Nitikala Kawah Putih Mandala Patuha

Sadatang ka Mulah Mada, Ngalalar ka Tapak Ratu, Datang ka Bukit Patuha Ka Sanghyang Rancagoda. Dipunar dijieun batur Kapuruyan ku mandala. Di inya aing teu heubeul Sataun deung sataraban. Sadari aing ti inya, Sacunduk ka Gunung Ratu, Sanghyang Karang Carengcang. Eta huluna Ci Sokan, Landeuheun Bukit Patuha, Heuleut-heuleut Lingga Payung, Nu awas ka Kreti Haji.

Datanglah ke Mulah Mada, melewati Tapak Ratu, Datang ke Bukit Patuha, Ke Sanghyang Rancagoda. Kuperbaiki untuk dijadikan pertapaan. Dibentengi dengan mandala. Aku tak tinggal lama di sana. Selama setahun lebih. Sepergiku dari sana. Sampai ke Gunung Ratu. Sanghyang Karang Carengcang. Itulah hulu Cisokan. Di kaki Gunung Patuha. Batas antara Lingga Payung. Yang bisa memandang dengan jelas ke Kreti Haji.
(J. Noorduyn – A. Teeuw, 2009).

__________Puisi sunda kuno yang titimangsanya tidak diketahui itu ditulis oleh Bujangga Manik. Seorang rahib pengelana dari kerajaan Sunda diabad ke-15. Naskah kuno itu ditulis ketika beliau menyempatkan berziarah ke Gunung Patuha dalam perjalanan pulangnya dari tempat-tempat suci di Jawa dan Bali. Tempat tersebut, Mandala Patuha atau Bukit Patuha sendiri sepertinya pada saat itu sudah sangat terkenal sebagai tempat suci yang biasa diziarahi sampai dengan Kawah Putih hingga Puncaknya. Puisi Klasik yang ditulis diatas daun lontar itu (yang kini tersimpan di museum London) tentu menjadi penanda sejarah tentang keberadaan Bukit Patuha dan asal muasal penyebutan “Patuha” sekaligus menyanggah jauh ratusan tahun sesudahnya bahwa Dr. Franz Wilhelm Junghuhn lah yang pertama kali datang dan menemukannya.

__________Setahun lebih tohaan putra mahkota Pajajaran itu bertapa dan membenahi kabuyutan di puncak Gunung Patuha. Jalan setapak yang merupakan jalan yang pernah dilalui Bujangga Manik enam abad yang lalu itupun kini jarang dilalui (Diperkirakan naik melalui belokan Patung Macan Siliwangi), jalur ini pun diyakini digunakan para gerombolan DI/TII Kartosuwiryo dalam perjuangan dan pelariannya. Bukti keberadaan patung Macan Siliwangi itu biasanya sebagai penanda sempat terjadi “clash” ditempat itu dan garis demarkasi bahwa gerombolan berhasil dilumpuhkan hingga batas itu (Patung Macan bisa kita jumpai juga di sekitar pegunungan Jawa Barat lainnya).

__________Tahun 1990 Kami pernah menjajal jalan setapak ini, butuh waktu 4 jam hingga mencapai Kawah Putih dan Puncak Patuhanya. Kini diawal pendakiannya jalan setapak ini berubah diperlebar menjadi akses masuk wisata bumi perkemahan dan air panas Punceling, sedangkan sebagian besarnya yang menuju puncak kemungkinan sudah tertutup semak belukar karena jarang dilalui tadi. Apalagi di tahun berikutnya itu juga Jalan raya aspal mulus yang bisa dilewati roda 4 tak jauh dari Patung Macan itu pun selesai dibangun hingga tembus Kawah Putih, alhasil jalan setapak ini klasik inipun jarang diminati lagi.

__________Perdebatan asal nama “Patuha” tak bisa dihindari, walau hanya sebatas literasi. Ada yang aneh memang didalam beberapa sumber masyarakat lama menyebut Gunung Patuha itu Gunung Sepuh, dalam bahasa melayu, sepuh berarti tua, jadilah Gunung Patua lalu kemudian berubah menjadi Gunung Patuha. Padahal, Layaknya penamaan tempat di masyarakat Sunda, sepertinya tak lazim juga bila pemberian nama Gunung menggunakan bahasa melayu. Anehnya lagi bila memang sejak dahulu kala masyarakat menyebut Gunung sepuh secara etis barangkali tidak boleh sekenanya merubahnya menjadi Gunung Patua. Bila Bujangga Manik menyebutnya Bukit Patuha, dan tidak ada kaitannya denga arti Gunung Sepuh atau Patua berarti ada yang salah dengan dua nama terakhir itu.

__________Ada pendapat lain yang sepertinya mendekati kebenaran. Jonathan Rigg dalam tulisannya “ A Dictionary of the Sunda Language of Java “ (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Tahun 1862 – 537 halaman) menyatakan sangat mungkin “Patuha” merupakan sedikit perubahan dari kata “Patuka” yang berarti lereng yang menurun atau tebing curam, atau berasal dari kata “Putha” yang berarti matahari atau api. Patuha bisa juga berasal dari kata “Pathuwa”. Pathuwa berasal dari kata “huwa” yang berarti suara memanggil, sama artinya dengan “hu” yang merupakan suara teriakan. Ucapannya kemudian menjadi “Pathuwa” yang artinya api yang bergemuruh. Keyakinan asal-usul penamaan Gunung Patuha ini tentu bertalian erat dengan kegiatan gunung ini yang pernah bergemuruh dan mengeluarkan api yang menurun di lerengnya yang curam jauh sebelum abad ke 15, jauh sebelum didatangi Bujangga Manik.

__________Jika pada abad ke 15 saja Gunung Patuha sering didatangi para peziarah bahkan Rahib membangun pertapaannya di Puncak, apakah Junghuhn orang yang pertama menemukan Kawah Putih dan mendatangi puncaknya seperti yang sering kita baca di jurnal-jurnal media, rasanya perlu dikaji kembali kebenarannya. Yang mendekati kebenaran sepertinya ketika beredar cerita tentang burung yang melintasi puncak Patuha selalu jatuh dan mati, ditambah cerita seram terdapat banyak makam para eyang leluhur dimana rohnya gentayangan menjadi penunggu situs-situs dipuncak hingga kemunculan Domba Lukutan diwaktu-waktu tertentu. Jangan-jangan itu hanya isu politik para kuncen dan peziarah saja yang ingin menjaga kawasan tetap suci sekaligus “menyeramkan”, hingga para penduduk berpikir dua kali untuk mendatangi puncak dan Kawah Putihnya.

__________Sampai akhirnya di tahun 1837, mendengar kabar dan cerita folklore seperti itu bagi Franz Wilhelm Junghuhn yang seorang geologis, Vulkanolog dan botanis sekaligus petualang itu berita ini bukannya menyeramkan malahan jadi sebuah petunjuk. Bagi para pendaki gunung nama Junghuhn memang bak membosankan. Bagaimana tidak, hampir di setiap Gunung terutama Gunung berapi terlebih di Pulau Jawa dan Sumatera dialah orang yang terus disebut pertama mendatanginya, hebatnya sekaligus memetakannya. Jejak-jejak jalur pendakiannya semuanya digunakan hingga kini walaupun sebagian dicurigai jejak itu adalah jejak yang ditunjukkan penduduk setempat ketika bersamanya menjelajah gunung-gunung tersebut. Sama ketika dia mendatangi puncak Gunung Patuha pun bisa jadi dia mengikuti jejaknya Bujangga Manik dan sepertinya sudah bisa memastikan bakal menemukan sebuah Kawah yang belakangan akhirnya dinamai Kawah Putih ini. Tentu
berdasarkan pengalaman sebelumnya di gunung-gunung yang lain yang pernah dia datangi.

__________Kedatangan Junghuhn Ke Gunung Patuha tentu bukan misi Petualangan saja atau hanya sekedar mendaki gunung layaknya pencinta alam. Jaman itu adalah masa penjajahan, Tentu berbekal penugasan resmi penguasa pada saat itu sebagai Inspektur Penyelidikan Alam di Pulau Jawa dan Sumatera Disamping memetakan Kawasan Geologi dan Vulkanologi di tanah Jajahan keahlian lainnya adalah sebagai Naturalis Botanis, Doktor dan Pengarang. Malahan tugas utamanya pada saat itu adalah mencari, menemukan tanah yang cocok untuk pemeliharaan tanaman Cinchona (Kina) yaitu dengan memindahkan perkebunan Kina kedaerah pegunungan, menanam semaian Kina didalam keteduhan hutan. Ujung-ujungnya semuanya memang eksploitasi besar-besaran tanah jajahan Bumi Jawa dan Sumatera untuk kepentingan Nederlands Indie pada saat itu. Junghuhn sendiri dikenal sebagai perintis perkebunan Kina di Pulau Jawa. Dia wafat pada tanggal 24 April 1864 dalam usia 54 tahun di rumahnya di Lembang. Makamnya terdapat di kaki Gunung Tangkuban Perahu di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dalam sebuah taman, yang ditumbuhi Cinchona succirubra maupun ledgeriana. Pohon Kina unggulannya.

Sketsa yang di buat Junghun ketika pertama kali mendatangi Kawah Patuha

__________Semenjak kedatangan Junghuhn, Praktis Puisi Sunda kuno itu dilupakan bahkan petilasan kabuyutan Bujangga Manik pun hilang tak berbekas tergerus lalu lalang orang yang mengolah belerang dari sumber Kawah Putih guna keperluan industri dan berbagai macamnya. Tentu juga kisah misteripun berangsur menjadi kisah epik para pekerja pribumi yang dibayar murah di kekayaan dan tanahnya sendiri, apalagi dikemudian hari di jaman pendudukan jepang lebih diperparah dengan kerja paksa dijadikan Romusha.

__________Kini orang bisa tertawa lepas bahagia diatas kendaraannya melintas jurang lembah yang dipangkas menjadi jalan aspal mulus menuju Kawah Putih Puncak Patuha. Takjub Melihat keindahan Kawah Putih di ketinggian 2434 M-Dpl dengan suhu 8 – 22 derajat celcius dengan balutan hangat jaket. Tapi Mudah-mudahan juga tidak lupa bahwa disini pernah berada betapa agungnya Kearifan lokal para sepuh dahulu serta sejarah panjang petualangan dan heroik yang menyelimuti semua keindahan itu. ▀

#Mylogbook
#TravelBikeBlogger
#FlyWithSiEmb3

Dok: Minggu 03 Desember 2017- 15:58 WIB
Suasana Kawah Putih terkini, Tak seramai biasanya bila dimusim liburan. Kini sepertinya Nggak asik lagi, Bagi yang doyang nongkrong di warung, ngopi nggak bakalan nemu. Tak ada warung jajan di atas. Terakhir siapin kocek lebih terutama yang bawa Mobil sendiri, Mahal banget tarif naik keatas sini.

About Yoyo Suryo Sugiharto

Luhur ilmu lain keur adigung, sugih pangarti lain keur dengki. Keur bakti diri milampah ridho Illahi. Lihat semua pos milik Yoyo Suryo Sugiharto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: