Menguak Tradisi Pendidikan dan Latihan Dasar

.

Diklatsar Para Perintis Dewadaru, Didik oleh Mapenta Unisba

Sekali lagi, membincangkan Pendidikan Dasar selalu bergairah. Selain utamanya sebuah kegiatan transformasi  pendidikan dan latihan, tentu tidak melulu aktifitas penerimaan anggota baru, ada hal lain yang  menjadi sebuah kerinduan dan sayang untuk terlewatkan adalah momentum.  Melembaganya momentum itulah karena berulangkali, seiring dengan waktu menjadi sebuah tradisi.  Tapi, sesungguhnya “Binatang” seperti apakah Pendidikan Dasar itu?, (Kalimat pernyataan instruktur yang selalu diulang didepan para siswa Diklatsar ketika memulai kegiatan ini) sehingga menjadi tradisi  di hampir seluruh organisasi kepencinta alaman dan penggiat kegiatan alam bebas ini. Mudah-mudahan catatan dibawah ini jadi referensi  Panitia Diklatasar XV Dewadaru ataupun rekan-rekan himpunan lainnya dalam menyiapkan tradisi ini berlangsung dengan baik, punya capaian dan penuh makna.

——————–Pendidikan dan Latihan Dasar memang menarik. Semenarik ketika berburu para calon siswa serta serunya pelaksanaan kegiatan ini nantinya, baik pelaksanaan teori maupun praktek dilapangannya. Belum lagi di kegiatan pra-nya yang berkutat dipenentuan sistem yang akan dicapai, menetapkan jalur yang akan dipergunakan serta segudang detail menyangkut persiapan instruktur dan perlengkapan siswa yang bejibun, perbedaan pendapat, perang argumentasi jadi hal yang sudah rutin. Hal lain yang tentu ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota adalah Tradisi ini sudah dijadikan rutinitas ajang reuni anggota lama berkumpul kembali, bisa dimaklumi kepenasarannya terutama menyambut kedatangan adik-adik barunya di himpunan ataupun organisasi. Kondisi ini tentu tidak hanya di Dewadaru, diyakini di perhimpunan lainpun terjadi hal yang sama. Makna Tradisi memang menjadikan Pendidikan dan latihan Dasar jadi sebuah “adat”, metode yang punya perbedaan rasa, ragam dan bentuk diberbagai organisasi disesuaikan dengan skala dan tingkat kebutuhan yang diinginkan.

——————–Bila ditilik satu persatu, dari namanya saja sudah mulai beragam istilahnya; ada yang menyebutnya Diklat, Diklatsar, Diksar, Pendas, Dikdas, PD (Pendidikan Dasar) dan banyak istilah lainnya. Tapi yang menjadi persamaan, kegiatan ini menjadi identik dengan masa penerimaan anggota baru. jika ada yang bertanya berapa jumlah perhimpunan penggemar kegiatan petualangan di alam terbuka di Indonesia saat ini? Jawabnya, banyak sekali! Maklum, sampai sekarang belum pernah diadakan sensus khusus untuk mendatanya. Bayangkan, hampir setiap SMU di kota-kota besar memiliki perhimpunan seperti ini. Belum lagi di tingkat perguruan tinggi, yang bisa memiliki lebih dari satu perhimpunan. Sementara di luar jalur sekolah, akan lebih susah lagi untuk melacaknya.

——————–Dari sekian itu, Tengok saja dihampir perhimpunan penggiat kegiatan Alam bebas atau organisasi kepencinta-alaman, hampir tidak ada yang melakukan penerimaan anggota barunya tanpa melewati kegiatan yang sudah trade in  ini. Tentu  gaya masing-masing berbeda, tetapi punya kesamaan visi  yaitu memperkenalkan calon anggota barunya  pada arena “tempat bermain”  di alam terbuka, dengan membekali  pengetahuan teknik hidup di alam bebas dan ilmu-ilmu penunjang lainnya. Yang tak kalah menariknya dan ini menjadi punya keragaman khas adalah bagaimana cara mereka menanamkan esprit de corps, jiwa korsa ke masing-masing anggota barunya. Setiap organisasi tentu disini memiliki perbedaan kadar dan kwalitas sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan organisasi itu sendiri.

——————–Pendidikan Dasar memang sudah dijadikan pola regenerasi anggota baku yang saat ini masih dijadikan andalan dan belum tergantikan dengan pola lainnya.

 

Dua Mahzab Besar dan Kombinasinya

——————–Bicara penggiat kegiatan alam bebas di Indonesia tentu tidak akan terlepas dari dua perhimpunan besar yang sudah terlebih dahulu malang melintang dipentas ini. Usia dan padatnya prestasi yang dihasilkan keduanya cukup membuktikan bahwa mereka patut jadi ikutan. Termasuk pola Rekruitmen anggota yang mereka miliki saat itu. Mapala UI (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia) asal Jakarta dan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung  (PPRPG) Wanadri yang berasal dari Kota Bandung menjadi kutub acuan. Diakui atau tidak merekalah perumus tonggak dasar dari manajemen organisasi kegiatan seperti ini. Terlebih pola Penerimaan Anggota barunya.

——————–Dari masing-masing sebenarnya sudah bisa menspesialisasikan jati dirinya. Secara kasat mata, Kalau Mapala UI terkesan kental akan sisi akademisnya sedangkan Wanadri, unsur petualangannya lebih ditonjolkan. Eksplorasi keduanya bisa dibedakan cita rasanya. Walau mungkin sepintas, awam masih sulit membedakan. Tapi rasakan kalau meneliti, mengikuti kegiatan mereka satu persatu, kesan itu seakan terasa. Gaya pelatihan, style juga kultur psikologis jelas semakin terasa bila kita bergaul dengan keduanya, baik ketika bertemu di lapangan maupun bekerjasama dalam opearsi-operasi sosial semacam SAR maupun acara-acara khusus, termasuk sekolah-sekolah pelatihan yang mereka adakan.

——————–Apakah kemunculan organisasi lain yang bersamaan kurun waktunya tidak diperhitungkan menyumbang pola, tapi karena keduanya dibesarkan dalam setting sejarah yang sama pada masanya, ditambah unsur politis dan kekuatan, kekuasaan yang dalam lingkarannya dekat dengan para pencetus dikedua organisasi tersebut, keberadaan organisasi lainnya jadi tidak menonjol, apalagi kretifitas anggota pendiri keduanya patut diakui militan juga dalam memajukan dan mengharumkan rintisan organisasinya. Sehingga mungkin keduanya lebih cepat dikenal. Seiring dengan waktu dan kesesuaian kondisi organisasi, tak jarang setelah meniru sistem itu, Banyak organisasi yang menjiplak tadi secara perlahan mengembangkan sistem itu menjadi beberapa kombinasi. Bahkan menjadi dua kombinasi yang dipadukan. Dewadaru sepertinya perlahan juga tengah mengarah kesana dan harus.

 

Gaya Mentoring Mapala UI

——————–Pada awalnya, untuk merekrut anggota baru, di Mapala UI menerapkan sistem magang, Jadi, ada beberapa anggota senior Mapala mencalonkan atau mengusulkan mahasiswa yang kira-kira layak menjadi anggota Mapala UI ini. Si calon anggota biasanya kemudian diajak beberapa kali jalan. Si senior juga bertindak sebagai promotor. Setelah dirasa cukup, yunior yang menurut catatan sipromotor layak menjadi anggota dipromosikan kepada Dewan Pengurusnya (Di Mapala UI adalah Badan Pengurus /BP). Setelah si calon dinyatakan resmi diangkat menjadi anggota, baru boleh mengikuti kegiatan Mapala UI secara keseluruhan.

——————–Berburu calon anggota ini biasanya dilakukan usai ulang tahun Mapala. Setelah berjalan beberapa kali karena masih dirasakan kurang puas, sistem magang dirubah menjadi sistem mentoring. Pada sistem ini seorang mentor yang serba bisa dalam pengertian menguasai beberapa unit spesialisasi ataupun pengalaman berorganisasi yang lebih, Dia memegang beberapa orang calon anggota. Kepada si mentor inilah calon anggota belajar segala macam pengetahuan alam terbuka, keterampilan teknik, maupun mengenal organisasi. Tiap mentor pasti memang memiliki gaya masing-masing, sehingga ada kecenderungan kuat pada calon anggota untuk mengikuti gaya seniornya.

——————–Pada tahun 1982 dibentuklah badan khusus yang menangani peneriman anggota baru. Namanya Badan Khusus Pelantikan (BKP). Institusi ini bersifat  otonom, walaupun keberadaannya tergantung  kebutuhan. Jadi jika BP Mapala Ul merasa perlu untuk melakukan penambahan anggota baru,  BKP baru dibentuk dengan surat mandat dari BP. Yang menarik dari Keberadaan BKP, selain memang merupakan kebutuhan organisasi. Ternyata ini untuk mereduksi menjawab perkembangan situasi di kampus. Dengan diberlakukannya sistem SKS, waktu itu, jam aktif anggota semakin berkurang.

——————–Dalam pelaksanaan sistem baru ini, gaya mentoring masih digunakan. Namun keterlibatan banyak pihak mulai disinergikan. Tiap sepuluh calon anggota yang sudah lolos seleksi dibimbing oleh dua orang mentor pilihan BKP. Sebenarnya setiap anggota Mapala punya hak menjadi mentor, penawaran menjadi mentor dilakukan secara terbuka lewat pengumuman di sekretariat. Namun biasanya sedikit sekali yang mendaftarkan diri dan akhirnya Ketua BKP sendiri secara langsung menunjuk  mentornya. Sementara itu, ada tim pengamat dari BP yang akan menilai jalannya proses rekruitmen tersebut.

——————–Pendidikan dan Latihan (Diklat) anggota baru dimulai dari, seleksi administrasi yang perlu waktu sekitar 1(Satu) bulan. Walupun cuma adminlstrasi, namun berjalan ketat. Kurang photo saja bisa ditolak. Rata-rata yang lolos seleksi sekitar 150 orang. Begitu pelajaran kelas, yang berlangsung tiap Sabtu Minggu dan diselingi praktek lapangan, yang berlangsung selama 3 (Tiga) bulan, pesertanya bisa susut jadi 125-an. Materi yang biasa diberikan meliputi Materi Pendukung yang terdiri  dari SAR, Phototografi, jurnalistik, radio komunikasi., lingkungan, navigasi, serta pengetahuan organisasi. Disamping itu ada yang disebut Materi Teknis Spesialisasi seperti Arung Jeram, Caving, Layar, Diving. serta Mountaineering. Selama pemberian materi teori dan praktek ini anggota kelompok dipertukarkansatu sama lain dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian setiap calon anggota (CaAng, demikian istilahnya) dapat merasakan bimbingan dari mentor yang berbeda.

Soe Hok Gie, Pendiri Mapala UI

——————–Selesai menjalani tahap pemberian materi, peserta Diklat menjalani Masa Bakti yang lamanya juga 3 (Tiga) bulan. Dalam masa ini caang sudah berhak menggunakan atribut Mapala UI dan juga bisa mengikuti kegiatan Mapala UI. Pendalaman-pedalaman kecil bersama senior terus berlangsung. Namun yang berhalangan mengikuti bisa menggantinya dengan, misalnya, melakukan pendakian gunung di atas 3.000 meter, atau yang lain. Di bagian akhir adalah berupa kewajiban untuk membuat suatu Ekspedisi. Selesai ekspedisi, baru status caang berubah menjadi anggota penuh Mapala UI Total waktu pelaksanaan Dikiat sekitar 6 (Enam) bulan, tetapi biasanya molor jadi 7 (Tujuh) sampai 9 (Sembilan) bulan.

.

Pendidikan Komando Wanadri

——————–Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, resmi berdiri tanggal 16 Mei 1964 di Bandung, meskipun sebenarnya secara de facto sudah ada sejak 17 Januari 1964. Perhimpunan tertua di Indonesia ini mulai merintis sistem pendidikan dasar sejak tahun 1964 akhir, dimulai pada angkatan yang ke-3, Singawalang (Siwa). Meskipun cuma dua minggu saja, dan lagi pula masih sederhana sekali  sifatnya Materi yang diajarkan lebih banyak tentang Scouting dan pioneering, seperti membaca jejak, Navigasi Darat, Bivak. cara. menyalakan api, tali temali, dan Morse. Waktu itu materi SAR belum dikenal, salah satu ucapan Ir. Ronny Nurzaman, salah seorang Pendiri Wanadri di Sekolah SAR Gunung salak 1991 waktu itu yang pernah kita ikuti.

—-.

—————-Pendidikan Dasar untuk angkatan berikutnya, Lawang Angin, tidak terlepas dari suasana. Indonesia saat tahun 1965. Siswa angkatan Lawang Angin sempat mengalami belajar teori berbagai macam keterampilan hidup di alam terbuka selama satu bulan penuh. meletusnya peristiwa G 30 S. mengakibatkan tahapan praktek baru dilaksanakan tahun 1966. Atau ketika situasi agak tenang. Pada tahun yang sama, atas prakarsa Bapak Sarwo Edhi Wibowo (alm) yang waktu itu menjabat Komandan RPKAD, beberapa anggota Wanadri mengikuti Pendidikan Komando. Kejadian ini rnempengaruhi pola Pendidikan Dasar Wanadri berikutnya. Angkatan Angin Rimba (1967), misalnya, sudah mulai mengenal materi-materi yang diajarkan di Pendidikan Komando. Selain itu, ada materi baru seperti SAR. Sebelumnya materi SAR tersebut didapat dari Bapak Kom. Udara Sunardi (alm), tahun 1965. Sejak itu Pendidikan Dasar Wanadri dapat dikatakan sudah mempunyai bentuk, dengan rata- rata lama pendidikan 24 hari penuh.

——————–Pada angkatan ke-10, Rawa Laut, 1978, di kenalkan beberapa materi baru, misalnya teori dan praktek Rawa Laut. Jumlah peserta angkatan Rawa Laut ini, merupakan jumlah terbesar dalam sejarah Wanadri. Yang berhasil lulus lebih dari 100 anggota. Hal ini tidak terlepas dari sittuasi yang terjadi  di Indonesia saat itu . Seperti yang kita ketahui, tahun 1978-an terjadi pergolakan dan demonstrasi di berbagai kampus Perguruan Tinggi. Kampus ITB waktu itu ditutup. Mahasiswanya tidak diperbolehkan memasuki kampus dan bikin kegiatan. Jadi tidaklah heran apabila mereka kemudian mengalihkan kegiatannya ke hal-hal lain di luar kampus, sambil menunggu redanya suhu Banyak diantara mahasiswa ini kemudian mengikuti Pendidikan Dasar Wanadri (PDW). Selesai PDW tahun itu, lebih dari sepertiganya berasal dari ITB.

——————–Garis besar PDW saat itu adalah Tahapan Seleksi, yang meliputi Test Psikologi, kesehatan, fisik, dan renang. Lulus tahap seleksi, peserta berhak mengikuti pendidikan dasar. PDW itu sendiri berlangsung sebulan penuh.Terdiri atas tahapan teori (basic) sekitar 14 hari lamanya, yang juga diisi beberapa kegiatan praktek. Kemudian ada waktu 1 hari buat siswa untuk mempersiapkan perbekalan, sebelum mereka mengikuti tahapan praktek (operasi) selama kurang lebih 14 hari juga. Medan latihannya sebagian besar di Situ Lembang. Tidak berlebihan bila Situ Lembang seolah menjadi trade mark PDW.

——————–Tahun 1980. dibentuk satu badan yang khusus menangani masalah pendidikan dan latihan (Diklat) di Wanadri. Secara struktural. masih dibawah tanggung jawab Dewan Pengurus (DP), yaitu termasuk bagian Bidang IV. Perkembangan materi PDW waktu itu relatif tidak ada perubahan mendasar.  Materi-materi pokok yang harus dikuasai oleh siswa biasa dikenal dengan sebutan 10 keterampilan Dasar, yaitu Navigasi Darat, Survival, Mountaineering, Botani & Zoologi Praktis, Perlengkapan & Perbekalan, SAR, Komunikasi Lapangan Kesehatan Perjalanan . Iklim dan Medan, dan Ilmu Penaksiran.  Sementara Materi Tambahan lainnya meliputi, Sosiologi Pedesaan, Lingkungan., Jurnalistik, dan lain-lain.

——————–Pada angkatan Kabut Rimba, tahun 1981, ada terobosan baru yaitu materi-materi PDW dibukukan dalam sebuah diktat. Katakanlah, semacam text book, begitu, Kalau         sebelunya siswa mendapatkan materi hanya berdasarkan keterangan pelatih, seJak saat itu setiap siswa mempunyai buku pegangan untuk membantu cara belajarnya., Pada angkatan ini, mendung meyelimutl suasana PDW. Seorang siswa gugur  pada hari-hari terakhir menjelang pelantikan. Kejadian itu merupakan pelajaran yang sangat mahal bagi Wanadri. Evaluasi dari kejadian itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal yang sama kembali tedadi pada Angkatan Elang Rimba (1983), meskipun evaluasi dari kejadian terdahulu menunjukkan bahwa panitia sudah maksimal dalam melakukan safety procedure.

——————–Pada PDW tahun 1986, Angkatan Badai Rimba, Badan DikIat Wanadri harus bekerja keras. PDW yang biasanya dilakukan pada bulan Februari – Maret, dipindahkan ke bulan Juni-Juli. Hal ini disesuaikan dengan kalender liburan anak SMA dan PT. Seleksi pendaftarannya diperketat. Selama PDW dilakukan beberapa kali review, baik dari Dinas Psikologi AD maupun dari Badan Diklat Wanadri. Ulangan Umum mulai diperkenalkan yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam. menyerap materi yang sudah diberikan. Kemudian PDW angkatan Topan Rawa dilaksanakan tahun 1989 awal. Karena dianggap bulan-bulan itu merupakan waktu terbaik untuk menyeleksi calon anggota Wanadri. Olah Raga Arus ‘Deras (ORAD),yang pada PDW sebelumnya hanya diberikan sebatas teori dan sedikit praktek di Situ Lembang, pada kali ini dipraktekkan di Sungai Citarum.

——————–Badan Diklat PDW secara klasifikasi membagi dua tujuan yang utama, Pertama, menghasilkan calon anggota Wanadri yang memiliki ketangguhan mental dalam berkegiatan di alam terbuka dan memiliki jiwa korsa. Yang kedua, si calon anggota memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar sesuai dengan medan  latihannya. Itulah yang selalu ditekankan Wanadri dalam kegiatan Penerimaan Anggotanya.  Setelah PDW status Siswa berubah menjadi Anggota Muda Wanadri (AMW) dan ditangani khusus oleh suatu kepanitiaan yang dinamakan Koordinator Masa Anggota Muda (Mamud).

Selama masa ini, AMW menjalankan kewajiban-kewajiban tertentu, yang termaktub dalam Program Mamud, seperti mentoring, perjalanan-perjalanan kecil, mengikuti sekolah-sekolah lanjutan  Tebing, ORAD, SAR, Jurhalistik – disamping sudah bisa magang pada Dewan Pengurus serta Badan otonom yang lain. Tujuan progam ini adalah agar AMW dapat mengintegrasikan diri dengan perhimpunan. Memahami suasana, sistem, mengenal anggota-anggota Wanadri, disamping memperdalam. ketrampilan yang sudah diperoleh saat PDW. Nomor pokok (Nrp), baru diperoleh setelah AMW sukses mennjalankan ekspedisi yang mereka kelola sendiri.

.

Berbau Milliter

——————Para pendiri Mahitala Universitas Parahiyangan pernah mendapatkan pendidikan khusus (Kolatma) dengan pelatih dari RPKAD sebelum memproklamirkan berdirinya kelompok mereka pada tahun 1974. Setelah itu Mahitala merumuskan sendiri gaya diklatsar bagi calon anggota, dengan pelatih dari kalangan intern. Model diklatsar disesuaikan dengan situasi dan kondisi kampus. Gayanya masih berbau militer memang, cuma sanksi dari pelatih, yang bersifat fisik secara langsung ditiadakan Seperti menggampar siswa, misalnya, sudah tidak ada,

——————–Setelah dievaluasi dan disempurnakan dari waktu -ke waktu, yang antara lain bersumber dari para alumni Mahitala sendiri, kini bentuknya sudah cukup mapan. Ada dua bagian besar, pertama berupa teori kelas selama 10 hari. Setelah itu calon anggota dikonsentrasikan untuk digembleng fisik, mental, dan kerampilannya secara simultan selama maksimal 14 hari di kawasan Gunung  Burangrang. Dari segi pengkayaan materi, pada tahun 1977 ada penambahan materi, yaitu Tidur Kalong, dan mulai tahun 1985, Mahitala telah memiliki Petunjuk Pelaksanaan Dikiatsar. Sementara biaya menggelar diklatsar, disamping dipungut dari peserta juga diperoleh dari pihak universitas serta usaha lain yang dilakukan oleh panitia.

——————–Lain lagi dengan  Aranyacala Universitas Trisakti, yang berdiri pada tanggal 29 November 1967. Pada mulanya rekruitmen dilakukan dengan sistem magang. Baru pada tahun 1974 rekruitmen dilakukan lewat sistem pendidikan dasar (Dikdas). Pada Dikdas yang pertama itu, para pelatihnya berasal dari Gegana Polri, Namun pada Dikdas berikutnya, diadakan penyesuaian-penyesuaian, dimana mayoritas pelatih dari kalangan Aranyacala sendiri.

——————–Setelah diadakan penyempurnaan dari tahun ke tahun, kini Dikdas Aranyacala sudah memiliki gaya yang tetap. Dikdas dibagi dalam dua tahap, pertama Tahapan Paket Teori yang dilakukan tiap hari Sabtu dan Minggu, diselingi dengan praktek kecil. Tahap ini memakan waktu sampai 3 (Tiga) bulan. Tahap berikutnya adalah paket lapangan selama seminggu, bertempat di Gunung Salak. Namun sejak 1987 lokasi paket lapangan pindah ke G. Halimun. Ada sejumlah materi vang ditambahkan seperti materi jurnalistik, misalnya. Ada juga yang atas pertimbangan tertentu dilebur, seperti P3K yang menjadi sub bagian materi SAR  Disamping itu, terjadi juga pengurangan materi. Tahun 1986, materi praktek Orad sempat diajarkan., namun pada Dikdas berikutnya materi tersebut hanya diajarkan sebatas teori kelas. Dari sekitar 100 peminat, sekitar 80-an yang tersisa selama pemberian paket kelas. Dari sejumlah itu rata-rata hanya 30 orang yang berhasil lolos tahap paket lapangan ini. Selesai ini, peserta  berstatus Anggota Muda. Waktunya sekitar 4 sampai 6 bulan. Dan diakhiri dengan ekspedisi.

——————–Mapala UPN Veteran Yogyakarta, mulai menggelar Diklat pada tahun 1990. Semula rekruitmen anggota dilaksanakan selama 10 hari, di luar segala rupa proses seleksi. Empat hari pertama, peserta, digembleng di Rinifdam, di sana, peserta berlatih materi kedisipilinan militer, mental ideologi, serta teori ketrampilan hidup di alam, terbuka. Selesai di gembleng di barak militer, peserta langsung dibawa ke lapangan, dimana materi seperti navigasi., orad, serta rock- climbing dipraktekkan selama 4 hari, di akhiri dengan materi long march selama 1 hari. Satu hari terakhir adalah penutupan dan pelantikan.

——————–Gaya dan metoda Diklat semacam ini mereka peroleh lewat referensi dari perkumpulan sejenis yaitu TMS 7, serta Bakorlak SAR UNS, Solo. Walaupun Menurut mereka Diklat gaya militer ini sebenarnya tidak cocok lagi. Terialu kaku. Perbaikan sistem. pendidikan dilakukan setelah ada masukan dari Training Center ekspedisi Cartstenz oleh Wanadri., Sekretariat bersama Yogya, juga dari buku dan literatur. Proses rekruitmen dimulai dengan seleksi administrasi, seleksi fisk test kesehatan, dan test psikologi, Yang lolos dari saringan tersebut berhak mengikuti basic camping yang berisi pengenalan, kegiatan Mapala UPN dan organisasi. Waktunya masih 10 hari, yang terbagi : 6 hari Gunung Hutan, 1 hari caving, 2 hari rock climbing, dan 1 hari long march. Setelah mengikuti Basic Camping, Status peserta menjadi anggota muda.

——————–Rata-rata pesertanya sekitar 20 orang, namun terjadi penurunan jumlah peminat pada Diklat tahun 1991. Ini memang gejala umum, karena Unit Kegiatan Mahasiswa yang lainpun biasanya mengalami hal yang sama, biasanya birokrasi di universitas yang agak sulit sebagai penyebabnya. Namun demikian pihak universitas masih juga bersedia mengulurkan dana untuk diklat ini. Sedang sumber dana yang lain berasal dari peserta, kas organisasi, serta iuran panitia. Untuk memudahkan pelaksanaannya, diklat biasa diadakan saat liburan semester. Sejauh ini belum pernah terjadi ekses yang tidak diharapkan, seperti kecelakaan, misalnya. Organisasi ini menyertakan tim medis dari KSR pada tiap acara Diklat.

.

Ragam Regenerasi

——————–Walaupun tidak menyeluruh, dari hasil pengamatan terhadap sejumlah organisasi tersebut, dapat diperoleh gambaran berbagai gaya pendidikan dasar. Secara garis besar, setidaknya ada 3 (tiga) Sistem :

  • Yang pertama adalah “Full Base Camp“, dimana peserta Pendidikan Dasar lebih banyak dikonsentrasikan di lokasi khusus dan digembleng fisik, mental dan keterampilannya (Teori dan Praktejk) dalam jangka waktu tertentu secara simultan.

    Barak Situlembang, Tempat favorit untuk penyelenggaraan Diklatsar Full BaseCamp

  • Yang kedua “Flying Base Camp”, si calon anggota tidak dikonsentrasikan di satu lokasi, tetapi secara bertahap, dari hari-kehari mereka diperkenalkan kepada satu demi satu materi. Yang umum awal yang dilakukan adalah pengajaran teori banyak dilakukan di kelas atau dilokasi kampus terlebih dahulu. Setelah itu baru secara berpindah-pindah dilanjutkan kemedan sebenarnya sesuai dengan materi yang dibutuhkan dalam satuan waktu penuh (Marathon), Pengembangan gaya kedua hanya lokasinya yang berpindah-pindah Waktu untuk menggembleng calon anggota bervariasi, bisa dalam seminggu sampai dua minggu.
  • Sedang gaya yang ketiga adalah “Mentoring” merupakan kombinasi dua gaya sebelumnya. Hanya yang membedakan adalah pelaksanaan teori dan praktek disesuaikan dengan kondisi, tidak dijalankan secara simultan. Bisa karena ketersediaan waktunya tidak memungkinkan untuk dijalankan satu sampai dua minggu berturut-turut (Karena jadwal perkuliahan atau sekolah yang padat), atau penyampaian materi dilaksanakan dalam kondisi yang terukur penerimaan, termasuk maksimal praktek lapangannya nanti. sistem ketiga ini umumnya membutuhkan waktu yang lebih panjang, bisa lebih dari tiga, empat bulan.

    Basecamp berpindah disesuaikan dengan kebutuhan juga untuk dinamisasi gerak siswa.

——————–Ketiga sistem ini, tentu  memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Situasi dan kondisi dari setiap organisasi akan sangat berpengaruh, mana sistem yang akan dipakai dalam sebuah pendidikan dasar. Sejauh tujuan pendidikan dasar dapat dicapai dengan maksimal, sistem apapun yang dipilih, boleh-boleh saja. Termasuk berganti-ganti sistem disetiap waktu pelaksanaannya, walau untuk yang ini sedikit yang menjalankan.

——————–Saat ini ada kecenderungan kuat organisasi Pencinta Alam ataupun petualangan terutama dilingkungan kampus semakin menurun jumlah peminatnya. Walau masih sulit mencari penyebabnya, pergeseran paradigma, maupun mindset, style mahasiswa saat ini akan antusiasme petualangan dan kepencinta alaman tidak sekuat di awal tahun 80 hingga 90-an, terlebih patriotisme dan kecintaan akan alam indonesia. Membanjirnya informasi melalaui media dan jejaring sosial menipiskan rasa kepenasaran akan objek-objek petualangan bisa jadi salah satu kemungkinan. Ketatnya sistem SKS di Perguruan Tinggi dan kekurang pedulian dan optimalisasi fihak kampus akan positifnya kegiatan organisasi ini menjadi sorotan penyebab terhadap penurunan ini.

——————–Kesempatan mahasiswa untuk berkiprah dalam satu organisasi menjadi sangat terbatas. Walaupun, tentu saja, SKS dan hal tersebut  bukan satu- satunya penyebab. Di tahun 70-an, di Indonesia hanya ada beberapa organisasi Pencinta Alam saja. Orang tak punya banyak pilihan untuk menyalurkan minat bertualangnya. Kini, hampir semua Perguruan Tinggi dan SMU memiliki wadah untuk bertualang ini. Masalahnya, organisasi mana yang berkualitas, memiliki prestasi, sesuai dengan aspirasi calon anggota, idealnya memang ini yang akan menjadi pilihan. Dan hal yang satu ini bisa jadi penyebab juga menurunnya minat dikampus yang bersangkutan. Jadi, instrospeksi, tidak berpuas diri para organisatorisnya untuk untuk terus berkwalitas dan berbenah lagi.

——————–Bagi organisasi Pencinta Alam yang berada dibawah naungan Kampus, penurunan jumlah peminat ini tentu akan terasa sekali. Tidaklah mengherankan, kalau organisasi seperti Dewadaru harus berkompromi dengan waktu, agar mampu menjaring calon anggota yang diinginkan. Namun, yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata penurunan jumlah peminat ini tidak hanya berlaku pada organisasi Pencinta Alam. Tapi juga, pada organisasi-organisasi “ekstra” lainnya. Ada apa sebenarnya dengan kaum muda kita? Ataukah, musim memang tengah berganti?.

.

Disiplin Militer.

——————–Satu  hal yang menonjol dari ciri pendidikan dasar di lingkungan Organisasi Pencinta Alam adalah gaya pendidikan yang berbau militer. Walaupun, ini tidak berlaku untuk semua Organisasi Pencinta Alam. Peran Militer dalam megembangkan kegiatan petualangan memang tidak bisa dipungkiri. Sebut saja, misalnya., Sir Edmund Hillary, John Hunt atau Chris Bonington, piawai-piawai yang membuka tabir Himalaya. Atau I Made Sandi, Sudarto dan Sugirin, putera-putera Indonesia yang berhasil mengibarkan Sang Merah.Putih di pegunungan Jayawijaya. Mereka ini datang dari Militer.

——————–Di Indonesia, peran militer memang besar dalam ikut menumbuh kembangkan organisasi pencinta alam. Ada banyak organisasi pencinta alam yang baru lahir berkat peran besar militer. Sementara itu, dipilihnya gaya militer dalam arena pendidikan dasar, biasanya didasarkan pada. harapan untuk menerapkan disiplin yang kuat dan ketat. Baik untuk kalangan pelatih maupun untuk calon anggota. Namun sayangnya, terkadang tidak sedikit orang yang salah dalam mempersepsikan disiplin ini. Disiplin yang keras dan ketat bahkan menjelma menjadi tindakan kasar dan tidak  mendidik.

 

Sarana Mendidik Diri

——————–Regenarasi memang merupakan masalah yang vital bagi kelanjutan roda organisasi. Masa depan suatu perhimpunan, salah satunya ditentukan dari sukses tidaknya program regenerasi ini. Kesinambungan dan keteraturan pelaksanaan serta standard dan porsi yang tepat dalam pemberian materi, menentukan kualitas calon anggota yang hendak direkrut. Perlu juga untuk peka terhadap tantangan jaman, trend yang sedang berlaku di “pasar” agar dapat menentukan strategi pendidikan yang tepat sehingga dapat menjaring calon anggota sesuai dengan kualitas yang diharapkan dalam jumlah yang cukup.  Kurikulum sebuah pendidikan harus tetap ada, terbuka dalam menerima masukan perbaikan dan peningkatan kualitas.

——————–Dengan memasuki suatu perhimpunan, fasilitas dan sumber pengetahuan banyak tersedia, sekurangnya ada. Sementara bagi yang tergabung dalam kelompok yang sudah punya “nama besar“, kemudahan untuk mengadakan suatu kegiatan besar dimungkinkan. Dari sini, si anggota lalu berkembang kemampuannya. bertambah jam terbangnya, dan membuat prestasi-prestasi di bidang petualangan alam terbuka. Tentu bukan hanya prestasi tetapi juga diharapkan sampai pada hakekat sebenamya dan berkegiatan di alam terbuka. Karena  kegiatan di alam terbuka hanyalah sarana. Sarana untuk mendidik diri. Bagaimanapun, alam adalah guru. Sebaik- baiknya guru.

——————–Seperti arti kata tradisi itu sendiri adalah adat kebiasaan turun-temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat (Komunitas), sehingga penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yg telah ada merupakan yg paling baik dan benar mestinya harus dikaji ulang juga secara terus menerus. (D-012-KL/Dari berbagai sumber/Badik Wanadri/MapalaUI) █.

.

Cijerah/05:04/16Sept2012

.


Semangatku Tak Habis di Kaki Gunung Burangrang (Bag-1)

.

Listia Sumanja AMD-174-JK

(Oleh : LISTIA Sumanja | AMD-174-JK) | Bulletin Dewadaru pada 30 Maret 2011 pukul 1:51| Aku, Tia begitu orang-orang memanggilku. Kini aku tengah menjalani pendidikanku di salah satu kampus swasta di kota Bandung tepatnya di STMIK “AMIK BANDUNG” semester IV. Tulisan ini sebenarnya merupakan salinan ketika aku menjalankan DIKLATSAR PPRPG DEWADARU. Ketika itu saat menulis cerita ini aku sedang berada di sebuah kampung, kampung itu bernama NYALINDUNG, terletak tepat di kaki gunung Burangrang. Mungkin untuk sebagian para pembaca mulai bertanya-tanya, “mengapa aku berada disana waktu itu?”. satu jawabanku karena aku ingin membuktikan, aku bisa melakukan suatu hal yang belum tentu orang lain dapat lakukan.

—————Angin sejuk, gemercik air, siulan burung, udara segar tak seperti di kota membuatku semakin bersemangat untuk melanjutkan perjalanan DIKLATSAR ini. mungkin awalnya ada perasaan ingin pulang saat etape-1. Itu awal aku memulai semuanya . “Tanjakan Tak Berujung”, tapi rasa itu ku buang jauh-jauh karena aku ingin menyelesaikan semua ini. aku yakin Allah akan melindungiku. sudah 3 (tiga) hari aku berada disini lelah sudah ku lupakan, sudah kubakar rasa itu dengan semangatku yang lebih berapi-api.

Etape-1: The long and winding road ..

—————Kemarin malam salah seorang Dewadaru, berbincang denganku dan 2 (dua) orang rekan seperjuanganku : Doddy dan Harry. kami berbincang mengenai mampukah aku & Harry naik ke puncak Burangrang ?? sedangkan notabenya aku ini seorang penyakitan dan Harry kakinya di pen. aku tak mau dikasihani karena penyakitku ini, aku bisa dan akan ku coba !! AKU BUKAN INGIN MENANTANG ALAM, DISINI AKU HANYA INGIN MENGUKUR KEMAMPUANKU .. SAMPAI BATAS MANA AKU BERUSAHA !!!. Aku ingin hidup normal. Aku ini penggila ekstrakulikuler, sejak duduk di bangku SD, SMP, SMK dan itu membuatku semakin merasakan Apa arti hidup sesungguhnya. Mungkin Etape-1 ini aku jatuh begitu mudah, 4 (empat) kali asma ku kambuh,  aku memang tengah mengidap asma akut .. tapi aku yakin aku bisa menyelesaikan semuanya .. Semangatku tak habis di kaki gunung Burangrang !!!, semangatku timbul berkat dorongan keluarga, teman, sahabat, dan karena adanya instruktur yang mungkin bisa jadi lebih bersemangat menemani aku dan kedua temanku..

Aa ..

—————Salah satu instruktur yang aku maksud diatas adalah sang DanOps. Aa Iman sudah seperti kakak ku sendiri. Dia yang terus membakar semangatku hingga akhirnya aku mendapatkan syal kuning itu. Walaupun  semua yang lebih tua dariku kuanggap abang, seperti orang tua dan keluarga sendiri.

Desa Nyalindung .. dan Gunung Burangrang.

—————Lucu yah ..,  Sebelum Dikllatsar dimulai aku sebenarnya pernah  berpikir untuk mundur tapi seiring dengan waktu dan tekad kuatku, setelah menimbang akhirnya aku ikut juga hehehe,  …ah .. terlalu banyak sebenarnya yang ingin ku rangkai dalam dalam cerita ini, begitu banyak ungkapan yang membuatku ingin menangis dan tertawa saat itu. tapi .. hanya satu kalimat saat itu, Aku hanya ingin berkata : “Semangatku tak habis di kaki Gunung Burangrang …

bersambung

11 Maret 2011 | kp. Nyalindung

.


Do’a Untuk Anakku

.

.

Tuhanku, … Jadikanlah anakku dimana saja
dia berada seorang yang cukup kuat mengetahui
kelemahan dirinya, berani menghadapi kala ia takut,
yang bangga dan tidak tunduk dalam
kekalahan yang tulus,
serta rendah hati dan penyantun
dalam kemenangan

Oh Tuhanku, … Jadikanlah anakku
seorang yang tahu akan adanya engkau
dan mengenal dirinya sebagai dasar
segala pengetahuan

Ya Tuhan ….., bimbinglah ia
bukan dijalan yang gampang dan
mudah, tetapi dijalan penuh
desakan, tantangan, dan kesukaran
Ajarilah Ia agar sanggup berdiri teguh
ditengah badai dan belajar mengasihi mereka
yang tidak berhasil

Ya Tuhan…, Jadikanlah anaku
seorang yang berhati suci, bercita-cita luhur
sanggup memerintah dirinya sebelum
memimpin orang lain mengejar masa depan
tanpa melupakan masa lalu

Sesudah semuanya membentuk dirinya
aku mohon ya Tuhan, rahmatilah ia dengan
rasa humor sehingga serius tidak berlebihan
berilah kerendahan hati, kesederhanaan dan
kesabaran, ini semua ya Tuhan dari kekuatan dan
keagungan Mu itu, Jika sudah demikian
Tuhanku Beranilah aku berkata :

” .. Tak sia-sia aku hidup sebagai Bapaknya..!

 

Untuk Bidadari Kecilku :
Nadya Aulia Nabiella Suryo

05 September 1996 – 05 September 2012, Tasyakur Bi Nikmat, Semoga sehat selalu, sing soleha .. ,  Semangat mengejar cita-citanya, terus berkompetisi dengan sehat dan selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda.

(Ayah, Bunda dan Neng, Selalu sayang Kakak.).

.

.█


Kembali ke Misi, Visi awal. Obrolan Santai dengan Yappi Eka Prasetya (D-003-AK)

.

.
Bulletin Dewadaru pada 22 April 2010 pukul 21:51 | Kedatangan Mas Yappie di Bandung (Rabu, 21 April 2010), ke Basecamp memang tidak ada sangkut pautnya menanyakan originalitas atau tidaknya sistem operasi atau software Microsoft kampus kita. Mas Yappie yang kita kenal salah satu orang penting petinggi Microsoft indonesia ini kebetulan sedang bertugas di Bandung. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ketua Pelaksana tugas Dewan Pengurus Dewadaru (Plt DPD) Agus Swack (D-011-KL) , (Humas-pun “dipaksa “ bergegas meluncur untuk bergabung) guna mengundangnya ke Basecamp. Berharap sih dari obrolan kami kelak ada saran dan masukan terutama dalam merestorasi Dewadaruyang tengah digulirkan saat ini.
.
——————–Kalau membayangkan Yappi yang dulu selalu khas dengan T-shirt, bertopi, bertubuh kurus celana meteran dan selalu menggunakan sandal kulit jepit yang dulu jadi kegemarannya (punten mas!). Mantan Komandan Latihan Diklatsar ketika saya jadi komandan operasinya Angkatan Wana Bayu ini kini terlihat gemuk, gagah perlente. Yang tidak berubah adalah semangatnya ketika berbicara manajemen organisasi, kumis juga aksennya yang medok “javascript” itu. Beliau ternyata sehari sebelumnya telah mendatangi Basecamp katanya, Karena tidak ada penghuni, perbincangannya dengan Ketua STMIK AMIK Bandung Mas BEP (yang juga kolega lama kawan semasa aktif kuliah disini) jadi target berikutnya. Akunya, banyak hal yang dibicarakan tentang kampus dan pasti tentang Dewadaru ini. Saya mengira pasti ada agenda-agenda penting yang telah dibicarakan, apalagi ketika melibatkan juga Bp. Rudi(WaKa III Kemahasiswaan). Atau hanya temu kangen saja barangkali.
.
——————–Janji dengan Yappi pasti harus On-time. Hari ini Betul saja, tepat seperti janji kita, jam 15.00, kita sudah kedatangan beliau. Dan hampir 5 (Lima) jam terpotong waktu shalat, kami menikmati betul diskusi ini. Mudah-mudahan obrolan ini ada manfaatnya juga bagi rekan-rekan diluar Dewadaru juga.

.

Kilas Balik

——————–Hal pertama yang dibahas bermula dari hasil pertemuan kita dengan Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan tempo hari. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa Dewadaru kini tengah menyiapkan satu rencana restorasi dengan bahan dasarnya legalisasi kepengurusan dari lembaga serta kebutuhan rekruitmen anggota baru. Karena satu hal dan lainnya ini guna regenerasi kepengurusan dan keberlangsungan organisasi didalam kampus. Isu lain yang berkembang dan hangat dibicarakan juga menjadi bahan pembicaraan menarik, apalagi terjadi terminologi pengkotakan antara independen, bertahan di kampus, komisariat, bahkan ada usulan tambahan perlunya dibentuk Yayasan Dewadaru yang diharapkan jadi solusi untuk perencanaan selanjutnya. Mengenai kaitan lainnya tentang keberadaan kampus itu sendiri, sepertinya Yappi sudah paham betul, hal ini tidak kita bahas kembali.

——————–Inilah beruntungnya kalau kita berdiskusi dengan seseorang yang paham betul rekontruksi bagaimana dahulu Dewadaru didirikan, bagaimana ngototnya ide pendirian itu terutama dari sisi politis kondisi yang berkembang pada era tersebut (1986). Perseteruan BPM (Badan Pembina Mahasiswa) yang dipimpin Yappi dan IKM (Ikatan keluarga Mahasiswa) punya kisah tersendiri dan punya andil besar terbentuknya Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (PPRPG) Dewadaru. Setidak-tidaknya ada gambaran sedikit betapa Dewadaru dahulu didirikan amat sangat tergesa-gesa hingga konsep-konsep yang menyertainyapun belum matang, “.. nanti sajalah sambil berjalan”, ucap Yappi, menirukan kata-kata dahulunya.

.——————–Ketergesaan karena tidak sabar karena momentum yang harus cepat diputuskan ini ternyata berbuntut panjang pada perkembangan Dewadaru hingga saat ini, Yappi sendiri seolah meng-iya-kan jika terjadinya carut-marut keadaan Dewadaru saat ini langsung atau tidak, terjadi karena ketidak siapan para pencetus awal akan sebuah konsep detail dari organisasi yang didirikannya. Kami mencoba perlahan memahaminya.

.
——————–Berhadapan dengan petinggi Microsoft yang kerjaannya manajemen traine Human resources serta pembicara diberbagai seminar Microsoft ini, kita agak kewalahan juga mencoba mengurai rencana kedepan ini terutama yang berkaitan dengan persoalan klasik Misi dan visi organisasi awal yang justru dari sana selalu berbalik arah kembali. Apalagi ketika dia menanyakan pertanyaan paling mendasar ketika kita, kami ingin mempertahankan Dewadaru apakah keberadaannya di kampus ataupun diluar, pertanyaannya : “Apa yang mau dipertahankan?, apanya yang mau dipertahankan ..?, Opone ..”. Dewadarunya?, atau PPRPG-nya, Dua permasalahan yang kelihatannya sama tapi berbeda satu dan lainnya terutama penanganannya. Atau keduanya.
.
——————–Mempertahankan nama Dewadaru kelihatannya tidaklah sulit bila hanya sebuah nama. Tapi ketika dia menyandang label PPRPG itulah masalah berawal ketika pertanyaan lanjutannya, se-PPRPG apakah yang dimiliki Dewadaru dari dahulu hingga saat ini, apakah konsep PPRPG yang dimilki Dewadaru memilki rule yang teruji outputnya, ujung-ujungnya, apa visi dan misi dari ke-PPRPG-an Dewadaru dan akhirnya sudah dimilikikah konsep-konsep tersebut secara jelas dan terdokumentasikan dengan baik. Rekan-rekan di Dewadaru pasti punya jawaban sepakat tentang ini.
..

Back to Business

——————–Titik permasalahan adalah, kita harus kembali lagi ke core business Dewadaru. Orang cenderung lupa akan PPRPGnya, inti dari organisasi yang diperjuangkan para perintisnya dari dulu hingga sekarang. Dewadaru adalah organisasi minat dan bakat. Tempat berkumpulnya orang-orang yang memilki minat yang sama terutama dalam kegiatan outdoor activity dan sebagai tahapan lanjutannya minat tersebut berkembang menjadi bakat, bisa sebagai tempat penyaluran Hobby atau dijadikan ajang professionalisme. Walaupun minat itu sendiri akhirnya menjadi pilihan para anggotanya untuk berhenti hanya sampai di minat atau terus menekuninya untuk berjenjang kearah yang tadi.

——————– Peran Organisasi tentu sangat besar dalam mengorganisir potensi-potensi tersebut. Terutama para pengurus yang menurut Yappi harusnya dikelola oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan manajerial lebih gabungan dari organisatoris juga mengenal dan memahami betul (pelaku) tentang kegiatan minat dan bakat yang ada di perhimpunan.

——————–Didalam memainkan peran penting itulah harusnya organisasi sedari awal sudah memiliki konsep yang jelas tentang ruang lingkup PPRPG itu tadi. Konsep tentang alur yang akan dilalui, frame work serta patern yang menjadikan tingkat keberhasilan dari output yang diinginkan organisasi, mestinya jelas tergambar dalam misi dan visi organisasi. Barangkali hal inilah yang telah dimiliki dari awal organisasi-organisasi besar sejenis yang sudah eksis dan selalu banyak diminati. Walaupun kita tahu perkembangan terus berlanjut, mereka pasti selalu men-develop serta mere-engineering terus konsep-konsep yang dimilikinya mneyesuaikan perkembangan jaman (menggunakan istilah yang dilontarkan Yappi).

——————–Untuk menjadi Pendaki Gunung, pemanjat tebing, dan penyusur gua yang handal serta aktifitas lainnya, memang bisa, tidak harus masuk menjadi anggota Dewadaru dulu misalnya. Tapi ketika Dewadaru bisa memastikan hal tersebut, memudahkan serta menimbulkan kenyamanan-kenyamanan lain dibandingkan tidak menjadi anggota, itulah konsep ketertarikan yang seharusnya kita miliki. Kejelasan tersebut dalam sebuah konsep tertulis, layaknya sebuah mesin pecetak jelas prosedurnya dan memiliki tingkat kegagalan yang rendah.

——————–Hal inilah menurutnya kita kurang begitu serius memikirkannya hingga tuntas. Saya sendiri menilai Dewadaru layaknya masih sebuah konsep yang bergerak terlalu cepat di awal dan terlalu percaya diri, berharap hanya dengan meniru dan mencontoh organisasi besar yang sudah ada, alur itu tercipta dengan sendirinya. Yappi tertawa, “ ..itulah masalahnya..! ”. Dia memahami ada usaha-usaha mentradisikan beberapa aturan yang seolah-olah kelihatan seperti itulah yang harus dilakukan untuk mencapai tahapan-tahapan selanjutnya dari keanggotaan ataupun ritual organisasi berkenaan dengan rekruitmen.
.
——————–Tapi apa landasan itu semua agar hal itu dilaksanakan, kenapa harus dilakukan itu. Apa ada grand design organisasi besar yang telah dimilki sebelumnya hingga upaya tadi merupakan perangkat kerja saja (tools). Ya, kembali lagi ke awal, masalahnya. Kita selama ini hanya mampu melakukan upaya layaknya pemadam kebakaran, ada permasalahan, ada anggota baru hanya coba dilokalisir saja cukup sampai disitu. Tanpa ada kejelasan dimulai dari mana dan berakhir dimana. Celakanya hal ini dilakukan tanpa dokumentasi aturan tertulis yang bisa dijadikan guidline, ujung-ujungnya, penafsiran dari sebuah kegiatan bisa berbeda-beda cara pemahaman dan pelaksanaannya sesuai dengan selera masing-masing otoritas yang sedang memimpin.
.
——————–Berangkat dari itu semua, menurutnya Dewadaru harus kembali ke bisnis utamanya yaitu PPRPG, Kalau hanya itu satu-satunya ingin dipertahankan. Sebelum bergerak kemana-mana, harus ada orang atau sekelompok orang yang mau menghimpun konsep tersebut menjadi jelas tertulis, apakah itu dalam Garis-garis besar haluan Dewadaru GBHD atau perencanaan kerja strategis dan terukur dari sebuah konsep. Awalnya bisa saja mencari referensi dari himpunan-himpunan sejenis, bukan hanya mencontoh AD/ARTnya saja tapi konsep apa yang mereka miliki. Ruang lingkup PPRPG memang bisa luas, minat dan bakat di bidang kegiatan outdoor activity berkembang dengan pesat belum lagi teknologi yang menyertainya. Bauran konsep yang ada serta kekhasan yang membedakan bahwa kita Dewadaru tentu bisa memunculkan sebuah konsep lain PPRPG yang ada di Dewadaru.
.
——————–Mulai saja konsep yang jelas yang kita mampu terlebih dahulu walaupun sedikit untuk menciptakan stimulus agar ini juga menggugah bidang-bidang lain yang ada. Setidaknya mampu tidak bila ada satu team atau siapa saja yang berani bahwa PPRPG Dewadaru ini seperti inilah konsepnya !. Konsep yang bisa menghantarkan siapa saja pelaku minat dan bakat juga anggota lain mencapai apa yang diinginkannya. Selanjutnya kita bisa mulai bahas dari situ satu-persatu. Diversifikasi, Yayasan, Profitableataupun lainnya.
.
——————–Bila hal ini bisa dilakukan, mudah-mudahan ketertarikan untuk menjadi Dewadaru bukan saja diminati oleh Mahasiswa tapi juga oleh khalayak umum. Dan ini tentu memudahkan berdiri di satu sisi atau berdiri dikeduanya. Walau Yappi, dan kita tahu persis ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk mewujudkannya. Yappi sendiri sih berharap selain harus ada inisiatornya, Plt Dewan pengurus ini harus mampu mengagendakan ini. Menjadikan prioritas untuk pembuatan proposal yang hendak diajukan ke lembaga, walaupun baru bisa kerangkanya. Yappi sendiri berpesan agar hati-hati untuk memutuskan keluar dari kampus, bisa bunuh diri bila konsep PPRPG-nya sendiri belum jelas, apalagi dia tahu persis dan sebagai pelaku, begitu mengharu-birunya perjuangan mendirikan Dewadaru dikampus ini dahulu.
.
——————–Karena ada kegiatan seminar yang mesti dia hadiri, menjelang pukul 20.00, Mas Yappie meninggalkan basecamp. Terima Kasih yang tak terhingga kami ucapkan atas pencerahan ini. Terima kasih juga pada Bob (D-088-JC) dan Samsu (Himatif) yang menyempatkan diri hadir dipertemuan ini, Perspektif Yappi dan diskusi hari ini tentu bisa sepakat bisa juga tidak, tapi setidak-tidaknya ini merupakan bahan evaluasi bagi Plt Dewan untuk dijadikan gambaran dalam rangka menyusun kembali dalam merestorasi Dewadaru saat ini.
.
——————–Barangkali ini bisa diseminarkan juga, kelakar saya pada Yappi suatu saat nanti, ketika dia juga mengutarakan siap membantu apa saja yang bisa dia bantu dan akan terus mengikuti perkembangannya. dibagian lain ketika saya mendiskusikan kembali dengan Ketua Plt hasil pembicaraan ini, Saat ini masalah yang ada di Dewadaru memang layaknya sebuah Puzzle yang berserakan dimana-mana, salah satu tugas Plt DPD dan Bulletin Dewadaru kini mau tak mau berusaha semaksimal mungkin mencoba merangkai kembali Puzzle-Puzzle tersebut menjadi rangkaian yang nantinya bisa terbaca kembali : “Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, Dewadaru “. (D-012-KL) █.
.

Ngeving di Gua Kembang Beureum

.

(Oleh : Anung S Nugraha/D-037-PB)

Bulletin Dewadaru pada 24 Mei 2010 pukul 23:34 | Langit memang cerah ditambah lagi dengan bulan purnama yang bersinar terang menambah semaraknya jagad raya ini. Penulis beserta tim seperti biasanya mengadakan evaluasi hasil kegiatan caving siang sampai sore tadi dari mulai peralatan sampai kegiatan operasional tak luput menjadi objek bahasan malam itu sambil diselingi heureuy ringan yang memang sudah menjadi kebiasaan untuk menghilangkan stress dan kejenuhan saat melakukan perjalanan.

——————–Evaluasi ini sangat penting untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan melakukan sebuah kegiatan agar dapat merencanakan kegiatan selanjutnya. Begitupun dengan hasil evaluasi team malam itu dimana kerja ngorek-ngorek perut Goa Wadon disimpulkan sudah tuntas sehingga rencana kegiatan esok harinya adalah mulai membedah isi Goa Kembang Beureum didaerah Jonggol Bogor dengan segala jeroanana. Setelah rencana itu diridhoi oleh setiap orang akhirnya evaluasipun dapat diselesaikan dengan selamat hingga pukul 22.15 WIB., lalu langsung disambut dengan acara berikutnya yaitu main Gaple bari ngerumpi sampai tidur dengan catatan esok hari harus siap dengan jadwal yang sudah direncanakan.

——————–Pagi pukul 08.00 para Caver pun sudah kelihatan melakukan kegiatan rutin sesudah bangun tidur seperti mandi, ngopi bari ngudut tea, adapula yang ke WeSe memenuhi panggilan tugas. Tapi sebagian peserta walaupun dari gayanya kelihatan santai tapi mun dilihat dari beungeutna mah kelihatan pisan ada rasa tegang yang menyelimuti. Maklum ada beberapa yang baru pertama kali pengen masuk goa Kembang Beureum tersebut. Tapi hal yang paling membanggakan adalah walaupun setiap orang punya perasaan masing-masing tapi dalam hal jadwal mereka paling konsisten begitupun pagi itu ketika lonceng jam menunjukan jam 09.00 semua kegiatan diatas sampai makan pagi telah selesai dikerjakan sehingga team segera bersiap dengan segala atributnya setelah berdoa dan pamitan dengan yang empunya Base Camp.

——————–Maka team segera berangkat ke goa Kembang Beureum. Perjalanan yang akan ditempuh hari itu sekitar 45 menit dengan medan perjalanan yang cukup bagus untuk pemanasan pagi itu, diselingi dengan kelakar yang khas dari seorang peserta bernama ‘Igoey’ (Kak Teguh) untuk memberikan spirit bagi peserta lainnya agar tetap bersemangat. Akhirnya dengan agak berkeringat sedikit perjalanan menuju mulut goa Kembang Beureum itu selesai juga, dimulut goa, masing-masing peserta mempersiapkan peralatan sesuai dengan tugas yang telah diinstruksikan kemarin malam. Setelah berdoa bersama dimulut goa maka seluruh pesertapun mulai memasuki perut goa Kembang Beureum yang di komandoi oleh penulis sebagai Leader karena pernah kesana dan rada tau sedikit tentang gambaran medan yang akan dilalui.

——————–Melihat sulitnya jalan masuk ke goa itu ditambah lagi dengan tampangnya yang rada suram and serem dan rimbun serta banyak nyamuk, maka perjalanan dimulai dengan hati-hati dan memakai sistem ngebaduy ala Alpine Style melalui medan berlumpur dan terjal dengan atap goa yang rendah dan lantai yang sedikit agaklicin hampir membuat beberapa peserta menyerah tidak meneruskan perjalanan tapi dengan tekad yang kuat untuk dapat bersama-sama menyelesaikan perjalanan ditambah dengan rasa percaya terhadap peralatan dan leadernya dibarengi dengan doa dihati masing-masing akhir-nya medan terjal tersebut dapat dilewati dengan selamat sampai pada medan yang berair dan berlorong panjang dengan cabang jalan yang banyak. Jalur berair yang semula hanya sebatas mata kaki makin lama makin dalam juga airnya sampai tak terasa team sudah berendam di air sebatas leher. Perjalanan untuk sementara dihentikan mengingat tidak semua orang dalam team memiliki postur tubuh yang tinggi dan dapat berenang dan perlatan yang dibawa masuk juga tidak memadai.

——————–Dengan medan yang dilalui, kemudian team berbalik arah untuk mempersiapkan peralatan yang lengkap, walaupun begitu kegiatan foto-foto dan berakting untuk bukti perjalanan tetap dilakukan untuk mengurangi ketegangan yang mulai melingkupi sebagian peserta dibarengi istirahat sambil mencari jalan alternatif yang akan dilalui tanpa harus lewat medan berair. Setelah selesai melepaskan ketegangan dan istirahat, penyusuranpun dilanjutkan dengan persiapan peralatan yang memadai dan mental yang tenang maka medan tersebut dapat dilalui dan team terus menyusuri perut goa tersebut yang menurut cerita goa ini akan berakhir di dinding sebuah dam (bendungan) yang teuing ayanadimana.
.
——————–Setelah waktu menunjukan pukul 15.30 dan team belum juga menemukan titik akhir dari goa tersebut maka leader segera menghentikan penyusuran dan segera keluar dari goa, tiba dimulut goa tidak lupa memanjatkan doa karena telah selesai melakukan penyusuran dengan aman dan selamat tanpa kekurangan satu apapun, selesai doa langsung balik ke basecamp untuk cleaning body dan istirahat total (biasannya 3N+1M yaitu : ngopi, ngeroko, ngobrol, and molor) sebelum dilakukan evaluasi lagi malam harinya. Evaluasi malam ini seperti yang telah diduga sebelumnya penuh dengan rasa penasaran yang tak terhingga dari setiap anggota, seperti Ughie Smile(AMD-BK) yang menyayangkan perlengkapan yang dibawa kurang pelampung, atau rasa penasaran dari lainnya yang dengan penuh semangat menyatakan akan kembali lagi dengan segala tekad dan perlengkapan yang sangat komplit akan menembus goa Kembang Beureum.
.
——————–Dan malam itu dengan wajah yang masih dilingkupi rasa penasaran semakin ditambah dengan rasa kecewa harus pulang ke Bandung karena jatah waktu yang diberikan sudah habis. Singkat cerita esok paginya, semua personel sudah berkemas-kemas untuk pamitan pada yang empunya basecamp, bari diselingi tangis perpisahan yang mengharukan (dech!), menjabat tangan kita masing-masing seraya mengucapkan doa selamat jalan yang tulus, yach begitulah profil orang desa yang jauh dari segala kekuatan dan kekuasaan yang menimbulkan kesombongan. Setelah berfoto bersama dengan keluarga pemilik rumah maka team ngaleos gontai to Bandung. █.

WaKa III, UKM, HMJ, SEMA Kondusif !

.

.
oleh Bulletin Dewadaru pada 17 Mei 2010 pukul 19:11 | Rapat Koordinasi Bidang Kemahasiswaan yang dimulai selepas Maghrib hingga pukul 22.15 malam itu (Jum’at/07 Mei 2010) cukup menarik dan hangat. Tapi setidak-tidaknya ada makna yang lebih justru ketika Waka III (Wakil Ketua III) Bidang kemahasiswaan Bpk. Rudi, diparuh kedua presentasi, menayangkan sebuah film berdurasi pendek. didalam film itulah, ada pesan sebenarnya yang ingin disampaikan dari pertemuan ini. Paling tidak, isyarat tersebut mencoba memompa kembali motivasi kita bersama, dan dari sanalah barangkali salah satunya semua akar permasalahan ini berangkat.
.

——————–Malam itu dihadiri 19 peserta yang mewakili berbagai organisasi. Kami merasakan suasana kebathinan yang berbeda. Keterbukaan menjadi ikatan keakraban. Tidak ada arogansi dan kepentingan tersembunyi. Modal dasar ini penting untuk mencoba merapatkan kembali barisan menuju satu keinginan kembali seperti yang diharapkan bersama pada malam itu. Waka III rupanya telah mempersiapkan dengan baik pertemuan ini, konsumsi dan peralatan pendukung terlihat sudah ditata sebelumnya, walaupun sayang ada beberapa organisasi tidak hadir memanfaatkan moment ini. Atas nama Dewadaru kami acungkan jempol kepada Bapak Rudi Kurniawan dan Bapak Rachmat atas diselenggarakannya rapat koordinasi ini, sekaligus juga telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berpartisipasi, kami diundang untuk hadir dalam rapat Koordinasi ini .

——————–Sekali lagi peran Facebook cukup membantu. Kini tidak perlu lagi era kertas surat undangan yang biasanya selalu diselipkan dibawah pintu sekretariat. (kebanyakan sih sering tidak terinformasikan, karena basecamp terkadang tidak setiap hari dikunjungi). Cukup melalui inbox, dan link adress undangan bisa diklik di websitenya kampus, semua orang dikomunitas group, anggota dan simpatisan kini dengan mudah mngetahui kegiatan tersebut. Hal ini cukup menarik, dan bisa menjadi kebiasaan baik kedepannya.

Pak Rudi, didampingi Bpk. Rachmat, Ketika menyampaikan presentasinya di Ruang kampus.

——————–Karena penekanannya “Evaluasi Kegiatan dan program kerja kemahasiswaan”, seluruh organisasi yang ada dibawah kelembagaan Kampus. Hampir semuanya terwakili dan hadir malam itu. Dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) diantaranya : Sepak Bola, Resimen Mahasiswa, CSRG, ESRG, serta PPRPG Dewadaru yang diwakili oleh Agus Swack (D-011-KL), Aditya Kusuma (D-003-PRS) dan saya sendiri (D-012-KL). Sedangkan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) lengkap hadir diantaranya : Himatif, Himmif, Himatekom dan Himsi. Sangat disayangkan justru petinggi SEMA, Ketua Senat Mahasiswa (Pjs) tidak bisa hadir, hanya diwakili oleh staffnya, Sedang FDM dan TKJ tidak terlihat perwakilannya.

——————–Dari semua yang hadir, hanya Dewadaru yang berani tampil malu, diwakili oleh para “pemburu tua”, yang angkatannya jauh diatas rekan-rekan yang hadir pada malam itu. Bahkan katanya Waka III sendiri masih dibawah angkatannya kami. “…ini tak lain hanya bentuk kecintaan kami pada organisasi dan almamater ..” ucap Aditya, berkelit sedikit ngeles, walau agak kental juga esprit de corps-nya, ketika hal itu diucapkan di sesi perkenalan.

.

Out of the Box

——————–Dari uraian pendahuluan, lembaga katakanlah yang pada malam itu diwakili oleh Wakil ketua Bidang kemahasiswaan mencoba mengajak para peserta rapat untuk melihat kembali kondisi kekinian bagaimana kegiatan akademik saat ini berlangsung. Dari mulai agenda kampus yang akan dan tengah digulirkan, visi dan misi kedepan juga tak lupa kegiatan promosi berkenaan dengan akan dimulainya kembali proses penerimaan mahasiswa baru dalam waktu dekat ini. Tentu tak ketinggalan segudang masalah yang dihadapi serta diperlukannya peran serta aktif civitas akademik untuk membantu semua rencana tersebut. Sebut saja ketika melihat peta mahasiswa yang ada saat ini, memang didominasi hampir 80 (Delapan puluh) prosen terdiri dari mahasiswa karyawan dibanding mahasiswa regulernya, hingga hal ini menggeser aktifitas kampus menjadi ramai pada malam hari. Yang tercatat sebagai mahasiswa baru tahun kemarin sebenarnya banyak juga sekitar 400 orang lebih. Walau yang meregistrasi ulang sekitar 240 mahasiswa, tersebar di TI, TK, MI, TKJ termasuk yang mengambil program S1.

.——————–Kecenderungan banyaknya mahasiswa Karyawan memang berbuntut panjang terutama dengan keberadaan organisasi kemahasiswaan dibagian regenerasi organisasi yang ada tersebut. Dan pembahasan inilah yang malam itu mengambil porsi terbanyak mencoba bagaimana menanggu-langinya. Ada hal lain yang saya pikir ini menjadi concern pak Rudi malam itu adalah bagaimana juga kampus mempersiapkan strategi promosi menggaet calon mahasiswa baru. Bisa jadi organisasi bisa bereperan aktif melalui tematik bidangnya masing-masing dalam rangka menyusun strategi baru menambah agenda yang telah dimiliki lembaga.

——————–Di bagian ini makanya presentasi program kerja masing-masing organisasi yang akan dilakukan kedepan ini, didalam undangan rapat dicantumkan dan diagendakan tersendiri. Lembaga mencoba melirik bila ada salah satu atau lebih dari program kerjanya betul-betul patut diperhitungkan kena sasaran. Bukannya tidak mungkin semua ini dapat mengakrabkan kembali silaturahmi antar organisasi (yang ini merupakan sasaran lainnya) bila memang akhirnya semua unit bekerja bahu mambahu melakukan kegiatan promosi yang mungkin bisa dikerjakan berbarengan. Hal lain tentu lembaga juga sekaligus ingin mere-evaluasi kembali kondisi akhir dari keberadaan setiap organisasi tersebut.

——————–Ada yang menarik dari Beberapa konsep dasar yang tengah digagas terutama berkaitan dengan basis kompetensi yang coba ditawarkan kampus kedepan. Apa yang disebut dengan Network Security Campus, sebuah tawaran program konsentrasi keahlian khusus pengelolaan fasilitas jaringan komputer terutama terhadap adanya gangguan program pengganggu. Baik dari dalam maupun dari luar jaringan. Sehingga informasi dan program institusi terlindungi. Disamping Visi dan Misi yang secara garis besar menyiapkan mahasiswa yang berkwalitas dibidang informasi, dapat bersaing, mudah bekerja atau berwirausaha. Tentunya dikemudian hari juga dapat mengembangkan diri lebih lanjut dibidang Teknologi Informasinya. “..Cageur, Beuneur, Bageur, Pinter, Singer .. !”, itu motonya melingkupi misi dan visi tersebut.

.——————–Saya sendiri kurang memahami, kenapa hanya konsep ini yang mau dijadikan andalan?, ditengah kompetisi sederhana para lulusan SMU dan orangtuanya masing-masing yang saat ini hanya mengandalkan megah tidaknya , (Agreng) sebuah kampus to!. Apalagi bila berkaca pada statistik mahasiswa dan pengalaman yang didapat ditahun kemarin. Terlebih sinyalemen Aditya malam itu yang melihat kampus lebih cenderung beralih dan konsen pada pencarian kelas mahasiswa karyawan. Walau dari segi bisnis tentu ini lebih dimengerti. Tapi “bila kampus lebih banyak kelas karyawannya saja, sedangkan regulernya tidak ada, lama-lama ini bukan kampus, sama saja dengan tempat kursus …”, begitu ucap Aditya selanjutnya.

——————–Pak Rudi sendiri agak menyembunyikan masalah sebenarnya yang ada di jajaran Yayasan bila berkaitan dengan kondisi gedung dan permasalahan lahan. Hanya sinyalemennya bahwa “… inilah kalau kita hanya sampingan saja, kita bukan bisnis sebenarnya dari para penentu kebijakan diatas ..”, dan Pernyataan beliau ini sedikit memperjelas dibagian kelemahan tersebut. Tapi setidaknya belia juga memberikan kabar baik ketika saat ini kita tengah dijajaki tawaran bekerjasama dengan investor besar (Bakri Group) yang berminat untuk bergabung. Malah sebelumnya lanjut Pak Rudi, ada satu lembaga yang sama dengan kita juga berminat gabung walau ditolak mentah-mentah ketika keinginannya menghapus kata “Stimik Amik bandung” dalam salah satu syarat yang diajukannya.

——————–Strategi Promosi yang kini akan dilakukan, sepertinya menjadi agenda penting lembaga saat ini. Kami menyarankan berpikir agak keluar dari biasanya, Out of the box, keluar dari streamline promosi pada umumnya bisa jadi salahsatu penentu mengakali kelemahan yang kita miliki saat ini. Salah satunya yang konvensional coba dilakukan adalah melalui konsep MGM, member get member malam itu coba diuraikan. Ada bonus insentif yang ditawarkan lembaga pada kami bila berhasil mendapatkan mahasiswa baru. Apalagi fee-nya lebih besar bila mahasiswa tersebut bukan konversi ataupun kelas karyawan.

——————–Tapi setidak-tidaknya pemikiran strategis revolusioner sudah harus dipikirkan oleh unit think-thanknya lembaga saat ini agar bisa bersaing ditengah kompetisi yang semakin ketat dalam “kue” yang semakin mengecil, sambil mau tidak mau harus berkolaborasi dengan berbagai kepentingan baik intern maupun ekstern, tidak hanya memaksakan berbekal ego segelintir orang. Kalau mau jujur, Awal yang sederhana, tengok saja website kampus kita, sangat bertolak belakang dengan visi dan misi yang kita miliki. segi design, tampilan, content serta informasi apa yang bisa kita dapatkan dari web tersebut. Padahal tidak sedikit orang-orang desain dikampus kita, tidak sedikit orang yang mampu memanage informasi dengan baik apalagi kalau pengelola Web mau, berapa testimoni orang-orang berhasil yang merupakan jebolan kampus bisa ditampilkan. Keterlibatan UKM, HMJ dan unit-unit lain dengan kreatifitas kegiatannya bisa juga menambah marak dan gregetnya Website kampus kita. Setidak-tidaknya dari jejaring yang kita miliki, cerminan itu tampak. Website yang kita miliki saat ini, … coba surfing, dan anda bisa nilai sendiri.

.

Curhat ..

——————–Agenda rapat beralih, setelah panjang lebar lembaga mengemukakan rencana kedepan. Giliran kami para organisasi dipersilahkan mempresentasikan program kerja masing-masing. Kebetulan Dewadaru mendapatkan giliran pertama, karena urutan duduk kami tepat bersebelahan dengan Pak Rudi. Saya awali dengan mencoba menanggapi uraian panjang pak Rudi sebelumnya. Dari paparan lembaga tadi, saya membayangkan jajaran lembaga terutama nanti PPMB-nya (panitia penerimaan mahasiswa baru) kelihatannya akan sangat bekerja keras kedepan ini. Dan ini diamini oleh semua yang hadir. Bagi kami ada hal yang sebenarnya sangat realistis menjadi titik lemah kampus kita. Kondisi gedung, sarana dan prasarana yang kita punya kelihatnnya kurang kompetitif.

——————–Tentu bila sebelumnya membayangkan bila bahwa mahasiswa baru, dianggap mereka memahami misi dan visi yang ada di brosur (Kebetulan malam itu kami dibagikan brosur promosi yang nanti akan disebarkan). Tapi ketika memutuskan untuk langkah berikutnya, Mereka akan dengan sederhana menilai kesan pertamanya dari apa yang mereka lihat. Bisa jadi Kondisi fisik gedung menjadi penentu akhir memutuskan langkah lebih lanjut. Repotnya lagi bila mereka sudah memiliki perbandingan sebelumnya.

——————–Dari paparan lembaga tadi, Saya sebenarnya menunggu mudah-mudahan ada kejutan dari lembaga, jangan-jangan ada perombakan dan pembangunan gedung baru. Tapi ternyata hingga presentasi lembaga usai, hal ini tidak disinggung sama sekali. bahasa tubuhnya sih mengisyaratkan masalah ini nyangkut dipenentu kebijakan. diluar kendalinya. Dan tentu membuat saya harus hapal betul dan menghentikan pertanyaan berikutnya. Seperti biasa, masalah klasik, Kembali ke seberapa jauh good will itu masih ada di owner.

——————–Ada yang menjadi persamaan malam itu ketika hampir semua organisasi menyampaikan presentasinya, atau lebih tepat malahan malam itu seperti forum mengemukakan curahan hati. Regenerasi menjadi kata kunci dari mandegnya pergerakan disetiap kepengurusan yang ada. Alih-alih mebicarakan program kerja. Kekosongan pelaksana di organisasi justru mengemuka. Faktanya ini bisa dilihat dari masih tersisanya alokasi-alokasi dana yang disediakan lembaga. Dewadaru satu-satunya organisasi yang masih utuh jatahnya. Semua merasakan bahwa tidak adanya anggota baru yang masuk menjadi penyebab tidak adanya program kerja yang baru, atau semangat untuk itu agak berkurang karena kepengurusan yang lamapun berkurang satu-persatu karena kesibukan lain.

——————–Lihat saja untuk kasus SEMA yang begitu sulitnya mencari ketua Senat yang baru, setelah demisioner begitu lama. Padahal kita tahu Senat Mahasiswa justru menjadi induk dari setiap organisasi kegiatan yang ada di kampus. Sampai-sampai harus dibentuk pula semacam KPU (Komisi Pemilihan) untuk menjaring bakal calon ketuanya. Itupun belum berhasil. Ada memang beberapa HMJ berhasil menambah anggota barunya walau jumlahnya tidak signifikan. Merekapun sempat juga melakukan beberapa kegiatan walau diakui kurang memenuhi target keberlanjutannya. Yang menarik ada juga yang menyorot dari sarana pra-sarana yang disediakan kurang maksimal, unit sepak bola misalnya hanya bisa berbesar hati memanfaatkan lahan yang ada. Nah kalau masalah ini, Dewadaru tentu lebih berbesar hati juga ketika climbingnya malah “ditebang” habis untuk sebuah alasan yang kurang menarik yang dikemukakan lembaga waktu itu, walau malam itu kami tidak bahas dipertemuan ini.

.——————–Pembahasan diatas sebenarnya mengemuka dan mulai mengerucut ketika kami Dewadaru menawarkan beberapa alternatif konklusi dari permasalahan umum yang dimiliki semua organisasi. Di awal tadi, ketika kami mempresentasikan program kerja kami, di bagian program Penerimaan anggota baru, saat ini hal tersebut tengah jadi fokus utama kami. kami sampaikan bahwa sudah waktunya image yang lalu dirubah. Dewadaru adalah milik bersama. Semua bisa menjadi anggotanya, walupun anda sudah menjadi anggota organisasi anda saat ini. Walaupun kami menyadari ada perubahan paradigma berkaitan dengan proses rekruitmen lama yang kayanya mesti kami tinjau kembali. Bahkan saya sampaikan malam itu sedikit berpromosi ke semua yang hadir, untuk rekan-rekan semua ini kami harapkan malah bisa bergabung, termasuk Pak Rudi dan Pak Rachmat itu sendiri. Kita menjamin bakal ada perubahan di proses rekruitment-nya nanti.

——————–Nah yang menjadi melebar dan dirasakan oleh setiap organisasi seperti yang telah diuraikan mandegnya regenerasi tersebut adalah; siapa calon anggota barunya ?. Kenyataan yang ada kemarin bahkan prediksi formasi mahasiswa yang bakal diraih nantipun bakalan didominasi kelas karyawan kembali (?). Yang notabene kurang berminat akan organisasi minat, bakat, dan jurusan yang ada. Walaupun masih berharap kelas regularnya setidaknya menyaingi dalam jumlahnya.

.

Regulasi

——————–Kesimpulan Dewadaru, mesti ada dua kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama bisa mengatasi hal tersebut, selain harus berpikir ala Out Of the Box tadi, bagaimana berpromosi membantu kampus ini untuk mendatangkan jumlah mahasiswa yang banyak, disisi lainnya keinginan kami juga mengharapkan agar lembaga berupaya menciptakan kondisi agar organisasi yang ada tetap hidup tetap diminati oleh mahasiswa baru nantinya (walaupun jumlahnya minim). Bisa kelas karyawan maupun regular. Tentu masing-masing organisasi juga sudah harus menyiapkan dirinya dan merubah imagenya. Organisasi harus mereformasi dirinya dan bila perlu menyadarkan mahasiswa betapa pentingnya berorganisasi. (Malam itu sempat dibahas bahwa banyak manfaatnya ber-organisasi dikampus ketimbang kuliah tok).

——————–Pada bagian promosi untuk membantu kampus, hampir semuanya menyepakati bahwa perlunya mengadakan sebuah kegiatan besar bersama, yang dilakukan bersama untuk membuka potensi masing-masing diperlihatkan. Hal ini dilkakukan untuk setidaknya menarik calon mahasiswa baru datang kekampus setidak-tidaknya nanti minat itu bisa muncul dimulai dari organisasi-organisasi tersebut. Bentuk kegiatannya bisa berbentuk Open House unit bersama, menyelenggarakan sekolah jurnalistik,photografi baik umum maupun kegiatan alam bebas, multi media dan lain sebagainya. Bahkan penyelenggaraan kegiatan sosial lain bisa dimasukkan dalam agenda tersebut, dan tentu hal ini diperlukan satu forum tersendiri untuk membahas lebih lanjutnya mencari bentukan kegiatan lainnya. Kami menyadari bila ini dikelola bersama-sama, dibantu lembaga. Hasilnya bisa maksimal. Banyak potensi-potensi besar yang dimiliki oleh unit-unit organisasi yang kurang diperhatikan oleh lembaga saat ini yang sebenarnya bisa jadi solusi dalam mengatasi permasalahannya saat ini.

——————–Disisi lainnya, Regulasi adalah alternatif lain yang kami usulkan dan perlu dipertimbangkan juga oleh lembaga kalau ingin membantu terwujudnya dinamisasi kampus terjaga, organisasi hidup kembali. Lembaga sebenarnya punya kemampuan mewajibkan mahasiswa baru untuk memilih menjadi anggota organisasi yang ada, serta sekaligus dapat mengambil manfaat dari regulasi yang dikeluarkannya. Toh permodelannya pernah dilakukan dahulu dan cukup berhasil. Menjawab pernyataan ini, Alhamdulillah Pak Rudi sendiri ternyata merespon dengan baik. Kami tidak menduga ternyata konsep yang satu ini sudah dipersiapkan.

——————–Dari gambaran yang malam itu langsung dipresentasikan oleh beliau, lembaga sudah menyiapakan konsep tersebut bahkan dengan usulan yang sudah diratifikasi lebih baik. Direncanakan, kewajiban mahasiswa baru “harus terlibat” diorganisasi akan di-administrasikan menjadi satuan tugas kuliah bagian dari SKS yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa. Baik karyawan maupun reguler. Sertifikasi kegiatan dan keterlibatan diorganisasi yang dikeluarkan oleh pengurus organisasi melaui persetujuan Senat Mahasiswa merupakan bagian lain yang juga harus dipenuhi dalam transkrip nilai kelulusan mahasiswa tersebut. Baik untuk tugas akhir, Kerja Praktek dan kelulusan nantinya. Kami tentunya malam itu sepakat sekali dengan itu semua.

.——————–Mengenai program kerja lainnya dari Dewadaru, Agus Swak sendiri, sebagai ketua PLT Dewan Pengurus Dewadaru, sudah membawa satu buku kuning. “butuh satu minggu, kayanya pak kalau mesti dipresentasikan disini..” ucapnya ketika mengacungkan bundel program kerja yang sudah di softcover tersebut. Kami pikir, lebih baik nanti program kerja tersebut diserahkan saja langsung ke Pak Rudi untuk dipelajari secara seksama dilain waktu.

.

Warisan

——————–berkaitan erat dengan ada penanya yang malam itu menyinggung dan akhirnya memimpikan harmonisasi organisasi kedepan ini bisa terwujud lebih baik. Sekedar menarik sejarah kebelakang. Sosok Pak Rudi ini mengingatkan saya dulu pada (Alm) Pak Hariadi. Di jabatan yang sama, pada waktu itu beliau juga sebagai Pudir III Bidang yang sama selalu tak henti-hentinya menjalin koordinasi dengan setiap unit organisasi. Apalagi pada saat itu jaman arogansi organisasi lebih mengemuka. Ego setiap organisasi dititik tertinggi hingga kerap yang ditemui sebuah kondisi kompetisi yang tidak sehat, cenderung tidak terjalin komunikasi antar organisasi. Bahkan kami (Dewadaru) sendiri sempat tawur dengan salah satu organisasi yang ada dikampus ini, sebuah kejadian yang tak patut diceritakan tentunya.

——————–Kerja keras Pak Rudi saat ini tak berbeda dengan Pak Hariadi yang kala itu juga gencar mendekatkan organisasi. Hanya yang berbeda, Pak Hariadi lebih cenderung ke arah personal. Lebih sering pendekatannya melalui orang-perorang jarang melalui struktur organisasi dan cenderung lebih sering komunikasinya dilakukan dirumah beliau, bukan dikampus, setidak-tidaknya ini yang saya sering temui dirumah beliau. Mengundang untuk berdiskusi dirumah beliau serta mencoba membuat kegiatan-kegiatan lain diluar kampus melibatkan personal-personal itu tadi. Ada yang berhasil, tapi banyak tidaknya. Saya (Kami Dewadaru) sendiri tetap menghargai upaya tersebut dan selalu aktif hadir dan ikut serta waktu itu.

——————–Barangkali upaya tersebut merupakan gaya beliau. Tapi sayangnya organisasi secara keseluruhan kurang tersentuh. Hingga akhirnya sampai saat ini warisan tersebut masih tetap menyisakan bentuk. Saya berpikir agak sedikit nakal juga waktu itu, jangan-jangan lembaga pada waktu itu memang memelihara kondisi tidak harmonis tersebut, dengan “menguasai” personel petingginya dengan baik. Setidak-tidaknya organisasi tidak bermasalah dan berdemo dengan kebijakan-kebijakan lembaga pada waktu itu.

.——————–Tapi saya, kami meyakini upaya yang dilakukan oleh Pak Rudi ini tidak seperti itu saat ini. Setidak-tidaknya hal ini bisa jadi masukan awal untuk Waka III diawal semua ini. Walaupun sebagian kalangan di kami menyayangkan upaya yang dilakukan Waka III ini terbilang terlambat. Tapi tidak sedikit juga yang memberikan apresiasi atas upayanya belakangan ini, lebih baik terlambat sebelum sesuatunya terjadi karena tidak berupaya sama sekali. Pendekatan organisasi sepertinya menjadi logis apalagi sasaran tembaknya adalah kompetensi bidang-bidang organisasi yang ada. Memacu kreatifitas untuk saling bersinergi mengarah pada solidaritas organisasi dan secara tidak langsung membangun kembali nama besar kampus ini. Lembaga berperan aktif sebagai fasilitator juga jembatan komunikasi.

——————–Bila ini tercipta bisa jadi harmonisasi dan dinamisasi kampus muncul dengan sendirinya, dan warisan lama tersebut perlahan bisa pupus. Organisasi kampus jadi lebih menarik untuk diminati baik reguler maupun kelas karyawan karena memberikan nilai lebih bagi sipelaku dibanding hanya datang kekampus, kuliah lalu pulang begitu saja. Saya ingat betul dahulu kita bangga sekali menggunakan t-shirt bertuliskan : “Sudah Mahasiswa.., Dewadaru lagi !”. ini bisa jadi berlaku untuk organisasi-organisasi yang lainnya bila lembaga maksimal memainkan peranannya. Dibagian akhir pertemuan, Aditya menyampaikan pernyataannya yang saya pikir ini sangat penting juga untuk ditindaklanjuti bersama bahwa, Pak Rudi memang bukan penentu kebijakan, beliau berdiri ditengah-tengah, sudah sepatutnyalah kita bantu bersama-sama. Setidak-tidaknya beliau tidak sendirian sekarang, kami berdiri dibelakang siap membantu apa yang bisa kami bantu demi perubahan yang lebih baik kedepan.

——————–Difilm pendek yang diputar pada malam itu, digambarkan bahwa ditengah keterbatasan serta ketidak diperhitungkannya seorang gadis remaja dapat memainkan biolanya. Ditengah tekanan, umpatan dan ejekan rekan-rekannya dan rasa keputus-asaannya. Dan ketika akhirnya pula ia harus melampiaskan rasa kekesalan itu dengan secara tidak sadar ia membanting biolanya hingga pecah berkeping. Akhirnya disadari. Momentum itulah dijadikan tekad awalnya untuk berusaha lebih baik. Terbukti disaat yang tepat dihadapan orang banyak disebuah konser yang menentukan dia bisa membuktikan bahwa dia akhirnya mampu memainkan sebuah harmoni yang apik yang membahana juga berkelas membuat decak kagum dan apresiasi penonton. Walau dengan biola yang telah ditambal dan diperbaiki, compang-camping dan lusuh yang sebelumnya telah ia hempaskan.

——————–Diibaratkan bila Kampus kita adalah biola tersebut .., pertanyaannya, mau tidak kita mainkan biola tersebut agar terdengar dan tercipta sebuah harmoni yang indah kembali. (BhayoSemerOe/D-012-KL)

Climbing Wall Dewadaru, Fasilitas ini sebenarnya sarana promosi kampus yang juga dapat dimaksimalkan untuk menarik dan mengundang minat mahasiswa baru.

.

Wawancara Calon Siswa Diklatsar XIII Dewadaru

.

Suasana Briefing Akhir Wawancara.

Bulletin Dewadaru pada 23 November 2010 pukul 11:59 | Hampir sebagian besar calon siswa minim di pengetahuan kegiatan alam bebas. Kesan itu umum terlihat  dari profil para calon siswa Pendidikan dan Latihan Dasar ke XIII Dewadaru dari hasil wawancara kemarin, Sabtu 20 November 2010. Bertempat di Basecamp Dewadaru. Acara yang serius tapi santai tersebut  dimulai selepas magrib hingga berakhir tepat tengah malam.Dewadaru sepertinya dunia lain planet baru yang masih terasa asing bagi mereka.  Tapi ketika melihat latar belakang mereka yang kesemuanya notabene anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STMIK “Amik Bandung”, bahkan ketua BEMnya sendiri termasuk salah satu didalamnya. Para pejabat-pejabat civitas academica  ini tentu dari segi ke-organisasian menjanjikan semangat baru, apalagi mereka datang dari berbagai himpunan Jurusan yang tak tanggung-tanggung juga menjabati pucuk pimpinan di Himpunan Jurusannya (HMJ).

Dari sembilan Calon Siswa (Casis) yang siap diwawancara, sayang satu orang berhalangan hadir, meminta penundaan waktu. Disiplin waktu para Casis memang belum terbiasa, kedodoran. Waktu yang dijadwalkan Pelaksana Tugas (Plt) Dewan Pengurus (DP) Dewadaru yang disepakati mulai pukul 16.30 Wib., molor hingga akhirnya setelah sholat Magrib baru bisa kita mulai. Disipilin waktu ini tentu menjadi pelajaran pertama yang harus selalu diperhatikan buat para Casis, apalagi dikegiatan selanjutnya biasanya panitia/instruktur sudah tanpa reserve menghadapi disiplin waktu dan aturan main yang “main-main”. Peringkat tertinggi  eksekusi biasanya diseputaran  ini terutama lagi konsentrasinya meninggi di kegiatan yang sifatnya operasional.

Akhirnya hanya delapan Casis yang malam itu siap. Satu persatu masing-masing dihadapkan pada team pewancara yang telah hadir  dan telah mendapatkan arahan dan draft topik pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Arahan ini penting terutama titik-titik krusial yang harus didapatkan informasinya dari seorang Casis baik secara langsung ataupun yang tersirat.

Ke 8 (Delapan) Calon Siswa Tersebut adalah :

Misnawati, 19 Tahun Npm: 0901008 /D3/ (MI) Manajemen Informatika.

Listia Sumanja, 20 Tahun Npm: 0832008/D3/(TKJ) Teknik Komputer Jaringan

Rafli Rinaldi Latif, 20 Tahun Npm: 0942043/S1/(IF) Informatika

Dody Irfan Reynaldo Situmorang, 21 Tahun Npm: 0942038/S1/(IF) Informatika

Panji Kurniawan, 20 Tahun Npm: 0802002/D3/(TI) Teknik Informatika

Dede Ramly, 20 Tahun Npm: 0903055/D3/(TKJ) Teknik Komputer Jaringan

Galih Tresnadi Kusumah, 20 Tahun Npm: 0903054/D3/(TKJ) Teknik Komputer Jaringan

Hari Hardiana, 22 Tahun Npm: 0842096/D3/(TI) Teknik Informatika

.

Rangkaian Awal

Kegiatan Wawancara para Calon Siswa sebelum mereka akhirnya dapat ditetapkan sebagai Siswa Diklatsar Dewadaru merupakan rangkaian kegiatan besar dari Diklatasar Dewadaru itu sendiri. Kegiatan ini tentu sudah sering dilakukan sebelum-sebelumnya hingga penyesuaian, materi yang akan disiapkan serta tatacara pelaksanaannya mengikuti pola-pola yang sudah ada, dan ini menjadikannya mudah mengalir pada malam itu. Draft pertanyaan, serta kisi-kisi yang akan ditanyakan masih seputar psikologi umum organisasi yang kaitannya dengan pengembangan personel Casis  dan penanaman jiwa korsa.

Yang berbeda barangkali teknisnya. Kalau sebelumnya Casis dihadapkan satu persatu berhadapan dengan satu Dewadaru (Penanya/Pewancara), hingga secara bersamaan (Biasanya 3-4 orang) melakukan wawancara. Malam tadi sengaja dibuat pola lain. Satu persatu Casis berhadapan pada team pewancara yang sekaligus lebih dari satu orang, satu petugas lain di bagian pewawancara terpisah tersendiri tidak bertanya, tetapi fokus melakukan penilaian dari jalannya tanya jawab antar penanya dan Casis tersebut. Teknis ini tentu telah disepakati sebelumnya agar penilaian Casis cukup objektif menyeluruh dan diketahui oleh semua team pewawancara. Dengan demikian pergantian topik pertanyaan dan aliran petugasnya yang secara bergantian akan dengan sendirinya sesuai  persiapan materi dan tugas pertanyaan yang telah diberikan pada briefing sebelumnya,  dan tentu berharap fokus dan terjaga akurasinya, baik penanya, penilai, termasuk Casis tentunya.

Dikenalkan di D-Day 24 Tahun, Cikole Lembang.

Wawancara Calon siswa memang bukan menentukan peringkat, walaupun pada akhir sesi keseluruhan hasilnya dapat menjadi inputan tambahan  pada kegiatan seleksi-seleksi peringkat Casis lainnya seperti Test Fisik, Medical Test, Test pengetahuan Umum Oudoor Activity (Bila ada) dan lainnya. Kegiatan ini lebih merupakan elaborasi pendalaman personel Casis semata. Tapi bisa jadi ada sesuatu yang dapat menggagalkan keikutsertaan Casis untuk tahap selanjutnya bila ada prinsip-prinsip tertentu yang mengganggu. Seperti terjadi pada salah satu Casis yang kebetulan saat ini masih aktif (Bahkan Berstatus Perintis) di perhimpunan penggiat yang sama di Perguruan Tinggi lain. Beruntung Casis yang bersangkutan menurut pengakuannya telah meminta Ijin terlebih dahulu dan diperbolehkan, hingga kami akhirnya meloloskan juga untuk mengikuti tahapan berikutnya.

Wawancara juga berperan penting, selain sebagai silaturahmiawal antara Casis dan Dewadaru termasuk panitia, biasanya ada info-info penting lainnya yang didinginkan Dewadaru  seputar kesiapan personel menghadapi Diklatsar ini tentunya. Jangan heran bila Kesan pertama seorang Casis bisa menentukan langkah selanjutnya dari informasi yang dapat digali disini. Kelemahan dan kelebihannya tentu ini menjadi bahan pertimbangan lain walau ada juga yang masih menyembunyikan jati dirinya, berkelit, teoritis bahkan tidak membumi. Tapi itulah proses wawancara yang juga terjadi malam kemarin. Kepolosan dan ketertarikan serta kesederhanaan  Cukup Menarik untuk sebuah awal kecintaan pada organisasi Dewadaru nantinya.

Tengok saja ketika ada satu pertanyaan umum sederhana yang menanyakan  “Apakah Wanadri itu?”, sembilan puluh persen menjawab tidak tahu. Apalagi bila ditanya pertanyaan berikutnya “apakah punya tokoh idola dibidang kegiatan Alam bebas” makin bingung, Kegiatan Alam bebasnya sendiri membingungkan apalagi jenis-jenis kegiatannya. Tapi inilah profil mereka para Calon Siswa kita. Bisa jadi ketegangan malam itu menyelimuti, atau mereka memang benar-benar sangat pemula dibidang ini. Seperti pengakuan hampir semuanya bahwa ketertarikan utama mereka ingin menjadi  Dewadaru didorong hal-hal lain yang terkadang lucu; supaya mudah mencari pekerjaan, banyak teman, stylist, malahan  “.. kayanya asik aja kalau ngeliat orang-orang pencinta alam. Pedenya kaya yang tinggi“, itu yang terlontar dari seorang Casis ketika ditanya minat masuk Dewadaru.

Hanya sepuluh persen yang menjawab minatnya  berangkat dari hobby-nya yang selama ini yaitu Arung Jeram. Harapannya Dewadaru yang dia inginkan tentu lebih dapat menjanjikan kemudahan bila ia menggeluti bidang ini nantinya.  Ini lumayanlah ..!

.

Harapan

 Kriteria seperti yang didinginkan Dewadaru saat ini memang proporsional saja. Keseimbangan antara Outdoor activity (minat dan Bakat) serta pemahaman organisasi dibarengi dengan wawasan ilmu pengetahuan yang dia  miliki di bangku kuliah sih berharap menyatu. Sinergi ini diwaktu yang berbeda dapat menumbuhkan kecintaan diketiganya. Organisasi, kegiatan dan perkuliahan sesuai dengan waktu yang bergulir serta tingkat kebutuhan yang sedang dihadapinya. Apalagi saat ini ada hal lain yang sifatnya mendesak dan menjadi realita kebutuhan organisasi saat ini yaitu manajemen organisasi , tentu Dewadaru harus menemukan figur-figur yang tepat untuk meneruskan keberlangsungannya, khususnya dilingkungan kampus ini. Kriteria penggiat outdoor activity memang tidak terlalu dititik beratkan, hanya minat dan bakatnya tentu harus tetap diarahkan seimbang sesuai dengan tuntutan dari “tempat bermain” organisasi  para pengelola dan yang dikelola kita-kita yang terdahulu dan akan datang nantinya.

Suasana Briefing Akhir Wawancara.

Beberapa pewawancaramemang belum menemukan (Baru remang-remang) tanda-tanda figur aktif penggiat kegatan alam bebas dari hasil tanya-jawab beberapa paket pertanyaan yang telah disiapkan dari setiap Casis ini. Tapi disisi lain malahan figur organisatoris justru lebih menonjol dari segi kesiapannya mengelola organisasi . dan prosentasenya malah besar.  Ini bisa jadi sesuai dengan tuntutan awal organisasi apalagi yang juga menggembirakan, waktu produktif mereka dikampus masih tergolong lama secara keseluruhannya. Rata-rata mereka masih harus menyelesaikan sisa kuliahnya (Kalau serius) ini diatas 1,5 tahun hingga 2 tahun. Mudah-mudahan waktu tersebut juga bisa menghasilkan generasi Dewadaru berikutnya selama periode kepemimpinannya. Sambil menyelesaikan kuliah tentunya. Jangan sampai terbengkalai. Tapi yang jelas 1,5 hingga 2 tahun kedepan, atsmosfer kehidupan organisasi Dewadaru dikampus akan tetap hidup, apalagi bila diisi oleh program-program yang sifatnya operasional maupun prestasi. Ini cukup membanggakan.

Gambaran peta kekuatan Casis  ini tentu menjadi modal besar Dewadaru saat ini dalam menyusun strategi kedepannya. Juga dalam menyusun pola pendidikan yang akan diberikan kepada mereka baik di Diklatsarnya sendiri hingga nanti Tahapan Masa pendalaman di Masa Bhakti Anggota Muda Dewadaru (MABHAK) Dewadaru hingga mereka dinyatakan siap menyandang Nomor Pokok Anggota (Nrp) dan siap diterjunkan melanjutkan roda organisasi Dewadaru yang betul-betul segar. Merekalah nantinya yang akan disiapkan menciptakan generasi-generasi selanjutnya di Kampus, tentu dengan tak lepas bimbingan dari senior-seniornya baik berupa kelembagaan, teknis, moril dan sumber-sumber daya lainnya.

Wawancara semalam yang berlangsung secara kekeluargaan tentu juga sebagai ucapan selamat datang bagi para Casis di keluarga yang baru. Organisasi baru yang akan mereka masuki  dengan ekspektasi masing-masing yang mereka miliki selama ini. Dewadaru mungkin asing bagi mereka tapi wawancara semalam bisa jadi sedikit melumerkan keterasingan itu, keteganganpun jadi mencair dan memang itulah tujuan lain dari wawancara ini disamping yang utamanya diatas tadi. Kitapun kini lebih mengenal lebih jauh siapa Calon-calon siswanya sekarang ini. Tinggal bagaimana kini mempersiapkan agenda-agenda selanjutnya yang masih menumpuk terutama kesiapan lain dibidang fisik, perlengkapan dan tentunya mental yang tangguh.

.

Agenda Berikutnya

Saya tentu (Atas nama Plt) harus memberikan Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pewancara yang bersedia meluangkan waktunya demi suksesnya kegiatan ini kepada Agus Wak, Anung S Nugraha, Buchorie, Atep S Hamzah dan terakhir kepada Hernawan “Utjok” S. yang sengaja datang dari Jakarta (Pp) meluangkan waktunya untuk menghadiri acara ini sekaligus sebagai pewawancara. Berkat beliua-beliaulah malam tadi itu semua berjalan dengan lancar. Satu persatu dengan seksama dengan gaya dan teknik penembangannya masing-masing setiap Casis mendapatkan gilirannya.

Ucapan terima kasih tentunya juga tak terhingga kepada seluruh Casis yang hadir pada malam itu hingga larut malam tetap setia menunggu jadwal wawancaranya. Masih tetap semangat dan mudah-mudahan ini dapat terjaga terus. Pada briefing terakhir sebelum acara ini selesai, semua Casis dikumpulkan kembali. Beberapa pengarahan penting memang telah disampaikan terutama kesiapan lanjutannya apa yang harus mereka lakukan sambil menunggu waktu yang agak lama juga (Kurang lebih satu Bulan) untuk pelaksanaan Diklatsar sesungguhnya. Waktu tersebut memang bagi Plt akan dipergunakan sebagai persiapan konsolidasi pembentukan dan persiapan Panitia Diklatsar XIII, sekaligus juga bagi promosi lanjutan gelombang ke-II penerimaan Casis selanjutnya.

Bagi Casis waktu tersebut tentu banyak hal yang kini harus dipersiapkan, Persiapan fisik memang jadi hal utama, berikutnya persiapan peralatan penunjang termasuk pengadaaannya juga tentu kini harus mulai dipikirkan. Sementara itu panitia juga tengah mempersiapkan jadwal latihan fisik bersama yang diupayakan akan sangat berguna nantinya bagi siswa dilapangan terutama menjaga kebugaran agar tetap prima menjelang pelaksanaan.

“Tabah diawal, tabah dipertengahan tabah sampai akhir..”,  kini rupanya memang tengah benar-benar mulai bergulir!, Perhatian Siswa! (BhayoSemerOe/D-012-KL)


Di Batas Ketinggian

.
.
.
.
Bulletin Dewadaru pada 19 Oktober 2009 pukul 18:49 | Pada satu pendakian kadangkala kita melihat hal yang cukup aneh. Di satu ketinggian setelah melakukan aktivitas yang berat kadang kita melihat salah satu rekan kita berbeda. Kita melihat si rekan itu begitu aktif, fisiknya terlihat prima bahkan masih bisa bercanda pula. Begitu pula ketika kita membaca di surat kabar mengenai kejadian yang menimpa pendaki, dari penuturan rekan seperjalanannya ‘si korban’ masih bisa turun gunung sambil berlari bahkan masih bisa bercanda. Namun dari penampilan luar, seringkali bisa mengecoh. Tetapi bila ditelaah… Bayangkan, dalam keadaan lelah, (mungkin) lapar dan dingin, ia masih bisa aktif. Seolah-olah mendapatkan suntikan energi baru, kekuatan menjadi berlipat kali, bahkan sempat bercanda pula. Padahal kalau kita cukup peka dan sadar, barangkali canda itu akan terdengar agak aneh..
.
               Secara medis, keadaan demikian sudah menunjukkan gejala-gejala menurunnya kesadaran dan berkurangnya kontrol otak. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mungkin karena kelelahan, kekurangan oksigen atau hipoglikemia (kekurangan glukosa sebagai energi).
.
              Sewaktu otot kita bekerja berlebihan, maka akan terjadi pelepasan kalsium yang meregulasi kontraksi dan aktivitas metabolik. Selama itu pula akan terjadi peningkatan konsentrasi kalsium dan kemudian si kalsium ini men-turns on si otot sehingga otot akan berada dalam kondisi tegang (kontraksi) terus menerus serta mengakibatkan kelelahan otot dan jaringan tubuh.

               Di samping itu, kebutuhan otot akan oksigen juga meningkat 70 kali di atas normal (istirahat). Kebutuhan yang cepat dan panjangnya kelelahan otot akan meningkatkan aliran darah lokal, begitu pula densitas pembuluh darah pada otot yang bersangkutan akan meningkat. Sebagai akibatnya, aktivitas otot ini membutuhkan suplai oksigen, nutrisi dan hormon-hormon dalam jumlah yang lebih banyak. Kondisi seperti ini juga menyebabkan tubuh tidak dapat mengusir produksi panas dan produk metabolik lain seperti asam laktat. Pemuaian dan pe-ningkatan kapiler terjadi karena stres dinding pembuluh darah, sehingga aliran dan tekanan darah akan meningkat pula.

.

              Akumulasi asam laktat selama kerja fisik berat merupakan suatu proses pertahanan tubuh berupa oksidasi asam laktat yang dibuat konstan. Bila ambang batas ini terlewati, maka akan terjadi proses glikolisis aerob. Semua ini dilakukan oleh tubuh sebagai upaya menyimpan energi karena asam laktat dapat dipecah kembali bila terdapat cukup oksigen yang bisa diperoleh bila kita cukup beristirahat. Pemecahan asam laktat tersebut dapat dipakai kembali oleh tubuh menjadi sumber energi baru. Jadi asam laktat sebenarnya bukanlah produk buangan, tetapi merupakan mekanisme tubuh untuk mempertahankan diri terhadap stres karena kerja berat. Nah, bila pada waktunya kita beristirahat, maka si oksigen secara perlahan tapi pasti akan tercukupi dan si asam laktat akan digunakan sebagai sumber energi kembali.

Mari kita urut kembali mekanisme pertahanan tubuh kita untuk mengatasi kelelahan fisik:

  • Denyut jantung meningkat ; Jantung akan bekerja lebih cepat karena harus mengalirkan darah lebih cepat supaya bisa menangkap oksigen lebih banyak dan lebih cepat.
  • Perpindahan cairan ke paru-paru dan otak ; Aliran darah ke otak pun akan meningkat sebagai akibat kerja jantung tadi dan sebagai upaya memenuhi kebutuhan oksigen di otak. Pembuluh darah paru-paru akan mengerut yang mengakibatkan peningkatan resistensi terhadap aliran ke paru-paru dan meningkatkan tekanan darah paru.
  • Stimulasi ventilasi (volume napas/menit).; Yang ini akan menurunkan tekanan parsial karbondioksida (CO2) dalam alveoli untuk menyeimbangi tekanan parsial oksigen yang meningkat. Penurunan tekanan parsial CO2 alveolar menyebabkan konsentrasi asam karbonat dalam darah menurun dan meng-akibatkan darah menjadi lebih bersifat basa. Selanjutnya respon tubuh yang lain terjadi pada ginjal, di mana terjadi peningkatan sekresi bikarbonat untuk mengembalikan pH darah menjadi normal. Respon ini biasanya terjadi dalam 24 jam dan berakhir setelah beberapa hari.

               Sampai di sini ternyata pertempuran dalam tubuh kita belum selesai. Selanjutnya bisa terjadi transfer oksigen ditingkatkan dengan cara meningkatkan densitas kapiler pembuluh darah, otot-otot dan mitokondria. Pada tahap akhir akan terjadi pelepasan natrium dan air dalam urine (air seni). Sehingga volume plasma menurun jauh dan terjadilah dehidrasi. Istirahat tepat pada waktunya, dan dapat asupan makanan berenergi, dapat memulihkan kondisi.

               Yang lebih parah dari mekanisme di atas, bisa berakibat pembengkakan paru-paru dan otak. Kedua hal ini bisa fatal dan mengakibatkan kematian. Sebaliknya, bila tubuh kita sudah terlatih dan dengan cepat bisa beradaptasi maka mekanisme ini tidak akan terasa memberatkan. Dan dengan istirahat dan makan/ minum yang cukup, tubuh akan segera pulih. Karena itulah mengapa setiap pendaki dituntut untuk melakukan latihan fisik terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian. Plus yang tidak kalah penting bekal yang cukup tinggi energi dalam jumlah yang memadai dan minuman isotonik.

              Nah, berbagai cerita dan berita “korban” yang kita dapatkan, baik secara langsung maupun lewat surat kabar itu, Semoga pengalaman-pengalaman itu menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua, Terutama persiapan bagi Team: Pendakian Kinabalu Dewadaru 2013 yang tengah digodok rencana operasinya.(Berminat?)(Redaksi/012-KL/Dari berbagai sumber) █

.


Mengharu Biru Mahasiswa Baruku

.
(Sesi : Pengenalan Organisasi Dewadaru)

Bulletin Dewadaru pada 11 Oktober 2009 pukul 14:31 | Judul diatas barangkali kalimat yang tepat merepresentasikan Jum’at malam kemarin (09/10/2009) ketika untuk yang kesekian kalinya kita melakukan sesi pengenalan organisasi Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (PPRPG) Dewadaru didepan mahasiswa baru STMIK AMIK Bandung. Di aulanya yang cukup luas dan cukup tertata rapih juga kelihatannya sekarang.

               Betapa tidak, dahulu, Aula yang katanya memilki satu kotak tegel (tehel:sunda) terbesar di Indonesia itu (hehehe..) setiap diselenggarakannya masa orientasi penerimaan mahasiswa baru (Opspek) , dipastikan berjubal. Bila kita layangkan pandangan dari ujung aula yang mempunyai luas hampir setengah lapangan sepakbola ini sampai keujung yang satunya, tampak mahasiswa baru yang duduk bersila diatas “kursi goyang”nya yang terbuat dari kertas itu dengan penampilan dan asesories yang kocak, Hampir selalu memenuhi ruangan aula tersebut. “500 sampai dengan sedikitnya mendekati angka 1000 orang.. ”, Ujar Pak Atang salah satu sesepuh Satpam yang sempat kita temui malam itu usai acara berlangsung, pernah tercatat menduduki tempat yang ada dihadapan kita pada malam ini.

Hanya sebagian yang bisa hadir pada malam itu

               Kini, dari data yang sempat dihimpun tercatat hanya 140 orang saja mahasiswa baru yang mengikuti pelaksanaan kegiatan ini, (jumlah pastinya untuk angkatan 2009 kemungkinan diatas angka ini, karena penerimaan untuk kelas karyawan masih berlangsung dan sebagian lagi tidak mengikuti orientasi ini). Dari jumlah itupun masih dibagi dua : Kelas karyawan 110 orang dan sisanya kelas Regular, hanya ada 30 orang. Kelas regular artinya adalah kelas normal yang jadwal perkuliahannya seperti biasa dilaksanakan mulai pagi hari sedangkan kelas karyawan jadwalnya yaitu sore hari hingga tengah malam. Jadi yang asli mahasiswa baru berdasarkan lulusan sekolah menengah umumnya ya di kelas regular itu, hanya 30 orang. “sakelas ge henteu, Yo ! … ”, kata Pak Atang lagi malam itu. Biasanya satu kelas yang ada berjumlah 45 orang. Ironisnya lagi bahkan ada sebagian mahasiswa yang bukan karyawan justru malah memilih kelas karyawan. Fenomena ini menarik, karena memang dari satu sisi mahasiswa akan memiliki waktu yang cukup dipagi hari hingga sore (Untuk yang bukan karyawan) untuk melakukan aktifitas lain ataupun hanya untuk bersantai. Kelebihan lain dikelas karyawan memang banyak memiliki kelonggaran dan kepastian lulus karena “kekaryawanannya” itu.

Tampak sebagian dari 140 orang peserta MID, Menggunakan Pakaian Batik. Salut buat panitia.

—————Bagi lembaga sendiri kucuran dana dari kelas karyawan biasanya jelas dan tentu akan berbeda besarannya dengan kelas regular. Ujung-ujungnya memang kelas karyawan mendominasi jumlah angkatan mahasiswa baru tahun ini, disamping memang para karyawan yang betul-betul dikirim oleh perusahaannya untuk memperdalam pengetahuannya serta dalam rangka mendongkrak karir akan tuntutan jabatannya. Kampus kita ternyata akhir-akhir ini merubah haluannya ke arah sini Tapi sah-sah aja sih.., hanya barangkali perimbangan antara regular dan karyawan setidak-tidaknya harus mendekati. Ini pekerjaan rumah marketing untuk tahun depannya.

Tommy, PJS Dewadaru, menerima Vandel kenang-kenangan dari Panitia.

               Jadwal yang diberikan untuk Dewadaru awalnya adalah jam 17.20, hingga 18.00 Wib. Makanya Sore kemarin sudah bermunculan syal-syal kuning memenuhi halaman depan kampus dan di belakang Basecamp Dewadaru. Tapi sekonyong-konyong panitia memundurkan jadwalnya tanpa alasan yang jelas menjadi pukul 19.20. Dewadaru yang sekarang sudah mulai “Wise” (rada bijak), tidak emosional, rada tidak seperti biasanya memang. Akhirnya setelah dilakukan negosiasi waktunya ditetapkan pukul 18.20 Wib. Rupanya ada perbedaan waktu dimulainya kegiatan Masa Integrasi Diri. Kalau dahulu kita masih ingat opspek dimulai pagi hari benar, sekitar jam 05.00. tapi kali ini jadwal mulainya disesuaikan dan mengacu pada para karyawan yang sudah pulang bekerja. Dimulai jam 17.00 itulah mereka panitia baru mulai melakukan kegiatan ini. Kelas regular yang sedikit itu mau tidak mau dipaksa ikut menyesuaikan.

               Panitia sepertinya kurang sigap dalam penyelenggaraan ini. Buktinya Surat Undangan terakhir yang diberikan ke Dewadaru yang didalamnya jadwal tertulis pukul 19.30-19.50 Wib, baru diberikan menjelang pukul 18.20 WIB pada sore itu juga. Bertolak belakang dengan pemberitahuan panitia beberapa hari yang lalu yang menetapkan jam 17.20 WIB. (“ ari panitia .. har ! …). Kemudian coba lihat saja waktunya yang hanya diberikan 20 menit (nggak niat kayanya), biasanya kita dapat waktu 1 jam. Ya, sudah, walaupun akhirnya dipelaksanaan terpakasa perlu sedikit tips and trik untuk mencuri-curi perpanjangan waktu di injury time nya. Tapi patut di acungi jempol juga nih panitia kali ini dengan terobosannya yang lain. Seluruh peserta masa integrasi diri kali ini diwajibkan menggunakan pakaian batik. Mencoba ikut mensukseskan nasionalisme kemarin barangkali, hingga malam itu bak resepsi pernikahan, dihadapan kami para undangan yang tampak simpatik dengan mengenakan batik berbagai macam corak.

..untuk gempa Jawa Barat, kita baru saja menyerahkan … (Anung-PB)

               Dari Dewadaru, yang hadir diantaranya : Tommy W (Ketua Pjs), Anung, Deni Platt, Teguh Igoey, Anton Buang, Andi Okster (Dari Jakarta), Denie Cepek, Iman Bajra dan Harris (AMD-ER) , dan Saya sendiri. Selebihnya berdatangan setelah acara selesai yaitu : Arief Ghafer (Jakarta), Agus Gaus Sisir (Cibinong Bogor), Iwa Kartiwa, Tatang Bachtiar, dan Rizal Jabar. Sedangkan Ade Phenk dan Dedet (Simpatisan) ikut serta juga memeriahkan suasana selebihnya di Sekre’ pada malam itu. Sayang memang tidak bisa dihadiri lebih banyak Anggota lainnya. Karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Saya sendiri harus berpikir keras bagaimana mensiasati waktu 20 menit (minus yel-yel push up Dewadaru) yang diberikan untuk menjelaskan Dewadaru tidak hanya dimengerti tapi semaksimal mungkin mereka tertarik. Yang mungkin bisa dijelaskan pada akhirnya memang adalah sisi nilai tambah dari Dewadaru yang bisa didapat ketika seseorang menjadi mahasiswa sekaligus juga dia seorang Dewadaru.

               Sebagai perbandingan adalah ada dua karaketristik mahasiswa yang umum ditemukan dimana ada salah satu mahasiswa yang ketika datang kekampus tugasnya hanya kuliah setelah selesai lantas pulang, tapi ada juga tipe mahasiswa yang memang butuh lebih dari sekedarnya. Dewadaru secara wujud adalah sekumpulan dari mashasiswa-mahasiswa yang butuh lebih dari sekedarnya tersebut. Tapi ketika berbicara apa yang merekatkan mereka bisa bersatu, kompak dan solid dalam persaudaraan, itulah aktifitas hobby dan minat yang sama yang mereka miliki. Nilai tambah itu juga dapat bertambah lebih banyak lagi bila akhirnya hoby ini meningkat menjadi sebuah prestasi dan membentuk karakter yang berkepribadian tangguh karena adanya MESIN yang namanya Organisasi. Tak salah bila dahulu kita pernah punya jargon di kampus : “Sudah Mahasiswa.., Dewadaru Lagi..! ”. Dengan segala kerendahan hati, persfektif : Nilai tambah-minat dan hobby yang sama inilah yang kita tawarkan kepada mahasiswa untuk dapat memilih dan bergabung menjadi anggota Dewadaru dikemudian hari nantinya, dan pengertian itulah sebenarnya yang dinamakan konsep Ekstra Kurikuler. Sebuah pilihan bagi mahasiswa-i yang ingin lebih dari sekedarnya, apakah memilih Dewadaru atau organisasi sejenis yang lain yang ada di kampus kita ini.

Kongkow sehabis acara tersebut ..

—————Disela sesi tak lupa juga mengenalkan ragam kegiatan (Spesialisasi) yang ada di Dewadaru (sekaligus mengenalkan orang-orangnya), prestasi apa yang saja yang dicapai serta sempat dibahas lebih mendalam konsep pendanaan kegiatan yang dimiliki perhimpunan menjawab salah satu dari tiga penanya malam itu. Khusus pertanyaan bantuan sosial gorban gempa (Jawa Barat), mike sempat saya alihkan ke Anung (PB) karena yang bersangkutan cukup intensif dengan program-program seperti itu. Di penguhujung waktu, (padahal sudah habis 15 menit yang lalu), penekanan sekali lagi disampaikan khususnya bagi mahasiswa yang memang sudah memiliki hobby yang sama, agar jangan ragu lagi untuk bergabung. Karena saat ini organisasi memang sangat membutuhkan sekali kehadirannya. Saya katakan tidak kepada mahasiswa baru ini saja tapi ini juga himbauan sekaligus untuk panitia yang hadir malam itu, juga mahasiswa lama lainnya, malahan “tembusannya” ke Alumni, mereka pun masih bisa mendaftar menjadi anggota Dewadaru karena AD ART yang kita milikipun sepakat akan hal ini. Acara sesi Dewadaru ini ditutup dengan penyerahan Vandel kenang-kenangan yang diterima Tommy sebagai ucapan terima kasih atas peran serta dalam acara Masa Integrasi Diri (MID) ini. Acara MID ini sendiri rencananya ditutup pada Malam minggu ini  (10/10/2009).

               Sekembalinya dari Aula, di Basecamp obrolan tetap berlanjut. Mengevaluasi hasil perkenalan tersebut dari berbagai sudut pandang masing-masing. Ditemani Kopi dan Nasi Goreng kebetulan ada Bos dari Bogor mentraktir kita pada malam itu. Ada secercah harapan muncul dari dua orang Mahasiswa baru yang merapat ke Basecamp dan banyak bertanya soal Dewadaru yang diterima baik oleh Tommy sebelum acara perkenalan tadi, dan mudah-mudahan ini juga sebagai titik awal untuk mengajak ke 28 mahasiswa “Asli” lainnya .

               Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Suasana kampus mulai sepi, kami yang tersisa 5 orang akhirnya harus meninggalkan basecamp ini juga untuk pulang kerumah masing-masing, Dengan dibantu Pak Atang yang membukakan pagar halaman kampus. Jalan Jakarta dinihari itu akhirnya kita tinggalkan juga, Mission Completely ! (Redaksi/D-012-KL)

█.


Seminar Nasional Konservasi Kawasan Karst Palawa Unpad

.

Kalau saja mereka mengikuti kegiatan ini …“, itulah penyesalan kita kenapa tidak mewajibkan seminar ini harus diikuti oleh Bayu Windu. Karena disaat dan waktu yang sama dengan musibah kemarin yang menimpa Imei dan rekannya itu, justru seharusnya mereka bersama kita menghadiri kegiatan ini. Padahal infonya sudah kita kirim melalui koordinator BW, dan berharap mereka tertarik lebih dini mengenal dunia Caving serta pengetahuan tentang Karstologi, membuka diri bersilaturahmi dengan organisasi lain serta banyak hal yang dapat di ambil dari kegiatan eksternal ini. Tapi Tuhan memang berkehendak lain.

Hary Hardiana (AMD-JK). Tetap Semangat Lat ..!

                Apresiasi generasi muda yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Palawa Unpad ini patut dibanggakan juga. Sebagai bentuk kerja jangka panjang dengan lembaganya (UNPAD) dari hasil Ekspedisi Laos yang bertajuk World’s Gigantic Ekspedition pada bulan Desember 2011 kemarin, pada hari Sabtu (31/03) digelar acara “Seminar Nasional Konservasi Kawasan Karst” yang bertempat di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad Jatinangor.

               Acara ini dihadiri perwakilan dari anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), Pprpg (Pendaki gunung penempuh rimba) dari berbagai institusi di setiap daerah di Pulau Jawa. Tidak hanya itu, turut hadir pula beberapa anggota dari TNI AD. “Kegiatan ini merupakan kesimpulan tingkat lanjut dari apa yang kami dapatkan selama kegiatan Ekspedisi Laos,” tutur Stefanus, ketua pelaksana dari kegiatan seminar ini. Menurutnya, saat ini Kawasan Karst banyak yang tidak dikenal oleh orang, padahal kenyataannya banyak Kawasan Karst atau bisa disebut sebagai Kawasan Batu Gamping banyak ditambang orang sebagai bahan baku pembuat semen dan cat tembok. “Selama ini orang banyak yang melakukan konservasi untuk wilayah alam seperti hutan, tetapi sangat sedikit orang yang peduli dan melakukan konservasi di wilayah Karst,” ujarnya.

               Seminar ini menampilkan empat pembicara yang berkompeten di bidangnya, antara lain Dr. Ir. Budi Bramantyo, M. Sc., Dosen ITB serta peneliti Karst di Kelompok Riset Cekungan Bandung, Cahyo Alkantara, Ketua Himpunanan Spelelologi Indonesia serta pembaca acara TEROKA di Kompas TV, Apriyanto, dari Badan Regulasi Daerah Kawasan Karst, serta Ir. Oki Oktariadi, MS., peneliti di Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi Nasional. Acara dimeriahkan pula oleh pertunjukan musik tradisional dari UKM LISES.

 

               Pemaparan pertama disampaikan oleh Budi Bramantyo. Menurutnya, Kawasan Karst memang mempunyai potensi yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Namun, sayangnya pemanfaatan tersebut sering tidak diimbangi oleh konservasi dan pelestarian wilayah itu sendiri. Karst secara geografis berada di kawasan batu gamping yang  merupakan bahan baku utama pembuat semen. Hal inilah yang menjadi permasalahan dilematis antara anggota pecinta alam dengan penambang. “Permasalahan yang terjadi memang dilematis, sebabnya semen adalah salah satu komponen utama untuk pembangunan. Kalau ingin melindungi kawasan karst, mau tidak mau Indonesia harus mengimpor semen. Itu pun harus diimpor dari negara yang masih membolehkan eksploitasi kawasan Karst. Kalau Indonesia masih membolehkan penambangan di wilayah Karst, ya lambat laun Karst itu dapat habis,” ujar Budi. Lebih lanjut Budi menilai bahwa sangat tidak mudah untuk merekonstruksi kawasan Karst. Konflik dengan penambang untuk mempertahankan wilayah Karst semakin mengkristal dan intens. Padahal, Kawasan Karst seyogyanya memiliki potensi lain selain dalam bidang pertambangan, yakni sejarah. KRCB sendiri telah menemukan beberapa peninggalan arkeologi dan kerangka manusia purba pertama di Kawasan Karst Citatah, Padalarang, Jawa Barat.

Bagi pecinta alam, penambangan kawasan karst merupakan ancaman yang sangat berbahaya. Namun, bagi penambang ini merupakan potensi yang bisa digunakan untuk mengganjal perut mereka. Oleh karena itu, pabrik semen adalah musuh utama bagi pecinta Karst!” tegas Budi. Senada dengan Budi, Oki Oktariadi pun menambahkan bahwa Regulasi Kawasan Karst selalu terkendala dalam masalah perekonomian rakyat yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas pertambangan. Oleh karena itu, Oki menegaskan bahwa perlu dilakukan sebuah kajian intensif mengenai potensi dari Karst itu sendiri.

               Pemerintah pun melalui Kementrian ESDM sebenarnya telah mengeluarkan Kepmen ESDM No. 1456/K/20/MM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst yang aplikasinya mengelompokkan kawasan karst menjadi tiga kelas. Namun, pengelompokkan ini sendiri sering disalahartikan oleh penambang. Oleh karena itu, Kepmen tersebut diperbarui menjadi PP No. 26 tahun 2008 Pasal 53 sampai 60 tentang pengelolaan kawasan bentang alam yang unik, salah satunya adalah kawasan Karst. “Setidaknya, melalui PP tersebut relokasi wilayah mengenai mana kawasan yang boleh ditambang dan mana kawasan yang tidak boleh adalah jelas,” tutur Oki.

               Mengatasi masalah eksploitasi kawasan Karst, Cahyo Alkantara memiliki cara jitu untuk melakukan konservasi wilayah Karst. “Selama ini Kawasan Batu Gamping (Karst) merupakan daerah dimana kehidupan masyarakatnya tergolong miskin. Tidak ada cara lain selain menambang Karst untuk mempertahankan hidupnya. Konflik dengan penambang pun tidak akan menghasilkan titik temu. Oleh karena itu, solusi yang paling baik adalah dengan melakukan konsep Ecotourism,” kata Cahyo. Konsep ecotourism itu sendiri merupakan konsep pengembangan kawasan dimana terdapat potensi kualitas geologi. Cahyo optimis, dengan konsep ecotourism, pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan Karst akan tinggi dibandingkan dengan melakukan pertambangan. Selain itu masyarakat pun secara otomatis menjaga kawasan tersebut karena telah ditetapkan menjadi daerah wisata.

               “Ecotourism adalah masa depan Indonesia. Pertambangan suatu saat nanti akan berhenti akibat habisnya sumber daya alam. Oleh karena itu, kita harus jaga sisa-sisa warisan alam ini dengan menggalakkan konsep ecotourism, atau konservasi kawasan yang ujung-ujungnya merucut kepada konsep torism. Melalui pariwisata, saya yakin industri tambang tidak akan berani masuk,” tegas Cahyo.

               Dimulai dari pukul 12.00 hingga menjelang magrib, kita dibuat betah dengan diskusi serta pemutaran film ekspedisinya. Speleologi memang menakjubkan, apalagi hasil ekspedisinya dikemas apik menjadi film yang menarik. Sejumput asa menyeruak kembali mengambil manfaat atas seminar ini. Mudah-mudahan ini jadi pemicu awal untuk lebih memicu kretifitas Unit Caving di Dewadaru yang kita miliki. Penyelenggaraan yang sukses yang diperlihatkan Palawa Unpad patut juga diacungi jempol. Suskes buat Palawa (D-012-KL | dikutip dari seminar dan berbagai sumber)█.

.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.