.
[Bulletin Dewadaru pada 14 Desember 2010 pukul 1:59] | Masa Penerimaan Anggota Baru Dewadarupun kini tengah digulirkan. Rapat yang berakhir hingga pukul 01.30 Wib., Kamis 09 Desember 2010 dini hari kemarin, akhirnya menyepakati banyak hal terkait tentang penetapan kalender program kerja Diklatsar XIII Dewadaru. Penetapan Waktu dan lamanya Diklatsar XIII, Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), Donasi dan Iuran Wajib bagi setiap Anggota Dewadaru, Kebutuhan ideal instruktur, serta penetapan sistem dan jalur Diklatsar yang juga jadi bagian alot dan menarik untuk dibahas akhirnya dapat disepakati, walau dengan catatan disana-sini.

Suasana sebelum Wawancara.
Membicarakan kehadiran rapat sepertinya sudah mulai diabaikan, bahkan sudah bosan untuk dibicarakan malam itu. Komandan Latihan (DanLat), Anung S. Nugraha (D-037-PB) sendiri ketika memulai membuka secara resmi rapat kemarin. Rabu petang 08 Desember 2010 selepas maghrib dengan bijak menegaskan kembali dan sangat menggarisbawahi masalah kehadiran ini. Kehadiran rekan-rekan tentu sangatlah penting dalam membantu misalnya, Program-program Kerja Plt Dewan Pengurus Dewadaru, Rapat-rapat menyamakan persepsi, mencari solusi , pemecahan masalah, hingga saat ini yang tengah bergulir – pembentukan Kepanitian Diklatsar hingga pelaksanaan dilapangan nantinya.
Tetapi melulu stagnant, mengerutkan kening dan selalu berusaha menyelami beribu alasan atas ketidak hadiran Ring-1 (terutama yang berdomisili di bandung), tentu bosan juga. Malah bisa jadi mengendurkan semangat semuanya, ya Panitia yang sudah siap, atau bisa juga merembet ke Calon Siswa itu sendiri. DanLat sendiri memompa semangat agar “sudahlah .. realistis saja!“, sudah saatnya kini rasional mencermati kondisi, barangkali keterlibatan mereka yang sulit hadir pada saat-saat ini, diporsi lain, dapat digantikan semisal memberikan pengajaran, sumbangsih dana partisipasi atau bantuan moril lainnya. Mudah-mudahan.

Panitia saat ini dituntut untuk memaksimalkan potensi yang ada disetiap individu masing-masing dan disekitarnya. Kedatangan dan kesiapan full dilapangan Kang Tatang Bahtiar (D-091-JC) petang itu buktinya cukup melegakan juga bagi kami yang hadir malam itu : Agus Wak, DanOps, Danlat dan saya sendiri, setidak-tidaknya bertambah satu lagi amunisi. Danlat dan DanOps kini telah menghitung-hitung seberapa maksimal ideal sih kebutuhan team lapangan untuk “ngabaduykeun” siswa sejumlah 15 (Lima Belas) orang itu. Toh Diklatsar bukan pekerjaan baru dan sudah 12 kali kita lakukan selama ini. Kalu akhirnya toh juga tidak mencukupi, Kami yang hadir pada malam itu malahan sepakat untuk minta bantuan pada saudara-saudara kami di Hugusula, Mapenta maupun Wanadri, Bahkan Resimen Mahasiswa kampus kita untuk membantu kami baik untuk dimedan Teori maupun di operasional nantinya. Cuma ketika DanLat ditanya “kumaha Lat lamun euweuh wae nungabantuan pisan…“, Anung menjawab :, “..geus we Dewadaru Tutup buku ..“. Diklatsar otomatis ditiadakan, Dewadaru bersiap-siap membubarkan diri di Kampus. Untuk sesaat Saya sendiri merenung, “..serius kitu DanLat teh.., boa-boa, meureun ogenya …“.
..
Wawancara Dua Calon Siswa Pendaftar Baru
Ditengah pembicaraan yang sudah mulai menghangat, Rapat malam kemarin agak terhenti sejenak. Kami memang mengundang dua pendaftar baru Calon Siswa untuk melakukan wawancara. ketika pada jam yang sudah kami janjikan merekapun datang, Rapat kami tunda sebentar untuk berpindah serius ke materi lain yaitu wawancara Calon Siswa (Casis).

Abdullah Ilham Setiana, S1 (Informatika).

Fernando Sihotang, S1 (Informatika).
Tidak berbeda jauh dengan wawancara ke 8 (Delapan) Casis sebelumnya, keduanya dihadapkan satu-persatu. Secara bergiliran mereka dihujani pertanyaan oleh empat Dewadaru dari berbagai aspek. Dari jawaban-jawaban yang dilontarkan keduanya kami yakin mereka memang telah siap, mental maupun fisik seperti aku keduanya. Berangkat dari keinginan pribadi yang cenderung selama ini mereka tidak pernah mengenal Dewadaru sebelumnya. Walaupun diakui latar belakang kegiatan alam bebas, organisasi maupun pengalaman di areal itu nihil. Sempat mengenal sewaktu di SMA dulu tapi hanya sekedar ikut-ikutan. Tapi kalau melihat latar belakang organisasi selain itu, umumnya cukup membanggakan, Dua Casis kita ini tergolong civitas academica juga, masih gerombolannya Casis yang telah diwawancarai sebelumnya walau beda” aliran”.
Dipenghujung briefing keduanya, kami tak lupa memberikan pujian dan selamat datang kepada keduanya. Terima kasih telah memberikan kepercayaan kepada Dewadaru untuk menjadi salah satu bagian dari hidupnya kelak. Tidak mudah untuk memutuskan hal tersebut. Hanya orang-orang tertentu saja yang berani mengambil sikap akan hal tersebut. Salut, dan mohon dipertahankan sambil terus bersiap diri menunggu informasi-informasi selanjutnya dari panitia, di Basecamp maupun di Bulletin ini. Selamat datang buat Abdullah Ilham Setiana dan Fernando Sihotang. Dua mahasiswa S1 jurusan (IF) Informatika tersebut, Selamat bergabung. Kamipun meneruskan pembahasan yang tertunda tadi.
.
Kebutuhan Diklatsar XIII Dewadaru
Membicarakan sistem Diklatsar, di ruang publik ini tentu tidak pada tempatnya. Skenario dan pertelaan jadwal operasional hanya akan dimiliki Danlat dan DanOps serta team leadernya. Tapi setidaknya dari titik ini mulai menggeliat dan pembahasan coba dirunut kembali malam itu. Seperti yang telah kita ketahui bersama, pada umumnya Jumlah hari Diklatsar, lamanya menetap disatu lokasi sampai jumlah materi yang diberikan disetiap Diklatsar Dewadaru tidak ada yang sama persis. Selalu fluktuatif disesuaikan banyak faktor. Begitu juga permasalahan gaya, pengkondisian body contact, setengah body contact, full body contact, militerisasi dan sejenisnya berbeda disetiap kondisi. Hal ini menggambarkan bahwa setiap kepanitiaan Diklatsar punya hak dan wewenang preogratif untuk menyusun skenario Diklatsarnya sendiri, Setiap Diklatsar memang punya seleranya sendiri-sendiri termasuk selera Danlat dan Danopsnya yang tentu sudah disepakati Dewadaru bersama. Faktor teknis ini yang dijamin tidak pernah sama persis.
Ada satu persamaan yang selalu dipertahankan adalah, ya Diklatsar-nya itu sendiri. Secara AD/ART sudah menggariskan bahwa ada dua jalan untuk menjadi seorang Dewadaru selain yang tidak biasa dan berbelit-belit aturannya yaitu diangkatnya seorang Anggota Kehormatan (AK), secara reguler untuk menjadi Anggota Biasa harus melalui tahapan Diklatsar tersebut. Dan ini umum diseluruh organisasi serupa. Diklatsar memang sudah menjadi tradisi yang didalamnya selalu sama, ada pendidikan dan dibarengi dengan Latihan. Keduanya tentu tetap terkait pada ruang lingkup kalimat “dasar”-nya itu sendiri ( ilmu dasar yang diberikan). Tradisinya sendiri selalu dipertahankan terkait karakter organisasi yang telah terbentuk selama ini: organisasi, minat dan bakat. Kedua perbedaan dan persamaan diatas itulah yang kemudian menyatu menjadi “Roh” yang membius anggota. Tanpa diundang selalu ramai untuk berperan aktif didalamnya, Dulu itu ya begitu.

Pertanyaanya kini apakah “roh” itu masih ada?. Hal inilah yang semalam menjadi tersendat-sendat dalam memutuskan satu sistem Diklatsar yang nantinya mau tidak mau keterkaitannya kesegala lini termasuk SDM, Dana dan sumber daya lainnya. “Roh” itu kini biusnya hilang seiring dengan banyaknya faktor yang saya sendiri terus terang sulit memahaminya, walau harus diartikulasikan dalam kalimat tertentu-pun. Hingga akhirnya muncul kesepakatan malam tersebut yang cukup melegakan, untuk minta bantuan ke organisasi lain sebagai tindakan tanggung jawab Kami menyelamatkan generasi penerus Dewadaru yang sudah ada ini.
Ada 2 (Dua) opsi yang ditawarkan dari 3 kemungkinan sistem yang diusulkan, Danlat sendiri mematok paling lama 7 (tujuh) hari Diklatsar ini harus bisa diselesaikan sudah termasuk 2 (dua) hari karantina di Medan Teori. Ini tentu sudah jauh lebih singkat dari Diklatsar sebelumnya. Ketika hal ini ditanyakan kenapa dipersingkat, tentu jawabannya pragmatis: Dana dan manusianya. Bahkan masih spekulasi juga keduanya saat ini. Tapi setidaknya patokan ini masih dapat dipertanggung jawabkan dari segi kelayakan idealnya sebuah Diklatsar Ala Dewadaru, dan ini yang kemudian semuanya beranjak dihitung dari situ. Ambil contoh saja untuk menghitung jumlah instruktur, kebutuhan dana, materi yang harus diberikan serta alokasi lainnya. Untuk Instruktur saja, Kami menghitung setidaknya membutuhkan 10 s/d 15 orang yang nantinya harus siap full dilapangan bergabung dalam Team Leader dibawah koordinasi langsung DanOps. Dimedan Teori tentu yang dibutuhkan adalah para pengajar. Untuk ini barangkali tidak terlalu sulit walau konfirmasinya meski jauh-jauh hari. Biasanya komposisinya setengah dari Dewadaru selebihnya dari ekspertis organisasi luar.
.
Anggaran Biaya dan Partisipasi Iuran Wajib
Ada yang membedakan Diklatsar XIII ini dengan Diklatsar sebelumnya, Plt Dewan Pengurus jauh-jauh hari memang sudah merekomendasikan bahwa salah satu upaya agar Diklatsar ini tidak membebani Dana pribadi siswa serta diupayakan agar salah satu ketertarikannya menjadi tinggi untuk masuk Dewadaru adalah dengan meng-Gratiskan. Selain membebaskan biaya pendaftaran, Siswa saat ini juga dibantu dari segi penyiapan kelengkapan Diklatsarnya, Beberapa kelengkapan akan dikenakan seragam dipinjamkan dari jasa penyewaan (Rental) outdoor activity. Biaya penyewaan itu sendiri akan ditanggung Panitia Diklatsar XIII. Alhamdulillah, upaya Plt ini terbukti mengundang antusias banyak pendaftar.
Biaya lain yang juga menjadi utama untuk disiapkan seperti biasanya adalah adalah konsumsi instruktur jalan maupun selama pelaksanaan teori. Biaya Pra-Dikltasar, promosi dan survey-survey pendahuluan, termasuk juga penutupan Diklatsar itu sendiri. Danlat dan jajarannya setidaknya membutuhkan biaya tak kurang dari Rp. 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) untuk menjalankan diklatsar ini. Rencana Anggaran Biaya dapat dilihat dengan mengklik tautan ini : http://www.facebook.com/pages/Bulletin-Dewadaru/156829415882?v=app_10442206389&ref=sgm
Berkaca dari pengalaman Diklatsar sebelumnya, serta metode pengumpulan Dana D-Day kemarin. Plt dan Panitia Diklatsar malam tersebut, telah menyepakati beberapa hal diantaranya :
- Plt akan mensubsidi sebesar Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) yang merupakan dana taktis Dewadaru dari Lembaga (Kampus).
- Akan menyebarkan beberapa proposal dana partisipan baik perorangan, maupun lembaga yang akan mendukung Diklatsar ini. Dengan atau tanpa timbal balik.
- Dana pinjaman sebesar Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) yang merupakan Subsidi Plt ke Panitia D-Day akan diminta kembali (Sesuai Perjanjian) guna menambah pendanaan Diklatsar ini.
- Bagi para donatur baik Perushaan, Anggota Dewadaru ataupun simpatisan termasuk siswa Diklatsar XIII itu sendiri, kami membuka juga Kotak Donasi, diluar Iuran Wajib.
- Sumbangan Partisipasi tidak hanya melulu dalam bentuk Dana, segala bentuk yang menyangkut keperluan Diklatsar XIII Dewadaru ini, kami akan terima dengan bangga.
- Akan diupayakan juga penjualan T-shirt tematik Diklatsar XIII. Seluruh hasil keuntungan penjualannya akan diserahkan kepada Panitia.
- Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan, mohon maaf sebelumnya, tidak ada jalan lain, Plt Dewan Pengurus Dewadaru beserta Panitia Diklatsar dengan rendah hati dan rasa berat mewajibkan seluruh Anggota Dewadaru, (PRS/AK/Anggota Biasa/AMD) untuk berpartisipasi aktif dengan membantu menyisihkan dana per-orangnya minimal sebesar Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah). Kelebihannya (terima Kasih sebelumnya) kami catat sebagai Donasi.
- Seluruh Dana mohon ditransfer ke Rekening Bendahara Diklatsar XIII, No. Rek. BCA 2331686991 atas nama Yoyo Suryo Sugiharto.
- Seluruh dana yang masuk serta namanya akan diinformasikan secara terus menerus perkembangannya melalui Bulletin ini. Serta penggunaannya nanti diakhir kegiatan akan dilaporkan / diinformasikan sebagai akuntabiltas publik. (Kewajiban Panitia).
- Panitia juga memohon Usulan dan masukan lain diluar ini dalam rangka menggalang dana tersebut. Idenya sangat kami tunggu.
Besar harapan Kami pengumpulan Dana ini dapat berjalan semestinya, Keterlibatan rekan-rekan tentu sangat kami harapkan nantinya, demi sukses dan terselenggaranya Diklatsar XIII ini.
.
Kalender Diklatsar XIII Dewadaru
Dibawah ini adalah kalender kerja yang telah ditetapkan Panitia Diklatsar XIII, beberapa jadwal memang akan ada penyesuaian terkait belum keluarnya agenda kuliah dari Lembaga untuk tahun 2011 kedepan, Tapi Panitia telah sepakat bahwa jadwal dibawah ini diputuskan setelah mengambil pertimbangan bahwa musim perkuliahan serta Ujian Tengah Semester Calon Siswa usai dilakukan sehingga Kegiatan Diklatsar XIII tidak akan mengganggu UTS tersebut.

Tak terasa, hari telah berganti, Menjelang dinihari kami putuskan rapat kami akhiri. Rasa bahagia menyelimuti kami saat itu, Akhirnya memang the show must go on .., genderang telah ditabuh, waktu telah disepakati, tinggal tugas berat menanti didepan. Sudahlah cukup keluh kesah itu harus diakhiri, fokus saja kedepan, Ikhlas saja beramal baik buat Dewadaru, Insya Alloh semua ada jalannya. Optimisme dan perjuangan tentu terus tak henti. Bro, Terima kasih telah meluangkan waktunya malam itu hingga semuanya ini dapat terencana dengan baik dan lancar. █
(Bhayo SemerOe/D-012-KL)































Peran pemerintahlah yang akhirnya harus menjadi penentu tanpa harus melulu berpihak disatu kepentingan saja. Mudah-mudahan sentra florist di kawasan Pemkot ini menggeliat kembali. Seperti tawa optimist pak Weri ketika saya pamit, “saya seneng mas bisa cerita banyak kayak gini, sekalian ngeluarin unek-unek selama ini, jarang lho mas ada yang nanya-nanya kayak gini… ” sambil membereskan gelas-gelas minuman es kelapa yang barusan kami pesan. Saya tinggalkan lokasi ini setelah perjuangan mencari tanaman jenis Marbel dan Begonia yang langka itu akhirnya saya dapati juga disini. (Yoyo/D-012-KL) 
























disebutkan sekali di dalam Al’Quran. Puasa atau Shiyam lebih kepada bentuk syariat yang hanya berarti menahan dengan mencegah makan, minum serta “bergaul” saja dari fajar hingga magrib, sedangkan Shaum walaupun disebutkan sekali didalam Al Qur’an tapi inilah bentuk hakekat puasa yang sesungguhnya. Shaum mencegah lebih dari apa yang tidak bolehkan dalam shiyam, yaitu mencegah bicara, mendengar,melihat bahkan mencegah pikiran. Dalam pandangan Al-Ghazali Shaum inilah bentuk puasa yang sesungguhnya yang akan mengantarkan manusia kepada derajat taqwa, puasanya orang pilihan. Maka dari itu kata shaum sepertinya lebih tepat bagi kita umat Muslim menggunakannya, untuk lebih menyadarkan kita pada hakekat sesungguhnya ibadah ini.

