Kepincut WPAP

nayla-copy2

Coba Ketik “WPAP” di Google, terus klik “Gambar”, maka sederetan gambar photo kotak marak berserakan. Warna-warna yang didominasi pastel pucat, atau malah kebalikannya, mencolok sangat terang seperti warna-warna tinta refill printer inkjet kita yang sering kita beli, menjadikan ciri khasmya pertama. Tidak disangka, sederetan kotak-kotak yang disusun saling bersinggungan tersebut justru sebuah pola garis imaginer yang membentuk sebuah gambar atau rupa bentuk yang langsung bisa kita tebak. Presentasi visual Mick Jagger, bibir yang provokatif dan rambut yang gondrong segera menandai ciri utama sang ikon Rolling Stone ini. Sosok lain seperti Raisa, Che Guevara, Jokowi dan ternyata Hampir semua tokoh sempat di WPAP-kan juga dengan mudah kita kenali dari pola dan mimiknya. Itulah magisnya WPAP (Wedha’s Pop Art Potrait) dan tentu penghargaan yang tinggi buat Abdul Rasyid atau lebih dikenal dengan Wedha. Sang penemu aliran Pop Art ini sekaligus jadi pioneering penemu seni grafis asli kelahiran Indonesia.

wedha

Wedha

—————Kalau ternyata garis Lengkung itu adalah gabungan dari garis lurus pendek dalam jumlah yang banyak, serta bidang lengkung itu pada hakekatnya adalah disusun dari banyaknya bidang datar, Ini misteri yang pertama yang terkuak. Apalagi temuannya yang menampik pemahaman Piet Modriaan (1872-1944) yang meyakini bahwa warna di alam raya ini cuma biru,kuning, merah dan tentu ditambah hitam dan putih, seperti layaknya saputangan. Kata Wedha lanjutnya kredo Modrian itu benar, tapi bagi dia manifestonya tidak se- esensial itu, sederhana sekali malahan Modrian seperti terpeleset dalam eksekusi. Bagi Wedha, esensi warna bukan bukan pada citra pancarannya, tapi pada sifat dasarnya: warna depan dan warna belakang juga warna terang dan warna gelap. Partikel geometris tidak harus tampil kaku tapi punya keluwesan dalam merespon bidang, apalagi partikel geometris tidak mengandung unsur kurva, lantaran sebuah kurva terbentuk dari serangkaian garis-garis pendek lurus, apalagi WPAP bila digabung dengan graphis teks, tampilannya jadi nge-blend.

Lupus, yang fenomenal itu.

—————Itulah konsep awalnya, sangat teoritis, tapi dari sinilah awal ketertarikan itu (Baca: Penasaran), apalagi temuan Wedha seperti menjawab apa yang di cari selama ini sekaligus membenarkan kemalasan yang dari dulu hobi corat-coret sketch tapi enggan realis, seolah membenarkan juga bagi mereka yang tak suka realis hanya karena tak pernah mood bila menggambar bagian-bagian wajah tertentu. Mulai dari mata, hidung bahkan bibir. Hah !.

—————WPAP mulai dikenalkan oleh peciptanya sekitar tahun 1990-1991, Wedha sendiri merupakan Ilustrator tetap majalah HAI yang merupakan trend setter para remaja di tahun-tahun tersebut. Salah satu karya fenomenalnya adalah goresan tokoh lupus (sebuah Karya Hilman: pengarang Cerpen) , remaja Bengal kreatif yang punya cirri khas rambut serta lengan pendek seragam sekolahnya yang selalu tergulung serta banyak hal lain yang menarik darinya tergambar apik dalam visualisasi tokoh itu. Illustrasi lainnya pun banyak dihasilkan olehnya mulai dari bergaya realis sampai berbentuk abstrak. Apalagi Majalah HAI pada saat itu memang memiliki tematik music, hingga penggambaran tokoh musisi baik dari dalam maupun luar negeri menjadi pekerjaan sehari-hari yang mesti dia gambar untuk mendukung artikel ataupun tokoh topik yang sedang menjadi headline di setiap penerbitannya.

Karya Wedha sebelum WPAP lahir malah realis …

—————Diyakini kelahiran WPAP merupakan transformasi panjang dari sebuah proses kreatif. Walau menurut pengakuannya cukup sederhana; ketika memasuki usia 40 tahunan dimana fungsi penglihatan sudah mulai menurun dan diakuinya sendiri gaya hidupnya yang kurang sehat hingga cepat merasa terlalu cepat lelah, kendala fisik itu sudah mulai terasa mengganggu setiap kali dia harus menyelesaikan gambar. Apalagi gambar sosok manusia yang realis. Memilih dan mencampur warna menjadi hal yang menyulitkan. Dari hal inilah mulai terpikir bagaimana melukis atau menggambar manusia dengan cara yang lebih mudah. Mengutak-ngatik titik, garis dan bidang hingga akhirnya menemukan cara melukis yang belum pernah dilakukan orang lain di Indonesia maupun Dunia.

Opsi Awal

—————Dibilang agak telat, kemana aja kemarin baru tertarik saat ini, memang iya juga. Tapi paling tidak ga apalah dari pada hanya bengong dan takjub melihat WPAP orang lain, terus dalam hati sepertinya bisa nih kalau dipelajari, apalagi kini booming kembali di media. Asik juga sepertinya kalau yanga kita gambar adalah orang disekitar kita, di komunitas ataupun gambar unik lainnya, tidak harus tokoh melulu hal lain juga dibikin tapi ala WPAP. Tentu eksplorasi membuat spanduk, banner, baliho, mural dan lainnya jadi lebih kreatif hasilnya nanti dan ini tentu mesti coba di wujudkan. Selain itu tentu bisa juga ditempatkan di kaos dan barang-barang aksentual lain yang bernilai desain produk. Apalagi visualisasi tentang olahraga alam bebas, pendakian gunung dan gambar ekspresif dikegiatan ini jarang di buat oleh

Poster Diklatsar, kalau di Wedha’s kan kayaknya akan terlihat beda dan sesuatu yang baru di Dewadaru.

orang selama ini, apalagi dilingkungan kita. Ya sudah, harus menyempatkan waktu memulai perlahan hingga mencari tahu, belajar sampai dimana proses kreatif WPAP bisa mewujud berbentuk seperti yang diinginkan.

—————Bukunya sih sudah lama di beli (sekitar tahun 2012). Awalnya sebagai hadiah untuk si sulung Nadya Aulia Nabiella, seperti biasa sama dengan hadiah buku-buku yang lainnya. Spesial untuk buku yang ini di hadiahkan karena anakku yang ini kelihatannya sudah mulai suka corat-coret graphis di buku-bukunya. kadang menghadiahkan coretan graphisnya ke teman-teman sekelasnya, malahan banyak juga buku temannya minta digambari olehnya. Tapi karena aliran graphisnya berbeda, Nadya agak tidak begitu tertarik sepertinya. Tapi bukan itu katanya yang menjadi alasan utamanya, seperti yang diakuinya ketika ditanya. “ayah, Nadya belum bisa Adobe Ilustrator, Photoshop sama Corel Draw..ajarin dulu dong yah ..”, walaupun Laptop yang dimilikinya sudah terisi software tersebut. Waduh !.

—————Ini opsi pertama : Belajar WPAP ternyata tidak hanya cukup paham teoritis dan konsep dasarnya, tidak juga cukup sudah mahir menggambar sebelumnya. Menguasai Komputer (Laptop atau PC) serta mahir dan lancar memainkan software perangkat lunak graphis juga jadi syarat wajib. Seperti tiga software graphis yang biasa dipergunakan oleh para kretor WPAP. Minimal salah satu dari itu yang sudah sering dipakai atau dikuasai, sudah bisa di praktekkan. Kecuali mau bersusah payah menggambar ala jadul yang tracing photo-nya menggunakan kertas kalkir diatasnya, serta harus menyiapkan seperangkat pensil warna, crayon atau pastel yang pasti tidak se-sederhana terutama menyiapkan dan mencampur warna ala aliran ini. Opsi ini bisa jadi berbeda dengan pendapat orang lain tapi perangkat dan penguasaan salahsatu software diatas menjamin kemudahan dalam proses kreatif nantinya disamping hasilnya tentu sangat memuask

Buku Wedha, Cukup buat referensi bagi pemula yang ingin memulai WPAP.

an. Era digitalisasi saat ini sangatlah memudahkan bagi siapa saja yang mau belajar apapun, kehadiran internet segenggaman kita mendorong munculnya industri kreatif diberbagai bidang. Selain kemunculan media social yang mudah dan murah, kehadirannya juga memudahkan orang untuk belajar lebih jauh. Wedha pasti tidak menyangka sampai sebegitu meluasnya WPAP berkembang saat ini. Facebook, twitter sampai youtube banyak menampilkan hasil-hasil karya desain ini sekaligus juga dengan mudah kita mendapatkan tutor dan referensi bagaimana mempelajari WPAP dari berbagai praktisi yang sudah terjun sebelumnya. Kalau mau lebih intens, ikuti saja salah satu komunitas di media social tersebut, atau juga komunitas di kota yang kita tinggali, mereka dalam kurun waktu tertentu aktif menyelenggarakan pameran hasil-hasil karya para angotanya. Hasil-hasil pameran serta gambar yang di upload di internet tersebut adalah cara yang paling mudah belajar terutama membandingkan satu dengan yang lainnya, gaya yang dimiliki oleh setiap perupanya dalam menajamkan Aksen tertentu hingga penggunaan warna dalam menerapkan efek kedalaman sebuah dimensi.

—————Kepenasaran Ini lah yang akhirnya membuahkan keputusan, sambil menunggu Kakak Nadya mempelajari software tersebut disela kegiatan bimbelnya, buku itu Aku tarik kembali dari raknya, dipinjam sebentar, hehehe …

 

Teknis

—————Bila dicermati, konsep dasar WPAP memiliki persamaan dengan photography. Di dalam seni memotret cahaya menjadi faktor penentu seperti yang sering dikatakan Darwis Triadi (Salah satu pakar dibidang photography) memotret adalah melukis cahaya, sehingga sebuah nilai photo bisa dikatakan menarik bila dapat dengan tepat menangkap cahaya dan menghadirkannya dalam sebuah komposisi yang seimbang dan enak dilihat. Pasti tentunya harus sesuai dengan kondisinya tanpa ada efek samping rekayasa yang dibuat-buat. (Darwis sendiri paling anti merekayasa setiap hasil karya-karyanya). Memiliki depth of field atau yang sering disebut kedalaman gambar.

—————Di WPAP ruang-ruang itu ternyata jadi kunci. Ruang kedalaman dihadirkan melalui pemilihan warna-warna tertentu. Warna yang cenderung pop-art biasanya warna pastel atau warna-warna dasar pembentuk. Bahkan Wedha sendiri menghindari warna persis seperti aslinya. Cenderung cerah dan berani . selain mengharamkan garis lengkung, keterwakilan sebuah dimensi di hadirkan dalam sebuah kotak garis lurus bersegi-segi. Singgungan dari kotak-kotak itulah yang nantinya akan bertautan menjadi sebuah tone warna membentuk bidang rupa dari sebuah gambar. Syarat yang penting lagi katanya, setiap titik perpotongan atau ujung dari sebuah kotak harus dipastikan bertemu. Wedha memastikan teorinya kalau perpotongan itu tidak bertemu disitulah kelemahan WPAP-nya dalam desain itu. karena kebanyakan proses penggambaran melalui tracing Photo yang sudah jadi, dukungan hasil jepretan photo yang bagus juga mendukung dalam penyusunan bidang-bidang vektoral dalam proses pengerjaan WPAP. hasil photography yang menggunakan kamera DSLR tentu akan lebih baik (Disukai) ketimbang yang lainnya. Walau tidak wajib, zooming resolusinya biasanya tidak pecah hingga kita bisa dengan mudah membedakan efek kedalaman yang kita inginkan.

coreldrawnya

Corel X3, cukup lah …

—————Berdasarkan pengalaman netizen WPAP, menggambar tokoh yang sudah dikenal luas tentu lebih memudahkan, sepertinya. Karena keputusan untuk berhenti menggambar lebih cepat. Tokoh yang telah dikenal tentu lebih dulu banyak diingat oleh khalayak, mimiknya, Aksen kuat di wajah atau penampilannya serta ciri khas yang menjadi ikon di tokoh tersebut sehingga hanya dengan beberapa sentuhan saja bila sudah bisa mewakili tokoh itu selesai sudah, tinggal menambah ornamen tambahan untuk memperkuat latar belakang si tokoh. Tapi tentu merupakan tantangan tersendiri dan tentu tidak mudah bagi kita yang baru mencoba mendesain dengan diawali bukan tokoh terkenal. (Rumus ini nggak pasti sih, hanya dialami penulis saja) bagi kita yang mendesain tentu tantantangan terberatnya harus mirip sekali tapi tetap, gaya pop-art WPAP nya melekat.

taylor_swift_in_wpap_by_fajryalfatih-d86tlqp

Taylor Swift

—————Hal lain, bila kita cermati satu persatu sampel yang ada, tidak semuanya sebenarnya mewakili WPAP murni “ngotak”, ada beberapa yang hanya baru berpindah dari gambar tracing biasa menuju kearah wpap, sangat terlihat begitu hati-hati dalam pemilihan warna yang masih lunak tidak meledak-ledak bahkan masih belum percaya diri mengkotaknya akhirnya masih terjebak seperti menggambar biasa, tidak ada bedanya. Sedang WPAP yang dikehendaki Wedha cirinya jelas : kotak dan warna yang berani serta cerah dalam memilih warna juga tegas dalam menarik garisnya. Apalagi ada beberapanya jadi aneh penampakkannya. Lucunya di blog mereka mereka memberi judul artikelnya tutorial WPAP, dengan tahapan-tahapan yang lucu tadi ditampilkan dengan percaya dirinya bahwa itu adalah WPAP. Tapi banyak juga sudah betul-betul menunjukkan kelasnya. Tidak menyalahkan tapi hanya sekedar koreksi bagi kita agar lebih tepat dalam mencari referensi.

Ternyata . .

—————Terus terang, awalnya dengan latar belakang sketching pensil atau spidol yang sudah terbiasa, serta sering mendesain graphis dan ilustrasi keinginan klien untuk keperluan banyak hal, walaupun tidak jago-jago amat dan hanya hobby, dalam hati sepertinya ini mudah dikerjakan, apalagi proses purwa rupanya dilakukan dengan cara tracing dari photo yang asli, terus menggunakan perangkat lunaknya Corel Draw, “ wah kayanya enteng nih .. “. Persoalan software sebenarnya tidak ada kekhususan, bila sudah terbiasa dengan Photoshop ataupun Illustrator sah-sah aja. Kebetulan saja Corel Draw agak familiar dan terbiasa dipergunakan sehari-hari, sehingga memudahkan dalam proses kreatif nantinya. Keputusan untuk memilih photo sibungsu anakku Nayla Siti salma pun di awal terpikir sepertinya akan lebih mudah apalagi kwalitas photo Dslr Nikon kemarin menggunakan Raw data dengan resolusi tinggi serta pencahayaan yang lumayan baik.

complicated-1

Complicated …

—————Kenyataannya, ketika untuk pertama kalinya berhadapan dengan layar komputer serta photo sudah terpampang di Corel Draw agak sedikit gamang juga, sedikit tersenyum dengan kondisi aneh ini karena ekspetasi yang tinggi dan berharap hasilnya nanti seperti contoh-contoh yang selama ini jadi bahan pembanding jadi buyar. Pengalaman mendesain dengan pola baru yang unik ini jadi sedikit agak berkeringat antara “masa sih ngga bisa” berbanding dengan minim teori dan praktek yang benar-benar baru. Belum lagi berpikir nantinya secara keseluruhan jadinya seperti apa, Untuk menentukan mengawali apa yang harus pertama-tama digambar saja perlu trial and error berkali-kali bulak-balik tidak yakin dan “koq seperti ini hasilnya, hah !”. apalagi langkah berikutnya menyambungkannnya dan memilih warna. Salut juga mereka yang telah berhasil.logobhayo

—————Sebagai contoh saja menggambar mata. Ternyata dalam WPAP mata menjadi fokus utama di hampir semua karya. Setiap orang punya ciri khas yang menjadi penegas, salah satunya adalah mata. Kesempurnaan menggambar mata sesuai dengan gambar aslinya ternyata sudah sama seperti separuh jalan menyelesaikan WPAP ini. Tetapi masalahnya semuanya harus digambar dengan garis lurus, ditambah permainan pemilihan warna harus tepat. Karena Mata menempati fokus utama akhirnya awal dari semua kebengongan itu berakhir. Dibutuhkan waktu lama juga untuk benar-benar menyelesaikan objek yang satu ini. Bayangkan (ini jangan di tiru) karena semangat ingin hasil sempurna, sampai butuh waktu lebih dari satu hari hanya untuk menyelesaikan dua buah mata termasuk kelengkapannya apalagi cahaya di dimata Nayla dengan kelopak mata yang tebal jadi kesukaran sendiri, sampai-sampa bertekad, bikin janji (Sedikit nyerah), Apabila mata tidak beres juga, tidak akan tergoda menggambar objek lanjutannya. Dan memang konsisten hingga melebihi satu hari. (Walau belum terlalu puas juga hasilnya).

—————Tantangan demi tantangan pada bagian-bagian selanjutnya terus coba di keureuyeuh diselesaikan , dan akhirnya memang menjadi keasyikan tersendiri hingga terkadang lupa waktu. Kesulitan sebagai pemula terus menghadang, tidak hanya mata, Hidung dan bibir terutama gigi menghadang, cukup menyulitkan juga bila aturan mainnya harus digambar garis lurus apalagi memberikan kedalaman dibidang datar pada bagian pipi, dahi serta dagu disitulah coba dan gagal terus diupayakan melalui tarikan garis-garis simetris yang mulai bermain dengan warna-warna khas WPAP. Walau terkadang mesti bulak-balik mencari perbandingan juga dengan desain yang sudah ada. Hingga akhirnya proyek pertama inipun jadilah seperti gambar diawal tulisan ini. Masih malu-malu menabrakkan warnanya, cenderung hati-hati menghindari ke tidak miripan wajah aslinya serta tentu banyak yang harus dibenahi sana-sini. Dan ini jadi pelajaran pertama yang berharga. WPAP Ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

nayla-copy

Tambah Font menarik , jadi ngeblend .. Tapi, perasaan belum Wedha’s banget yah .. hmmm .. apanya yah ??

—————Sebagai pemula yang mulai tergoda WPAP, tentu dibutuhkan kesabaran serta ketekunan yang tinggi untuk hasil yang diinginkan termasuk memahami dan menyesuaikan dengan aliran ini. Kalaupun nanti melebar kea rah pop art yang lainnya tentu proses kreatif biasanya tak pernah berhenti dan terus berevolusi sesuai dengan kreatifitasnya. Sekali lagi, WPAP memang tidak mudah, walaupun bagi yang mau tekun tentu kesulitan ini dapat menjadi tantangan tersendiri untuk menemukan formula khususnya. Tentu dengan tak pernah berhenti berkarya menghasilkan desain dengan tokoh-tokoh lain dengan bentukan lain dan tentu bisa memuaskan si pencipta, penikmat terlebih bisa fungsional.

Impian Indonesia

—————Abdul Rasyid, atau lebih dikenal Wedha, dibagian akhir bukunya : “Wedha & WPAP, Wedha’s Pop Art Potrait, Pop Art Asli Indonesia” tetap merasakan belum puas dan masih menyimpan impian dan kegelisahan berkaitan dengan WPAP. Kegelisahan itu adalah, kenapa setiap kali kita bicara pop art hanya nama-nama itu yang muncul ke permukaan. Kapan nama orang Indonesia muncul disana. Impiannya suatu saat WPAP ini bisa Berjaya di pentas dunia dengan mengusung nama Indonesia. Paling tidak harapannya bila kelak beliau tiada akan ada penerus yang melanjutkan dan mewujudkan impiannya, atau menurutnya lebih tepat Impian Indonesia. Kemungkinan lainnya, dengan mempelajari dan memahami gaya ini, akan terbuka peluang yang luas bagi setiap orang untuk bisa menemukan terobosan- terobosan baru dalam melukis potret khususnya, dan dunia seni rupa pada umumnya.

Harapan Wedha ..

—————Seperti Wedha yang terus menerus mengupayakan dan menyebarkan inspirasi ini lengkap dengan segala kredo dan tutorial kepada semua orang. Tulisan sederhana inipun secara khusus dipersembahkan kepada Wedha sebagai pengakuan dan penghargaan pribadi penulis akan kekaguman karya fenomenalnya serta orang-orang yang tertarik menggeluti dan terus mengembangkannya. Bersamaan dengan dikembalikannya buku Nadya itu ke raknya, tulisan ini juga untuk menyemangati anak-anakku Nadya dan Nayla, agar terus kreatif dengan hobby yang membuat gairahnya selama ini, mencari passion-pasion positif dan bertanggung jawab lain yang belum tergali. Paling tidak kretifitas ini dapat mengobati kegalauan yang cenderung jadi trend saat ini di usianya. Seperti juga yang kita diskusikan bersama Bunda beberapa hari yang lalu (BhayoSemerOe |Cjrh| MekarIndah35| 02.26/ 27Nov2014) █.

 

 


Hikmah di Balik Hijrah Nabi : Optimisme dan Perjuangan

2


Momentum Sukses Kompetisi Panjat Dinding Dewadaru dan Ironi, di Tebangnya Climbing Wall Kami

.

Rudi Kurniawan

MELAWAN LUPA | Emosional, barangkali situasi itulah yang terasa ketika ada niatan mengupas kembali kesuksesan dan gairah kegiatan Kompetisi Panjat Dinding Dewadaru (Kpdd 1 dan 2). Betapa tidak, mengurai kompetisi ini, mau tidak mau wacana pembongkaran salah satu property kebanggaan Dewadaru, dan mestinya juga sekaligus kebanggaan Kampus Stmik “Amik Bandung” itu jadi wajib juga dibahas kembali runtutan kejadiannya. Apa penyebab dan keganjilan di “tebang”nya itu semua. Agar artikel ini berimbang, memang memerlukan kesabaran dan waktu agak sedikit lama dan ternyata tidak mudah untuk mengkonfirmasi satu persatu pelaku sejarah pada waktu itu. Hampir semua anggota Dewadaru dimintai keterangannya, Panitia yang terlibat, Kontraktor yang membangun papan panjat tersebut dan tentu yang terhormat Para regulator di Lembaga Kampus. Dari inisiator peubuhan sampai eksekutor lapangannya. Bagi saya ada yang menarik, ketika memulai konfirmasi ke Bidang Kemahasiswaan dan kebetulan dulu saat peristiwa berlangsung hingga saat ini yang bersangkutan masih menjabat, ada statement awalnya yang seolah-olah mau meng-afirmasi kenyataan sesungguhnya. Katanya; “Dasar perubuhan waktu itu, satu: tidak di maintenance (Khawatir rubuh), Dua: Terjadi gempa dan ada kerusakan fisik (lantai retak). Pandangan ini memang dari kacamata awam Kang ..”. kemudian dalam email yang lain Rudi Kurniawan juga mengatakan, “Harapan saya, mudah-mudahan hal ini tidak akan menjadikan polemik masalah kembali ..”. Coba cermati pernyataan itu !.————Di era tahun 90 hingga 2000-an, bahkan mungkin hingga saat ini, merupakan sebuah kebanggaan bila keberadaan sebuah perguruan tinggi  selain memiliki organisasi pencinta alam atau penggiat kegiatan alam bebas juga memiliki papan panjat (Climbing Wall). Betapa tidak, keberadaannya yang mencolok, tinggi menjulang mudah sekali menjadi perhatian orang untuk berpaling dan menengok keberadaannya. Apalagi bila ditambah dengan desain grafis artistik, bisa berupa graffiti ataupun mural yang khas merupakan  daya tarik seni tersendiri sekaligus mencerminkan jati diri kampus serta organisasi pencinta alamnya. Terlebih bagi para sponsorship. Jadi jangan heran bila ada stigma, Kampus yang memiliki papan panjat  mudah dikenal dan gampang menggaet calon mahasiswa baru, paling tidak kredibilitas kampusnya terangkat.

————Nah, percaya tidak, Kampus biru kita ini dahulu punya Climbing Wall lho !, dan Dewadaru pernah mengadakan Event kejuaraan besar atas keberadaan Papan panjat itu. Tapi apa lacur, kejuaraan yang mestinya berkelanjutan itu terhenti.  Climbing wall nya hanya dihargai bak seonggok besi tua tak punya makna, begitu terburu-burunya di tebang habis karena alasan yang sama sekali sulit dimengerti. Unsur politis-kah?, ada niat mengkebiri organisasi, karena keterdesakkan  tunjangan hari raya (THR) semata,  atau karena salah urus manajemen Kampus hingga mengorbankan asa, semangat dan etika organisasi civitas akademiknya sendiri. ?!

.

Kompetisi Panjat Dinding Dewadaru Dewadaru12 Ke Satu dan Dua

Duddy Hairurrizal dan Afdirawati “Ira” Sikumbang, saat memberi sambutan di pembukaan Kpdd-1

————Unit Spesialisasi di Dewadaru adalah merupakan pengelompokkan kegiatan operasional (Satuan Tugas) yang berisikan anggota-anggota Dewadaru yang memiliki minat lebih terhadap kegiatan khusus (Spesialisasi). Dewadaru sendiri hingga saat ini baru memiliki 4 (empat) Unit Spesialisasi yaitu , Susur Pantai (SP), Hutan Gunung (Hage), Rock Climbing (RC) dan Caving (Cave).  Di era 2001, dalam kepengurusan DP  XII, yang di ketuai  Andi Lio Laya (D-090-JC), ketika  Koordinator Unit Spesialisasi Rock Climbing (RC) waktu itu di komandani Tatang Bachtiar (D-091-JC), Di bulan Juni Dewadaru pernah menorehkan prestasi yang bagi kami tergolong besar dan sangat membanggakan. Betapa tidak, Dewan Pengurus saat itu serta kepanitian yang dibentuknya berani dan percaya diri mengawali nama kegiatannya dengan hitungan (Penomoran) berkelanjutan dibelakang namanya. Kompetisi Panjat Dinding Dewadaru (Kpdd)-1 yang diketuai oleh Duddy Hairurrizal (D-094-HK), sayang saya sudah berkali-kali menghubungi, tidak tersambung terus dengan sang Ketua ini untuk meminta konfirmasinya. Kepengurusan dan Panitia saat itu pasti sudah berpikir panjang apa maksud dan rencana tujuan selanjutnya dan kenapa kegiatan ini disebut ke-Satu.  Apalagi Kpdd-1 ini cakupan wilayahnya tidak hanya Kota Bandung tapi se Jawa Barat.

Tatang Bachtiar

————Menurut Tatang, yang waktu itu juga menjabat Wakil ketua Panitia, awalnya karena kejuaraan ini supaya resmi, hendak dikelola secara professional dan tidak dianggap amatiran, perlu kiranya melakukan pembicaraan awal dengan organisasi induk yang menaungi spesialisasi ini yaitu Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Kebetulan pada waktu itu Pengurus Cabang Kota Bandung memiliki agenda sedang mencari peringkat untuk urutan di tingkat nasional di kategori tingkat kesulitan putra dan putri se Jawa Barat. Maka berdasarkan pembicaraan panjang panitia dan Fpti Pengcab Kota Bandung, terjalinlah kerjasama ini.

————Federasi ini memang dikenal sering melakukan kerjasama-kerjasama dengan organisasi Pencinta Alam dan sejenisnya. Selain menjadi agenda rutin federasi nantinya, kegiatan ini juga sekaligus dijadikan ajang untuk mencari bakat-bakat baru atlet Panjat dinding untuk diorbitkan menjadi atlet nasional. Momentum inilah yang dimanfaatkan Tatang dan Ketua bersama kepanitiaan yang dibentuknya serta melihat model kompetisi yang sering dilakukan oleh Fpti selama ini berjalan dengan baik maka, menjadi percaya diri bahwa kegiatan ini dapat berlanjut dan berkesinambungan. Dan itu terbukti, seperti apa yang akan dijanjikan Fpti. Kompetisi inipun rencananya akan menjadi agenda kegiatan rutin federasi, sehingga  bantuan teknik, penjurian sampai  dengan pengelolaan peserta dibantu sepenuhnya federasi, termasuk kerjasama penyediaan trophy yang disediakan. Waktu itu Kpdd-1 sepakat memperebutkan piala Gubernur Jawabarat, Walikota Bandung dan Piala Koni Jawa Barat. Selebihnya Piala dan sertifikat dari Dewadaru sendiri.

————Sebagai pemula dikegiatan ini ada kebanggaan tersendiri, menurut Tatang lanjutnya, Fpti dan peserta mengakui Dewadaru dianggap cukup sukses mengadakan kompetisi ini, apalagi ketika itu kompetisi inipun dijadikan sebagai ajang silaturahmi sekaligus promosi. Dari segi kegiatan maupun target pesertanya juga melebihi kapasitas. Terbukti dari antusiasme pesertanya beragam  datang dari berbagai kalangan organisasi pencinta alam, baik dari kalangan Sekolah Menengah Umum, organisasi umum bahkan hingga perguruan tinggi. Tercatat ada sekitar 80 (Delapan Puluh) peserta  meramaikan kompetisi ini yang dilaksanakan dipelataran parkir kampus selama 2 (Dua) hari penuh dari tanggal 2-3 Juni 2001.

Muhammad “Aan” Isa Anshary

————Dari segi pengumpulan dananya pun terbilang cukup berhasil. Muhammad “Aan” Isa Anshary (D-072-WB) dibantu Afdirawati “Ira” Sikumbang (D-093-HK) cukup piawai dalam mengelola proposal dalam mendatangkan Dana segar dari para sponsorship.  Diantaranya Daktarin yang bersedia menjadi sponsor utama, memberikan sumbangan dana 60 (enam Puluh) prosen dari total anggaran panitia yang dibutuhkan, sisanya di support oleh Rokok Djarum, T-Shirt exslusif, Produk minuman Coca cola, Perlengkapan Outdoor Bivoac, bahkan beberapa institusi seperti Koni kota Bandung, Koni  Jabar, hingga Media harian Pikiran Rakyat, Tribun, TVRI  serta Gubernur dan Walikota ikut juga berpartisipasi. Tentu dengan banyaknya fihak yang membantu, kegiatan ini jadi tidak bermasalah dari segi biaya yang dibutuhkan untuk menutupi seluruh kegiatan operasional. Ketika ditanya jurus-jurus apa yang dipakai hingga berhasil menggaet sponsorship sebegitu banyak, Aan hanya merendah. Dia katakan “ trik khusus nggak ada, kebetulan saja semuanya waktu itu momentum-nya pas dengan promosi produk...”.

————Selang 3 (Tiga) tahun kemudian, Bulan April tahun 2004, pada masa periode DP XIII (Afdirawati/Ira), karena sudah menjadi agenda rutin Fpti dan memiliki tanggung jawab melaksanakan lanjutannya. Mengekor kesuksesan Kpdd sebelumnya, Dewadaru kembali mengadakan Kpdd untuk yang kedua kalinya. Saat itu dikomandani Deni “Dombleh” Andrakila (D-100-ER). Skala dan sasarannya kali ini diperluas. Seperti Kpdd sebelumnya, Pengurus sekali lagi mendapatkan titipan dari panitia penerimaan mahasiswa baru (PMB) Kampus Amik Bandung agar kegiatan ini juga sekaligus dijadikan sarana promosi kampus, setidaknya para calon mahasiswa yang pada saat itu akan menyelesaikan SMU dikelas tiganya, terutama yang ada didaerah bisa terjaring nantinya. Berdasarkan sasaran tersebut, Kpdd-2 memperlombakan tingkat kesulitan Putera/I se Jawa dan Bali, tapi hanya untuk kelompok umur dibawah 17 tahun dengan sasaran SMU dan SMK sederajat termasuk masyarakat umum.

Deni “Dombleh” Andrakila

————Menurut Tatang Bachtiar lagi, yang pada saat Kpdd-2 kala itu dipercaya menjabat Dana Usahanya. Masalah klasik sempat muncul, Waktu pelaksanaan sempat dimundurkan dari jadwal yang ditetapkan karena ada pos-pos dana yang belum turun, tapi “Alhamdulillah..”, lanjutnya akhirnya menjelang kompetisi akan digelar banyak sponshorship yang siap dan bergabung juga, diantaranya : Extra Joss, Coca cola, C59, Dari Gubernur Jawa Barat serta Bapak Wali kota. Koni Jawa Barat juga tak ketinggalan. Dari penerimaan uang pendaftaran juga terbilang besar dan cukup membantu. Walau belakangan sempat rada minus juga karena pada saat pelaksanaan berlangsung, masalahnya banyak pencairan dana yang disepakati baru cair setelah kegiatan usai dilaksanakan, terlebih banyak Kategori, banyak juga hadiah yang mesti disiapkan. Tetapi Kompetisi ini, dari segi pelaksanaan yang berlangsung selama 4 hari dan peserta yang ikut serta berjumlah 130 orang terlihat lebih sukses dan lebih meriah dari Kpdd sebelumnya dan tetap sesuai target.

.

Dibangunnya Climbing Wall

————Sebenarnya, rangkaian sukses Kpdd-1 dan 2 serta kepercayaan diri panitia pada saat itu untuk mencetuskan kompetisi ini serial dan diharapkan dapat dilanjutkan oleh para anggota Dewadaru berikutnya dimasa mendatang tak lepas dari peran sentral Climbing Wall. Pada waktu itu walaupun tidak megah tapi Dewadaru dapat berbangga telah memiliki Papan Panjat sendiri apalagi pada masa itu belum banyak organisasi sejenis kita yang berada dalam naungan perguruan tinggi memilikinya. Lembaga juga tentu dapat berbangga diri karena letaknya persis didepan kampus berdiri megah sehingga menimbulkan image tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Terutama para pengendara yang melintasi Jalan Jakarta. Kebanggaan lain pun datang dari para peserta pada saat kompetisi. Terlebih digunakannya papan panjat ini oleh Fpti dalam kompetisi tersebut ini menandakan bahwa Climbing Wall yang kita miliki tentu telah memenuhi standard kwalifikasi yang telah ditentukan. Baik untuk kelayakan sebuah sirkuit panjat dinding maupun keberadaan papan panjat itu sendiri dari segi konstruksi, Tingkat Kesulitan dan safety procedure bahkan usia pakai tentunya.

Andy Lio Laya “Safaraz”

————Benar seperti apa yang diutarakana oleh Aan diatas, Momentumlah yang akhirnya membuat semua impian itu dapat terwujud. Situasi kondusif yang tengah berlangsung di lembaga Kampus serta jerih payah Dewadaru dalam membentuk kepanitian pengajuan pembuatan papan panjat yang dimotori Aan, Tatang dan rekan-rekan di Dewan Pengurus XII (Andy Lio Laya) rupanya berbuah manis dan berhasil meyakinkan lembaga. Ditahun 2001 berdirilah Climbing wall Dewadaru yang merupakan Hibah dari Kampus untuk dipergunakan sebaik-baiknya guna menunjang kegiatan Organisasi. Biaya yang digelontorkan kampus pada waktu itu sebesar Rp. 22,5 (Dua Puluh Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah). Menurut Tatang, Dana tersebut sekitar  Rp. 13,5 (Tiga Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)  untuk pembangunan konstruksi,papan panjat serta poin-poin panjatnya sedangkan sisanya sebesar Rp. 9 (Sembilan Juta Rupiah) di peruntukkan untuk peralatan pemanjatan seperti tali kernmantle, sling, prusik, carabiner, sepatu panjat dan lain sebagainya sejumlah 2 (dua) Set.

————Anung S. Nugraha (D-037-PB) punya cerita tersendiri mengenai pembangunan awal konstruksi papan panjat itu. Menurutnya, Pada saat pengajuan awal proposal, Dewadaru telah mengajukan beberapa alternatif kontraktor pembuat papan panjat yang sudah mumpuni, dipercaya dan memiliki kredibilitas dibidangnya. Terbukti dibeberapa Kampus mereka sudah membangun banyak Climbing Wall bahkan sampai diluar kota Bandung dan di luar pulau Jawa. Yang pertama adalah Kang Teddy Skyger, Praktisi Panjat jebolan sekolah Skyger yang juga berbisnis papan panjat, Kedua adalah Oben Bivouac, salah satu pengusaha outdoor gear dan dikenal sebagai pionir awal pembangun papan panjat di Bandung ini. Tentu proposal telah dilampirkan beberapa gambar serta data-data teknis yang bisa dijadikan acuan pengambilan keputusan. Beberapa presentasi malahan sempat diadakan di lingkungan intern kami dalam proses pembuatan dan penyusunan proposal awal.

Anung S. Nugraha

————Tapi entah kenapa, Tiba-tiba fihak kampus menurut Anung lanjutnya, lebih memilih kontraktor yang bukan kami ajukan. Diam-diam Kampus yang dimotori Mas Bemi (Alm) telah memilih Rock Spider Sarijadi sebagai kontraktornya. Sudah tentu Dewadaru tidak bisa berbuat apa-apa, regulasi, dan dana ada difihak kampus untuk menentukannya. “Jadi Dana yang disodorkan ke Dewadaru hanya konfirmasi tembusan mas Bemi saja..” menurut Tatang, juga senada dengan Anung. Entah berapa dana aslinya untuk pembuatan dan set perlengkapan tambahannya kami sendiri tidak tahu persis, yang disampaikan, sebesar itulah dana yang dikeluarkan”, Katanya. Pada saat itu Dewadaru sebenarnya agak sedikit kecewa dengan penunjukkan itu, Terus terang bagi kami Rock Spider pada saat itu masih awam, apalagi setahu kami saat itu karyanya baru satu buah yaitu ditempat Basecamp nya itu sendiri. Rock Spider sendiri adalah komunitas Pencinta Alam di lingkungan Komplek Sarijadi Bandung yang kebetulan sama dengan tempat tinggalnya Mas Bemi. Anung sendiri (termasuk saya-Pen) tinggal di komplek tersebut. Beberapa anggotanya memang pengurus Fpti. Barangkali pertimbangan itu juga yang dijadikan Almarhum memilihnya. Tapi karena euphoria akan memiliki Wall Climbing idaman, Kami setuju saja, lagi pula kami berkeyakinan penuh Kontraktor Rock Spider tentu tidak akan main-main membangun sebuah Papan Panjat. Seluruh konstruksi, daya tahan serta kekuatannya pasti telah dipikirkan dengan sangat teliti dan professional. Membangun Climbing Wall memang membangun kredibilitas, dan kami meyakini Mas Bemi sebagai perwakilan yang dipercaya kampus tidak asal memilihnya.

zazal

Afrizal

————Bang Afrizal, salah satu pemrakarsa berdirinya Climbing Wall ini yang pada saat itu menjabat sebagai PUDIR (Pembantu Direktur) III Kemahasiswaan dibantu Mas Bemi sebagai asistennya, bercerita banyak Ketika dimintai konfirmasinya. Ketika saya tanyakan apakah dana yang dikeluarkan untuk Papan panjat itu merupakan Hibah untuk Dewadaru ?. Menurutnya sebenarnya secara langsung tidak, Secara struktural karena Dewadaru merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa, serupa dengan Resimen Mahasiswa maka Kedua Oragnisasi tertua di Kampus ini tetap berada dibawah naungan SEMA (Senat Mahasiswa). Walaupun diakuinya keduanya secara khas, operasional, merupakan organisasi Independen karena memiliki induk organisasi diluar kampus. Makanya ketika didalam rapat-rapat awal rencana pembangunan papan panjat itu, Lembaga tidak hanya mengundang perwakilan Dewadaru saja, tapi Senat juga banyak dilibatkan. Afrizal ingat betul ketika itu yang menyiapkan Dana adalah Ibu Lilis Diana (Bagian Keuangan Kampus).————

————Ketika papan itu selesai penyerahannya sendiripun diserahkan kepada Senat yang dihadiri seluruh UKM nya termasuk Dewadaru  untuk dikelola sebaik-baiknya guna menunjang kegiatan kampus. Memang pada Akhirnya Senat Mahasiswa menyerahkan sepenuhnya pengelolaan, penggunaan dan pemeliharaan ke fihak Dewadaru karena Kompetensi dibidangnya. Termasuk seluruh peralatan pendukungnya. Situasi kondusif, semua bisa bekerja sama dengan baik dan  saling membangun yang ada pada saat itu memang jadi momentum akhirnya dapat berwujud dengan baik. Dukungan paling besar justru datang dari Direktur Amik yang kala itu dijabat, Bpk. Yusuf serta pembantu-pembantu Direkturnya seperti Bpk. Afrizal, Bpk Solikhin serta Alm. Mas Bemi juga tak kalah hebatnya memberikan support baik dalam pembangunan papan panjat maupun pada saat kompetisi dilaksanakan. Tidak fair bila kami juga tak menyebutkan fihak-fihak lain yang waktu itu benar-benar terlibat membantu, Tak ketinggalan juga bantuan yang tulus para mahasiswa/i yang tergabung dalam Unit-unit kegiatan Mahasiswa yang ada seperti; Senat, Resimen Mahasiswa, Himatif, Himmif serta DKM Mesjid juga turut serta membantu berdirinya papan panjat sekaligus bergabung mensukseskan Gelaran Kpdd tersebut. Rindu juga yah Ririungan seperti ini.

Kompetisi Panjat Dinding Dewadaru II Se-Pulau Jawa
28 April – 1 Mei 2004

————Terselenggaranya Kpdd-1 dan 2,  yang akhirnya dijadikan Dewadaru menjadi niatan awal merintis program kerja berkelanjutan. Ini merupakan sebuah jawaban awal re-aktif terima kasih kami Dewadaru dengan telah berdirinya papan panjat tersebut. Hal tersebut juga sekaligus memfungsikan salah satu perannya dalam membantu promosi Kampus yang kebetulan juga pada saat itu menjadi salah satu program titpan yang diberikan kepada kami.

.

Tiba-tiba di Tebang “Si Raja Tega”

————Di penghujung tahun 2009, ketika seharusnya suasana selepas Rhamadlon Iedul Fitri itu membawa kehangatan dan silaturahmi. Bagai petir disiang bolong, Dewadaru dikejutkan dengan berita bahwa Papan Panjat ada yang membongkar. Situasi jadi tambah memanas bahwa pembongkaran ternyata dilakukan oleh lembaga sendiri yang waktu itu katanya mengatas namakan Bagian Kemahasiswaan yang baru berganti, dijabat dan dimotori Bpk. Rudi Kurniawan beserta Asisten barunya yaitu Rachmat. Sangat cepat, rapih tak berbekas dan sungguh tergesa-gesa. Tanpa ada pemberitahuan dan konfirmasi sedikitpun. Kami sangat berterimakasih kepada Iman “Badjra” Robiansyah (D-105-LA) dengan sigapnya mengambil beberapa tindakan setelah mengetahui keterperanjatannya itu dan sadar bahwa Climbing Wall memang benar-benar nyata dan telah tiada.

Iman “Badjra” Robiansyah

————Menurutnya, ketika sore itu dia mendatangi kampus seperti sore-sore biasanya, Iman yang memang pada saat itu masih berstatus AMD (Anggota Muda Dewadaru) dan masih aktif kuliah adalah jebolan terakhir Diklatsar XIII. Ketika dia beristirahat duduk termenung didepan halaman kampus depan untuk sekedar ngopi sebelum dia mendatangi Basecamp di belakang awalnya biasa saja. Tapi menurutnya koq ada yang aneh yah dengan situasi lengang dihadapannya. Tiba-tiba benar saja, menurutnya dia benar-benar terperanjat dengan apa yang dia lihat didepan matanya. Papan Panjat lenyap! Bagai ditelan bumi seperti sebuah kerjaan ilusionist, tidak ada sisa sedikitpun, professional, rapih tak berbekas. Terang saja Iman kala itu kalang kabut, pikirannya bercampur aduk ada apa gerangan serta bagaimana dia harus menkonfirmasikan kejadian yang baru saja diliatnya ke Rekan-rekan Dewadaru lainnya. Sempat dia menanyakan ke beberapa orang yang ada disana; satpam, pegawai kampus, pedagang yang mangkal disana, jawabannya seragam. Tidak tahu dan ini urusan lembaga katanya. Makin dibuat pusing saja Iman. Tak lama kemudian lanjutnya, dia secepatnya menghubungi para senior melalui handphonenya untuk segera datang dan menindak lanjuti temuannya itu.

Rachmat Cavalera

————Kesimpulan awal waktu itu, ini memang sengaja dirubuhkan. Siapa pelaku perubuhan?, jelas lembaga. Siapa orang yang paling sentral?  info mengerucut pada Pak Rudi dan Rahmat dan pertanyaan yang paling mendasar dan merasa dipermainkan, koq tidak ada pemberitahuan yah ke Dewadaru? . Beredar khabar dari Rachmat dan ini membuat berang Iman yaitu pengakuan Rachmat yang merasa telah menyampaikan pemberitahuan itu kepada Iman. Padahal waktu itu diakui Iman ia tengah mengikuti sekolah Panjat Tebing Skyger di Citatah. Yang lucunya, pengakuan ini terus dipertahankan Rudi sampai dengan saat ini kasus diangkat lagi di media sosial, bahwa surat pemberitahuan telah disampaikan kepada Iman yang saat itu tengah menjabat Ketua DP. Sehingga perubuhan menurutnya sah dan telah diketahui. Kenyataannya ini Bohong besar. Catatan saya, Waktu itu Iman masih sebagai AMD, dan tidaklah mungkin AMD menjadi Ketua DP, sedangkan Ketua DP XVII yang sebenarnya pada saat itu adalah Tommy Wijaya (D-095-WH). Iman sendiri baru menjadi Ketua di tahun 2011/2012 ketika dia diberikan tugas melanjutkan DP XVII estapet dari Kang Aditya (D-003-PRS). yang pada saat itu diberikan tugas mengambil alih dari kevacuman panjang  kepemimpinan Tommy yang telah menamatkan  kuliahnya dan pulang ke Pagar Alam, Palembang.

Nanang Nugraha

————Seperti ingin menguatkan keabsahannya, Rahmat kembali memiliki alasan lainnya, Menurut Iman, katanya waktu itu pembongakaran telah diketahui Oleh Nanang Nugraha (D-096-WH) yang berada ditempat pada saat papan panjat dirubuhkan. Lucunya, menurut Iman, ketika dikonfirmasi ke Nanang, Ia memang sesaat berada disana. Nanang mengakui ia sempat ditanya bahwa rangka papan panjat hendak dibongkar,  “sok we dibongkar mah ..” tapi ketika Iman menanyakan kembali kenapa Nanang tidak mencegah, bertanya atau melakukan tindakan apa-apa, Nanang yang katanya waktu itu ia tergesa-gesa hendak mudik, baru tahu dan sadar setelahnya. Ternyata dugaannya benar bahwa itu benar-benar di lenyapkan. “da sugan urangmah rek di benerkeun, di alusan deui ..”. lanjut Nanang yang kecewa juga pada saat itu. Dari Nanang kita tahu persis bahwa proses pembongkaran benar-benar cepat, tidak dibuka secara perlahan mur dan bautnya satu persatu, tetapi di potong “sadis” menggunakan las listrik.

————Rachmat memang sempat di Soft Screening oleh Dewadaru meminta penjelasan pasti tentang alasan-alasan tersebut. Karena tersudut, beberapa pengakuan sebenarnya memang terucap dan itu akan kami jadikan agenda. Kami sendiri menyadari, Rachmat walaupun sebagai eksekutor  lapangannya, kondisi jabatannya dilembaga sebagai stafnya Rudi untuk menjalankan tugas atasannya waktu itu memang jadi dilema untuk dilaksanakan seperti yang diakuinya, apalagi promosi jabatan tersebut baru dia dapatkan belum lama, sedangkan kedekatan dengan anak-anak Dewadaru sudah terjalin lama semenjak menjabat Satpam sebelumnya. Dari Rahmat lah kita mengetahui persis bahwa rangka besi papan panjat itu dijual secara loak di Jalan Bogor tak jauh dari kampus, hanya dihargai Rp. 1.500.000,- (Satu juta Lima Ratus Ribu Rupiah saja). Dan uang sebesar itu katanya untuk menutupi/dibagikan sebagai THR (Tunjangan Hari Raya) karyawan bagian Satpam, Cleaning service dan bagian umum. Menurut Iman dan anggota Dewadaru yang hadir, Rachmat sendiri meminta agar info ini minta dirahasiakan.

Jalan Bogor, Bandung. Habis sudah semuanya disini.

————Pengakuan Rachmat tersebut juga di iyakan Kang Aditya (PRS) ketika saya meminta klarifikasi pernyataan Iman tersebut. tetapi anehnya ketika saya konfirmasi dan bertemu Rachmat kemarin untuk menanyakan kembali permasalahan tersebut pada saat itu, Justru jawabannya diplomatis. Rachmat tidak tahu menahu soal pembongkaran, tahunya sudah dibongkar, tidak pernah tahu besi itu di jual. Ketika saya konfirmasi ke Iman jawaban-jawaban Rachmat tersebut, “Wah, itu semua bohong besar Kang, mulai mengelak lagi dia..”. katanya dan Iman siap dikonfrontir guna mempertanggung jawabkan pernyataan semuanya itu.

Denny “Platt” Setiawan

————Akhirnya pada hari Kamis, 10 September 2009, waktu itu sekitar pukul 15.00 hingga 17.00 Wib, diselenggarakanlah pertemuan antara Dewadaru dengan Lembaga. Kondisi memang sudah memanas. Beberapa anggota Dewadaru sudah tidak bisa menjaga emosinya, Denny “Platt” Setiawan (D-036-PB) sempat menggedor-gedor ruang lembaga diatas minta klarifikasi. Di pertemuan, Kang Aditya PRS juga sempat menggebrak meja dengan jawaban plinta-plitut lembaga, walau akhirnya kang Adtya sendiri bisa meredam rencana seluruh anggota Dewadaru yang pada saat itu berencana akan mengadakan Demo besar-besaran. “Akan terlihat tidak baik buat nama baik kampus” katanya ketika saya klarifikasi persoalan rencana demo tersebut. Rapat saat itu dari Dewadaru diwakili oleh : Adtya PRS, Agus Swak Widiana, Denny Platt, Ira HK (Afdirawati), Tommy Wijaya dan Iman “Badjra”. Sedangkan dari lembaga terlihat Pak Rudi Kurniawan (WK-3) dan staffnya Rachmat, Mas Solikin WS (WK-1) dan Ibu Lilis Diana (WK-2/Bag. Keuangan).

————Dari Dokumen Notulensi pertemuan tersebut, serta Dokumen pemberitahuan awal tentang rencana pembongkaran Wall Climbing yang didapat penulis dari Pak Rudi. (Sayangnya Dokumen ini tidak pernah sampai dan di terima Dewadaru. tidak diketahui keberadaan Aslinya yang semestinya ada stempel dan tandatangan yang berwenang. Yang penulis terima hanya soft copynya berbentuk Pdf). Surat dari WK3 (Pak Rudi) yang bernomor: STMIK/090812/12-1/WK3, bertanggal 12 Agustus 2009, yang ditujukan kepada Ketua Dewadaru perihal Pembongkaran Wall Climbing, telah disepakati atas dasar hasil rapat dengan Pimpinan dan Bagian Umum yang memutuskan untuk membongkar fasilitas kegiatan mahasiswa yaitu Wall Climbing yang ada di halaman kampus STMIK ”Amik Bandung”, dengan alasan diantaranya :

  1. Sejak  Tahun  Akademik  2005/2006  s.d.  2008/2009  (selama tiga tahun)  Dewan Kepengurusan UKM Dewadaru dan kegiatan sudah non-aktif.
  2. Tidak ada pemanfaatan dan pemeliharaan terhadap Wall Climbing tersebut.
  3. Secara fisik telah terjadi kerusakan-kerusakan pada tali penyangga (bagian-bagian yang  terputus) dan  pondasi/ konstruksinya sehingga  menimbulkan kekhawatiran akan rubuh (dapat menimbulkan kecelakaan).
  4. Pelaksanaan pembongkaran direncanakan minggu ke empat bulan Agustus 2009.

————Terang saja Dewadaru, terutama yang hadir pada saat pertemuan itu dibuat berang dengan alasan-alasan Lembaga (WK3) itu. Selain surat pemberitahuannya tidak pernah kami terima, selalu berbelit-belit alasan yang dikemukakannya. Lihat saja dari salah menafsirkan ketua Dp yang sedang menjabat, sudah dikonfirmasikan ke anggota langsung katanya, malahan terakhir ketika kemarin saya coba konfirm lagi ke Rudi kenapa surat itu tidak disampaikan dengan enteng beliau menjawab “Kalaupun tidak tahu barangkali kurang koordinasi saja..”. yang menggelikan lagi pernyataan berbeda Rachmat ketika kemarin saya konfirmasi, waktu itu surat pemberitahuannya katanya sudah dia pegang, belum sempat dia berikan ke Dewadaru, Papan sudah ada yang merubuhkan, dia sendiri tidak tahu siapa yang merubuhkan apa lagi menjualnya. Pak Rudi dengan staffnya dulu dan kini saja saja berbeda. Sekali lagi ini kan menggelikan. Padahal Ketika selesai pertemuan dengan lembaga tahun 2009 waktu itu, karena penasaran dengan jawaban lembaga, kami sengaja memanggil Rachmat secara pribadi untuk dimintai pertanggung jawabannya khusus didepan Dewadaru. Tidak bisa mengelak, karena didesak terus akhirnya Rachmat mengakui banyak hal yang diluar dugaan kami. Itulah hasil dari Soft Screening diatas tadi.

Agus “Swak “ Widiana

————Tidak semua anggota Dewadaru memang senada, Agus  “Swak “ Widiana (D-011-KL) mencoba bijak, dengan perspektif yang berbeda menanggapi hal ini dan tentu ini sah saja, menurutnya, “ ..yang jelas saya ada disana bersama Kang Aditya (Prs)…nah pada intinya Dewadaru tidak setuju dengan pembongkaran itu, Dewadaru hanya mencari penjelasan yang sejelas-jelasnya dari lembaga. Jawaban yang didapat hanya menghindari dari terjadinya kecelakaan (bisi runtuh mendadak) karena pada saat itupun cuaca Bandung memang sedang hujan dan angin. Berita disana sini terjadi banyak kecelakaan runtuhnya pohon pohon besar. Kedua lembaga merasa bangunan itu sudah terlalu tua (besinya sudah berkarat). Ketiga, tidak adanya aktifitas penggunaan papan panjat tersebut itu saja. Barangkali kita bisa menyikapinya dengan bahasa yang lugas karena menurut saya walau itu digunakan oleh Dewadaru tapi kepemilikan barang itu adalah lembaga. Versi-versi yang berkembang di kalangan barudak bahwa kekuatan besi dan cor itu untuk gedung 5 tingkat saya nggak tahu dari mana alat ukurnya, intinya seperti itu. Boleh dikatakan uang hasil penjualannya pun Dewadaru tidak tahu karena mutlak milik lembaga, apakah lembaga ini akan mengganti yang baru atawa tidak saya pun tidak tahu.  Salahnya  Dewadaru tidak ada perjanjian hitam diatas putih bahwa papan panjat ini mutlak 100 persen milik Dewadaru, jadi secara hukum tetep aja kita lemah ..” . Saya sendiri kaget dengan pernyataannya ini, tapi setiap orang tentu punya pendapatnya sendiri dan ini yang menjadi bahan perenungan lainnya. Apakah Agus Swak ini benar atau malah sebaliknya, terburu-buru menyimpulkan karena kurang data, atau ada hal lain. Saya mencoba hati-hati untuk lebih jauh lagi mendalaminya. Hal ini juga perlu disampaikan dalam tulisan ini, adanya perbedaan pendapat dalam mensikapi dikalangan intern juga ada walau prosentasinya sangat sedikit.

Aditya Kusuma Zamzami

————Hasil pertemuan tersebut, dari pengakuan para peserta yang hadir dari Dewadaru sangatlah mengecewakan. Betapa tidak, posisi lembaga yang diwakili WK-3 waktu itu lebih banyak prosedural, pasang badan dengan berkali-kali meminta maaf tanpa punya solusi konkret.  Apalagi ketika diminta kembali wall climbing itu dibangun, beribu alasan muncul yang ujungnya karena kesulitan dana yang dihadapi institusi saat itu dan pokoknya itu yang harus dipahami. Kami pikir Lembaga saat itu betul-betul “parah” kalau tidak mau dibilang “chicken” dengan tindakannya. “Kunaon atuh naha pake di tuar sagala ..”, Masa tidak pernah terpikir sedikitpun sebelumnya dengan  orang-orang terhormat yang kita percayakan mengelola lembaga ini, orang-orang pendidik yang berbasis intelektual, pemikir mengambil tindakan arogan, bila nanti efeknya akan seperti ini. Seperti si “Raja Tega” yang tak pernah berpikir panjang, kurang berlatih respect kebawah, apalagi empati atas kegundahan dan emosi reaktif yang Dewadaru ungkapkan. Atau barangkali karena pengelolanya punya style seperti ini imbasnya Keberadaan Kampus yang kita cintai ini ya seperti yang kita lihat selama ini.

————Kang Aditya Kusuma Zamzami (D-003-PRS) sendiri terakhir mengeluarkan pernyataan pedasnya atas kekesalan dan kelambanannya terhadap lembaga yang terlalu banyak diplomasi. “..Pak Rudi Kurniawan dan Mas Bambang Eko Putranto  terlalu banyak diplomasi.. Anda tidak membawa Almamater kami kearah yang lebih baik Pak.. dan saya tau jawaban Anda.. Yayasan Widya Cakra Pinayungan tidak mendukung dan mensupport STMIK “Amik Bandung” .. Insya Allah kami alumni AMIK dan STMIK AMIK BAndung akan berkumpul di tahun ini Pak.. Kami akan lakukan sesuatu Untuk Almamater kami yang dikelola dengan cara yang salah.. Terbukti dari tahun 1983 – 2014 Kampusnya tetap menyewa.. UNIKOM yang berdiri tahun 1990 an saja sudah sedemikian luar biasanya…” . Tulisnya di media sosial kemarin.

.

Menghapus Jejak dan Gosip Likuidasi Dewadaru

————Sedari awal, ganjil dan aneh menyelimuti tindakan lembaga terhadap Dewadaru terutama dalam kasus melenyapkan papan panjat ini. Kalau mau jeli, paling sederhana menyoal timing pembongkaran yang tergesa-gesa serta surat pemberitahuan ke kami yang tidak ada (tidak sampai). Dugaan kuat seolah-olah ini memang seperti memanfaatkan kelengahan Dewadaru. Dibongkar ketika anggotanya benar-benar tidak ada. Lihat waktu pembongkarannya, dilaksanakan pada saat bulan puasa menjelang hari raya Iedul fitri. saat dimana anggota sudah pada mudik kekampungnya masing-masing. Ya sudah pasti kalau ada surat pemberitahuanpun susah mencari anggota untuk dikonfirmasi karena saat itu sudah libur iedul fitri. Jangan-jangan surat itu ada hanya rekayasa saja.

————Padahal kalau memang niat tulus ingin mengkonfirmasi masalah yang “bakal piributeun” ini, Banyak cara bisa ditempuh dan mudah saja bagi lembaga untuk menyuruh pembantu-pembantunya misal satpam atau pegawai dibawah yang selama ini lebih dekat dengan anak-anak Dewadaru. Yakin mereka akan bisa ditemui. Toh alamat serta no Hp anggota mudah didapat. Baik seniornya maupun juniornya. Bahkan beberapa anggota, alamatnya tak lebih dari satu kilometer dari kampus dan mudah dijangkau. Tidak main kucing-kucingan membongkar agar tidak ketahuan, walaupun akhirnya kecele, kepergok anggota juga saat pembongkaran berlangsung. Belum lagi pengakuan Rudi bahwa surat sudah sampai dan telah diketahui DP walau tidak ada tanggapan. Menyebutkan Nama Ketua DP yang sedang menjabat saat itu saja salah. Jelas surat itu tak pernah ada. Keliatan banget nggak gaulnya. Karena jarang silaturahmi, dan ngobrol kebawahnya terlebih singgah ke Basecamp Dewadaru. Padahal Pak Rudi ini bekas mahasiswa kampus kita, katanya aktifis juga, mestinya tahu persis dong nilai-nilai solidaritas apalagi esprit de corps dan militansi sebuah organisasi yang semasa mahasiswa dia alami, dikampus ini lagi.

————Tarik lagi ke belakang sebelumnya, soal yang katanya ada rapat pimpinan dan bagian umum yang telah sepakat membongkar (?) dengan tiga alasan seperti yang telah disebut diatas. Apalagi rencana itu sudah lama dibahas. Saya sempat menanyakan sebenarnya siapa yang pertama kali punya ide “briliant” gila ini. Walau sulit juga menemukan inisiator ini. Menurut Rudi lembaga sekarang pimpinanya kolektif kolegial, wah kaya KPK aja. Tapi nyatanya, ketika permasalahan ini memanas lagi. Pimpinan tertingginya koq diam saja. Rudi benar-benar pasang badan dengan semuanya. Dari konstruksi permasalahannya serta agak sensitif, semestinya jauh sebelum niatan itu muncul, organisasi sebesar kampus ini punya tatakrama musyawarah terlebih dahulu. Apalagi ini menyangkut unit-unit kegiatan mahasiswa dibawahnya terlebih kepada Dewadaru yang merupakan organisasi tertua. Kalaupun ingin melangkahi dan tidak hormat ke Senat sebelumnya. Apalagi soal perubuhan climbing wall, sensitifitasnya bisa melebar dan tentu berkait dengan perjuangan para perintis dan pencetus awal dan jerih payah mereka yang membangun yang berasal dari lembaga sebelumnya. Bukannya menghargai tapi malah begitu semangatnya menghapus keberhasilan jejak-jejak perjuangan pendirinya.

————Afrizal sendiri sangat kecewa sekali ketika dimintai pendapatnya tentang pembongkaran ini, dia bercerita banyak bagaimana perjuangannya bersama Alm. Bemi, pimpinan lembaga, Dewadaru serta unit-unit kegiatan mahasiswa hingga bisa berdiri jadi kebanggan bersama. Beliau sendiri meminta agar tidak usah di publish statement-nya, hanya menyayangkan saja kalau alasan-alasan itu jadi penyebabnya. Padahal hal itu tidak harus terjadi, masih bisa di “dudukkan” bersama katanya sebelumnya, dan itu mudah katanya, kalau mau.

Pelaksanaan Kpdd-1

————Kalau yang dikatakan Lembaga dan menjadi salah satu alasan lain perubuhan waktu itu menyebutkan (seperti yang di emailkan ke penulis dokumentasi Pdfnya) bahwa Dewadaru mengalami kevakuman antara periode akademik 2005/2006 sampai dengan 2008/2009, Saya memastikan itu tidaklah benar. Didalam rekam jejak yang penulis miliki, Hanya antara periode 2004 Akhir  sampai dengan Rhamadhon (Bulan Oktober) 2006 saja memang diakui Dewadaru mengalami stagnasi bukan Vakum  Padahal sebelumnya di tahun 2004, beberapa kegiatan besar sempat terselenggara. Diantaranya Kpdd-2 yang berbarengan dengan Ekspedisi pendataan dan pembuatan film dokumenter Semeru. Climbing Wall yang sempat direnovasi pada tahun ini dalam rangka mempersiapkan kompetisi tersebut. Penggantian papan yang lebih baru serta membenahi rangka keseluruhan beserta pengamannya. (Video Dokumentasi nya kebetulan lengkap mengenai hal itu) Malahan sebelumnya di awal tahun yang sama kami telah selesai menyelenggarakan Diklatsar ke-13 yang menghasilkan angkatan Lawang Angin (LA) sejumlah 5 (Lima) Anggota Muda Dewadaru.

————Baru setelah itu memang antara awal tahun 2005 sampai dengan Oktober 2006, (Periode DP XVI, Denie Dombleh) Dewadaru benar-benar berada pada titik jenuh. Para anggota kami yang lebih banyak didominasi putra-putra daerah telah menamatkan kuliahnya pulang kekampungnya masing-masing. Terjadinya migrasi dan ditariknya beberapa anggota Dewadaru ke Bogor untuk bekerja, menjadi penyebab juga salah satu yang menjadi kevacuman itu. Padahal mereka sebagian besar adalah anggota potensial dan masih berstatus Mahasiswa. Beberapa anggota memang sibuk menyelamatkan diri ekonominya masing-masing. Ada yang mulai bekerja diperusahaan atau mencoba memulai bisnisnya. Walaupun satu dua anggota yang bertahan masih sempat menyambangi Basecamp yang kala itu memang berdebu dan selalu terkunci rapat. Tidak hanya kami sebenarnya, hampir semua unit kegiatan Mahasiswa yang ada dilingkungan kampus juga mengalami hal yang serupa. Ini barangkali imbas dari kampus juga yang secara perlahan mengalami penurunan. Jumlah mahasiswa baru (regular) yang terus berkurang tentu mengakibatkan denyut organisasi UKM nyaris terhenti. Apalagi kampuspun waktu itu sepertinya putus asa dan kurang minat menghidupkannya. Energinya mungkin lebih besar dihabiskan kepada manajemen intern yang pada periode itu memang terdengar hiruk-pikuk juga.

Krisis Anggota

KRISIS ANGGOTA | 30 Mei 2006, Bayangkan, di periode ketiga setelah pembukaan Penerimaan Anggota Dewadaru sebelumnya tidak ada yang mendaftar , Kami sempat melakukan Penerimaan “jor-joran”, agar mahasiswa/i tertarik masuk menjadi anggota Dewadaru. walaupun upaya ini tetap Nihil. Dimana pada saat itu Lembaga ?,

————Ini yang perlu dicatat Lembaga. Selama periode 2005 hingga 2009 bukti keseriusan kami berorganisasi serta pentingnya regenerasi. Lembaga seolah menutup mata betapa begitu jatuh bangunnya kami dalam periode itu. Kami telah berupaya selama 4 (Empat) tahun tersebut diantara setiap tahunnya telah diselenggarakan Diklatsar sampai 3 (Tiga) kali. Dan ketiganya hasilnya Nihil. Saya ingat betul betapa frustasinya Bob (D-088-JC) yang pada saat itu tengah “onfire” menjabat Komandan Operasi diketiganya sampai-sampai mengalami putus asa atas kekosongan peminat pada saat itu. (tulisan tentang ini bisa dibaca dalam Bob Realistis) Pertanyaannya, dimana keperdulian Lembaga atau pejabat yang berwenangnya. Saya bertaruh, khususnya bagian kemahasiswaan pasti tidak pernah tahu kegagalan kita selama tiga kali tersebut. Lembaga hanya  pukul rata dianggap Kosong kegiatan. Lagi-lagi jangankan turun kebawah untuk silaturahmi melihat kondisi anak didiknya untuk berkomunikasi saja mereka enggan.

07 OKTOBER 2006 | Guna membenahi menumpuknya permaslahan di Dewadaru pada saat itu, Kang Ari K’Bell (D-004-PRS) berbarengan dengan buka puasa akhirnya memutuskan untuk menunjuk saya sebagai Ketua DP XVI melanjutkan kepemimpinan sebelumnya.

———–Terjadinya kekosongan Dewadaru pada saat itu serta tiba-tiba terbetik khabar bahwa Dewadaru akan di Likuidasi (Dibubarkan), dan tiba-tiba saya sendiri (Penulis) ditunjuk untuk menggantikan dan melanjutkan DP sebelumnya padahal ketua DP sebelumnya itu baru ditunjuk seminggu yang lalu menjadi Ketua DP XVI, punya cerita tersendiri. Seperti petikan tulisan saya yang menjadi Pendahuluan di Buku Ajuan Program Kerja yang dulu sempat saya bagikan ke pimpinan Lembaga serta hampir seluruh anggota Dewadaru untuk bahan presentasi saya nantinya. Kutipan adalah sebagai berikut :

“…  Yang bikin gerah juga pada saat yang sama berhembus kabar dari oknum – oknum anasir yang tidak bertanggung jawab agar diusulkan Dewadaru di likuidasi saja kalau tidak ada kegiatannya mah !. Inilah titik nadir itu barangkali, inilah puncak dari semua permasalahan  tersebut. Sangat disayangkan memang akhirnya Sdr Deni Dombleh (Mahasiswa Aktif terakhir) lengser, Kang Arie K’bell (D-004-PRS) yang memimpin rapat setelah berbuka puasa Rhamadan Oktober 2006 kemarin mengambil inisiatif atas nama forum mewakili berbagai angkatan yang hadir pada petang itu menawarkan dan melanjutkan sekaligus menunjuk penulis sebagai Ketua DP XVI. (…., saya memang akhirnya tidak punya pilihan untuk menerimanya). Anung “Anhanx” (D-037-PB) yang pada saat itu juga ditunjuk sebagai Wakil Ketua DP XVI .. …

Selepas Lebaran Oktober 2006, Diselenggarakan juga kegiatan yang tergolong meriah. Hari Ulang tahun  Dewadaru yang ke-21 (06 Nov 2006), Untuk pertama kalinya pada saat itu penyebutan D-Day diperkenalkan. Bertajuk Family Gathering (Mengikutsertakan keluarga) D-Day diselenggarakan di kampus dari mulai pagi hingga tengah malam.Lengkap  juga yang hadir pada saat itu. Lembaga, Pak Rudi,  juga sempat kami Undang. Seperti biasa mereka selalu punya alasan untuk tidak hadir di acar-acara kita.

06 November 2006 | Suasana D-Day ke 21 Dewadaru, berkali-kali lembaga tidak pernah menghadiri acara yang semestinya mereka hadiri baik sebagai ajang silaturahmi ataupun mencari solusi.

———–Urusan Dewadaru hendak di Likuidasi di tahun 2007, benar-benar membuat heboh di intern. Di awal periode ini, Saya sendiri sebagai ketua DP pada waktu itu mencoba menguak isu ini. Terjadinya pertemuan dengan lembaga yang pada saat itu dihadiri Bpk. Syaiful Djamil (Waktu itu Direktur), Bpk. Haryadi, Solikhin juga Rudi. Dari Dewadaru ada Yappi, Aditya, Arie Kbell, Nendi, Nuckie, Ira serta Tafri mewakili Alumni ingin menegaskan dan mempertanyakan isu tersebut serta melegalisasi DP XVI yang saat itu dipimpin oleh saya yang notabene bukan mahasiswa Aktif. Terang saja Lembaga secara diplomatis lagi-lagi membantah isue tersebut, katanya itu adalalah hanya kesalah pahaman saja, dari pertemuan ini akhirnya Dewadaru di ijinkan Ketua Dp-nya tetap jalan terus walau bukan mahasiswa aktif.  Tidak lama setelah itu masih di tahun yang sama, di Basecamp ada pertemuan besar lagi. Hampir seluruh Anggota Printis, Anggota Kehormatan serta para angkatan awal hadir guna membahas Buku Program Kerja DP XVI yang sebelumnya sempat dibagikan. Saya sendiri mengundang Lembaga. Lagi-lagi beliau tidak datang. Sebenarnya banyak hal-hal lainnya, bila ditulis disini

24 maret 2007

24 maret 2007 | Pertemuan dengan lembaga membahas isue likuidasi Dewadaru, serta legalisasi Ketua DP Non Mahasiswa Aktif, hingga membahas temu Besar Alumni.

———–Sudah bukan menjadi rahasia lagi di kalangan Dewadaru kalau Urusan mengundang Lembaga terutama beliau-beliau yang terhormat, selalu saja enggan menghadiri apa saja kegiatan yang Dewadaru lakukan hingga saat ini. Terutama dalam periode Bambang Eko Putranto dan Kemahasiswaannya Rudi Kurniawan ini. Beliau-beliau mestinya memberi dorongan dan semangat terutama dalam event-event tertentu yang penting paling tidak melihatkan kepeduliannya. Tapi, siap-siap saja panitia selalu menelan kekecewaan pasti bakalan tidak datang. Puncak dari segala kekesalan dan kekecewaan terhadap Lembaga dalam hal ini kepada Bpk. Direktur Bambang Eko Putranto dan Rudi adalah ketidak hadirannya ketika kita sepakat di tahun 2011 dalam penutupan Diklatsar yang ke XIII mengangkat keduanya menjadi Anggota Kehormatan (AK). Padahal undangan sudah disampaikan, acara dihadiri banyak perwakilan pencinta alam baik yang datang dari kampus maupun umum. Alasannya tidak jelas. Bahkan tidak masuk diakal. Barangkali memang tidak mau diangkat menjadi AK.

14 April 2007 | Presentasi Pembahasan Ajuan program kerja DP XVI didepan para Anggota Peritis, Anggota Kehormatan dan lainnya

———–Jadi sekali lagi, Masalahnya jadi repot kalau Phobia terhadap Dewadaru, dan selalu menutup diri terus, bila banyak fakta dikemukakan diatas tapi pada periode tersebut bahwa Dewadaru tetap dianggap vakum, bahkan mereka sendiri terlibat dalam beberapa kegiatan ini kan jadi mengada-ada hanya agar halal climbing wall bisa dirubuhkan. Terlebih isu likuidasi itu seperti ada benang merahnya dengan perubuhan Climbing wall. Padahal pada waktu itu kita sedang sama berjuang menghidupkan kampus menghidupkan organisasi guna mengharumkan nama kampus di jalur yang berbeda. Ironis.

14 April 2007 | Suasana Presentasi Pembahasan Ajuan program kerja DP XVI didepan para Anggota Perintis, Anggota Kehormatan dan angkatan lainnya, berlangsung seru, full debat dan argumentasi, tapi penuh kehangatan dan ceria

.

Mengukur Kekuatan Climbing Wall sekaligus mengukur Kekuatan alasan Lembaga

———–Dibagian awal tulisan ini, yang perlu dicermati adalah afirmasi pertama Pak Rudi ketika saya tanyakan kenapa di bongkar Cimbing wall adalah, “ini menurut pandangan awam kang ..”. Saya sebenarnya tergelitik dengan pernyataan itu. Saya (Atau kami Dewadaru) seolah sedang digiring kepada sebuah keyakinan pembenaran atas alasan kenapa climbing wall itu boleh-boleh saja di bongkar, keyakinannya ini seolah kita dipaksa untuk mengerti karena ketidak tahuan dan kepolosan pimpinan lembaga pada saat itu. Apalagi penyebab dari alasan tersebut di munculkan bersamaan dengan ketakutan lain seperti rubuh tiba-tiba, tali penyangga putus dan pondasi retak hingga konstruksi sudah miring.

———–Bagi orang awam lagi, pernyataan ini tentu bisa membuat terkesima dan cepat mengambil keputusan bahwa itu benar adanya. Tapi bagi kami, tentu ini semua pasti harus ada penjelasan ilmiahnya. Bahkan kalau boleh jujur, lembaga sekelas Kampus, intelektual serta pendidik dan pengelola manajemen sekelas Bapak Rudi beserta para pimpinan lainnya harusnya tidak gegabah dalam mengambil keputusan se-sensitif ini. Apalagi dugaan tak ilmiah itu disampaikan kepada kami Dewadaru yang paling tidak tahu banyak tentang dunianya, mainannya. Ditambah lagi alasan  lain yang hampir mirip seolah dibuat untuk pembenaran padahal hipotesanya sudah kami bantah diatas tadi.

———–Seperti yang telah dikemukakan, membangun Papan Panjat adalah membangun kredibilitas dan image pembuatnya. Profesionalisme dalam safety procedure tentu jadi  bagian didalamnya. Sungguh tidak masuk di akal ketika itu lembaga beralasan ada tali penyangga yang putus serta pondasi yang retak. Sehingga timbul kekhawatiran akan rubuh. Lalu seketika itu juga dirubuhkan. Konstruksi sebuah climbing wall tipe yang kita miliki dahulu didesign untuk bisa bertahan 15 (Lima Belas) hingga 20 (Dua Puluh) Tahun. Panel kayu yang digunakan untuk pijakan poin pemanjat yang ringan tidak begitu berpengaruh kepada beban yang diterima rangka besi. Berbeda dengan panel resin yang jadi trend sekarang ini beratnya bisa tiga atau empat kali lipat. Hal ini yang menyebabkan type ini bisa bertahan lama. Moment tumpu kekuatan sebenarnya berada pada titik pusat lebar rangka bila dilihat dari atas. Sehingga para pembangun climbing wall selalu memperhatikan lebar ini, disamping ketinggiannya. Ada rumusan pasti bila ketinggian yang akan dibangun lebar maksimalnya sudah ditentukan. Kemiringan overhang yang dimiliki setiap design bisa saja berbeda, tapi tetap center gravitasi tetap diposisi yang sama. Itupun kalau Papan panjat sering (Aktif) digunakan. Kekuatannya tentu akan terjaga justru apabila papan tidak sering dipergunakan.

———–Kedalaman Pondasi tanam memang berpengaruh pada kekuatan daya topang beban keseluruhan diatasnya. Biasanya kedalaman yang diwajibkan adalah 1 hingga 2 (Dua) meter. Ini persis seperti pondasi climbing wall yang kita miliki. Apalagi bila menggunakan sistem cakar ayam, well recommended sekali. Climbing wall bisa mempunyai kekuatan seperti gedung bertingkat lima. Sekaligus bisa menahan goncangan gempa juga angin putting beliung dibawah skala-F3. (Satuan kekuatan angin Tornado. F4 adalah satuan tertingginya). Tali penyangga (wire) yang biasanya ada di setiap konstruksi Climbing Wall sebenarnya tidak terlalu signifikan, tetapi terkadang dibentangkan hanya untuk menambah keyakinan psikologis bahwa papan panjat ini betul-betul safety dan aman bagi para pemanjat serta lingkungan sekitanrnya. Makanya tali wire hanya dipasang pada bagian belakang saja. Bila di rentangkan dimuka tentu ini akan menghambat dan mengganggu kegiatan pemanjatan. Tile wire penyangga kita semuanya berjumlah 8 (Delapan), jadi kalau tali putus satu atau dua tali, masih tidak akan berpengaruh apa-apa. Sekali lagi Cuma psikologis saja ketakutan yang muncul. Kasih tahu Dewadaru, tinggal ganti saja tali yang putus tersebut, selesai, “begitu saja kok repot…”.

14 April 2010 | Dewadaru pernah mengundang WK-3 (Bagian Kemahasiswaan), Banyak hal yang dibincangkan salah satu agenda utamanya menanyakan (Menagih) kembali perihal Climbing Wall, Jawabannya pasti sudah bisa ditebak.

———–Menyoal pemeliharaan, sebenarnya climbing wall yang kita miliki nyaris nihil, hampir tidak perlu atau dibutuhkan pemeliharaan yang rumit. Seperti tadi, kalau ada yang putus tinggal ganti, kalau ada yang berkarat, banyak cairan korosi anti karat bisa kita semprotkan sewaktu-waktu. Kalau kekuatannya ditaksir sampai dengan 15 hingga dua puluh tahun, di tahun itulah baru climbing wall harus diperhatikan walau tidak akan rubuh begitu saja. Part-part yang ada pasti life cycle used-nya sampai. Jadi kalau dibangun 2001 kemudian tahun 2009 dianggap bakal rubuh, Sudah berkarat darimana dasarnya. Jangan-jangan sekali lagi ini ini hanya ilusi yang dikarang apik. Kalaupun mau professional, sekelas lembaga tentu alasan-alasannya harus ditunjang juga oleh bukti-bukti otentik ilmiah serta didukung oleh Dokumentasi yang mumpuni. Tidak asal “ngejeplak” saja.

———–Nah, yang menjadi aneh kan di bagian ini. Bila saja lembaga tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan, mau mengadakan investigasi awal bersama atau bertanya langsung kepada kontraktor yang dahulu membangunnya, apalagi kontraktornya atas penunjukkan langsung lembaga, pasti masih ada pelaku-pelaku yang bisa diminta pertanggung jawabannya, ada banyak bahan-bahan referensi yang bisa menjadikan logis, realistis dan terukur kalaupun alasannya melulu itu yang akan dipergunakan. Jadi jangan salahkan bila ada dugaan pembongkaran ini hanya meloakkan besitua guna keperluan mendesak menutupi kekurangan THR karyawan ditingkat bawah. Faktanya, bila niatnya memang benar untuk diperbaiki, pasti climbing wall dibongkar kemudian rangka besinya disimpan mungkin di Senat atau di halaman Basecamp Dewadaru sebagai peringatan. Bukan malah cepat-cepat dijual dan dikremasi dijalan Bogor (Pusat perkulakan besi bekas di Kota Bandung), tanpa sisa sedikitpun. Seperti menghilangkan bukti bahkan sepertinya ngotot ingin menghapus jejak sejarah. Padahal kita dahulu punya climbing Wall secara fisiknya, tapi walau sederhana, itu sebenarnya sebuah Citra. Tidak banyak orang menyadarinya sekalipun sekelas lembaga.

Tommy Wijaya

———–Tulisan ini mencoba untuk mengingatkan kita, terutama para generasi muda Dewadaru nantinya. Apa yang dikatakan lembaga (Pak Rudi) bahwa masalah ini jangan sampai menimbulkan polemik kembali, jadi aneh, Eksekusinya boleh saja selesai, tapi substansinya (Watak yang sebenarnya) bagi kami ini belum selesai.  sesuatu yang masih menggantung. Bahkan “hutang” ini tetap harus diselesaikan. Bagi kami ini bukan Polemik. Semuanya bisa dijelaskan koq dalam tulisan ini. Klarifikasi ini juga sengaja dihadirkan untuk merespon lambatnya niat lembaga untuk menjawab itu semua. Dari awal kasus ini bergulir, Janji untuk membangun kembali Climbing wall yang dimotori Tommy Wijaya (D-095-WH) sudah diutarakan tahun 2009. waktu itu bertepatan dengan akan diadakannya sirkuit Kpdd-3, di Tahun 2007 , pertemuan dengan lembaga kembali dibahas, 14 April 2010 Dewadaru sempat mengundang kembali Pak Rudi untuk membahasnya, semuanya tetap hanya janji. (Dalam Artikel saya yang lain : Quo vadis, bertemunya dua asa  sempat saya tulis kronologisnya). Akhirnya tulisan ini harus diturunkan juga, anggap saja ini kekesalan saya juga yang mewakili rekan-rekan Dewadaru semuanya.

———–Tulisan ini juga untuk menyadarkan kita juga terutama para pelaku civitas akademik lainnya, yang tengah berjuang di organisasinya terutama yang bernaung di lingkungan kampus. Kejadian ini bisa saja menimpa organisasi lainnya. Kesewenangan itu harus terukur dan bertanggung jawab, tidak asal “Pokoknya”. Tidak perlu perjanjian hitam diatas putih bila etika berorganisasi dikedepankan dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Kejadian ini sekaligus juga membuktikan bahwa ketidak perdulian lembaga terhadap anak-anak asuh organisasi dibawahnya, seperti lemahnya silaturahmi, koordinasi bahkan guyub antar sesama organisasi layaknya bapak asuh jadi sekat mandeknya komunikasi dua arah. Bukannya memelihara konflik, serta mengambil keuntungannya sendiri. Kalau memang tidak mau disebutkan bahwa kampus kita salah orang yang mengurusnya. Kalau semua alasan pembongkaran Climbing wall bisa kita buktikan tidak benar, seperti mengada-ada bukankah ini semua sebuah kegiatan “Wanprestasi”. dan lembaga harus membayar “Hutang” atas keteledorannya.

———–Hikmah Momentum kebersamaan Lembaga, Senat dan Unit-unit kegiatan Mahasiswa dahulu dalam mendirikan sebuah Climbing Wall serta sukses atas gelaran Kompetisi panjat Dinding bisa jadi permodelan dalam membangun kejayaan kembali Kampus kita ini. Kenapa kita enggan saat ini menciptakan Momentum-momentum itu? (BhayoSemeroeKuwanina/D-012-KL/Cijerah/19Feb2014).█

.

 

 


Lahirnya “Go, Fight, Win” Dewadaru

.

DSC_2075-1

DOKUMENTASI & LATAR BELAKANG | Ketika semangat itu telah habis, Fisik terkuras, mentalpun turun jadi tak realistis mensikapi keadaan, Beban dipundakpun seakan bertambah dan kaki inipun seolah enggan menapaki jalan datar apalagi berliku dan mendaki. Mundur atau lanjut ?. Di saat itulah butuh sarana yang bisa membangkitkan itu semua. Lamanya hanya beberapa detik tapi dapat menyalurkan adrenalin kekepala, memenuhi rongga-rongga aliran darah serta memompa kembali otot-otot motorik kemudian menghasilkan energy bawah sadar yang sangat dahsyat akibatnya. Di awal tahun 2014 ini, walaupun Dewadaru masih menyisakan banyak pekerjaan menumpuk, tepat kiranya bila kita pompa semangat itu lagi, salah satu diantaranya dengan Yel motivasi  kita yang membahana itu. menengok kebelakang,  sembari mengingat kembali  makna dan arti sebenarnya dari : Go.., Fight.., Win..  Dewadaru!

————Go..go..go.. Go Dewadaru, fight..fight..fight .. Fight Dewadaru, Go,Fight.. Win Dewadaru..”, dibarengi dengan gerakan memalu, mengayunkan kepalan tangan keatas ataupun kedepan, tentu gerakan dan kalimat itu tidak asing lagi bagi anggota Dewadaru, terutama bagi anggota muda yang telah menyelesaikan pendidikan dan latihan dasar (Dimulai angkatan WB, Wana Bayu). Pasti masih terngiang-ngiang. Betapa tidak, hampir disetiap kesempatan para instruktur tak pernah lelah menyemangati setiap pergerakan dengan teriakan yel ini, terutama pada kondisi tertentu yang memerlukan kewaspadaan, perlunya kebersamaan terlebih bila semangat itu mengalami kemunduran. Bisa terjadi pada siswa maupun para Instruktur.  Yel motivasi ini cukup ampuh memompa kembali semangat itu.

Aditya Juni Utomo D-047-PB Ketua DP V Dewadaru

————Yel-yel motivasi sendiri berasal bahasa inggris yaitu dari kata yell yang berarti teriakan. Sedangkan motivasi berasal dari kata motivate diambil kata bendanya yang berarti pendorong. Jadi yel-yel motivasi ialah teriakan-teriakan yang tentunya harus keras yang bertujuan memberikan dorongan agar seseorang, atau bisa jadi team semangat dalam melakukan sesuatu dalam kondisi apapun. Motivasi ini merupakan motivasi ekstrinsik yang menumbuhkan semangat, minat, dan gairah untuk melakukan tindakan dari luar diri seseorang. Motivasi ini membantu menumbuhkan atau menyempurnakan rasa semangat pada diri seorang karena pada hakikatnya setiap orang mempunyai motivasi dari dalam (intrinsik). Sayangnya motivasi intrinsik itu mudah sekali hilang dikarenakan lingkungan dan teman-teman yang kurang mendukung. Dan yel-yel motivasi ini biasanya dipakai untuk memicu kembali motivasi yang hilang tersebut. Makanya yel sering dipergunakan dalam kegiatan di alam bebas,  outbound, pramuka, atau dalam suatu kompetisi.

ganis2

Kang Ganis Hargono D-004-AK saat di Tangga Seribu menuju Mt. Luxmore, New Zealand, Selandia Baru. 2013 Kemarin.

————Berdasarkan hal tersebut diatas ketika Dewadaru perlu memiliki yel tersendiri dan unik,  tentu pertama, kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepada Kang Ganis Hargono “Gago” (D-004-AK). Beliaulah orang yang pertama kali mencetuskan ide ini dan mengenalkan yel ini di Dewadaru. Terlihat juga Mas Yappie Eka Prasetya (D-003-AK) datang membantu, Pada pertengahan tahun 1992, di periode Dewan Pengurus  V (Aditya Juni Utomo/D-047-PB), terbersit ide membuat GBHD, atau Garis-garis Besar Haluan Dewadaru, Repelitanya ala Dewadaru (meniru Pelita di negeri kita waktu itu). Kita waktu itu memang tengah gemar-gemarnya rapat. Anggota yang terdiri dari berbagai angkatan (PRS,AK,KL,PB,LH dan KA) masih aktif berkumpul di sekretariat. Momen ini dimanfaatkan oleh Dewan Pengurus untuk menyelenggarakan Rapat Umum Anggota, bertepatan dalamrangka membahas GBHD tadi dan mencari bentukan program kerja serta kegiatan yang harus dimunculkan untuk mengisi GBHD.

————Meminjam ruang kelas LPS (Lembaga Pendidikan Sekretaris) yang kini LPPM, rapat digelar secara marathon dan seru. Apalagi Kang Gago untuk pertama kalinya mengenalkan kepada kami Teknik SWOT.  Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam merencanakan program-program kerja kedepan. Apalagimenarik dalam mengumpulkan ide-ide awal melakukan Brainstorming, yaitu sebuah alat bantu yang digunakan untuk mengeluarkan ide dari setiap anggota rapat dalam bentuk tim , dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Ternyata Kesuksesan Brainstorming  dan SWOT dapat terasa  dari suasana bebas tanpa kritik untuk menggali ide kreatif atau solusi alternatif yang tanpa batas. Dan bagi kami cara ini menarik karena sesuatu yang baru.

————Disetiap mengawali rapat dan disaat-saat tertentu itulah Kang Gago memimpin yel itu dan tentu  kami selalu meneriakkan dengan lantang keras memenuhi ruangan, bahkan bisa jadi terdengar sampai ke ruang kuliah. Sesekali kami disuruh bergantian memimpin yel tersebut. Dan terbukti cukup memompa semangat kami pada waktu itu.

————Menurut Kang Gago, yel serupa itu beliau dapat pada saat mengikuti Management Training di LPKIA, Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia Amerika (Kang Gago pada waktu itu memang masih bekerja di LPKIA) dan saat itu untuk memompa motivasi para peserta training trainer pun meminta untuk meneriakkan yel tersebut. Hasilnya luar biasa setelah manajemen training tersebut berakhir dan

Suasana Rapat Umum Anggota Pada saat itu (1992)

dilanjutkan dengan rapat evaluasi per-triwulan, kinerja person yang terlibat mengalami kemajuan dan peningkatan dalam menangani pekerjaannya, lanjutnya. Hasil akhir dari efektifitas yel tersebut dapat dirasakan oleh perusahaan saat akhir tahun berjalan, bahkan Peningkatan perusahaan pun  hampir 100 (seratus) prosen hasilnya. Dan ketika saya tanyakan maksudnya dikenalkan dalam rapat itu, menurutnya, dari kejadian itu maka beliau mengadopsi yel tersebut  untuk dikumandangkan. Tujuannya gak kurang dan gak lebih untuk memompa motivasi dari semua anggota yang hadir saat itu supaya dikemudian hari lebih semangat dan berprestasi di hobby yang digelutinya.————

————Mengawali tahun 2014 ini, tentunya bagi adik-adik kita dan kita semua anggota Dewadaru, dalam rangka menapak-tilasi sejarah tercetusnya yel tersebut, selain menambah pengertian dan memahaminya, tak kalah penting juga warisan paket berikutnya yaitu Analisa SWOT dengan Brainstormingnya tentu masih relevan untuk kita pergunakan dalam memecahkan sesuatu masalah kedepan ini.   mudah-mudahan ini jadi awal semangat baru dalam mensikapi dan merencanakan strategi kedepan. Apresiasi juga tentu bagi aparat DP-V dan semua anggota yang terlibat pada saat itu, walaupun GBHD nya sendiri akhirnya tetap jadi pekerjaan rumah yang masih menggantung dilangit.  Tapi seperti kata Kang Gago, pengertian sebenarnya yang ingin disampaikan dari yel itu adalah : teruslah  Maju, “Bertempurlah”  dan yakin akan kemenangan itu. Jadi… tetap semangat gank, !! Go,Fight,Win Dewadaru. (Cijerah 06/01/2014/BhayoSemeroeKuwanina/D-012-KL)  █

 


Nagara Cau

.

NAGARA CAU4

CATATAN AKHIR TAHUN 2013 DEWADARU |Kalau dulu Almarhum Harry Roesly (Seniman besar Bandung) mengibaratkan Negara ini bak Republik Funky, Idiom tersebut muncul dari keresahannya akan Kekacau-balauan dan ke-”cuek“-kan para penguasa dengan kondisi yang ada di negeri ini pada waktu itu. Barangkali cocok juga kalau saya lebih suka menggunakan istilah Nagara Cau menimpali Kang Harry untuk saat ini. Sebuah negeri  (Nagara)  yang berisi “Cacing-cacing cau” yang menjalar mulai dari akar, batang, hingga daun melahap habis isi pohon yang ada. Dalam bahasa Sunda Cacing Cau, merupakan sarkastis dari parasit Kronis yang menjalar, tak berguna dan harus disingkirkan. Sudah bisa dibayangkan siapa “Cacing-cacing cau” itu. Tapi tunggu dulu, di Dewadaru, justru nama atau Istilah ini malahan jadi penting dan sangat berperan didalam menentukan sebuah target perjalanan.

Lembang Dano/ Erick dan Anton, Team Leader Diklatsar XIII

————Pernah dengarNagara Honje”, “Nagara Djupri” atau “Nagara Konyal”?. bagi generasi Dewadaru yang baru, pasti nama ini masih terdengar asing. Dulu, ada kebiasaan dikalangan kita bahkan disebagian perhimpunan lain bila melalui dan menjumpai daerah tertentu disebuah kawasan yang memiliki vegetasi dominan misal terdapat tumbuhan yang sama, berbuah yang sama atau ada “sesuatu” yang mendominasi areal tersebut, untuk mengingatkan kembali lokasi tersebut sering kita beri nama nagara kemudian diikuti nama-nama unik setelahnya. Hal ini biasanya kita lakukan karena  dilokasi itu kita tidak tahupersis apa namanya. Jadi untuk memudahkan konfirmasi komunikasi, biasanya hanya dihapalkan tanda-tanda alam yang mudah dikenali sekaligus nama “asal” tadi. Pekerjaan ini biasanya

dilakukan team survey pendahuluan guna keperluan kegiatan selanjutnya. Celakanya akhirnya malahan nama lokasi itu terpakai dan tetap melekat hingga saat ini.

————Di hampir setiap kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar Dewadaru, ada satu etape yang selalu membuat pusing dan ketar-ketir Komandan Operasi dan team leadernya terutama dalam mensetting waktu tiba di Basecamp akhir yaitu Desa Nyalindung. Etape ini biasanya jadi tolak ukur keberhasilan banyak hal baik siswa maupun instruktur. Selain mental dan kebugaran juga skenario lapangan harus  betul-betul konsisten diterapkan. Salah sedikit saja, bisa tengah malam tiba di Basecamp Nyalindung. Banyak di beberapa Diklatsar kecolongan. Ada yang di drop sebagian menggunakan kendaraan karena batas fisik yang limit se

Eman Soedarman (D-107-BW) Ketua DP-XVIII Dewadaru

habis digenjot sebelumnya, bahkan ada yang bermalam di etape ini hingga memundurkan waktu pelaksanaan diklatsar secara keseluruhan. Dititik inilah Nagara Cau jadi sangat berperan dalam membantu dan memecahkan masalah itu.

————Nagara Cau merupakan nama tempat, tepatnya lembahan, yang dahulu banyak ditumbuhi pepohonan pisang. sebuah lintasan potong kompas yang berlokasi tidak jauh setelah melewati  Lembang Dano dan desa cipada, selepas perkebunan teh pangheotan. Jalur ini sangatlah efektif digunakan karena bisa memangkas banyak waktu tempuh ketimbang harus melingkar mengikuti jalan normal menuju Desa Nyalindung (Burangrang). Sayangnya sangat sedikit personil Dewadaru yang hapal jalur ini. Lintasan ini memang bukan rute wajib Diklatsar, sehingga kepopulerannya jarang terdengar.

Dewadaru Terkunci

————Menutup tahun 2013 ini, melihat banyak persoalan yang ada di perhimpunan saat ini, kita seolah diingatkan  kembali akan makna dari peran Nagara Cau diatas. Lihat saja saat ini yang berperan penting dalam sebuah organisasi missal:  keanggotaan, program yang dimiliki Dewan pengurus, prestasi yang telah dihasilkan, aturan main yang jelas, kesekretariatan yang amburadul serta dukungan lembaga kampus seolah-olah saling mengunci tak bisa dikutak-katik. Masing-masing tak bisa bergerak saling menunggu. Bisa jadi takut salah, atau memang inisiatif jadi barang langka di organisasi. Apalagi kalau bicara loyalitas dan konsistensi masih terbatas pada ke “aku” an saja belum merambah pada tindakan nyata. Lebih jauh lagi bila melihat Dewadaru sebagai organisasi yang spesialisasinya Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, rasanya sulit sekali saat ini merepresentasikannya terutama menumbuhkan ketertarikan jadi kegiatan tambahan bahkan memunculkan minat jadi hobi dikalangan mahasiswa terutama mahasiswa baru yang nantinya bakal dijadikan sasaran untuk bergabung menjadi anggota Dewadaru.

Aditya Z Kusuma

————Awalnya Dewadaru menaruh harapan besar di 3 (Tiga) angkatan terakhir yaitu Jagad Kilat (JK), Bayu Windu (BW) dan terakhir Giri Purnama (GP). 3 tahun berturut-turut kita berhasil melaksanakan rekruitmen anggota baru tanpa jeda, dan ini prestasi lho, karena jarang Diklatsar bisa serapat ini dan menghasilkan anggota baru yang cukup lumayan. Sekitar 16 (enam belas) orang anggota yang betul-betul fresh meramaikan sekretariat. Walaupun diakui perjuangan untuk menghasilkan tiga angkatan tersebut diawali dengan kevakuman yang panjang dan perjuangan rekan-rekan anggota baik didalam maupun diluar Bandung bahu membahu membantu baik moril dan dukungan dananya. Tapi entah kenapa, 3 tahun beselang hingga saat ini, energi persoalan yang muncul hanya berkutat di pengambilan nomor pokok saja.

————Walhasil, sampai dengan saat ini dari ke 16 orang tadi yang berhasil memiliki NRP (nomor Pokok) hanya setengahnya, setengahnya lagi pasrah tetap menjadi AMD (Anggota Muda Dewadaru). Dari yang setengah tersebut mengerucut lagi yang benar-benar aktif cuma tinggal setengahnya walau dari yang setengah ini patut diacungi jempol, disela-sela Tugas Akhirnya katanya sedang kompak-kompaknya kembali mengurus Dewadaru.  Sebagian lainnya memilih bekerja karena satu dan lain hal. Persoalan baru muncul, Ketua Dewan Pengurus XVIII kita (Eman Sudarman/D-107-BW) saat ini sudah bukan mahasiswa lagi, ketika saya konfirmasi ke beliau membenarkan hal itu. Tanpa memberitahukan alasan yang jelas, hal ini pasti menimbulkan kendala terutama masalah adminstrasi dan legalitas dari lembaga yang bersifat urgent.  Tentu ini harus diambil tindakan cepat guna mengatasi hal tersebut. Apalagi menurutnya Maret ini akan di gelar Diklatsar XVI.

Anung S Nugraha

————Disela-sela Open House saya sempat berbincang dengan Kang Aditya (D-003-PRS), meminta pendapatnya melihat situasi saat ini, Ketika saya tanyakan ke Kang Aditya, peranan lembaga dan haruskah berembug lagi dengan kampus, Jawabannya meyakinkan saya untuk tidak sementara ini, (mungkin tidak penting lagi peranan kita dimata mereka) seperti diakuinya, Dewadaru saat ini memang sangat berbeda. Angkatan lama terlalu memberi limit yang tinggi untuk standar diberbagai bidang hingga menimbulkan keengganan bahkan ketakutan untuk melakukan sesuatu walau itu sederhana. Sehingga terkadang bagi senior yang datang ke Basecamp  bisa salah menindak kalau rate-nya masih berpijak ke yang dulu. Yang ada malah kedatangan senior bukannya dijadikan ajang untuk bertanya, tapi sebaliknya malah menghindar. Atau bisa jadi ada sesuatu yang salah dalam proses rekruitmen mereka kemarin sampai-sampai Anung S Nugraha (D-037-PB) mungkin sedikit bercanda mengeluarkan statemen dan ini diungkapkan dihadapan para anggota baru kemarin, bahwa Dewadaru ini seolah telah membeli mereka seharga Rp. 40 juta, (Ini kalkulasi dari biaya 3 diklatsar yang telah dikeluarkan kemarin) tapi hanya membuahkan hasil seperti ini. Kegeraman Anung bisa jadi muncul karena  tidak kompaknya mereka selama ini serta kekecewaannya atas penyelenggaraan Donor darah dikampus kemarin yang tidak seperti Dewadaru lakukan sebelumnya ditambah kegiatan Dies Natalis 27 kemarin. Apakah karena subsidi yang dikeluarkan terlalu besar untuk mendanai seorang siswa ataukah proses diklatsarnya yang salah, hingga ke masa bakti AMD yang seadanya lanjut Anung, saya hanya diam agak setuju. Kalau ada Diklatsar lagi sepertinya Anunglah orang pertama yang tidak setuju ada subsidi untuk keperluan siswa.

Iman Badjra R

————Berbeda dengan Iman Robiansyah (D-105-LA) yang saat ini ikut terlibat di DPnya Emon,  saya juga sempat berbincang, Justru dari pihak DP XVIII katanya ingin mengadakan lokakarya anggota untuk mencari titik permasalahan dan menyamakan visi kedepannya, walau saya menyarankan kalaupun ada bahan-bahannya harus dipersiapkan dengan matang, sehingga Lokakaryanya punya acuan yang mau dibahasnya. Yang paling mendekati, saya menyarankan agar bahan dasarnya adalah AD/ART kita. Kalau kita mau meneliti kembali. Hampir semua sudah ada di dalammnya hanya mungkin bahasanya umum. Karena kelemahan AD/ART kita belum memiliki penjelasan pasal demi pasal sertatambahan  petunjuk dan pelaksanaan sebuah kegiatan. Agenda itulah yang bisa memudahkan Pleno membahas topik – topik yang sudah sistematis terstruktur. Bahkan bisa jadi legalitas sebuah aturan bisa didapat dilokakarya tersebut. Termasuk Diklatsar yang akan dijalankan sebentar lagi ini. Iman agak rada terbuka sepertinya dengan masukan ini.  Atau tambah pusing ..

Butuh ShortCut

————keinginan untuk mendapatkan masukan dan saran-saran dari anggota lain pernah saya kemukakan, kebetulan di Group Dewadaru Blackberry Messenger yang berisi 30 anggota senior yang aktif setiap hari chatting sama sekali tidak direspon (meureun acan). Tapi setidaknya pendapat Kang Aditya, Anung, Iman bisa mewakili sebegitu kompleksnya permasalahan yang ada di Dewadaru. Dan pasti

Bob, Hana (Leader), saat memasuki Nagara Cau

membutuhkan rally-rally panjang dan marathon untuk membahas dan mencari solusinya. Teringat akan Nagara Cau diatas, Bila ada jalan pintas untuk mengatasi semua ini kenapa tidak kita menggunakan jalan lain. Cara dan ide cerdas yang merupakan buah pemikiran tepat sasaran. Belum terbayangkan memang cara seperti apa yang harus dimunculkan untuk membenahi permasalahan terutama yang sudah menumpuk di akhir tahun 2013 ini.

————Di pendidikan dan latihan dasar Giri Purnama (2013) kemarin, saya dan Bob (D-088-JC) dengan seijin DanOp sengaja membawa siswa melintas kembali Nagara Cau untuk sekedar mengingatkan jalur yang selama ini jarang terlewati. Kebetulan didalam Team Leader terdapat anak Jagad Kilat, Bayu Windu sekaligus Giri Purnama yang pada waktu itu menjadi siswa. Ketika saya tanyakan kepada Bob (Karena Bob lah satu-satunya yang masih hapal jalur ini), “naha apal keneh Bob jalurna ..”, Bob menjawab “gampang kang, tuturkeun we tiang kabel PLN, eta nu mawa jalur ka Nyalidung ..”.  dan ternyata benar walau kondisi medan naik turun lembah tapi akhirnya kami tiba di Nyalindung tepat waktu,.

————Nagara Cau merupakan shortcut, jalan pintas dan tiang kabel PLN jadi guidline, petunjuk arah agar tidak salah melangkah. Dewadaru butuh “Nagara Cau” , jalan pintas yang dapat mengakali Organisasi Dewadaru berfungsi seperti sediakala dan tentu agar tidak menyimpang dari misi awal Penempuh Rimba dan Pendaki Gunungnya perlu diperhatikan juga “tiang kabel Pln”nya. Bisa jadi AD/ART yang kita miliki merupakan petunjuk sistematis darimana hingga kemana arah dari perbaikan tersebut.  2014 tetap optimis, mudah-mudahan. Amin . (Cijerah 02Jan2014| BhayoSemerOe |D-012-KL). █

 


Mengenang Sembilan Tahun Duka Aceh

.

Tommy Wijaya (D-095-WH), Bob Buchori (D-088-JC), Dedy Oded (D-098-ER)

RELAWAN DEWADARU UNTUK TSUNAMI ACEH | Sebegitu dahsyat- nya Tsunami yang menimpa Banda Aceh (26 Des 2004), bencana ini seolah serentak jadi kepedulian nasional. Tak terkecuali perorangan, seluruh lembaga pendidikan, Organisasi kepencinta alaman, dan lainnya menyuarakan bantuan dengan caranya masing-masing. Begitu juga dengan Kami Dewadaru yang mendapat dukungan penuh dari fihak kampus STMIK Amik Bandung beserta civitas akademik, bersama-sama menggalang dana sekuatnya guna meringankan beban masyarakat Aceh pada waktu itu. Tidak hanya itu, Dewadarupun mengirimkan Personel Relawannya yang siap diterjunkan  dilapangan.

———-Atas inisiatif An Hank Nugraha, beberapa anggota Dewadaru dibantu mahasiswa melakukan penggalangan dana langsung yang digelar dengan membuka lapak mencegat para pengendara mobil dan sepeda motor di Jalan Jakarta tepat didepan kampus kami. Menggunakan pengeras suara pinjaman kampus serta famplet seadanya. Seperti dapat diduga, antusiasme dan pembe

(Anung / D-037-PB)

rian donasi para pengendara cukup sangat mengharukan hingga terkumpul dana yang jumlahnya tidaklah sedikit. Setelah beberapa hari berlangsung dan dirasakan cukup, kemudian dana tesebut kami teruskan kepada lembaga yang berwenang langsung menyalurkan ketujuan.

———-Demi kemanusiaan Dewadaru juga mengirimkan 4 (Empat) personelnya yang siap membantu dan langsung diterjunkan dilapangan, keempatnya diantaranya: Bob Buchori (D-088-JC), Tommy Wijaya (D-095-WH), Dedy Oded (D-098-ER) serta satu orang mahasiswa perwakilan Senat yaitu Apik. Kumpul disekretariat bersama sama dengan pencinta alam yang lainnya atas nama KBPA (Keluarga Besar Pencinta Alam) Bandung Raya yang pada waktu itu dikoordinatori MAPALIGI UNIKOM berangkat menuju pos pemberangkatan di Kota Tangerang. Setelah Istirahat sambil menyiapkan segala sesuatunya, team kemudian diberangkatkan menuju kota Medan menggunakan Bus. Dana dan keperluan logistic dilapangan seluruhnya ditanggung oleh PANEKO (Ikatan Dokter dari Swiss). Bahkan setiap relawan diberikan uang saku sebesar Rp. 600 Ribu.

———-Hampir satu minggu perjalanan team akhirnya tiba di Medan, tanpa basa-basi langsung diterjunkan ketempat bencana langsung. Di kota Meulaboh, Aceh barat, team ditempatkan. Selama sebulan lebih ke empat personil kami melaksanakan tugas mulianya. Dibayangan kami tentu ini tidak mudah, banyak kedukaan dibanding suka yang dialami relawan kami. Apalagi sebulan penuh meninggalkan keluarga dan kesibukannya setiap hari di Bandung. Atas nama Kampus, atas nama Perhimpunan kami mengucapkan pujian, bangga dan Terima Kasih yang tiada terkira kepada para relawan kami juga kepada para relawan yang lainnya ditambah para mahasiswa dan anggota Dewadaru lainnya yang berjuang di jalan dalam melakukan penggalangan Dana. Semoga dan pasti Alloh SWT, membalas semua kebaikan itu.

———-Sembilan tahun sudah berlalu, Duka tsunami aceh boleh hilang secara fisik tapi selamanya duka keluarga yang ditinggalkan dan kenangan yang ditinggalkannya akan tetap membekas . Semoga mereka yang pergi saat itu diterima disisiNya. Amin. Walau banyak persoalan setelahnya, kini masih juga belum terselesaikan. | Cijerah 27 12 2012/ (Bhayo SemerOe / D-012-KL) █


Banjir Bandang di Burangrang (Nyalindung)

IMG00858-20131218-1159

Bermula dari tidak kuatnya lembah diatas legok haji (Air Terjun) menahan air hujan, entah penebangan liar atau reboisasi yang tidak berjalan semestinya, kemudian seluruh material yang menghalang tergerus, tercabut dan menerabas apa saja yang menghalangi hingga bah itu memporak-porandakan perumahan penduduk dibawahnya.

soeNYALINDUNG | Bagi semua anggota Dewadaru, mendengar nama itu pasti menyimpan kenangan. Kenangan yang sama, tapi bisa juga berbeda. Tentang arti sebuah kebersamaan, sebuah keramahan dari kearifan lokal kultur masyarakat pedesaan, sejuknya hawa pengunungan dilingkung Gunung Burangrang dan tentu kelelahan setelah menyelesaikan etape yang mesti dihabiskan dalam setiap Pendidikan dan Latihan dasar, semua itu terbayar ketika kita tiba disini.

 —–Mendengar Kampung Nyalindung, Legok Haji, mengalami bencana banjir bandang yang datang dari gigir lembahnya, hati segera terenyuh. Koq bisa yah?. Semenjak tahun 1986 hingga sebelum bencana ini menimpa, kampung Nyalindung yang berada di desa Tugu mukti, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat tak membayangkan hal ini akan terjadi. Melihat rapatnya vegetasi di kawasan ini merupakan hal yang diluar dugaan. Seberapa besar hujan yang turun sebelumnya juga pernah dan sering terjadi menimpa kawasan ini. Tapi maha pencipta dapat berkata lain. Sudah pasti bencana ini membuahkan hikmahnya. Bagi kita sebagai user, pemerintah dari regulasinya serta penduduk setempat dengan pergeseran tata nilai kehidupan saat ini. Salah satu atau ketiganya pasti ada keterkaitan.

index

Tempat Mandi yang biasa kita gunakan, hancur luluh berantakan terbagi dua.

644225_3788130640218_2145853190_n

Hana Marwati (D-113-BW)

–—–Dewan Pengurus XVIII Dewadaru Soedarman D-107-BW) kemarin tanggal 23 Des 2013 mengirimkan teamnya : Hana Marwati (D-113-BW) dan Rangga Zainal Muttaqin (AMD-GP) untuk memantau langsung kondisi sebenarnya dilapangan, serta diharapkan menindak lanjutinya hasil-hasil temuannya untuk mengadakan respon aktif atas terjadinya musibah ini, terutama bagisesepuh kami disana Bpk, Khotimun (D-009-AK). Sekaligus sowan dan iringan doa agar beliau, keluarga serta seluruh penduduk Nyalindung tetap tabah atas musibah yang menimpa ini. (BhayoSMR / 26122013 ) █


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.