dinegeri ini pada rakyatnya, mudah-mudahan para pemimipin kita, Negara kita melaksanakan dan menyambut Bulan Rhamadhan ini seperti arti shaum yang sebenarnya. Bulan Rhamadhan ini mengantarkan mereka para pimpinan negeri ini pada derajat ketaqwaan yang tinggi, shaum ini berbekas hingga menghasilkan kebijaksanaan dan mewujudkan suasana baru serta perhatian yang seperti kita, rakyat harapkan, mereka disadarkan akan hakekat mereka berasal, Puasa atau Shaumnya bisa mengasah kepekaan dan empati yang selama ini tertutup. Unit terkecil dari pemerintahan, yaitu keluarga Indonesia pun melakukan hal yang sama, kita juga berperan dilingkungan itu.

Tapi…, celakanya bila toh mereka hanya sekedar puasa saja, hanya rutinitas menahan lapar saja, apa jadinya, setelah Rhamadhan bisa jadi Republik ini tetap kacau balau seperti ini, bertambah “cuek” . Sekalian saja jadi Republik “funky .. abis”.(BhayoSemerOe/Cijerah 12 Agustus 2010,Bandung)█


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.