Ode Buat Banten

Ini kado sentimentil. Itulah ketika menggerutu mencari sisa wangi gadis kampungmu. Tanahmu. Bertemu tak bertemu tak penting lagi. Barangkali masih bisa menghargai yang sia-sia; kebesaran sejarah. Sedang yang berdasi sibuk ngurusin komisi.

_______Segala yang riang harusnya Banten. Siapa nyana sawah dan pantai tak punya lagi sejarah. Jangan terlepas pandangan, ketika bangau bingung bertengger. Gulung celana, karena mulai ada banjir. Seharusnya kuhitung hari. Apa gerangan jasaku. Sebait sajak saja tak cukup. Mending di pinggiran jalan. Nonton penggusuran tanah, selat Sunda tak berpantai, heboh buruh, pasar terbakar, tangis pedagang, kapal bekas, jerit nelayan, pemuda ngemis, jurnalis amplop, sawah bercerobong, santri tak berpeci, dan nostalgia kesultanan.

_______Segelas pengorbanan, yang kenyang tetap penggede. Ibarat anggur dihisap habis, kubisa bikin sajak saja. Cidurian keruh tercemar. Ciujung hitam nelangsa. Gadis kampungnya gatal korengan. Cikande berdebu, langgarnya melompong. Pedagang Rawu mengamuk, pasarnya kemahalan. Malingping menjerit, kapalnya rongsokan. Pandeglang lapar, berasnya diisap cecurut.

_______Mari kupunya sajak. Kubasuh kalian. Ada air Banten, air Sunda, air Jawa, air Arab, air Makasar, air Cina, keraton. Ya, dengan sajak saja. Tapi, ke mana gerangan wangi tanahmu? Digilas keputusan? Sedang sajakku tak lagi punya makna. Roda traktor melindas keluguan. Hanya kegilaan sekejap, yang menang pembangunan. Kemakmuran. Kemanusiaan minggir dulu. Beri jalan bagi penguasa dan pengusaha. Dompetnya bisa ngasih makan sekelurahan. Kursi adalah segala tujuan. Diarak. Terompet. Baris berbaris. Bunga-bunga. Perempuan telanjang.

_______Aku tak percaya bila sajak bisa bikin kenyang koruptor. Malah bikin makin lapar. Kota lama roboh, berganti gemerlap. Pohon asam terkapar menuding langit. Pucuk-pucuk padi menunduk rebah ke tanah. Sejuta pohon cuma slogan. Iman dan taqwa mirip tai kambing, ada di mana-mana. Serang kepanasan. Banten kegerahan. Jalanan jadi berwarna serba hitam. Kuning, biru, merah, hijau sembunyi di got-got, menampung air comberan. Sejarah tak lagi punya makna. Kehidupan merenggut apa saja. Tinggal tunggu Krakatau mengaum: BUM. Selesai. Selalu begitu sampai tamat lakon. Berkemas dan pergilah ke selatan. Tanah Kanekes gemah ripah loh jinawi. Sembunyilah di sana. Tak ada pengorbanan demi pembangunan. Bebas merdeka.

_______Entah kenapa kutulis sajak. Jangan berkata-kata, sementara aku bingung wangi tanahmu di mana? Sekali lagi ini Cuma terjadi dalam kado sentimentil. Selama masih berkata-kata, bisa jadi belum sempurna. Harus diputuskan seperti bermula perahu Portugis merapat. Sulit. Dan inilah soalnya. Ah, kenapa tak kuhentikan saja kedunguan ini dengan nyanyian Saijah dan Adinda. ▀

#MyLogBook
#FlyWithSiEmbe
#LebakBanten
#TriptoBaduy

Iklan

Quality , Me – Time

Ketika anak-anak sudah mulai beranjak dewasa, perlahan agak sulit sekali untuk megajak mereka berkumpul, jalan-jalan, makan bersama dan biasanya sambil bertukar cerita tentang masa kanak-kanak mereka dengan kekonyolannya. atau berbincang soal harapan mereka kedepan, soal kompetisi di sekolahnya, kadang bercanda menyinggung siapa pujaan hatinya walau kadang diselipkan keinginan kita oang tua harapan pendampingnya mereka kelak serta banyak hal seru lainnya.

________Kakak kemarin sibuk dengan skripsinya, beberapa long weekend yang jauh terlewatkan, bahkan yang dekat, beberapa kali, dan jawabannya selalu kalau tidak skripsi tentu bermain dengan teman-temananya kadang sering dengan satu teman laki-lakinya yang masih malu-malu dikenalkan dan disebut pacarnya. Si bungsu juga mengalami hal yang sama, beberapa kali absen, kalaupun ikut banyak bengongnya kurang fokus, mungkin dunia dan pikirannya ke hal lain bersama teman-temanya juga. sekarang malahan banyak hanya berdua saja dengan Bunda seperti pacaran lagi kemana-mana berdua. dan tentu kita bakal kangen banget bareng lagi seperti ratusan kali bahkan ribuan kali ketika mereka masih bayi, TK hingga jelang kuliah ini.

________Sunatulloh, seperti itulah adanya, kelak ketika mereka sudah berkeluarga pasti kondisi itu akan lebih sulit lagi berkumpul, mereka memiliki dunianya masing-masing seperti saat inipun dunia mereka kadang harus bisa memahami tanpa harus mengerti betul alasannya. Hingga harapan disuatu saat mereka memberikan bayi-bayi mungil yang akan mengantikan peran mereka anak-anak kita dahulu seperti mereka waktu kecil.

________Ayah, Bunda, sempatkanlah, “Quality Time” atau kita akan ketinggalan masa-masa indah penuh kenangan itu hingga kita menua karena kesibukkan “Me-Time” kita yang tak ada habisnya. ▀

#KebunRayaBogor
#Juli2018
..


Naik Hajinya Para Pesepeda

Ungkapan bercanda para penggiat sepeda ini terasa cocok sekali bila dikaitkan dengan gelaran akbar yang baru saja terselenggara pada 21 Juli 2018 Kemaren. Entah apa yang merasuki mereka, antusiasme, semangat dan senyum kegembiraan begitu terpancar dari wajah-wajah para pesepeda yang datang dari segala penjuru kota, baik datang dari komunitas, perorangan, peserta resmi maupun Romli (rombongan liar), para peserta yang yang tidak terdaftar tapi tetap bergabung dalam rombongan resmi dijalur Tdp (Tour de Pangandaran). Tdp kali ini memang untuk ke sembilan kalinya, Walaupun terasa ada sedikit perbedaan dibanding penyelenggaraan sebelumnya.

_______Secara psikologis Tdp memang ngangenin, sekaligus tidak membosankan, setidaknya ini bisa dilihat dari jumlah pendaftar Tdp-9 yang mendekati 3000 peserta, belum lagi yang tak resminya, bisa jadi jumlahnya bisa membengkak hingga angka 4000 pesepeda yang tumplek blek memadati kota Tasikmalaya. Tidak perduli anda senior, telah berkali-kali ikut serta kegiatan ini apalagi terlebih bagi mereka yang baru dan penasaran merasakan atmosfernya. Magnetnya terasa sekali bahkan pengumumannya memang dinanti jauh-jauh hari hingga tak jarang pendaftaran ditutup jauh hari sebelum pelaksanaan saking kuotanya booked melebihi kapasitas. Tak jarang beberapa peserta kasak-kusuk berharap kuota masih dibuka, bisa jadi infonya memang terlewat, atau sering yang merasa diawal tak jadi mendaftar toh akhirnya kebelet juga. Sebagian memang menyesal akhirnya jadi Romli, walau biasanya hampir seperempatnya memilih tak mendaftar karena berbagai alasan.

Bhayo Semeroe, Pantai timur Pangandaran ..

_______Sebagai bentukan kegiatan bersepeda berkala, TdP memang belum ada tandingannya; baik dalam jumlah peserta maupun keberagaman asal peserta yang mengikutinya, belum lagi bicara komunitas yang menjadi peserta jumlahnya bisa sampai puluhan hingga melebihi seratus orang dalam satu grup itu. Asal komunitaspun cukup beragam mulai dari komunitas organik yang berasal dari lokalan daerah di kota-kota tertentu hingga komunitas yang berasal dari beberapa instansi perusahaaan baik swasta maupun pemerintahan di berbagai kota. Yang datang berkelompok membuat grup dadakan hanya untuk ikut Tdp pun tak sedikit jumlahnya, termasuk perorangan. Jika bangunan peta peserta diatas ini tak jauh dengan yang tak resminya maka riuh rendahlah ragam itu menjadi satu di jalan, belum lagi komunitas yang bergabung berasal dari sepeda yang identik, baik merek maupun fungsionalnya. semisalroad bike, mtb, bmx, folding bike, minivelo, sepeda ontel, sepeda mini, hingga sepeda yang dimodifikasi sesuka hati.

 

Daya Pikat

_______Apa sebenarnya yang menjadi daya tarik TdP, hingga orang begitu menunggu dan menjadikannya kegiatan ritual rutin bahkan seremonial kelompok, setidaknya setahun sekali jadi wajib hadir. Kegiatan ini memang seperti sebuah ekspektasi, sebuah pemenuhan kebutuhan, ya aspek psikologis itu tadi. Kegiatan bersepeda barangkali hampir sama dengan kegiatan olahraga petualangan lainnya terlebih pada tingkatan tertentu ketika unsur adrenalin jadi bagian habitnya mendorong orang untuk menjadikannya hobi, apalagi terutama ketika bisnis industri mulai masuk dalam sendi-sendi kegiatannya. Ciri lainnya adalah ketika membentuk komunitas menjadi sebuah trend dalam mengeksekusi hobi itu. Maka mulailah pencarian jatidiri. Persaingan sunyi sesama anggotapun berlanjut ketahap kepengakuan sesama kelompok, secara perlahan ini terus dipanasi bila ditambah bumbu idealis, hegemoni dan slogan patriotis. Persaingan Industri sepeda dan asesoris pendukung bahkan sering memperuncing situasi ini. Maka bermunculanlah ide gruping itu dengan berbagai nama dan identitas, semakin berbeda dan unik tentu semakin ingin dikenal disesama komunitas. Tdp memang memberikan ruang bagi yang berangkat dengan ide jati diri idealis ini.

_______Pengakuan juga bahkan dibutuhkan bagi pemula yang butuh identitas, dari semula yang selalu dianggap “chiken” tidak ada apa-apanya bila belum ikut hingga belum sah identitasnya bila belum finish di Tdp. Usia mereka bisa saja beragam dari anak muda kemarin tak sedikit juga usia senja yang masih terjangkiti demam pengakuan ini. faktanya di komunitas tersebut diatas kisah-kisah klasik ini masih selalu ada dan merupakan bagian dari ospek lembut para senior kepada juniornya, walau tentu dengan ragam dan corak pendampingan yang beragam. Makanya naik mobil loadingan jadi barang “hina” untuk kelompok ini. Tak heran mereka-mereka jadi rela berlatih jauh-jauh hari agar predikat hina itu terhindari. Tdp jadi sedikit memaksa menekan ego itu dan tentu ini positif-positif saja. Tapi bayangkan, bila secara makro menggeliatnya orang-perorang berlatih jelang Tdp di kota dan daerahnya masing-masing tentu seperti virus yang menyebar kebaikan, tak sedikit persiapannya dikelola secara serius, walaupun banyak juga yang secara diam-diam berlatih mandiri. Tdp, lagi-lagi tentu jadi ajang pencitraan itu. Tak perduli ibu-ibu, wanita muda paruh baya bahkan usia senjapun fokus sebisa mungkin finish di gowes di ajang ini. dan itu sebuah kebutuhan pengakuan.

_______Ajang pamer sepeda tentu tak terelakkan. Bagi sebagian peserta yang memiliki sepeda mulai dari retro vintage yang unik sepeda berkelas yang memiliki harga selangit hingga sepeda “limited editition” yang jarang ada dan kalau adapun jarang, tentu Tdp ini jadi merupakan sebuah arena “catwalk” yang tak boleh ditinggalkan begitu saja oleh mereka yang ingin membanggakan “mainan”nya itu. dan ini tentu menjadi sensasi tersendiri bagi pemiliknya. Disisi lain, Kita memang jadi dibuat takjub, kegiatan Tdp ini jadi referensi juga buat berbagi pengetahuan tentang merek sepeda dengan segala keunikan asesories dan part pendukungnya itu. tak sedikit juga mereka datang dengan sepeda yang benar-benar baru dipakai di kegiatan ini. Disudut-sudut berlangsungnya kegiatan kadang terlihat orang bergerombol berbisik malu-malu atau bahkan terang-terangan membicarakan mulai dari detail terkecil hingga ujung-ujungnya adalah harganya. Sebagian bengong bila ada sepeda yang belum mereka lihat, tapi bisa jadi sudah mereka dengar, atau sama sekali baru melihatnya.

_______Dibagian Tdp lain tentu unjuk kekuatan dan kecepatan mewarnai juga persaingan dijalanan selama kegiatan ini berlangsung. Sudah menjadi hal yang biasa bila kebut-kebutan, saling menyalip diantara para pesepeda jadi pemandangan rutin yang tak bisa dihindari. Sebagian bisa jadi dongkol karena disalip, apalagi heran padahal tenaga sudah digenjot maksimal, sebagain justru jadi pembuktian dirinya bahwa latihan yang selama ini dilakukan dan kekuatan yang dimilikinya terbukti dan membanggakan. Berada secepat mungkin dan tiba sedini mungkin ditujuan jadi sebuah kemenangan pribadi. kebalikannya dari itu adalah ada juga mereka yang tetap guyub, setia kawan menunggu yang lemah untuk tetap bersama dan diharapkan rombongan tiba dititik finish berbarengan, sabar perlahan walau dirinya sebenarnya mampu untuk adu cepat pun jadi ujian kesabaran pribadi dan bangga akan kesabarannya itu juga jadi ujian kemenangan tersendiri, terlebih para Marshal yang memang bertugas seperti itu. Bagi para soliter dan petualang tulen yang tak dibatasi oleh waktu tentu ajang Tdp bahkan dijadikan kesenangan tambahan untuk menambah jam terbang. Penyuka turing ini kadang mengoptimalkan “me-time” kesendiriannya untuk full gowes pulang pergi, tak cukup menyususri jalan nasional, bahkan pulangnya menyusuri jalan ke daerah-daerah pesisir, dan tantangannya tetu dari Tdp ke Tdp niatnya harus bertambah.

_______Yang tak kalah menarik lainnya tentu peran media sosial. Tdp jadi bahan baku yang menarik untuk sebuah eksistensi. Aspek-aspek yang sudah dibicarakan diatas tadi tentu jadi lebih maksimal dimainkan peran dan fungsinya oleh mereka dengan berbagai macam cara, terutama dalam menghadirkan suasana kegiatan sebelumnya kedalam linimasa. imbasnya berburu “like” jadi kebutuhan personal. Diakui atau tidak perencanaannya tentu sudah diagendakan sesaat sebelum kegiatan Tdp, bahkan jauh-jauh hari untuk serius dalam hal pencitraan ini, sebagian lagi niatnya memang untuk berbagi pengalaman atau hanya sekedar pemberitahuan begitu saja. Hal menariknya dari keberadaan Tdp tentu peran media sosial jadi mempertautkan pertemanan dan persahabatan, yang tadinya hanya bertemu di Dunia maya jadi saling silaturahmi baik sebelum dan selama perjalanan, di sisi romantisme ada yang menggagendakan kembali bahwa di Tdp berikutnya mereka akan kembali bertemu. Kalau hubungannya berlanjut ke tahap yang lebih serius, Tdp tentu jadi makcomblang yang memorable monumental.

_______Apakah Tdp memang sepertinya memfasilitasi hal-hal tersebut diatas?, Tentunya 4000 lebih kepala pesepeda akan muncul dan memiliki persepsi beragam akan niat dan keinginannya itu. Polarisasi yang muncul diatas memang didapatkan dari kecenderungan realistis, aspek-aspek tersebut terutama dominan sering muncul dilapangan dari tahun ke tahun dan begitu terasa. Pendapat berbeda tentu boleh saja karena toh dari perspektif yang lain, ketertarikan kuat Tdp bisa saja karena memang jalurnya, terutama Pantai Pangandaran yang menjadi tujuan eksotis akhir, Ikut hanya meramaikan sebagai penggembira, kalau tidak kuat toh mobil loadingan tak jauh dibelakang selalu mengikuti, atau dipaksa teman “nyemplung” ikut-ikutan. Sebagian kepesertaannya ingin terus menggenapi hitungan Tdpnya, atau bisa jadi daftar hanya ingin mengoleksi jerseynya saja. Walaupun sedikit miris kegiatan bersepedanya yang harusnya dominan melulu kegiatan olahraga tersamar oleh riuh rendahnya motivasi lain tersebut, diakui panitia cukup cerdas mengutak-atik ini kemudian laku dalam memasarkan kegiatan berkala ini. Atau mereka juga tak mengira sebelumnya akan sebesar dan sejauh ini.

Kehilangan Ruh

K_______Sayangnya Tdp-9 kemarin sudah terasa “boring” dan kehilangan Rohnya. Padahal keberhasilan sebuah kegiatan yang berulang terletak pada “dokumentasi” dan follow up yang dibagian itu sering dilakukan berulang dan biasanya dilakukan revisi lebih baik atau bila perlu jadi bahan evaluasi untuk melakukan penambahan ide-ide kreatif lainnya. Tdp-9 seperti sebuah pengulangan saja karena diatas kertas panitia sudah diyakinkan pasti berhasil seperti tahun-tahun sebelumnya. Tdp-9 tidak banyak memberikan variasi dan miskin kejutan. Dari mulai hal terkecil yang luput semisal penanganan staterkit yang kini miskin informasi, serta terkesan apa adanya, Identitas peserta di sepeda yang kini hilang, penyambutan para peserta yang datang di kota Tasikmalaya apa adanya hingga konsumsi yang dijanjikan habis padahal baru berselang hitungan menit dari masa registrasi pesepeda Pertama datang di Kota itu. Dalam pelaksaanaan dilapangan miskin pitstop terutama kebaikan panitia dalam menyajikan penghilang dahaga yang kala itu memang tengah menyengatnya udara dijalan, Kejadian-kejadian itu memang kecil tapi “nyelekit” terlebih bila dana yang berhasil dikumpulkan panitia bisa kita hitung sendiri betapa besarnya tapi tidak bisa membayar harga Respek dan sedikit empati pada para peserta, padahal itu sederhana. Ada yang bikin penasaran terus, apakah belum sempat terpikirkan mengoptimalisasikan pantai Karapyak yang keliatannya menjanjikan kejutan juga, terakhir yang paling miris dan sedih tentu masih saja ada nyawa melayang dan lagi-lagi terjadi kecelakaan yang lainnya. Pasti ada penyebabnya dan statistik ini kecil tapi mengerikan, selalu terjadi di setiap Tdp, pasti ada yang luput berkenaan dengan ini.

_______Keberhasilan Panitia memang patut diacungi jempol, Tdp memang banyak memikat dan seperti dimiliki oleh para pesepeda dan menjadikannya seolah rukun wajib untuk diikuti tiap tahunnya. Daya pikat dan atsmorfernya memang seperti sebuah pesta kebersamaan, sebuah reuni besar dan pantas diplesetkan jadi “Naik Haji”nya para pesepeda. Kerja keras Para regulator, panitianya memang seharusnya tak berhenti sampai sini saja, pembenahan, kejutan, variasi terutama respek dan empati pada User-nya memang jadi pekerjaan rumah yang harus terus dimaksimalkan, Ini juga mungkin masukan buat para penyelenggara kegiatan sejenis. Bila tidak Tdp bisa jadi hanya dijadikan kegiatan “umroh” semata dan mulai ditinggalkan para peminatnya terlebih kegiatan serupa kini banyak bermunculan menyaingi seperti Tour De Sindangbarang, atau bisa jadi bila Tour De Ciletuh jadi dimunculkan. ▄

#MyLogBook
#FlyWithSiEmb3
#TDP9

  • ANOTASI | Hatur Nuhun Ka Kang Rachmat Slamet sareng Kang Iis Pena13 (Gowes Saparua, Dispora) bantosanana, utamina tiasa kulem regreug di Hotel di Pangandaran, Sareng Kang Genta Az anu ngarencangan Itikaf di Mesjid Agung Tasikmalaya, Kang Hendi Gie Lazuardy atas tawaran di Mushola BRI-na, Pak Andi Rusnandy oge, tapi tetep hoyong memilih mengenang senang Itikaf di mesjid Tasik, dan rekan-rekan di Grup Saparua, Dispora, YukGowes dan Polybar. Kalian “Biasa di luar”, Kalian Luar Biasa!. (Tulisan ini akahirnya dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Kolom Back2Boseh pada Minggu 29 Juli 2018, Hatur Nuhun Redaksi PR atas dimuatnya tulisan ini).

Santolo – Cilauteureun

Pantai Santolo terletak di Desa Mancagahar, Kecamatan Pamengpeuk, Kabupaten Garut Selatan, Jawa Barat. Pantai ini, yang oleh Belanda dahulu pernah difungsikan sebagai dermaga untuk mengangkut rempah-rempah yang dikumpulkan dari daerah Garut dan sekitarnya menuju kapal besar yang berada di tengah laut ternyata juga dikenal dengan nama unik lainnya yaitu Cilauteureun, Air laut yang berhenti mengalir atau tenang.

_____Santolo, sebenarnya nama (seperti) sebuah pulau kecil yang tak jauh dari Pantai Sayang Heulang, sayangnya nama “Santolo” arti nama atau pengertiannya tidak diketemukan dalam literasi, hanya beberapa hikayat menyebutkan bahwa jauh sebelum berkembangnya penyebaran agama Islam ke daerah Garut Selatan yang pada masa itu masih menganut agama Hindu, lokasi pulau itu sudah bernama “Santolo”. dan tempat itu sering dipakai singgah para utusan raja Guesan Ulun Sumedang untuk tirakat atau sekedar beristirahat para penyebar agama islam pada masa itu. Nama Santolonya yang berbau Hindu itu berarti sudah ada jauh sebelum itu.

_____Pantai Santolo rupanya memiliki keunikan tersendiri dibanding pantai-pantai lainnya. Pantai lepas yang menyambung ke perairan bebas Samudera Hindia ini rupanya mengalirkan air laut ke arah sungai. Tidak seperti kebanyakan laut yang merupakan tempat bermuaranya air dari sungai-sungai di dataran yang lebih tinggi menuju laut di dataran yang lebih rendah. Sungai itu dikenal dengan sebutan Cilauteureun. Fenomena ini konon menjadikan lokasi pantai Santolo menjadi unik, usut punya usut ternyata hal ini disebabkan oleh aliran Sungai Cilauteureun yang tidak pernah surut dan membuat pantai utama dengan Pantai Santolo terpisah sehingga membuat Santolo seolah-olah menjadi sebuah pulau tersendiri dimana letaknya terpisah antara daratan Santolo dengan pantai utama tempat pengunjung masuk.

_____Konon, di Dunia ini tempat yang mengalami peristiwa unik tersebut hanya ada di dua tempat, yaitu di Perancis dan di Pantai Santolo yang ada di Garut ini. ▀

#MyLogBook
#TripAmazing
#StayOnZero
#FlyWithSiEmbe


Komparasi TdS-TdP Dan Bandung Punya Apa?

Elevasi Kota Cianjur yang berada pada 450 Meter diatas permukaan laut (M-Dpl) serta Kabupaten Sindang barang di Titik tertingginya 7 M-Dpl, secara hitung-hitungan mestinya jalan yang dilalui pasti menurun. Tapi banyak yang ngedumel koq berasa sepertinya menanjak terus miskin bonusnya. Ini adalah umpatan trending topik diurutan kedua diantara wajah lelah para pesepeda yang mengikuti Tour De Sindangbarang 13-14 Januari kemarin. Yang jadi topik perbincangan hangat ternyata adalah membanding-bandingkan segalanya dengan Tour yang sejenis. Benchmarknya tak terelakkan apalagi kalau bukan Tour De Pangandaran (TdP). Abaikan dulu Tour Zero to Zero kemarin yang keliatannya cukup sukses juga menyelenggarakan event berkalanya ini.

______Selepas start dari Kota Cianjur menuju Sindangbarang jalanan yang didominasi tanjakan memang jadi bagian menariknya Tour de Sindangbarang (TDS) kemarin, dan itu jadi bagian juga komparasi dengan pelaksanaan even lainnya. Seperti diketahui, bentangan sepanjang 110 Km yang harus dijalani oleh para peserta dengan tingkat elevasi antara Nol Meter hingga 450 M-Dpl jadi tak terlalu signifikan kecuramannya. Apalagi ternyata lansekap yang harus dilalui tipikal perbukitan menjelang pantai. Hitung punya hitung ternyata yang menyebabkan jalan bervariasi adalah lintasannya memang melangkahi beberapa pegunungan, naik turun bukit membelah dan memipir sepanjang punggungan yang membentang diantara kedua kota itu. Bisa dikatakan cukup seimbang antara naik dan turunnya, walau berasa banyak nanjaknya. Jadi kecele kalau berharap konvensional kalau kepantai pasti melulu turun. Bedanya dengan TdP, disini nanjaknya kerasa banget ngehentak dengkul, pendek-pendek dan banyak. Anehnya turunannya jarang curam, cenderung datar meliuk perlahan dan panjang. walau ada yang menukik tapi tak banyak.

______Siapa yang tak kenal TdP, sebagian orang beranggapan acara ke Pangandaran ini adalah “Naik Haji”nya para pesepeda. Ribuan orang tumplek tak mau ketinggalan untuk mengikuti gelaran yang penyelenggaraan terakhirnya dilakukan untuk ke-8 kalinya dan bersiap untuk yang ke-9 kali Juni tahun 2018 ini. Begitu antusiasnya bahkan banyak dikalangan pesepeda mengkoleksi jerseyna mulai dari Tdp-1 hingga 8, tentu sekaligus mengikutinya, tapi ada juga sebagian orang hanya mendaftar ya iu tadi hanya untuk mengkoleksi atributnya. Kalau “Romli” nya, jangan ditanya berapa banyak rombongan liarnya bisa mendekati angka ribuan juga, hingga bila di total keseluruhan bisa mencapai angka 5000 lebih pesepeda yang sempat terdeteksi di Tdp terakhir. Bayangkan betapa padatnya jalan hari itu oleh para pesepeda. Entah apa magnetnya kegiatan yang digagas orang Tasik ini, Pantai Pangandaran?, reuni klasik para pesepeda ?, pembuktian jati diri? atau apa, pasti ada sesuatu di kegiatan ini dan tentu ini bisa banyak alasan dikemukakan oleh para penggila TdP ini.

______Kota Cianjur tak mau kalah, TdS barangkali terinspirasi dan mengekor keberhasilan TdP, dan itu cukup berhasil sepertinya. Jika Kota Tasikmalaya masih harus berbagi dengan tetangga sebelahnya yaitu Kota Banjar untuk berkoordinasi, Cianjur lebih beruntung, Kota Administratifnya yang luas hingga menjangkau daerah pantai dibagian selatannya lebih memudahkan penanganannya serta jadi jelas mencari tujuan lain dari event kegiatan ini. Pantai Sindangbarang yang masih semerawut itu tentu bakal digenjot pembangunannya bila promosinya melalui event ini terus berkelanjutan. Paling tidak orang akan bicara bahwa di Selatan sana ada juga Pantai indah yang wajib dikunjungi. Belum lagi sarana jalan dan lokasi wisata sebelumnya juga jadi alternatif lainnya. Pangandaran tentu hal ini sudah menemukan polanya, walaupun bonus tambahannya akhirnya menjadi tempat kunjungan wisata bersepeda masal para maniak sepeda. Cianjur dengan Sindangbarangnya bisa jadi lebih dari itu, apalagi lansekapnya yang hijau sejuk dan cenderung masih sepi bisa memunculkan alternatif konsep wisata lainnya, Plus sepeda itu tadi. Apalagi bila route ditambah memipir keselatannya lagi ditambah pantai Cidaun kelihatannya makin eksotik.

______Ada yang menarik dari dua kegiatan besar ini, Tour Sindangbarang kemarin yang berhasil menyedot antusiasme tak kurang dari 1000 lebih peserta plus lagi-lagi Romli yang sulit dideteksi sebagai event perdana Kota Cianjur memang patut diacungi jempol. Iyalah kalau TdP dengan jumlah diatasnya itu masih lebih besar gaungnya karena sudah berkali-kali. Tapi keduanya memang digerakkan oleh Komunitas Sepeda setempat sebagai penggagas dan inisiatornya. Bedanya kalau Tdp kelihatannya hanya bekerjasama dengan perusahaan setempat (Telkom) sebagai fasilitator, entah pemerintah daerahnya memang agak kurang digoyang untuk memfasilitasi lebih, tapi lihatlah Tour De Sindangbarang, komunitas sepedanya berhasil meyakinkan Pemerintah Cianjur untuk mendukung penuh jajarannya melibatkan diri di event ini. Alhasil, mulai dari koordinasi di medan operasi hingga berseliwerannya mobil unit dilapangan hingga motoris banyak berplat merah. termasuk mobil ambulan yang berseliweran kesana kemari yang berasal dari RSUD setempat. Yang menjadi pertanyaan memang Tds masih belum percaya diri untuk memulai kegiatannya dengan hitungan berkala. Kemarin masih belum ada keberanian untuk menyebut Tds-1.

______Secara teknis penyelenggaraan, hal lain yang tak kalah jadi luput perhatian adalah urusan tetek bengek, dari yang terkecil hingga manajemen operasional dijalan (pelaksanaan). Kita kadang-kadang selalu memperhatikan keseriusan dan profesionalisme sebuah penyelenggaraan dari mulai yang terkecil, tapi kadang luput dari perhatian penyelenggara. Yang lain memang karena sudah sering-biasa-jadi abai. Tapi di TdS kemarin justru properti yang diberikan jadi menarik. Lihat saja mulai dari nomor peserta, Hang Tag hingga Jas hujan sudah menjadi kelengkapan yang disertakan. Sayang panduan untuk itu tak disertakan. Dilapangan sendiri panitia tergopoh-gopoh mengingatkan untuk memasang disepedanya masing-masing, hingga urusan check list di Pitstop lokasi tertentu jadi tak seragam. Padahal jumlah Panitia berbanding terbalik dengan peserta. Tapi itu soal Teknis, yang patut diacungi jempol buat TdS adalah akan Property dan penanganannya. Ada yang lebih amazing ketika Panitia begitu apiknya menangani para peserta yang “out of time” bahkan sampai menggiring memberikan lampu kendaraan motor atau mobilnya dibelakang sementara para pesepeda yang tak membawa penerangan bergerombol didepannya hingga finish. Sepertinya TdP harusnya cemburu dengan semua ini.

Setelah ditimpa hujan dan angin lebat di tanjakan sarebu, tengah malam akhirnya sampai juga di Ciwidey, Situ Patengan

______Komparasi dengan “Bench Marking” dalam terminologi akademik sistem informasi manajemen memang bukan mencari siapa “bad boy” dan “good girl” nya. lebih pada solusi untuk penangan lebih baik pada banyak kemiripan yang sama. Tapi selain itu untuk dijadikan pelajaran diluar komparasi untuk bertindak dan melakukan contoh hal yang serupa bahkan cenderung harusnya lebih baik. TdP dan TdS menjadi sebuah pelajaran yang berharga tentang sebuah penyelenggaraan kegiatan bersepeda masal yang cenderung terus membesar dan menggairahkan. Apalagi bila didalamnya ditanam konsep-konsep lain sebagai penguat promosi dan daya tarik tambahan. Baik berguna bagi penyelenggara maupun domisili dimana kegiatan itu akan bertumbuh kembang. Yang satu merupakan pemain lama yang sudah mapan dan tinggal mengembangkan daya pikatnya, yang baru sebagai pemula justru berpotensi untuk lebih maju karena sarana dan prasarananya lebih di kooptasi dengan menggandeng regulator daerah yang memiliki ruang dan gerak yang tak terbatas dan ini cerdas.

______Akhirnya, ini nih yang bikin kesel, Kalau Tasikmalaya punya Tour de Pangandaran, Cianjur punya TdS dan Bogor yang baru saja sukses menyelenggarakan Zero to Zeronya, Kota Jogjakarta bahkan sampai Makassar, dan kota-kota lainnya memiliki event besar, Bandung kemana yah?. Padahal kalau mau bicara kegiatan bersepeda, Kota Bandung merupakan Trendsetter, banyak para master, suhu, peturing short maupun long distance, para Legend berkumpul dikota ini. Tak terhitung komunitas sepeda dari berbagai merek maupun genre, mulai dari sepeda retro vintage hingga merek kekinian kota Bandung memang memanjakan anggota dan para peminatnya. Belum lagi ditambah toko, penyedia asesories, merchandise, bengkel mudah diakses dan tersebar hingga ke sudut-sudut kota. Terakhir, Tempat bermain sepeda di Kota Bandung memang bikin ngiri kota-kota lain. Treknya variatif dan banyak pilihan. Pertanyaannya kenapa hingga kini Kota Bandung tak memiliki event besar, kebanggaan yang dinanti-nanti ribuan para peminat sepeda baik dari warga Bandung sendiri atau dari luar kota.

______Sampai dengan saat ini para pesepeda yang ada memang terlalu sibuk dengan komunitasnya, Gowes tipis dari mulai hari senin hingga jum’at selalu ada, Sabtu dan minggu biasanya agak keluar kota untuk para masternya. Sedang para legend biasanya sudah menggantungkan sepedanya bahkan sebagian telah dijualnya. Kalaupun ada kegiatan yang agak besar paling sebatas “milangkala” komunitas yang mengundang komunitas lainnya jajal trek pendek seputaran Bandung diakhiri Camp and Cook dan dorpres pengahangat suasana. Apakah para pesepeda Bandung yang terkenal ramah dan kreatif itu masih terlalu sibuk akan egosentris komunitasnya masing-masing, apakah tak terpikirkan untuk duduk bersama dan mulai berpikir membuat kegiatan maha besar untuk Kota Bandung agar bermanfaat buat Kota dan warga bangga dengan kegiatan Bersepedanya. Atau kita hanya dikenal rajin mengirim utusan untuk mengikuti kegiatan besar dikota lain. dan makin ditinggal jauh Oleh Kota Tasik, Cianjur dan Bogor. Tourde Sindangbarang dan Tourde Pangandaran banyak memberikan kita pelajaran, … Kalau mau. ▀

TANGAN TUHAN | Hatur nuhun Buat Redaksi Bike2Boseh Pikiran Rakyat (Edisi Minggu 18 Maret 2018) yang telah memuat tulisan ini (Tanpa di edit oleh Redaksi, Hanya judulnya saja sedikit, dan ini merupakan sebuah penghargaan). Abaikan side opposite penulisnya, anggap saja lagi pasang petasan, and testing the water. Hanya mau bilang #BangunPesepedaBandung #MungkinGakNyatuBareng.

 

#MyLogBook
#TravelBikeBlogger
#FlyWithSiEmbe
#TourDeSindangBarang
#BridgestoneCepoters
#BCB2


Dekonstruksi Mitos Cadas Pangeran

“Waktoe Toean Djendral Marcskalek mengeloearkan tangan hendak berdjabat salam, maka Dalam Soemedang menjamboet dengan tangan kiri. Tangan kanan memegang hoeloe keris yang telah dipoetar dipinggang dari belakang kemoeka” kutipan sebuah buku fiksi, cerita lama berjudul “Pangéran Kornél”, karangan Raden Méméd Sastrahadiprawira dan diterjemahkan oleh A. Moeis, buku yang aslinya ditulis dalam Bahasa Sunda itu memang sudah lama sekali dibaca. Bersepeda melewati Cadas pangeran kemarin ingatan kembali menerawang bagaimana buku fiksi itu menceritakan kisah heroik seorang petinggi Sumedang diselingi intrik politik haus kekuasaan orang-orang terdekatnya, dari mulai dia muda, diasingkan ke Cianjur hingga kembali memimpin Karesidenan Sumedang yang memang hak warisnya, lalu terjadilah peristiwa pertemuan dengan Jendral Daendels diatas tersebut. Penggambaran dari emosional patungnya bisa kita temui antara jalan raya Bandung – Sumedang, dan cerita itu selama turun temurun sudah menjadi mafhum adanya dimasyarakat. Tapi benarkah demikian?.

________Dibuku fiksi yang merupakan novel itu cerita memang terus mengalir dengan tokoh-tokoh yang beberapa memang ada dan tercatat dalam sejarah. Yang paling bersinggungan tentu pada masa itu (1808) tengah dibangunnya Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) antara Anyer hingga Panarukan sepanjang 1000 Kilometer oleh Gubernur Jendral Hindia Timur, Herman Willem Daendels. Jalan raya klasik yang rampung dikerjakan dalam tempo satu tahun saja dan merupakan rekor dimasanya, walaupun penyelesaiannya deselingi dengan tangan besi sang Jendral yang terkenal dengan sebutan “Mas Galak” itu. Ceritapun penuh dengan kekejaman kerja rodi dan penindasan dimana-mana. Pembuatan jalan ini memang dibeberapa lokasi tidak berjalan mulus, khususnya jalan dari Cianjur ke Bandung serta pemotongan gunung dari Parakanmuncang menuju Sumedang yang mesti membelah batuan endapan vulkanik keras jutaan tahun lalu yang Secara geologis merupakan sumber gunung api Kareumbi dan Kadaka yang telah mati. Daerah itu yang kini kita kenal dengan Cadas Pangeran. Tapi toh Daendels bersikukuh tetap harus ditembus.

________Karena kerasnya sang Gubernur terutama menekan para elit penguasa pribumi, termasuk para Bupati. Proses pembuatan jalan di Sumedang mendapat perlawanan keras dari Pangéran Kusumadinata IX. Panggilan “Pangéran Kornél” memang lebih disukai rakyatnya kemudian. Sebutan Kornél memang berasal dari “Kolonel”, merupakan gelar kemiliteran yang diberikan Belanda kepada Pangéran Kusumahdinata ketika bertugas memimpin pasukan di Jawa Barat untuk mencegah meluasnya perang Jawa (1825-1830) yang disulut Pangéran Diponogoro. Sebelumnya ia juga terlibat dalam penumpasan pemberontakan Bagus Rangin di Jatitujuh (Perang Bantarjati) awal 1800-an. Sebagai seorang Bupati yang mencintai rakyatnya tentu ia tidak tega melihat kekejaman dan penderitaan para pekerja yang notabebe adalah rakyatnya terutama pada saat pembangunan jalan raya yang melewati daearah kekuasaannya. Jalur ini kebetulan melewati Ciherang di Desa Tanjungsari. Diceritakan ketika Jendral Daendels melakukan inspeksi, Pangéran Kusumadinata berani menghadapi Daendels beserta rombongannya dengan sikap seperti cuplikan diatas tadi. Beliau bukannya tidak mau melaksanakan pembangunan itu, karena yakin sang Gubernur tidak akan memberikan pertimbangan, keberanian itu hanya ingin memperlihatkan membela rakyatnya yang didatangkan dari luar kota Sumedang bekerja tanpa membawa perbekalan disamping banyak yang mengidap penyakit dan telah menimbulkan kematian. Dalam novel itu bahwa Daendels tersadar dari kekagetannya kenapa Pangéran Kusumadinata memberi salam dan bersikap seperti itu dan akhirnya sepakat menyerahkan pekerjaannya ke pasukan Zeni, sedangkan orang-orang Sumedang hanya membantu ala kadarnya saja. Pangéran Kornél wafat pada 29 Juli 1828 meninggalkan nama harum terutama bagi Sumedang.

________Metode penulisan sejarah memang tak melulu mengandalkan apa yang sudah tertulis atau tersampaikan. Aliran Postmodernisme dalam ilmu filsafat banyak mempengaruhi munculnya metode penulisan baru. Mahzab ini lebih mementingkan Dekonstruksi yang menuntut perubahan penafsiran kembali metodologi penulisan sejarah. Aliran Dekonstruksi muncul sebagai reaksi sekaligus koreksi terhadap metode penulisan kontruksi yang biasanya selalu dipengaruhi strukturalisme. Apa yang menjadi tujuan metode Dekonstruksi, tak lain adalah memberikan makna baru atas interpretasi terhadap fakta-fakta sejarah. Jika Metode Konstruksi lebih menekankan pada analisis fakta dibantu dengan teori lain sebagai penajamnya, Dekonstruksi lebih menekankan pada penempatan data, konteks masa pembuatannya untuk mengarahkan pengambilan fakta melalui interpretasi. Hasilnya para sejarawan dapat menemukan data yang tidak cukup dibuat interpretasinya saja tapi juga memaksa harus mengetahui latar belakang kenapa dibuat dan siapa penulisya. Tak lain maksudnya untuk mengetahui ketepatan informasi yang dikandung dalam data tersebut.

________Sekedar menarik waktu kebelakang dan mengingatkan kembali. Pada tahun 2008 kita sempat dibuat terperangah dan sempat terjadi polemik dengan sebuah makalah yang disampaikan oleh Djoko Marihandono, seorang pengajar tetap pada Program Studi Prancis, Departemen Sejarah, Fakultas Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Makalah tersebut disajikan pada acara peringatan 70 tahun Prof.Dr. RZ. Leirissa yang diselenggarakan oleh Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tanggal 29 – 30 April 2008. Makalah itu berjudul “Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808: Komparasi Sejarah dan Tradisi Lisan”. Apakah memang benar cerita itu?, setidaknya itulah pertanyaan Djoko Marihandono mengenai Sejarah Cadas Pangeran yang rasanya sebelum kemunculan makalah ini bagi kita mungkin orang kebanyakan menganggap cerita diatas tersebut benar adanya. Fakta-fakta yang terdapat dalam makalah tersebut membuat kita terkesima bahkan rasanya versi yang kita ketahui benar sebelumnya itu ternyata banyak distorsinya. Bahkan seperti menafikan semua cerita fiksi Buku Méméd Pangéran Kornél, bukunya Pramoedya Ananta Toer Jalan Raya Pos, Buku novelnya Hikayat Mareskalek II karangan Abdullah serta terakhir Buku Cadas Pangeran karya Wiriaatmadja yang penulisnya orang Sumedang sendiri.

________Metode Dekonstruksi itulah yang oleh Djoko Marihandono dipakai untuk meneliti kembali data-data yang ada tentang pembuatan Jalan Pos di Cadas Pangeran ini. Beberapa data arsip berhasil diketemukan dari kumpulan surat-surat yang tersimpan dalam Bundel Priangan dan yang tersimpan di Arsip nasional. Arsip ini berasal dari korenspondensi selama pertengahan tahun 1808 dari para penguasa pribumi kepada para pejabat Belanda, khususnya yang mengawasi pelaksanaan proyek, baik yang berbahasa Melayu, Belanda maupun Sunda. Disamping Arsip penelitian juga berlanjut pada tulisan Leksikografi yang merupakan laporan kronologis dari kegiatan sehari-hari pemerintahan Kolonial di Hindia Timur pada tanggal-tanggal tertentu. Hal ini menjadi penting juga karena Administrasi Kolonial biasanya selalu melaporkan setiap peristiwa yang penting terutama dengan kepentingan pemerintahan di daerah tersebut. Tentang kedatangan orang-orang penting, siapa yang terlibat dan kegiatan detail lainnya. Hal ini biasanya akan diikuti dengan daerah mana yang didatangi, pembicaraan dan keputusan apa yang telah dibuat hingga jalur kepulangannya pejabat itupun akan dicatat.

________Ada yang menarik dari pemaparan Djoko Marihandono ini. Di bagian awal makalahnya sebelum dia mengupas keganjilan mitos Cadas Pangeran dengan Dekonstruksinya. Bangunan makalahnya dimulai dari sejarah diangkatnya Herman Willem Daendels oleh Raja Belanda Willem I (Louis Napoleon) menjadi Gubernur Hindia Timur pada 14 Januari 1808, serta penyerahan laporan pertanggung jawabannya setelah melaksanakan tugasnya tiga tahun kemudian pada tanggal 16 Mei 1811, kepada Raja Willem yang berbeda di Den Haag. Laporannya terdiri atas tiga buku; Buku pertama merupakan laporan selama ia menjabat sebagai Gubernur, buku ke dua dan ketiganya berupa dokumen yang digunakan untuk mendukung kebijakannya semasa menjabat. Dibuat secara sistematis selama tiga tahun tersebut hingga tanggal penyerahan kekuasaannya kepada Gubernur Jendral penggantinya, Jan Willem Janssens. Sayangnya laporan pertanggung jawabannya ini tidak berhasil mengubah pandangan Raja Belanda yang lebih mempercayai kritik lawan-lawan politiknya terutama atas situasi yang berkembang di Hindia Timur (Indonesia) pada saat itu terlebih kondisi politik Belanda pasca pembebasan hingga Belanda mendapat kemerdekaannya dari Prancis. Padahal Daendels telah berusaha menyiapkan laporan tersebut secermat mungkin, salah satunya untuk meng-counter kritik-kritik tersebut.

________Sasaran tembak lawan politiknya yang utama tentu tak lain adalah kebijakan tangan besi Gubernur Daendels yang memaksakan kerja paksa dengan tak dibayar dalam pembangunan jalan Transregional yang dikenal dengan nama Jalan Raya Pos itu. disamping banyak kebijakan-kebijakan kontroversi tangan besi sang Gubernur lainnya yang membuat sengsara rakyat Hindia Timur hingga menelan ribuan korban jiwa orang Jawa terlebih menimbulkan banyak pemberontakan antara lain; pemberontakan Bagus Rangin di Cirebon (1806) yang berhasil ditumpas Oleh Pangéran Kornél dari Sumedang, Pembunuhan Kapten Dupuys oleh Patih Wargadiredja yang menyebabkan kemegahan Banten lama luluh lantak tinggal puing-puingnya oleh kemurkaan pasukan Daendels pada Bulan November 1808, hingga Pemberontakan Raden Ronggo Prawirodirdjo di Madiun tahun 1810. Sasaran empuk inilah dijadikan kesalahan terbesar yang dilakukan Daendels dimasa pemerintahannya. Ada dua lawan politiknya yang tangguh yaitu Nederburg mantan Komisaris Jenderal untuk wilayah koloni Belanda di Asia dan Nicolaas Engelhard, mantan Gubernur Nord Ooskust. (Nicolass sendiri sepertinya punya urusan personal, karena pernah dipecat oleh Daendels). Sayangnya Raja Belanda lebih mempercayai kedua seteru Daendels ini. dan ini pula yang mempercepat kekuasaan Daendels di “Indonesia” pada waktu itu.

________Keyakinan Raja beralasan, Kedua orang seteru Daendels itu memang orang-orang yang setia kepada Dinasti Oranye. Tahun 1795 keduanya pernah mengungsi ke Inggris akibat pemberontakan Kaum Patriot Belanda. Celakanya, salah satu pemimpin Batalyon Infantri pemberontak Kaum Patriot Belanda di Dunkirk (Legion Franche Etrangére) itu adalah Daendels sendiri, dan ini dianggap menghianati bangsa Belanda sendiri. Pemberontakan Kaum Patriot ini berhasil di tumpas oleh Pasukan koalisi Belanda dan Austria. Track Record Daendels yang pernah bekerja pada rezim Prancis, setia kepada pemimpin asing (Napoléon Bonaparte) dan pernah menolak Rajanya sendiri (Willem V van oranye) inilah membuat Laporan pertangungjawabannya tidak dipercayai Rezim yang berkuasa berikutnya. Raja Belanda tentu lebih mempercayai tuduhan lawan-lawan politiknya apalagi Setelah Pembebasan Belanda dari Prancis kedua seteru utamanya yang pernah mengungsi itu diangkat untuk jadi Penasehat Raja untuk urusan Koloni di Hindia Timur. Daendels akhirnya dinyatakan telah melanggar dan menyalahgunakan kekuasaan yang telah di Instruksikan oleh Raja Louis Napoléon kepadanya. Daendels memang Complicated.

________Pemaparan awal Citra Daendels diatas dalam Makalah Djoko Marihandono yang didukung data dan fakta yang sangat dikuasainya itu (karena memang beliau pemerhati sejarah Prancis), paling tidak mendekonstruksi permulaaan bahwa kenyataan itulah yang menyebabkan pembangunan jalan raya yang dilakukan Daendels menjadi penuh kontroversi hingga kini. Selain seteru di negeri asalnya, Daendels juga punya “lawan-lawan” di tanah jajahannya, hal ini tentu memunculkan karya sejarah maupun karya fiksi yang lebih banyak menitik beratkan pada citra negatif dari pada kebaikannya. Bahkan manfaat setelah selesainya jalan tersebutpun tak pernah disinggung dalam historiografi. Empat buku fiksi yang muncul seperti yang telah disebut diatas serta banyaknya pemberontakan merupakan benang merah sebuah perlawanan atas kekejaman atau bisa jadi karena ketidak berdayaan hingga memunculkan mitos walau belakangan dipercayai betul oleh sebagian masyarakatnya, dan ini jadi symbol sebuah antitesis dan lebih memperburuk citra Daendels itu sendiri. Dari data-data seperti itu Djoko Marihandono berkeyakinan munculnya Karya sejarah yang disertai mitos apalagi yang sudah diyakini khalayak umum perlu mendapat pengkajian bahkan pelurusan sejarah yang sebenarnya. termasuk mau tidak mau dalam posisi etika kearifan lokal harus juga menyelami esensi apa yang menyebabkan hal itu semua diciptakan.

________Djoko Marihandono memang berhasil menemukan faktanya kalau memang tidak mau dibilang kebenarannya bahwa yang paling menonjol dari cerita mitos Cadas Pangeran adalah bukti prasasti yang tertera dibawah tugu peringatan tertulis : “Onder Leiding Van Raden Demang Mangkoepradja En Onder Toezicht Van Pangeran Koesoemadinata Aangelegt 1811 Doorgekapt 26 November Tot Maart 1812″, Prasasti ini yang diyakini dibuat oleh pemerintah Belanda, sementara di bawahnya dibuat oleh Bupati Kabupaten Sumedang Drs. Suphan Iskandar pada tanggal 26 November 1972 yang merupakan terjemahannya berisi : “Dibawah Pimpinan Raden Demang Mangkoepradja dan Dibawah Penelitian Pangeran Koesoemadinata. Dibuat Pada Tahun 1811 Dibobok Dari Tanggal 26 Nopember Sampai Tanggal 12 Maret 1812″. Meskipun keberadaan prasasti ini masih perlu dikritisi dari aspek arkeologis terutama usia artefaknya, Waktu yang tertera di prasasti itu menunjukkan masa pemerintahan Pangeran Kusumahdinata, Tapi ketika batasan temporal itu diterapkan untuk masa pemerintahan Daendels, disini terjadi perbedaan. Keputusan Kaisar Napoleon yang dimuat dalam arsip, Daendels mengakhiri masa pemerintahannya pada tanggal 16 Mei 1811, tercatat bahwa Daendels berlayar kembali ke Eropa dari pelabuhan Surabaya menggunakan kapal yang sama kedatangan penggantinya. Jan Willem Janssens. bila mengacu pada periode Prasasti berarti waktu itu bukan masa pemerintahan Daendels, melainkan Pemerintahan Raffles. Karena Jawa diserahkan ke Inggris berdasarkan kapitulasi Tuntang tanggal 19 September 1811.

________Berarti perbedaan waktu itu memunculkan penafsiran historis yang ada bahwa tidak ada peristiwa pertemuan antara Daendles dan Pangeran Kusumadinata. Bisa saja pertemuannya terjadi dengan Raffles, Penguasa tertinggi Inggris di wilayah ini. Akan tetapi dalam catatan arsip pemerintah Inggris tidak tercatat pertemuan ini. Tidak pernah tercatat ia berkunjung ke daerah priangan terutama dalam masa awal pemerintahannya. Bisa jadi kemungkinan lain yang bertemu dengan Pangeran Kusumadinata pada waktu itu adalah pejabat tinggi Inggris yang ditugasi mengawasi proyek. Yang jelas fokus pemerintahan Rafles di awal malahan lebih pada pemantapan kekuasaannya terutama dalam hubungannya dengan penguasa Pribumi di Bidang Ekonomi, sedang Infrastrukturnya sendiri baru di di pertengahan tahun 1812. Hageman yang beberapa kali menulis sejarah tentang sejarah Jawa periode 1800-1811 dalam leksikorafinya pun tidak pernah menyingung tentang peristiwa ini. Begitu juga leksikografi lainnya seperti Plakaatboek Van Nederlandsch Indie yang merupakan laporan kronologis dari kegiatan sehari-hari pemerintah kolonial di Hindia Timur tidak memuat keterangan apapun tentang kejadian itu ditanggal-tanggal tertentu. Kenyataan ini tentunya menuntut Dekonstruksi atau reinterpretasi kembali tentang kredibilitas mitos Pangeran Kornel tersebut.

________Kelemahan lain yang nampak pada mitos Cadas pangeran misalnya pada mungkinkah Daendels akan membiarkan seorang Bupati melawan kebijakannya malahan menantang didepannya. Trek rekord Daendels malah membuktikan sebaliknya, Sultan Banten diturunkan dan istananya dihancurkan, Tiga orang Raja Jawa diturunkan dan dibuang atas perintahnya setelah terbukti mereka menentangnya. Padahal bila dilihat mereka bertumpu pada struktur kerajaan yang kuat dengan sistem feodal dimasyarakatnya, toh Daendels bertindak tegas tanpa memperhitungkan resiko pergolakan atau perlawanan. Jika Sumedang yang terbatas pada suatu kabupaten kemudian menentang kebijakannya Daendels pasti tidak segan mengerahkan kekuatan militernya dan menghukum penguasa setempat. Ini juga berbanding terbalik dengan surat-surat yang tersimpan dalam bundel priangan korespodensi antara para penguasa pribumi dengan para pejabat Belanda justru banyak yang mendukung karena mendapatkan keuntungan dengan hadirnya jalan transportasi itu terutama untuk meningkatkan kelancaran proses niaga hasil buminya. Malahan Bupati Sumedang yang tidak disebutkan namanya di arsip itu justru tidak menyatakan keberatan bahkan siap menawarkan bantuan jika masih diperlukan. merupakan pencitraan yang tidak tepat bila Daendels digambarkan sebagai seorang yang lemah dan begitu mudah menerima tuntutan yang diajukan bahkan dengan sikap menantang dihadapannya.

________Dalam masa itu, pembangunan Jalan Raya Pos ini memang memiliki dampak politis dan sosial yang besar, Polarisasi Politik selama dan pasca pemerintahan Daendels tidak hanya terbatas dikalangan masyarakat Eropa tapi juga berpengaruh didalam negeri sendiri. Munculnya legenda menunjukkan bahwa beberapa kalangan pejabat di Eropa berusaha menciptakan citra tentang Daendels dimata para elit penguasa dan masyarakat pribumi. Penentangan oleh Pangeran Kusumadinata membuktikan bahwa program Daendels menimbulkan penderitaan dan akhirnya memunculkan perlawanan rakyat. Hal ini sengaja dimunculkan dan digunakan oleh orang-orang Eropa yang anti Daendels untuk menyatakan bahwa mega proyek tiu tidak berhasil mengentaskan kondisi kehidupan rakyat. Padahal hal ini menarik mengingat dalam masyarakat Sunda terutama Sumedang tidak banyak menyampaikan keluhan ketika mengalami eksploitasi oleh VOC sejak setengah abad sebelumnya, tiba-tiba memunculkan suatu legenda yang bersifat penentangan terhadap suatu program jangka pendek oleh penguasa kolonial.

________Rezim pemerintahan baru juga mempengaruhi situasi saat itu dengan adanya usaha untuk menghapus warisan keberhasilan rezim lama. Dengan adanya bukti prasasti yang ada dan proses perkembangan sejarah daerah Sunda di awal abad XIX, sekelompok tertentu dikalangan birokrasi kolonial pasca era Daendels mencoba untuk menjatuhkan nama Daendels yang dianggap berhasil melakukan pembangunan di Jawa sesuai Instruksi Napoleon Bonaparte. Musuh-musuh daendels dan Prancis, khususnya mereka yang merasa dirugikan oleh kebijakannya, berusaha keras mengungkapkan bahwa pada masa pemerintahannya menimbulkan penderitaan yang hebat bagi rakyat Jawa. Rezim Inggris sebagai musuh Prancis jelas mengetahui sikap orang-orang Belanda ini dan membiarkannya. Sebaliknya Rezim Belanda menjadikan Daendels kambing hitam akan kesalahan atau program yang mereka diteruskan ketika hal itu dianggap gagal. Hal ini terbukti bahwa diketahui penyelesaian proyek ini terjadi pada pemerintahan Raffles. Ketika korban sudah cukup banyak, dan tidak mungkin lagi oleh tenaga kerja wajib. Iggris menyelesaikannya dengan kekuatan altileri. Namun dikalangan orang pribumi disampaikan bahwa proyek ini atas perintah dari Marsekal Daendels. Alhasil proses Character Assasination dan pencitraan buruk digunakan rezim Inggris, tentu dalam rangka menghancurkan sisa-sisa pengaruh Prancis di Jawa.

________Mitos memang memiliki kelemahan, disamping tidak adanya penentuan temporal yang jelas seperti halnya karya-karya sastra tradisional. Mitos juga biasanya dibuat untuk melegitimasi kekuasaan tertentu dan yang paling banyak muncul adalah menonjolkan kesaktian seseorang dengan maksud-maksud tertentu, Mitos yang berkembang menjadi legenda biasanya berfungsi hanya sebatas identitas budaya lokal yang tumbuh dan beredar dikalangan tertentu, atau membenarkan tuntutan kelompok tertentu terhadap hak dan wewenangnya. Penggunaan mitos untuk penulisan sejarah tentu harus dicermati terutama dari aspek antropologis. Dan ini sering kita temukan dikisah-kisah legenda yang lainnya, atau jangan-jangan sejarah kita juga banyak dibangun dan diciptakan dari mitos dan legenda. ▀

#MyLogBook
#TripSumedangLarang
#FlyWithSiEmb3
#Dariberbagaisumber

Anotasi : Buku Pangéran Kornél oleh R. Méméd Sastrahadiprawira diterbitkan setelah wafatnya pada tahun 1932 di Jakarta. R. Méméd menjadi redaktur Balai Pustaka yang dijabatnya dari tahun 1928. Ia lahir di Manonjaya, Tasikmalaya, 1897; mengenyam pendidikan di STOVIA dan diangkat menjadi CA (Candidaat Ambtenaar) di beberapa tempat sampai menjadi Camat di Bojongloa, Bandung, kemudian menjadi Camat TB (ditempatkan; mungkin kependekan dari Bahasa Belanda) di Kantor Kabupaten Bandung.


Mengenang Sang Mentor, Epilog Untuk Bambang Cahyadi (D-008-PRS)

ubud bali

Desa Bangbang, Ubud Bali ..

Ada 4 (empat) guru saya di Dewadaru yang banyak memberikan pelajaran bagaimana berkegiatan, menghidupkan dan hidup berorganisasi. Aktif menceburkan saya di kepanitiaan kegiatan Dewadaru  serta kegiatan kampus lainnya. Banyak hal berbeda mereka ajarkan dan menjadi penguat modal untuk kehidupan berorganisasi maupun bermasyarakat saya dikemudian hari. Almarhum Bambang Cahyadi, atau sering dipanggil dengan nama Khapoor, barangkali karena wajahnya mirip aktor film India adalah salah satu dari keempat mentor itu.  30 Juni 2017 kemarin tepat 3 (Tiga) tahun kepergian beliau. Mengingat Almarhum, dari banyak perjumpaan dan kerjasama yang  sering  kita lakukan baik di Dewadaru maupun diluar, tentu banyak pengalaman suka maupun duka,  terutama pengalaman yang sangat berharga ketika kami bersama-sama menjelajah Indonesia bagian tengah dan timur selama hampir dua bulan penuh. Tapi awalnya,  jauh sebelum mengenal beliau lebih dekat bahkan masih dalam hitungan bulan ketika saya baru saja menjadi anggota Dewadaru,  ingatan akan selalu terantuk  pada satu kejadian, momen  yang tak pernah saya lupa, Kejadian itu sederhana tapi seperti  menjadi pembeda dan meninggalkan kesan karakter  yang dalam tentang almarhum pada saat itu dan begitu membekas.

Dari Selasar

>>>>>>>>27 Juni 2014, Sekitar pukul 19.00 Wib, untuk kedua kalinya saya bersama istri mengunjungi Bambang yang sedang dirawat koma di ruang intensif Care Unit rumah sakit paru Rotinsulu Ciumbuleuit Bandung. Sudah lebih dari seminggu ia dirawat karena sesak napas penyakit lama asmanya. Ruangannya terletak di bagian belakang pojok sebelah kanan, tempatnya memang agak terisolir, barangkali agar tak terganggu kesibukan pengunjung. Saat itu sepi, tak biasanya rekan Dewadaru yang bergantian selalu menjenguk atau keluarga besar tidak kami temui malam itu. Saya hanya menjumpai Mas Heru, Kakaknya yang selalu berjaga hampir setiap hari. Diantar Heru kami naik kelantai dua, lantai ini seperti sebuah selasar berkaca, banyak keluarga pasien menggunakan tempat ini untuk bermalam menunggu kerabatnya yang sedang dirawat. Selasar ini seperti sengaja dibuat untuk memantau pasien. Jika melihat kebawah berderet pasien-pasien kritis sedang ditangani oleh para perawat yang selalu siaga. Bambang sendiri ditempatkan di kiri pojok ruangan itu, jadi jika kita berdiri di selasar itu sangat terlihat jelas.

>>>>>>>>Tidak seperti pada kedatangan pertama tidak tega untuk menghampiri beliau, kali ini saya dan istri agak memaksa agar bisa kebawah ingin melihat langsung. Rupanya Heru dan perawat jaga mengijinkan. Bergegas, langsung saja saya dan istri turun ke lantai satu. Terlebih dahulu Heru menyarankan  agar memakai pakaian khusus serta masker penutup mulut dan hidung yang merupakan prosedur wajib bila hendak menemui pasen di ruangan ini. Bau obat yang menyengat serta bunyi aneh mesin-mesin pemacu jantung disertai suara hisapan angin seperti sebuah karet dalam botol kacanya serta suasana hening diantara pasen lainnya yang berjajar, sungguh suasana aneh yang memang belum pernah kami rasakan selama ini. kami berdua diantar Heru berjalan menuju tempat tidur Bambang.

Beberapa alat mengitarinya, …

>>>>>>>>Tepat didepan pembaringannya, saya melihatnya seperti sedang tertidur. Menurut perawat kali ini dia tertidur sangat pulas, saya sendiri bingung apa bedanya koma dengan tertidur pulas. Menurut perawat jaga, sebelumnya memang banyak bergerak, seperti merasakan ketidak nyamanan dengan peralatannya. Bayangkan saja pernafasannya saat itu hanya ditopang oleh alat pacu jantung dengan selang dan infuse yang berseliweran disekitar tubuhnya. Saya sendiri tidak mengerti angka-angka digital yang turun naik di layar yang lebih dari satu itu dan bunyi masing-masing mesin yang berbeda memonitor kondisinya saat itu. Ada yang memantau detak jantung, asupan makanan aliran darah, alat untuk menghisap cairan lendir, serta beberapa lagi membantu pembuangan makanan serta cairan seninya.  Kami bertiga tepat berdiri didepan tempat tidurnya, sementara perawatnya berada terpisah tersekat kaca diruangan lain terlihat sedang serius juga memantau monitor di desk komputernya mungkin terus mengikuti perkembangan pasiennya melalui monitor itu.

>>>>>>>>Pertama, saya mendekat, mengucap salam, saya pegang tangannya, Sengaja berusaha mendekat ketelinganya berharap beliau mendengar kedatangan kami. Tak lupa juga mengucapkan kata-kata penguat dan berdoa diberikan yang terbaik, kesembuhan serta sabar menghadapi semua ini, serta salam dari rekan-rekan lain. Bambang terlihat terlelap, walau sesekali terasa begitu perih bila mendadak tersedak cairan yang menyumbat di selang pernapasannya. Sambil menemani, agak berbisik Kami berbincang banyak dengan Heru bagaimana mulai dari proses awalnya hingga Bambang harus di bawa ke rumah sakit ini. Bambang diketahui memang sudah lama mengidap penyakit asma ini, berkali-kali bila merasa sudah begitu sesak pernafasannya, berkali-kali juga rutin mendatangi Rumah Sakit ini. Mengingat pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal terkadang istri tercintanya yang mengantar berkendaraan motor. Entah karena kesibukan yang memaksa atau ada hal lain, sakit saat itu begitu menjadi, hingga menurut Heru ketika datang ke rumah sakit ini, Bambang sudah begitu parah dan tidak sadarkan diri.

>>>>>>>>Malam semakin larut, suhu ruangan terasa semakin dingin, saking begitu heningnya, obrolan kami serasa mendominasi di ruang ICU itu. Ada lima tempat tidur berjajar semuanya diisi penuh oleh pasien. Hampir rata-rata yang dirawat di ruang ini berpenyakit sama, paru-paru dan semuanya kritis. Saya sendiri tak tega dengan pasien-pasien itu termasuk juga melihat kondisi Bambang, begitu terlihat amat sakit dan sulitnya bernafas terkadang diselingi hentakan tiba-tiba seperti ada yang mengganjal atau menghalangi entah apa penyebabnya. Bila ada yang ingat pemandangan ini mirip seperti iklan layanan rokok tempo hari yang pasiennya terpapar karena rokok. Tapi hampir sebagian besar menurut informasi perawat yang berada disini adalah asma kronis. Dalam hati saya merasa lega bukan karena merokok. hehe ..

Tiba-tiba ..

>>>>>>>>Disela-sela obrolan kami, tiba-tiba Heru setengah berteriak memberitahu saya dan istri agar secepatnya melihat wajah Bambang. Saya begitu kaget, takut terjadi sesuatu atau ada hal yang menyebabkan kondisinya kritis kembali seperti yang ditakutkan selama ini oleh keluarga.  Pandangan Kami langsung menuju ke Bambang dan langsung tertuju pada dua kelopak matanya, Kami bertiga terkaget, terkejut sekaligus terharu. Tiba-tiba di kedua ujung kelopak mata Bambang yang sudah membengkak karena pengaruh obat atau sesuatu yang tidak sempat saya tanyakan itu  mengalir air mata. Kami bertiga saling memandang keheranan. Sontak saya langsung hampiri beliau, saya dan Heru memanggil namanya berkali-kali berharap dia siuman dari komanya dan mendengar apa yang kami bicarakan malam itu. Heru sendiri saya lihat langsung melihat monitor monitor yang ada. Saya agak kurang mengerti juga apa yang ia lihat dengan angka-angka itu. Kami berharap malam itu terjadi sebuah keajaiban, dari hari ke hari harapan kami semua memang hanya satu, Bambang dengan seijin Alloh SWT kembali siuman dan tersadar dari komanya dan lebih lanjut tentu diberi kesembuhan.

>>>>>>>>Entah kenapa, saat itu ada rasa haru datang tiba-tiba, air mata yang mulai mengambang tak terasa  mulai menetes. Tak mau diketahui oleh istri dan Mas Heru Saya sembunyikan sebisa mungkin perasaan itu. Saya terus mendekat ke Beliau, Saya tatap terus wajah Bambang, saya perhatikan terus wajah ramah ini, raut muka itu yang selalu ceria selama ini ternyata saat itu seperti seolah ingin berkata banyak tapi tak mampu berkata-kata. Melihat wajah itu tiba-tiba ingatan kembali menyeruak kemasa-masa lalu, kenangan demi kenangan tiba-tiba muncul berkelebat begitu saja menggiring peristiwa-peristiwa itu seperti hadir kembali malam itu.

 

Kasus Season Gunung Salak

>>>>>>>>Kala itu di pertengahan Agustus 1988, setelah selesainya pelaksanaan pendakian team season kami ke Gunung Salak (2211 M-Dpl) di Bogor. Cerita berawal saat kepulangan kami menuju Bandung dengan menggunakan kendaraan Bus. Kegiatan ini adalah pendakian kami bertiga, Anggota Muda Dewadaru Kayu Luncur (AMD-KL), Arief Rahman sebagai ketua, saya dan Agus Widiana sebagai anggota. Team seasoner ini merupakan team pertama kalinya di Dewadaru yang pertama kalinya juga di angkatan Kayu Luncur berinisiatif  melaksanakan Season (Masa Pengembaraan) mengambil materi Hutan Gunung (Hage). Waktu itu belum ada aturan main yang jelas bagaimana itu season, apa itu musim pengembaraan apalagi Sidang Proposal.

Rumah Makan “Pagi Sore” yang kini sudah tak beroperasional lagi.

Kami hanya berinisiatif season dan tujuannya tentu untuk memperoleh nomor pokok Anggota Biasa. Hanya secarik kertas surat jalan berangkatlah kami. Runutan cerita dari habisnya kuota waktu pendakian yang diberikan –  Agus Widiana yang pulang terlebih dahulu setelah pendakian puncak Salak-I, – serta kita berdua melanjutkan pendakian ke puncak Salak-II mungkin jadi penyebab. Pada saat yang bersamaan pula di gunung Salak ini belum lama berselang terjadi tragedi hilangnya pendaki anak STM pembangunan yang fenomenal kala itu. Ditambah kejadian-kejadian “lucu” lainnya menjadikan Season team kami waktu itu berbuntut panjang.

swack

Agus Widiana (D-011-KL)

>>>>>>>>Tapi yang jelas, ketika perjalanan pulang itu belum juga sampai di kota Bandung, di setengah perjalanan lepas puncak Bogor, di tempat rest area Bus biasa istirahat di kota Cianjur (Untuk Bus-bus tertentu  biasanya memiliki rumah makan tersendiri untuk para penumpangnya istirahat atau makan). Di rumah makan Pagi-Sore (saat itu rumah makan ini sangat terkenal, kini hanya tinggal gedung tua yang tak dipakai lagi) ketika kami berdua selesai istirahat makan dan bergegas melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung, terkaget setengah mati. Ketika akan menuju pintu Bus Kramat Jati mendadak di hujani tamparan keras  ke muka kami bergantian oleh dua orang perintis dan satu anggota kehormatan. Kejadian ini tentu disaksikan penumpang Bus lainnya serta sebagian penumpang yang sedang beristirahat makan sambil melongo ada apa gerangan ini. Pertemuan di Cianjur antara kami dan senior Dewadaru itu rupanya bertepatan dengan Bus yang mereka tumpangi juga beristirahat ditempat yang sama. Bedanya kami menuju Bandung sedang mereka menuju ke Bogor. Kejadiannya memang singkat dan tiba tiba begitu saja. Kami bertemu ketika Bus memang telah selesai beristirahatnya dan Bus senior itu  kebetulan baru saja tiba hendak beristirahat juga. Celakanya salah seorang senior itu melihat keberadaan kami ketika kami hendak menaiki Bus. Belakangan baru diketahui bahwa rombongan mereka itu akan menjemput kami di Gunung Salak.

>>>>>>>>Menjelang tengah malam, ketika belum lama tiba kembali dirumah Gang Laksana V, Jalan Jakarta,  belum juga saya beristirahat, sambil membongkar ransel tiba-tiba pintu rumah di ketuk. Berdiri  Imansyah, Alm ( D-009-PRS) mengabarkan bahwa saya harus kekampus malam ini juga ditunggu Dewan Pengurus. Hanya itu saja perintahnya, walaupun saya juga tidak ada niat bertanya lebih lanjut untuk alasan apa saya dipanggil mendadak malam itu, tetapi paling tidak akhirnya menjawab pertanyaan dan kerisauan kita berdua setelah kejadian di rumah makan Pagi-Sore itu di bus tadi sepanjang  perjalanan pulang, “ieu pasti aya nanaon,..”. Bakal ada masalah dan ada sesuatu yang salah yang  kita kerjakan selama season kemarin mulai terasa.

>>>>>>>>Saya yang baru beberapa bulan menjadi anggota Dewadaru, juga Mahasiswa baru yang masuk kuliah di tahun itu juga, tidak mengenal betul anggota Dewadaru lain bahkan belum mengerti aturan main organisasi Dewadaru kala itu tanpa pikir panjang tentu  menuruti perintah Iman tersebut. Pertama sih penasaran dengan apa yang bakal terjadi serta  keingintahuan yang besar kesalahan apa yang menimpa kami team Gunung Salak ini koq, hingga diluar dugaan menghebohkan lembaga kampus dan senior Dewadaru pada saat itu, serta menunggu apa yang akan saya terima. Lagian, pasrah adalah pilihan terbaik. Itulah yang ada di benak saya sepanjang perjalanan jalan kaki bersama Iman antara gang laksana V hingga kampus yang memang tak begitu jauh.

Laporan Season Pendakian Gunung Salak

>>>>>>>>Di kampus malam itu tengah diselenggarakan kegiatan Opspek mahasiswa baru angkatan 1988. Kegiatan Opspeknya sendiri sudah lama selesai, yang terlihat Panitianya tengah beristirahat untuk persiapan pagi hari esok nanti. Seperti biasanya Dewadaru diminta membantu kegiatan tersebut. Sehingga malam itu hampir semua anggota Dewadaru, para Perintis (PRS), Anggota Kehormatan serta teman-teman seangkatan, Kayu Luncur (KL) tengah berkumpul lengkap, entah barangkali mereka juga sengaja diundang  untuk menghadiri “penghukuman” kami. Belum juga sampai di sekretariat Dewadaru, masih dilorong menuju pagar besi, tamparan keras dari seorang Perintis ke muka sudah saya terima dua kali tanpa basa-basi. Walaupun memang didahului dengan ucapan selamat dan “bam..bam”, dalam hati saya berpikir ini sudah harus siap-siap. saya semakin menyadari ini ternyata tidak main-main. Sesampai di sekretariat (Dahulu istilah Basecamp belum familiar) Saya lihat dua rekan team season, Arief Rahman dan Agus Widiana sudah tiba terlebih dahulu di sana. Saya sendiri tak sempat menyalami mereka hanya saling memandang dan juga tidak tahu apakah mereka mengalami hal yang sama, karena sudah bisa diduga ucapan selamat dan tamparan demi tamparan berikutnya masih terus menyusul dari rekan perintis dan anggota kehormatan lainnya.

>>>>>>>>Singkat cerita, malam itu kami bertiga memang jadi bulan-bulanan “sumpah serapah” para perintis, dan tentu ada saja cibiran dari rekan-rekan seangkatan. Diinterogasi hingga menjelang subuh  disidang, di screening, atas kegiatan indisipliner waktu pelaksanaan Season tentang penggunaan kelebihan waktu yang tidak diinformasikan dengan baik, serta menurut sidang tengah malam itu team kami di cap arogan, karena memberikan informasi yang main-main, membuat khawatir organisasi dan fihak lembaga. Bahkan yang bikin tambah rumit para Printis adalah, kekhawatiran berlebih dari salah satu orang tua rekan kami yang menyangka seolah-olah kami telah hilang di Gunung salak atas dasar informasi secarik kertas yang kami titipkan ke satu rekan kami yang pulang terlebih dahulu itu. Apalagi berita kehilangan Anak STM Pembangunan Jakarta di Gunung Salak ini belum lama berselang dari hari pendakian kami di gunung itu.

Persiapan Salak

Berasama Arief Rahman (D-013-KL), di kediaman Jl. Jakarta, Gg. Laksana V Bandung. Persiapan sebelum keberangkatan Season Gunung Salak (1988).

>>>>>>>>Saya pribadi sekali lagi pasrah saja, berusaha menerima semua ini, barangkali ini memang aturan organisasi Dewadaru yang harus saya ikuti dan jadi pelajaran mahal untuk orang yang masih belum tau apa-apa tentang  aturan main Dewadaru serta kaget saja koq sedemikian marahnya senior kami pada waktu itu. Semuanya bak orang yang bingung saya menurut saja, dengarkan dan mudah-mudahan cepat selesai, itu saja yang ada dalam benak saya.  Bagaimana dengan dua rekan saya yang lainnya?, saya sendiri bisa menebak, kelihatannya malam itu sangat berbekas, betapa tidak, setelah sidang yang berbelit-belit itu, kami masih juga harus dimandikan menjelang dinihari yang dingin itu, serta masih saja terjadi penamparan berikutnya. Terbukti satu rekan memang meradang tak bisa menahan amarahnya,  diluar kendalinya mencoba melawan dan langsung diperlihatkan malam itu. Rekan satunya sepertinya membekas hingga berlarut-larut lama menghilang. Saya sendiri bisa menebak ini masalahnya pasti berbuntut panjang di urusan keluarganya yang khawatir itu. Tapi mudah-mudahan saya salah dengan persangkaan itu.

19 Agustus 1988, photo bersama panitia dan sebagian angkatan Kayu Luncur sambil menunggu sebelum acara sesi pengenalan. Bambang juga hadir pada acara itu.

>>>>>>>>Kami memang hanya diam, menjawab seperlunya. Sakit juga, tapi mau apalagi kami nikmatin saja. Diam-diam saya mencermati betul semua itu, bahkan saya hapal betul siapa saja yang melakukan hukuman itu, hingga menghitung derajat kekerasan tamparan dari masing-masing senior itu. apakah kadarnya serius berupa peringatan atau sebuah kemarahan membabi buta belaka, baik ke saya maupun ke dua rekan malam hingga dinihari itu. Walaupun di penghujung  kegiatan “Screening” itu semua yang terlibat dan hadir memang akhirnya berpelukan kembali. Ada yang meminta maaf, hanya sekedar bersalaman ataupun ada yang serius berpelukan dan menegaskan kembali bahwa kejadian malam  ini adalah sebuah tindakan organisasi yang sedang menegakkan aturannya (Indisipliner), berlaku untuk semua dan harus dijadikan contoh semua anggota Dewadaru lainnya untuk tidak melakukan hal yang sama.

>>>>>>>>Tahu tidak, saya sendiri sempat heran dan bertanya-tanya dalam hati. Ditengah-tengah kekalutan hiruk pikuk kemarahan senior serta bagi kami seperti suasana tak menentu tersebut ada satu sosok Printis yang sungguh berbeda dari lainnya. Entah kenapa kehadirannya justru jadi peneduh dan penambah kekuatan psikologis kami terutama saya pribadi pada malam itu. Beliau tak berkata-kata sedikitpun ditengah perkataan kasar yang saya dengar bertubi. Sangat wajar ketika semua “menodongkan senjata” ke kami sikapnya itu bagi kami seperti sebuah keberpihakkan. Apalagi yang membuat saya heran, mungkin juga tidak ada yang ngeh dan memperhatikan beliau pada malam itu bahwa, hanya senior ini yang tidak mau melakukan penamparan sedikitpun kepada kami. Walaupun sepertinya ada desakan dari lainnya untuk melaksanakan itu. Dan saat  kita dibariskan didepan sekretariat diakhir kegiatan indisipliner itu,  ketika setelah berbasah kuyup dimandikan dinihari itu. Walaupun penghukuman itu dilakukan kembali, Senior ini hanya menghampiri saya, hanya mengusap dan menepuk pipi kemudian memeluk saya. Kemudian sambil melepaskan pelukan, wajah itu menatap saya dengan ramah sambil senyum lalu berkata, “.. yang sabar ya Yo, jangan dilulangi lagi yah ..” hanya ucapan itu yang saya dengar. Saya tak bisa bisa menjawab hanya mengangguk senyum sambil mengucapkan “.. terima kasih Mbang”.  Ketika bubaran, dan kami hendak pamit kembali kerumah masing-masing Bambang mengingatkan saya untuk datang sore nanti di acara Opspek pengenalan organisasi di depan mahasiswa baru. “Siap”, Jawab saya.

19 Agustus 1988, saya datang untuk menghadiri sesi pengenalan organisasi Dewadaru di depan Mahasiswa Baru angkatan 1988.

>>>>>>>>Inilah penilaian pertama saya yang sangat mendalam kepada Bambang Cahyadi, entah kenapa bagi saya beliau begitu berkesan. Sepulang dari kampus itu saya terus berpikir, dan sedikit menganalisa bahkan menebak-nebak bahwa tak mudah lho beliau bertahan atau menahan emosinya pada malam itu atau koq bisa yah, padahal kalau bisa merasakan dan hadir pada malam itu dorongan kemarahan dan emosi yang memuncak tak bisa dibendung, dapat saja dia lakukan dan melakukan hal yang sama dengan rekan-rekan seniornya yang lain. Beliau seperti menahan diri dari perang konflik bathin pada malam itu. Dari situ saya menyimpulkan bahwa beliau memang berbeda, beliau orang baik dan ini bangunan karakter beliau. Orang boleh berkata, penilaian ini terlalu subjektif atau hanya sesaat pas kebetulan saja kondisinya memang seperti itu, lebay terlalu berlebihan kalau istilah populernya saat ini. tapi sejarah memang terus berlanjut, dan saya selalu percaya pada kata hati. Sore harinya untuk membuktikan itu pada semua yang hadir pada malam kemarin tidak membekas di saya pribadi, terutama untuk menghargai dan “mengucapakan terima kasih” pada Bambang, saya datang dan menghadiri sesi pengenalan organisasi Dewadaru di depan mahasiswa baru tersebut. Sayangnya kedua rekan saya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya rupanya tidak ada dideretan angkatan Kayu Luncur dipengenalan itu, tapi saya bisa mengerti apa yang menjadi penyebab ketidak hadiran mereka itu.

 

Spesialis Logistik

>>>>>>>>Ketika Dewadaru hanya baru memiliki Kayu Luncur (1987-1989), periode itu bisa dikatakan masa sibuk-sibuknya dengan kegiatan. Satu sisi tengah bergerak berpromosi menambah jumlah keanggotaan baik secara kwalitatif maupun kwantitas dengan mempersiapkan konsep Diklatsar dengan sebaik-baiknya, sisi lainnya disaat yang sama kampus pun tengah bergairah dengan banyaknya kegiatan. Selepas menyelesaikan sidang presentasi season yang untuk pertama kalinya juga di Dewadaru dan akhirnya team kami memiliki Nomor Pokok dan menjadi anggota Biasa, saya bersama Agus Widiana langsung diterjunkan menjadi staf di Dewan Pengurus II Dewadaru dibawah kepemimpinan Dharmawan (D-005-PRS). Walaupun pertamanya terjun di Divisi sosial dibawah Aswin Prayogi (D-002-PRS) tak jarang juga diperbantukan di bidang logistik dan administrasi yang saat itu menjadi pegangannya Bambang Cahyadi. Terutama seringnya diterjunkan membantu kegiatan Diklatsar dan banyaknya kegiatan non Dewadaru yang bekerja sama dengan senior-senior lain di BPM (Kini BEM), di Menwa, dan IKM (Kini Senat). Seperti Opspek, Inaugurasi, Jambore. Tugas berikutnya mau tak mau karena terlebih dahulul meimiliki NRP, Dewan Pengurus tentu meminta kami juga mempersiapkan sidang-sidang proposal dan presentasi rekan-rekan Kayu Luncur lainnya yang belum memiliki Nomor Pokok. Sebagai orang baru dengan minimnya pengalaman berorganisasi sebelumnya, kesempatan ini tentu menjadi “petualangan” baru disela-sela kuliah dan aktif naik turun gunung  yang lagi kenceng-kencengnya saat itu.

Perjalanan melintas kota Ciwidey, Team Leader Jambore Amik Bandung, Rancaupas (1988)

>>>>>>>>Bambang Cahyadi adalah orang yang kemudian banyak mengajak (menjerumuskan) saya ikut terjun dalam kegiatan tersebut. Entah kenapa, selama bekerja sama dengan beliau tak seperti berjarak antara senior dan junior, tak ada komando semau gue, semuanya mengalir begitu saja ditambah pembawaanya yang selalu ceria serta banyak diselingi guyon. Malahan ketika persoalan telah macet, beliau selalu saja memiliki jalan keluar. Hebatnya solusi itu didapat dari argumen yang kita bangun bersama secara team. kerja-kerja yang penuh tekanan di setiap kegiatan sepertinya nyaman saja berjalan lancar, selama perencanaan maupun dipelaksanaan.  Kalau bicara urusan manajemen logistik perhimpunan serta logistik kepanitiaan, Bambang adalah spesialisasinya. Dahulu di Dewadaru secara tak sengaja setiap anggota, terutama yang baru memang harus memiliki kecakapan khusus (Spesialisasi) sekecil apapun bentuknya itu. Ini penting karena peran-peran itu sebenarnya sangat dibutuhkan disuatu saat ketika sebuah kegiatan besar akan dijalankan. Bambang tanpa disadari memacu diri saya untuk menyadari hal itu.

Persiapan keberangkatan Panitia Jambore Amik Bandung, Ranca Upas Ciwidey 1988

>>>>>>>>Saya mulai tertarik membantunya karena tanggung jawabnya. Dari mulai perencanaan administrasinya dikelola dengan baik, eksekusi hingga follow up nya pun sangat detail. Tak kalah menarik sumber-sumber pengadaan logistik, beliau memang menguasai. Terutama bila berhadapan dengan instansi terkait baik sipil maupun militer juga dipemerintahan. Malahan dibagian komunikasi dengan nara sumber, dibagian ini seringnya saya meminta untuk diikutsertakan bila hendak bertemu. Tak ada logistik yang diinginkan panitia tidak dapat disediakan oleh Bambang. Referensinya dan jaringannya begitu banyak terutama kala itu link dengan sesama perhimpunan pencinta alam khususnya di Bandung .Saya sendiri heran, satu waktu mengikuti dia berkeliling dalam mencari barang-barang yang bagi saya cukup rumit, semisal keperluan jambore yang begitu banyaknya ternyata mudah saja. Apalagi ketertarikan saya bertambah ketika beberapa logistik yang ada hubungannya dengan rancang desain atau sesuatu yang harus digambar. Misal pembuatan spanduk kegiatan, administrasi keperluan surat menyurat serta diminta merevisi logo Dewadaru agar lebih bagus dari desain sebelumnya. Bersama Bambang saya tenyata terus meng-upgrade diri.

Salah satu Dokumentasi Unit Spesialisasi Susur Pantai ketika berphoto Di Desa Sumur, pintu masuk Taman Nasional Ujung Kulon (1993) dalam rangka musim pengembaraan pengambilan NRP Anggota Biasa. Spanduk itu selalu menemani perjalanan Anggota dimanapun berada. Alhamdulillah. (Photo : Sirajudin Sirait)

>>>>>>>>Ada kejadian menarik ketika saya disuruh Bambang membuat 2 (Dua) buah spanduk Dewadaru dan Spanduk Diklatsar II (Hujan Rimba) di pertokoan Cikapundung (Dahulu tempat ini terkenal dengan sentra spanduk, umbul-umbul, sablon dan lain sebagainya). betapa kita dibuat bulak-balik ketempat ini hanya sekedar ingin membetulkan salah persepsi si mang-nya yang menyangka bahwa pohon Dewadaru di bagian logo kita selalu disangka sebuah obor. Walau telah diterangkan bahwa nama Dewadaru itu sebuah pohon,  tetep saja bentuk akhirnya masih mirip obor dan sulit sekali membuat image itu. “Oh, Jadi Dewadaru itu nama pohon”, katanya. Tidak sabaran,  akhirnya saya sendiri yang merevisi gambar di tempat sablon itu agar obor itu kembali menjadi sebuah phohon Dewadaru. Masih juga sekitar logo Dewadaru, ketika beliau menambahkan kotak belah ketupat dibagian luar bulatan logo lama, kita sempat berdiskusi bagus dan tidaknya sampai akhirnya kita menambahkan tulisan di sekitar bulatan itu untuk mengimbangi kotak beliau di logo Dewadaru yang baru. Terus terang tadinya memang Cuma coret-coret iseng. Kita berdua sebenarnya menunggu respon para anggota Dewadaru lain barangkali ada yang keberatan atau tidak setuju dengan perubahan ini, lama tidak ada respon akhirnya logo itu menjadi yang sekarang. “tuh pan jadi alus, seimbang.. toast ah ..” itu candanya ketika semuanya tak keberatan (atau cuek saja) dengan perubahan itu. Spanduk yang dahulu dibuat di cukapundung itulah yang kini selalu dibawa Anak-anak Dewadaru berdiri di puncak-puncak gunung serta di tempat-tempat lainnya.

Open House-1

Open House-1 Dewadaru bertempat di depan ruang kelas tepat dipintu masuk. walaupun seadanya, tapi berusaha tampil maksimal menghadirkan apa yang kami punya (1990).

>>>>>>>>Kerjasama bersama Bambang terus berlanjut hingga Dewadaru memiliki dua angkatan baru yaitu Hujan Rimba (HR/1989) dan Purnama Belantara (PB/1990). Dalam Periode Dewan Pengurus III (Benjamin Lukman) intensitas kegiatan semakin tinggi seiring dengan semakin banyaknya minat untuk masuk menjadi anggota Dewadaru. Karena lingkarannya masih kecil, terasa sekali Dewadaru cukup solid waktu itu dalam merencanakan dan menjalankan sebuah kegiatan, semua bekerja sama dengan baik. Peran perintis waktu itu memang sangat terasa dalam mendukung semua lini yang ada dalam kehidupan berorganisasi. Bambang dengan kepribadian humble-nya ternyata bisa menjembatani komunikasi antara kami yang muda dengan para senior diatasnya yang berbeda jauh tahun angkatan di kampus. Kurang berhasilnya Diklatsar II yang hanya bisa menggaet 5 (lima) orang anggota baru tak menyurutkan tekad untuk berusaha terus, saya masih ingat betul ketika itu saya membantu Bambang yang dibantu Imansyah serta dukungan anggota lainnya begitu habis-habisannya menyiapkan gelaran Open House I Dewadaru (1990). Mengumpulkan logistik untuk dipamerkan

semeru

20 Desember 1988 (Upacara Pelepasan), saat satu jam sebelum keberangkatan Team Mahameru-Bromo-Batok dengan menggunakan Land Rover dan Jepp Willys (Bandung-Malang). di depan Kampus Amik Bandung

serta men-setting ruang kampus untuk dijadikan booth display pameran ini serta dengan teknologi yang sederhana waktu itu menyiapkan perangkat slide dan software animasi pendukung untuk diputar di ruangan. Menentukan waktu dan moment yang tepat kapan harus diselenggarakan juga ternyata menjadi penentu keberhasilan kegiatan ini. Terus terang banyak pelajaran dari beliau tentang semua itu. Tanpa tidak mengurangi hormat saya untuk peran anggota lainnya juga.

MBB

Hard Cover, Laporan perjalanan Pendakian Puncak Mahameru Bromo dan Batok. Laporan ini juga dipergunakan oleh Deni “Poek” Pradana untuk melengkapi kekurangan persyaratan atas sidang presentasi season sebulan sebelumnya dan resmi mendapatkan Nrp : D-014-KL

>>>>>>>>Untuk urusan mendaki Gunung ternyata juga tak kalah menarik. Bersama Bambang dan Arief Iful (KL) kami menyiapkan ekspedisi ini begitu serius dan menantang. Pendakian ini juga sekalian menyertakan Deni Poek (KL) yang waktu itu disyaratkan memenuhi kewajibannya dalam rangka pemenuhan kegiatan yang kurang di Season sebelumnya. Melalui Bambang saya mengajak para Printis untuk mengadakan pendakian bersama yang tergolong agak besar juga pada saat itu di Dewadaru dan pertama pula kita mengadakan semacam ekspedisi ini. Mendaki gunung Semeru yang pertama (1988) di malang Jawa Timur ini cukup sukses, sempat juga diliput koran Pikiran rakyat pada waktu itu. walau tidak semua Perintis ikut serta tapi minat waktu itu cukup tinggi dari mereka hanya karena waktunya saja berbarengan dengan hari kerja. Hebatnya kita waktu itu menggunakan dua buah jeep (Land rover dan jeep willys) sebagai sarana transportasi ke kota Malang itu sampai ke desa terakhirnya, sebuah kegiatan tergolong cukup mewah juga pada waktu itu.  Pendakian dan perjalanan touring Jeepnya sangat sukses, walau untuk mendaki sampai puncaknya hanya beberapa orang saja. Kelelahan diperjalanan selama mengendarai jeep sebelumnya (Bandung-Malang) hingga kejar-kejaran waktu untuk sampai dipuncak Mahameru dibawah jam 10.00 pagi, dilapangan membuat para peserta tumbang. Ada yang sakit menunggu di Arcopodo, sebagian menyerah hingga cemoro tunggal tanjakan pasir Semeru.tapi secara keseluruhan perjalanan ini sangat sungguh berkesan. Dengan mengendarai Jeep yang sama (Saya, Bambang, Imansyah, Aswin Prayogi, Rizna M, Arif Ifull, Ganis Hargono, Deni Poek dan dua orang tamu dari Crater: Tato dan Teguh) tiba kembali dengan selamat di Bandung.

MBB2

Kendaraan Jeep Willys di kota Batu, menjelang dinihari memasuki Malang pecah Blok Koplingnya sehingga harus di servis di Kota Malang. Menuju Ranu Pane diputuskan hanya menggunakan 1 Jeep Landrover. (Ranu Pane Des’1988)

>>>>>>>>Tidak menyerah dengan kegagalan mendaki gunung Semeru pertama, rencana lebih serius dipersiapkan kembali di bulan Agustus- Desember 1989,  malahan pendakian kali ini juga ditambah dengan pendakian gunung Welirang dan Arjuno. Saya sendiri membimbing Anggota Muda Hujan Rimba untuk pengambilan Nomor Pokoknya, serta mengajak serta 2 anggota Pencinta Alam STIA Bagasasi Bandung. Beberapa Perintis dan Anggota Kehormatan juga turut serta dalam jajaran  team Pendakian. Sayang pendakian kedua ini walaupun pada awalnya Bambang menyatakan kesiapannya untuk ikut, tapi karena ada pekerjaan yang lebih utama akhirnya beliau urung. Tapi bantuan diawal dalam persiapan administrasi dan Logistik sangat saya hargai dan cukup membantu terutama dalam menggiring fihak sponsorship untuk mensupport kegiatan ini. Pendakian ini akhirnya berjalan sesuai dengan rencana. semua dapat berdiri dipuncak bersama-sama.

10635817_1478809722370327_6633239031615579999_n

Pendakian Semeru untuk kedua Kalinya bersama para Printis Dewadaru serta Season NRP-nya AMD-Hujan Rimba (HR), sungguh disayangkan Bambang karena ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan tidak ikut serta dalam pendakian ini.

 

Travelling Indonesia Tengah dan Timur

>>>>>>>>Di tahun 1991, saya merasa paling beruntung dan begitu merasa terhormat. Dari semua perjalanan dan kerjasama dengan Bambang yang paling berkesan selama ini adalah ketika saya diajak oleh beliau bersama Mas Taufik (kini telah menjadi Anggota Kehormatan 010-AK) Hampir selama 2 (Dua) bulan. berkeliling Sulawesi, Bali, Mataram, Flores, Pulau Komodo  hingga ke Kupang, dan gratis pula. Baik penginapan, pesawat, kapal laut dan akomodasi lainnya, malahan disepanjang perjalanan masih diberikan uang saku bila hendak ingin membeli sesuatu diluar itenerary serta oleh-oleh yang begitu banyak dan beragam disetiap daerah. Sebuah perjalanan yang sangat  amazing bagi saya yang tadinya bermimpi-pun tidak pernah bila dalam satu kurun waktu lama tersebut bisa mendatangi lokasi-lokasi pavorit para petualang dan traveller pada jaman itu, terlebih saya yang memang tukang main tapi mentok biaya. Apalagi perjalanan ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mendatangi gunung-gunung yang rutin selama ini saja biayanya selalu didapat dari hasil menabung lama sisa-sisa uang kiriman dari orang tua. Atau bila memaksa bekerja apa saja di jabanin hanya untuk sekedar bisa naik gunung. Jangan ditanya kalau perkuliahan saya selama 2 (Dua) bulan itu?, waktu itu enteng saja saya tinggalkan.

Gara-gara sering main ke jalan Kebonwaru, serta sering saya dengar lagu-lagunya di VW safari-nya Bambang, saya jadi menggemari lagu-lagu dan mengoleksi album John Cougar.

>>>>>>>>Disuatu malam, seperti yang sudah biasa kami lakukan setelah kegiatan perkuliahan selesai biasanya kami berkumpul di sekretariat.  Pada saat itu memang tengah dilaksanakan Masa Bhakti (MaBhak-AMD-PB) Anggota Muda Dewadaru Purnama Belantara. Anggota Dewadaru memang masih lengkap dari mulai Perintis, Hujan Rimba dan yang tengah ramai-ramainya tentu kehadiran anggota baru Purnama Belantara sejumlah 28 orang hasil diklatsar III yang terbilang cukup sukses. Ketika malam hendak bubaran, saya dihampiri Bambang agar jangan pulang terlebih dahulu tapi diminta menyusul ke kediaman Imansyah ada yang hendak dibicarakan. Sementara dia pamit dulu hendak kesana.

>>>>>>>>Malam itu saya berpikir ini sudah rutin, karena seperti biasanya jadwal pertemuan lanjutan bagi para senior Perintis Dewadaru kala itu terutama bagi para pengurus dan ring satu waktu itu bila hendak membicarakan rencana yang bersifat strategis biasanya dilakukan pertemuan lanjutan di Jalan Kebonwaru utara, sebuah paviliun rumah tua yang nyaman dan luas ini adalah Tempat kost Imansyah. Ibu kostnya sendiri nampaknya tidak keberatan bila tempat Kostnya selalu ramai hingga dinihari, karena letaknya diluar dari kamar-kamar lainnya. (Imansyah ini anak kesanyangan ibu Kost, inget anaknya katanya). Saya sendiri sering menyambangi tempat ini terutama bila mempersiapkan konsep dan kegiatan yang membutuhkan sharing pendapat para tetua Dewadaru.

Taufik

Ir. Taufik S Nugraha, MBA (D-010-AK), saat itu.

>>>>>>>>Selepas dari Basecamp Dewadaru, saya meluncur ke Kebonwaru, letaknya tidak jauh dari kampus, hanya berjalan kaki beberapa menit saja saya sudah sampai disana, tidak seperti biasanya lagu-lagu Michael Frank tapi kini alunan musik Jhon Cougar Mellencamp yang khas itu sudah saya bisa dengar sayup-sayup, tandanya Imansyah ada ditempat dan mereka pasti sedang kumpul. Terlihat para senior memang tengah berkumpul, kalau tidak sedang membahas Dewadaru pasti sedang membahas lainnya yang nyerempet-nyerempet, kalau tidak juga pasti sedang bercanda, maklum “lamun Dewadaru geus ngarumpul kalakuanna, heureuyna siga budak”. Hehehe .. itu juga kata mereka lho. Saya langsung disambut Bambang yang keliatannya agak serius juga saat itu. Seingat saya malam itu Tanpa basa-basi dan langsung to the point  bahwa dia dan Mas Taufik hendak mengajak saya, mau tidak untuk jalan-jalan. Awalnya hanya menyebut keliling Sulawesi. Bak petir disiang hari, saya melongo, Hah, serius?, atau ini main-main. Belum sempet bertanya Bambang yang apal bahwa saya tidak akan menolak melanjutkan agar secepatnya Packing karena besok rencananya sudah akan berangkat menggunakan Bis malam menuju semarang. Dari pelabuhan Tanjung Mas menggunakan Kapal laut menyebrang ke Makasar. “ Geus pokoknamah geura packing ..”. tanpa harus me-list perlengkapan apa saja, Bambang sepertinya sudah tau juga apa yang biasa saya persiapkan buat sebuah perjalanan panjang.

KMP TIDAR

Ketika berpapasan dengan KMP. Kambuna di Perairan sekitar Masalembo. Dengan menggunakan KMP Tidar, perjalanan kami habiskan sehari semalam. Dari semarang menuju Makasar, Ujung Pandang. it’s a real Journey …

>>>>>>>>Adalah seorang Ir. Taufik Setya Nugraha, rasa terima kasih itu harus di hatur nuhun kan begitu besar. Terus terang saat itu saya sendiri kurang begitu mengenal beliau, yang saya tahu Taufik adalah bosnya Bambang disebuah pekerjaan, seorang arsitek yang selama ini sesekali hadir bahkan beberapa ikut serta dikegiatan Dewadaru, selalu memberikan donasi, baik diminta ataupun tidak. Beliaulah yang mendanai semua perjalanan ini. Pasti juga pemilihan saya untuk diikut sertakan dalam perjalanan ini keputusan beliau juga. kenapa mereka berdua memilih saya untuk menemani perjalanan yang cukup lama ini,  diperjalanan secara tak sengaja baru kemudian saya ketahui.

Labuhan Bajo

Berpose di atas Benteng Fort Rotterdam, Makasar Ujung Pandang.

>>>>>>>Menurut Bambang sebelumnya ada dua orang kandidat yang akan diajak, tapi karena satu dan lain hal mereka akhirnya memilih saya. Selain “Tukang Ulin dan gugunungan..”, menurut Beliau berdua,  saya yang mereka kenal suka menulis, diharapkan, tepatnya menugaskan saya untuk peliputan jurnalistik atau paling tidak membuat jurnal perjalanan dari hari kehari secara keseluruhan untuk dibuatkan laporannya dikemudian hari. Bangga juga sih, terima kasih tak terhingga buat beliau berdua. Tidak hanya itu Bambang juga sedikit berjaga-jaga, pengalaman mengadakan perjalanan ala backpacker selama ini yang sering saya alami diharapakan juga dapat mengatasi keadaan bila ada hal-hal yang akan terjadi selama diperjalanan. Entah soal kecil sosiologi pedesaan, manajemen perjalanan, safety prosedur, mendaki gunung hingga bantuan operasional lainnya selama diperjalanan. “pokokna mah  Manajemen Rusuh, nya Mbang..”. Taufik sendiri karena seorang arsitek rencananya

soroako2

Ketika berkunjung ke Perusahaan Nikel PT. INCO di Soroako, (Sulawesi Tenggara) diterima dan dijamu habis-habisan oleh Div. Public Relation-nya.

perjalanan ini juga diantaranya agenda pribadinya adalah membuat study atau penelitian tentang rumah-rumah adat di daerah-daerah tertentu. Sebagai bahan referensi untuk desain rumahnya kelak. Lucunya alasan ini saya ketahui justru pada suatu malam, ketika perjalanan sudah dilaksanakan beberapa hari. Ketika Bambang melihat saya selalu menulis di buku catatan kecil saya dan selalu tidurnya terakhir di setiap malam karena harus menulis laporan perjalanan hari itu. Saya memang telah menyiapkan beberapa buku kecil (notes). Dua buku kecil tebal itu saya habiskan untuk menulis jurnal perjalanan ini. Bukunya masih saya simpan rapih, dan belum pernah dipublikasikan selama ini.

Matano

Berenang di Danau Matano, masih dalam kawasan PT. Inco. Soroako.

>>>>>>>>Perjalanan ini memang “menakjubkan”, saya tidak bisa melukiskan dengan kata-kata betapa begitu sangat berkesannya terlebih bagi pengalaman pribadi saya hingga saat ini. Setiap pergantian hari adalah sesuatu yang baru, selalu berbeda dari hari sebelumnya.  Pengalaman seharian di KMP. Tidar dari Semarang menuju Ujung Pandang adalah awal pertama bahwa perjalanan ini nyata. Lucu memang, saking nervousnya, perjalanan dari kota Bandung menggunakan bis malam menuju kota semarang, saya masih merasakan ketidakpercayaan dengan semua ini. Apalagi semua begitu mendadak, mulai dari ajakan hingga packing perlengkapan yang beberapa jam saja, bahkan terus terang saya katakan kepada Bambang bahwa isi dompet yang saya bawa tidak lebih dari Puluhan Ribu rupiah saja. Tapi Beliau mengatakan tidak usah dipikirkan urusan yang satu itu, malahan saya ditawarkan jangan ragu bila butuh Uang atau sesuatu tinggal bicara saja. Bambang memang ditugasi sebagai bendahara perjalanan ini. Alhamdulillah sepanjang perjalanan saya tidak pernah lakukan permintaan itu, sebaliknya Bambang sudah mengerti apa yang saya inginkan dan selalu lebih dahulu memberikan. Mulai dari cash money sampai rokok dan cemilan selalu siap sedia. “Nuhun Mbang…”.

Tator-5

Didepan Komplek Pemakaman Tua KeteKesu Tanah Toraja

>>>>>>>>Dalam jurnal saya memang lengkap mencatat hampir semua kejadian yang kami temui dan lakukan perharinya. Tahun 90-an, travelling  (Kalau sekarang lebih dikenal dengan Back Packer) memang masih jarang dilakukan oleh turis domestik yang berkeliling di negrinya sendiri. Kami sendiri hampir tak pernah menemuinya, sepanjang perjalanan yang kami temui  selalu turis Bule, baik grup, beberapa orang bahkan ada yang sendiri-sendiri berkeliling Indonesia. Terkadang kami salut melihat mereka dengan bermodalkan buku kamus Indonesia serta buku tebal panduan wisata yang sudah kumal karena dibulak-balik, mereka begitu antusias sekali ingin mengenal lebih banyak ke-eksotisan negeri kita yang indah ini. Senang juga waktu itu bersama-sama mereka kadang kita bertukar informasi banyak hal. Apalagi yang tak kalah menarik adalah ragam kearifan lokal serta keramahan penduduk yang  bagi kami baru mengenalnya, ini menambah referensi kami bertiga. Dalam catatan ini tentu saya tidak mungkin mengulas semua perjalanan panjang itu (Mudah-mudahan di lain artikel).

Kelimutu

Pendakian Gunung Kelimutu (1.639 M-Dpl), Ende. Flores (1991). Latar belakang Kawah tiga warnanya yang unik itu. Minta tolong di photo-kan oleh Turis bule yang bersama-sama Naik Kelimutu, eh Hasilnya malah setengah ..

>>>>>>>>Dari semua perjalanan itu, ada saat-saat tak terlupakan dengan Almarhum. Di hampir setiap malam, di setiap penginapan, baik hotel berbintang ataupun losmen di kota-kota kecil. Ada kebiasaan kami untuk membunuh malam dengan mengobrol diberanda losmen atau di Lobi Hotel tersebut. Mas Taufik biasanya yang tak kuat begadang dan selalu tidur lebih dulu. Disusul Bambang baru kemudian saya yang biasanya terakhir karena harus menulis jurnal harian. Berdua dengan Bambang kami sering ngobrol dan berdiskusi. Awalnya sih pengalaman yang kami temui di hari itu, tapi selalu anehnya diujung-ujungnya obrolan malah membahas Dewadaru. Saya yang waktu itu belum begitu banyak mengetahui tentang Dewadaru, tentu moment ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk bertanya banyak hal ke Bambang. Terus terang, Jujur saja saya banyak mendapat pengertian, pemahaman bahkan penjelasan tentang sejarah Dewadaru. Hingga nasehat-nasehat beliau tentang berorganisasi dan seluk beluk lainnya saya menerima banyak bahkan mungkin sangat banyak. Dari malam ke malam sepanjang perjalanan. Bahkan suatu malam, Di penginapan Labuhan Bajo, Nusatenggara timur, ketika hendak ke Mataram setelah melakukan pendakian Gunung Kelimutu di Maumere, saking asiknya, kita mengobrol, tak terasa hingga dini hari. Hanya mengobrol Dewadaru.

Tentena

Saat menunggu Bus setelah puas mengunjungi danau Tentena di Poso Sulawesi tengah. Terminal Bus yang sangat sederhana dijalur Trans Sulawesi yang masih parah kondisi jalannya.

>>>>>>>>Setelah perjalanan usai saya berkali-kali secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada Bambang, terutama juga Mas Taufik, karena kebaikan beliau berdualah saya mengalami semua ini, waktu itu berpikir entah kapan saya bisa atau mampu memiliki dana hinga memiliki pengalaman perjalanan se”gila” ini. Terkadang saya juga berpikir, mungkin, barangkali ini hadiah dari Bambang atas apa yang selalu saya kerjakan setiap tanggung jawab yang diberikan kepada saya di setiap kegiatan, atau bisa jadi berlebihan ini balasan mereka atas apa yang selalu kita kerjakan buat Dewadaru. Saya tidak tahu. Tapi yang pasti dan masih selalu mengganjal dihati, saya seperti merasa memiliki hutang hingga saat ini ke Beliau dan Mas Taufik. Catatan jurnal itu belum dipublikasikan. Apalagi dibuat laporan tertulisnya. Tulisan sepintas ini adalah baru yang pertama kalinya mengupas soal jurnal itu. Walau aslinya masih banyak cerita seru lainya. “Hapunten ..Hapunten pisan ..” Suatu saat pasti akan saya tulis.

ende

Ujung dari Kota Ende, Flores

 

Hilang Kontak

>>>>>>>>Selepas Perjalanan keliling ini selesai, di tahun 1991,  ketika Barudak Dewadaru tengah demam-demamnya ber mountain bike ria. Saya bersama Bambang dan rekan-rekan yang waktu itu mulai ramai menggeluti kegiatan mountain bike merencanakan sebuah ekspedisi pendakian ke Gunung Semeru dengan membawa Sepeda. Latihan rutin bersama sudah sering dilakukan bahkan kita berhasil meyakinkan salah satu toko sepeda gunung terkenal waktu itu  yang hendak memfasilitasi menyediakan sepeda untuk kegiatan ini. Sayangnya, kejadian yang menimpa Aguswandi ketika kita berlatih fisik bersepeda dari Bandung – Garut, terus  melintas Gunung Papandayan yang merupakan salah satu dari rangkaian persiapan semeru itu mengalami kecelakaan fatal ketika selepas Papandayan, sekitar turunan jalan raya pangalengan memupuskan ekspedisi itu. Dan ketika kegiatan bersepeda itu berakhir. Terakhir bertemu bersepeda ria, ketika Bambang mengawal kegiatan longmarch angkatan Lembah Halimun, hampir disemua etape dia gunakan sepeda MB-5 Bridgestone kesayangannya. (Bersambung ..)